" Hentikan pertengkaran kalian...!" teriak Hans.
Arvan dan Erina langsung terdiam melihat ada orang lain disana.
" Hans..." ucap Arvan.
" Kenapa kalian_..." Hans menggantungkan ucapannya saat menatap Rissa.
" Kau... bukankah kau Erina...?" ucap Hans terbata.
" Aku tidak peduli kalian itu siapa...!" teriak Erina.
" Erina, dengarkan aku dulu! Kita bisa bicarakan ini baik - baik..." ucap Arvan.
Situasi yang semakin memanas membuat pikiran mereka semakin kacau.
" Sudahlah, bisakah kita bicarakan masalah ini nanti? Ricko menunggu kita semua, dia tidak akan memulai pernikahannya tanpa kita bertiga..." ujar Hans menengahi pertengkaran mereka.
" Saya senang melihatmu Erina, lima tahun kami mencarimu ternyata kau bersembunyi di dalam rumah kami sendiri. Sungguh ini sebuah takdir atau hanya sebuah lelucon yang mencoba mempermainkan hati kalian..." Hans tersenyum datar.
" Erina, kita selesaikan masalah ini setelah pernikahan kak Ricko. Jangan membuat kacau kebahagiaan Ayah dan Ibu. Bersikaplah seperti dirimu yang biasanya, jangan tunjukkan kebencianmu di hadapan Ayah dan Ibu. Kamu sendiri tahu, betapa mereka sangat menyayangi dirimu dan juga Raka..." tutur Arvan sendu.
" Baiklah, untuk kali ini aku turuti keinginan kalian. Setelah pernikahan kak Ricko selesai, aku akan pergi dari sini...!" ucap Erina datar.
Hans, Arvan dan Erina segera masuk ke dalam mobil dengan diam. Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut mereka. Hanya hembusan nafas yang kadang terdengar kasar memecahkan keheningan.
Hingga sampai di perempatan jalan, Hans mengerem mendadak mobilnya setelah menepi.
" Astaga... kita melupakan sesuatu...!" pekik Hans.
" Ada apa? Ada barang yang ketinggalan...?" tanya Arvan heran.
" Bukan barang, tapi Raka...!" teriak Hans.
" Raka...!" pekik Arvan dan Erina bersamaan.
Mereka bertiga saling tatap dengan tajam. Mereka baru menyadari bahwa sedari tadi tak melihat Raka bersamanya.
" Raka dimana Kak...?" ucap Erina panik.
" Hans, kita kembali ke rumah. Pasti Raka masih di rumah..." perintah Arvan.
Tanpa menjawab, Hans langsung putar arah kembali ke rumah. Arvan dan Erina langsung berlari ke dalam rumah begitu mobil berhenti di halaman rumahnya.
" Rakaaa...!" teriak Erina.
" Rakaaa...!" Arvan berteriak seraya berlari menuju kamarnya.
Hans juga ikut mencari keberadaan Raka dengan menggeledah seluruh rumah. Bahkan semua pelayan dan penjaga rumah juga ikut mencari anak kecil itu.
" Van, cek dulu cctv..." kata Hans.
Arvan langsung masuk ke ruang kerjanya diikuti Hans dan Erina. Setelah membuka laptopnya, Arvan merasa sangat frustasi karena lagi - lagi Raka menghapus rekaman cctv_nya.
" Erina, anakmu itu kau kasih makan apa sampai bisa berbuat seperti ini. Bahkan kecerdasan papanya aja kalah kalau dalam hal meretas data..." ucap Hans.
" Apaan sih, makannya biasa saja..." ketus Erina.
" Hans, kenapa kau kembali ke rumah? Gimana dengan pernikahan kak Ricko...?" tanya Arvan.
" Tadi Raka mengirimkan pesan padaku kalau kalian sedang bertengkar, makanya aku langsung pulang..." jawab Hans datar.
Hans menyandarkan tubuhnya di sofa dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Diambilnya ponsel di dalam saku jasnya dan membaca beberapa pesan.
" Huft... gara - gara keegoisan kalian, Ricko menikah tanpa kehadiran satupun saudaranya. Puas kalian menyakiti kak Ricko...!" ucap Hans penuh amarah.
Hans keluar dari ruangan itu lalu pergi ke tempat acara resepsi Ricko. Hans merasa bersalah karena tidak bisa mendampingi hari bersejarah bagi kakak angkatnya itu.
Erina menangis bersimpuh di lantai meratapi kepergian anaknya. Bahkan dia sendiri tidak bisa melacak keberadaan Raka dari ponselnya. Biasanya ponsel mereka saling terhubung sehingga Erina bisa tahu keberadaan Raka walaupun dari jarak yang jauh.
" Raka, kenapa kamu meninggalkan Mama... kembalilah..." Erina tak mampu menopang tubuhnya sendiri.
" Erina, aku sudah mengerahkan seluruh anak buahku ke seluruh kota. Kamu tenang ya, sebaiknya kita menemui kak Ricko sebentar. Jangan membuat kakak bersedih di hari bahagianya karena kita..."
" Baiklah, tapi setelah itu kita harus mencari Raka..." ucap Erina.
" Iya, nanti kita cari Raka sama - sama..."
Arvan memeluk tubuh Erina yang masih menangis. Mereka sejenak melupakan masalah yang berakibat dengan menghilangnya Raka.
Arvan menghapus airmata di wajah Erina dengan lembut. Kemudian mereka bergegas pergi ke acara resepsi Ricko dan Sandra.
" Maafkan aku Erina, seharusnya dulu kau tidak menolongku. Aku sungguh menyesali semuanya..." ucap Arvan.
" Sudahlah Kak, aku hanya ingin Raka kembali..."
" Raka pasti kembali Rin, percayalah padaku..."
Setengah jam kemudian, mereka sampai di tempat resepsi pernikahan Ricko dan Sandra.
" Kalian darimana saja...? Kenapa baru datang...?" tanya Ibu.
" Maaf Bu, tadi Arvan tiba - tiba sakit perut jadi terlambat kesini..." jawab Arvan berbohong.
" Ya sudah, sekarang kalian temui Ricko dan Sandra. Mereka sudah menunggu kalian dari tadi..." kata Ayah.
Arvan dan Erina menghampiri kedua mempelai ke atas pelaminan. Disana juga ada Hans yang menatap dengan datar.
" Kak Ricko, kak Sandra... selamat untuk pernikahan kalian, maaf kami terlambat datang..." ucap Rissa merasa bersalah.
" Tidak apa - apa, aku senang kalian datang. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada kalian..." jawab Ricko tersenyum.
" Oh iya, Raka mana...? Dia bersama kalian kan...?" tanya Sandra.
" Itu kak, Raka... Raka ada di luar. Dia tidak suka keramaian..." jawab Rissa gugup.
" Ya sudah kak, saya akan mengajak Rissa berkeliling sebentar..." ucap Arvan.
" Baiklah, bersenang - senanglah hari ini..." sahut Ricko.
Arvan mengajak Hans dan Erina menjauh dari keramaian. Kini mereka duduk di taman depan lalu duduk berjejer di sebuah bangku panjang.
" Erina, bagaimana kamu bisa tinggal di rumah keluarga Sebastian...? Kami mencarimu tiada henti, bahkan kami beberapa kali berkunjung kesana tapi tidak pernah melihatmu..." tanya Hans.
" Nyonya Sarah yang membawaku ke rumahnya karena merasa kasihan padaku..." jawab Erina.
" Seandainya waktu itu aku melihatmu di rumah sakit, pasti kita sudah hidup bersama sejak dulu..." ucap Arvan.
" Memangnya siapa yang mau hidup dengan lelaki tidak bertanggungjawab sepertimu..." ketus Erina.
" Terimakasih sudah menjaga orangtuaku, sebagai anak aku menyadari jika aku kurang memperhatikan mereka terutama Ibu. Semenjak ada kamu dan Raka, sepertinya Ayah dan Ibu memperoleh kebahagiaan yang baru..." ucap Arvan tulus.
" Hey... kalian dicari oleh Tuan dan Nyonya..." teriak William.
" Ada apa kak Willy...?" tanya Rissa.
" Semua disuruh berkumpul untuk foto keluarga..." jawab William.
" Sebentar lagi kita kesana kak..." sahut Hans.
" Baiklah, saya masuk duluan..."
William kembali ke dalam dan bergabung bersama Tuan Sebastian.
Erina sedari tadi mengutak - atik ponselnya untuk mengecek apakah ponsel Raka aktif kembali. Namun usahanya sia - sia karena anak itu benar - benar tak ingin ditemukan oleh siapapun. Bahkan sistem penghubung ponsel keduanya diputus oleh Raka. Sepertinya anak itu sangat marah sehingga semua akses penghubung dimatikan olehnya.
" Kenapa kamu diam Rin...?" tanya Hans.
" Raka menutup semua sistem penghubung di ponsel kami. Semarah apapun dia, tidak pernah sampai seperti ini. Biasanya dia hanya bisa luluh oleh bujukan Ayah..."
" Kemana kita harus mencarinya? Seluruh orang yang aku kerahkan belum juga menemukan keberadaan Raka..." ucap Arvan.
" Sebaiknya kita masuk dulu biar Ayah dan Ibu tidak curiga dengan hilangnya Raka..." ujar Hans.
" Ini semua salahku, seharusnya aku tidak kembali ke negara ini. Seandainya aku tidak bertemu denganmu, Raka tidak akan pergi dariku..." ucap Erina lirih.
" Jangan salahkan dirimu Erina, mungkin sudah waktunya Raka tahu tentang kita. Cepat atau lambat, Raka juga pasti tahu asal usulnya..." tutur Arvan seraya memeluk Erina dengan erat.
" Ayo masuk, setelah acara ini selesai kita cari Raka lagi..." ucap Hans.
Ketiganya segera masuk setelah Erina memperbaiki riasan diwajahnya.
" Ayo kita foto bareng semuanya..." ajak Ibu.
" Iya Bu..." jawab anak - anaknya serempak.
Semua sudah berjejer dengan rapi dan senyum yang terkembang sempurna.
" Tunggu...!"
.
.
TBC
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Dewi Dj
what Raka kemana lagi masa sih anak balita kog bisa kegini?
2022-11-24
0
pat_pat
semangat Thor 🔥
mampir yuk ke Broken Angel
2021-09-04
2