Rissa dan William sampai di Bandara Soetta malam hari. Keduanya naik taksi karena tidak ingin merepotkan keluarga Sebastian yang sedang sibuk mempersiapkan acara untuk esok hari.
" Kak Willy sudah pernah ke rumah kak Arvan...?" tanya Rissa di dalam taksi.
" Sudah, saya sering datang kesini Rissa. Kamu akan senang saat bertemu dengan mereka bertiga..."
" Mudah - mudahan mereka bisa menerima Rissa ya kak...?"
" Itu pasti Ris, mereka juga sangat antusias pengen ketemu denganmu..."
Mobil yang ditumpangi Rissa dan William tiba - tiba berhenti karena ternyata ada beberapa orang yang menghadang di depan taksinya.
" Ada apa pak...?" tanya Rissa.
" Aduh Non... sepertinya mereka rampok, kita harus bagaimana...?" ucap supir taksi itu ketakutan.
" Tenang saja pak, biar kami yang membereskannya..." jawab William.
" Bapak tetap di dalam mobil, jangan kemana - mana...!" peringat Rissa.
" Baik Non..."
Rissa dan William segera keluar dari dalam mobil untuk menghadapi para perampok yang berjumlah lima orang itu. Rissa berdiri di samping William sambil tersenyum.
" Mereka hanya pengacau kecil Kak, Rissa bisa hadapi mereka sendiri..." ucap Rissa santai.
" Benar juga, tapi ini sudah malam. Sebaiknya kita selesaikan dengan cepat..." sahut William.
" Baiklah..."
Perampok itu mendekati William dan Rissa dengan mengacungkan sebilah golok di tangannya.
" Hey... serahkan barang - barang kalian jika ingin selamat...!" teriak perampok itu.
" Kami tidak membawa apapun, apa yang ingin kalian ambil...?" sahut Rissa tersenyum.
" Kurang ajar! Berani sekali kau menantangku...!"
" Kau hanyalah tikus kecil yang mencari jalan berlumpur Tuan, sebaiknya pulang dan cari pekerjaan yang baik..."
" Sial... kau menghinaku! Hajar mereka...!" teriak pimpinan perampok.
Rissa dan William akhirnya berkelahi dengan lima perampok itu. Walaupun lawan mereka lebih banyak, namun kemampuan Rissa dan William tidak bisa di remehkan. Di balik keanggunan Rissa dan ketampanan William, mereka adalah seorang detektif yang sering berurusan dengan para mafia kelas kakap.
Rissa menghajar dua orang perampok itu dengan membabi buta hingga mereka tak berdaya. Begitupun dengan Willy, dia menghajar tiga perampok itu dengan lebih sadis.
Rissa dan William bisa dengan mudah mengalahkan para musuh dengan cepat. Mereka semua babak belur terutama di bagian kakinya.
" Apa kalian masih mau lanjut...?" seringai Willy.
" Tidak Tuan, maafkan kami..." ucap salah satu preman.
" Lebih baik kalian pulang dan cari pekerjaan yang lain daripada pekerjaan kotor seperti ini..." ucap Rissa santai.
Rissa kembali ke dalam mobil dan mengambil sesuatu di dalam tas kecilnya lalu kembali berdiri di samping William.
" Ini buat kalian berlima, manfaatkan sebaik mungkin hidup kalian..."
Rissa memberikan sebuah amplop coklat berisi sejumlah uang agar mereka bisa berobat.
" Minggir kalian! Kami tidak mau melihat kalian merampok lagi! Jika sampai kita bertemu lagi masih seperti ini, kupastikan kalian semua hanya tinggal nama...!" teriak Willy.
" Sudah Kak, sebaiknya kita pulang sekarang..." ucap Rissa.
" Baiklah, tapi kita makan dulu ya? Saya lapar sekali..." keluh Willy.
" Iya Kak..."
Mereka berdua kembali masuk ke dalam taksi setelah baku hantam selesai.
" Pak, kita mampir ke Restoran dulu ya? Kami ingin makan dulu sebelum sampai rumah..." ucap Rissa sopan.
" Oh iya Non, dekat sini ada restoran yang cukup terkenal..."
" Dimana pak...?"
" Di perempatan depan, namanya 'Selly Resto'. Sebenarnya itu restoran lama, tapi sudah satu bulan ini berganti nama..."
Rissa jadi teringat jika Ayahnya dulu memiliki Restoran di daerah perempatan itu. Dan nama 'Selly Resto' mengingatkan dia dengan nama kakak tirinya.
" Apa restoran itu yang dulu bernama 'Bagas Resto' pak...?" tanya Rissa berharap tebakannya salah.
" Benar Nona, pemilik restoran yang lama meninggal satu minggu sebelum nama resto itu diganti. Sekarang resto itu milik anak tunggalnya sebagai pewaris satu - satunya..."
" Bapak sangat tahu banyak tentang resto itu...?"
" Saya bekerja disana empat tahun yang lalu, namun setelah Tuan Bagas wafat semua karyawan lama diganti dengan yang baru..."
" Huft... benar - benar keterlaluan mereka...!" geram Rissa.
" Apa kau mengenalnya...?" tanya William melihat amarah di wajah Rissa.
" Lain kali Rissa cerita sama kakak..."
" Ok, saya tunggu..."
" Pak, kita cari Resto yang lain saja..." ucap Rissa pada sopir taksi.
" Baik Non..."
Mobil kembali melaju di jalanan yang sudah nampak agak lengang. Mungkin karena sekarang sudah hampir jam sebelas.
" Bapak rumahnya tidak kejauhan kan dari daerah sini...?" tanya Rissa.
" Tidak Non, satu arah dengan tujuan Nona..."
" Baiklah, karena ini terlalu malam sebaiknya bapak kabari keluarga di rumah biar mereka tidak menunggu..."
" Iya Non..."
Mereka bertiga sampai di depan Restoran yang buka 24 jam. Rissa memaksa supir taksi itu untuk ikut makan di dalam Resto.
" Pak, ayo turun! Kita makan dulu..." ajak Rissa.
" Tidak usah Non, saya tunggu di mobil saja..." tolak supir taksi.
" Ini sudah malam, pasti bapak juga sudah lapar..." timpal William.
" Tapi Tuan_..."
" Jangan sampai bapak saya bikin remuk seperti preman tadi..." ancam William.
Rissa yang mendengarnya malah terkekeh lalu keluar dari mobil.
" Pak, apa perlu saya gendong masuk resto...?" goda Rissa.
" Eh... tidak Nona... sa... saya akan ikut..." ucap supir taksi itu takut.
Begitu masuk ke dalam restoran, Rissa langsung memesan makanan untuk mereka bertiga. Sambil menunggu pesanan, Rissa mengajak supir taksi itu berbincang.
" Bapak di rumah tinggal dengan siapa saja...?"
" Saya bersama istri, mertua perempuan dan juga dua anak saya yang masih sekolah SD..."
" Ramai juga ya pak, pasti anak - anak senang saat menyambut bapak pulang kerja..."
" Iya Non, apalagi kalau saya bawakan makanan yang sekiranya jarang mereka makan, pancaran kebahagiaan jelas tergambar di wajah mereka..." ucap supir taksi itu tersenyum bahagia.
" Walaupun sederhana, ternyata bapak ini lebih bahagia dari aku dulu..." batin Rissa.
Saat pesanan datang, Rissa kembali memesan makanan untuk dibungkus kemudian mereka makan dengan tenang tak ada pembicaraan apapun.
Selesai makan, Willy segera membayar makanannya. Rissa mengambil bungkusan makanan yang dipesannya tadi.
" Itu makanan buat siapa Ris...?" tanya William heran.
" Ini buat anak - anak bapak di rumah, semoga bermanfaat..." ucap Rissa tersenyum sambil menyerahkan makanan dalam paper bag itu kepada supir taksinya.
" Maaf Nona, apa ini tidak terlalu berlebihan...?"
" Terima saja pak, ini rejeki untuk anak - anak di rumah..."
" Terimakasih Tuan, Nona..." supir taksi itu membungkukkan badannya.
" Sama - sama pak, saya senang bisa membuat orang lain bahagia..." sahut Rissa tersenyum.
# # #
Kini Rissa dan William sudah berada di halaman gerbang rumah Arvan. Karena sudah hampir jam satu, rumah sudah terlihat sepi. Semua sudah terlelap karena besok pagi adalah acara pernikahan Ricko.
Setelah penjaga rumah membuka pintu utama, William dan Rissa segera masuk karena sangat lelah.
" Kak, aku tidur dimana...?" tanya Rissa.
" Oh iya, gimana ya...? Saya juga tidak tahu nih, sudah larut malam mau cari kamar dimana...?" sahut William juga bingung.
" Kita tidur di sofa ruang tamu saja, aku udah capek banget Kak..."
" Ya udah, saya juga ngantuk banget..."
Rissa dan William langsung merebahkan tubuh mereka di sofa dan memejamkan matanya dengan cepat.
Pagi hari semua sudah bersiap untuk sarapan sebelum berangkat ke rumah pengantin wanita.
" Bu, Rissa sama kak William belum datang...?" tanya Ricko.
" Nggak tahu, Ibu belum melihatnya..." jawab Bu Sarah.
" Mama belum datang ya Pa...?" tanya Raka sedih.
" Mungkin sebentar lagi..."
Arvan sudah selesai sarapan hendak keluar untuk mengecek mobilnya sebelum berangkat. Namun, saat melewati ruang tamu dia terkejut melihat sesuatu yang aneh di ruangan itu.
" Apa itu...?"
.
.
TBC
.
.
# Siap - siap Arvan jantungan nih...!!!
Dukung karya Author terus ya... Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, coment & vote...🙏🙏🙏
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Dewi Dj
adoow arvan siapkan jantungmu say hahaa
2022-11-24
1