Part 17

" Apa itu...?" gumam Arvan.

Arvan melihat sesuatu di dalam selimut bergerak - gerak di sofa.

" Siapa pagi - pagi tidur disini...?"

Arvan berjalan mendekati sofa dan melihat William tidur di sofa sisi kanan. Kemudian Arvan melirik ke sofa bagian kiri ke arah orang yang bergerak - gerak di dalam selimut.

" Apa mungkin ini mamanya Raka...? Tapi kenapa tidur disini...?" gumam Arvan lagi.

" Kak Willy... bangun...!" Arvan mengguncang bahu William.

" Hmmm..." sahut William malas.

" Kak, ini sudah siang. Mau ikut ke pernikahan kak Ricko nggak..." pekik Arvan.

Bu Sarah dan yang lainnya menghampiri Arvan yang nampak berbicara dengan seseorang.

" Bicara sama siapa Van...?" tanya Ibu.

" Ini bangunin kak Willy, Bu..."

" Willy sama Rissa sudah datang...?"

William yang mendengar suara berisik langsung bangun walaupun sebenarnya matanya masih pengen terpejam.

" Uncle Willy..." pekik Raka bahagia.

" Hey boy... sepertinya kau betah tinggal disini..." sahut Willy.

" Mama dimana Uncle...?"

" Tuh, masih tidur... bangunin sana, Uncle mau mandi dulu..."

Hans sudah siap dengan mobilnya tinggal menunggu para penumpang.

" Ini jadi berangkat nggak...?" tanya Hans.

" Tapi Rissa belum bangun..." ucap Arvan.

" Begini saja, Arvan nanti tungguin Rissa dan Willy mandi. Yang lain berangkat duluan..." ucap Ayah.

" Baiklah, Arvan tunggu kak Willy saja..."

Willy segera masuk ke dalam kamar Hans untuk membersihkan diri sementara yang lain sudah berangkat.

Arvan duduk bersama Raka di depan Rissa yang masih tidur. Raka tidak mau membangunkan mamanya karena kasihan.

" Raka, bangunin mama kamu. Nanti bisa telat ke pernikahan Uncle Ricko..."

" Mama pasti capek Pa, pulang kerja langsung kesini. Tunggu sebentar lagi sampai mama bangun sendiri..."

Willy yang sudah siap, segera menghampiri Arvan dan Raka yang sedang berdebat.

" Ayo berangkat...!" ajak Willy.

" Rissa masih tidur Kak..." jawab Arvan.

" Kenapa tidak dibangunin...?"

" Jangan Uncle, kasihan mama lelah..."

" Huft... tapi kita bisa terlambat Raka..."

" Papa sama Uncle duluan saja, nanti Raka belakangan sama Mama..."

" Begini saja, kak Willy duluan saja pakai supir. Biar Arvan bareng Raka dan Rissa..."

" Ya udah, kalau begitu saya pergi dulu..." pamit William.

Hampir setengah jam menunggu, akhirnya Rissa membuka selimutnya lalu duduk.

" Jam berapa ini...? Kenapa rumah sepi sekali...?" gumam Rissa.

" Mama...!" teriak Raka tiba - tiba.

Raka berlari memeluk mamanya yang masih setengah sadar itu. Rissa tersenyum lalu mencium pipi gembul sang anak.

" Sayang, kok rumah sepi...?" tanya Rissa.

" Semua sudah pergi ke rumah Aunty Sandra, Ma..."

" Kenapa nggak ada yang bangunin Mama, sayang...?"

" Mama pasti lelah, Raka tidak tega bangunin Mama..."

" Ya udah, dimana kamar Raka. Mama mau mandi dulu..."

" Ada diatas, ayo Raka antar..."

Setelah mengantar mamanya ke kamar, Raka turun menemui papanya.

" Pa, lagi ngapain...?" tanya Raka.

" Bikin sarapan buat Mama kamu, sayang. Mama udah bangun...?"

" Udah, itu lagi mandi di kamar Papa..."

" Kenapa di kamar Papa...?"

" Mama tadi tanya kamar Raka, jadi Raka antar saja ke kamar Papa..." celoteh Raka.

" Ya sudah, kita bawa makanan ini ke kamar saja biar selesai mandi langsung sarapan..."

Raka dan Arvan meletakkan makanan di meja kamar lalu keduanya rebahan di tempat tidur menunggu Rissa selesai mandi.

Tak lama, pintu kamar mandi terbuka dan suara langkah kaki mendekati Arvan dan Raka yang tengah berbaring memunggunginya.

" Raka, kak Arvan..." panggil Rissa.

" Suara ini_..." gumam Arvan seakan mengingat sesuatu.

" Mama sudah selesai mandi...? Tuh, Papa udah membuat sarapan special buat Mama..." sahut Raka.

Jantung Arvan berdetak sangat kencang mendengar suara yang mirip dengan wanita yang selama ini dia cari.

" Perasaan macam apa ini? Kenapa aku merasa gugup untuk berhadapan dengan Rissa..." batin Arvan.

Rissa juga merasakan hal yang sama seperti Arvan. Jantungnya berdetak tak karuan dan gugup menghinggapi hatinya.

Perlahan Arvan beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Rissa yang duduk di sofa bersama Raka.

" Rissa..."

" Iya Kak_..."

Mereka saling bertatapan, namun dengan tatapan yang berbeda. Mereka sangat terkejut hingga Rissa menjatuhkan sendok ditangannya ke lantai.

" Kau..."

" Erina..." lirih Arvan.

" Kenapa kau ada disini...!" teriak Rissa yang tiba - tiba histeris.

" Erina, dengar dulu penjelasanku..." ucap Arvan.

" Pergi! Aku tidak sudi melihatmu lagi...!" pekik Rissa sambil menangis membuat Raka ketakutan.

" Mama kenapa marah sama Papa...?" tanya Raka takut.

" Diam Raka, dia bukan papa kamu...!" bentak Rissa.

" Cukup Erina! Jangan membentak Raka, dia tidak tahu apa - apa tentang masa lalu kita..." Arvan meraih Raka dalam gendongannya agar anak itu berhenti menangis.

" Jangan dengarkan ucapan Mama sayang, sampai kapanpun papa adalah papa kamu..." ucap Arvan pada anaknya.

" Kenapa Mama marah...?"

" Raka tunggu di luar ya? Biar papa bicara sama Mama..."

" Iya Pa..."

Raka keluar dari kamar dan menunggu mereka dibawah. Arvan mendekati Erina yang terlihat sangat marah.

" Maafkan saya Erina, saya tidak sengaja melakukan itu padamu..."

" Pergi! Saya tidak sudi melihatmu lagi...!"

" Saya tahu ini sulit untukmu, saya sudah mencarimu selama lima tahun ini. Bagaimana bisa kamu pergi sejauh itu? Hidupku juga menderita karena rasa bersalah yang selalu menghantuiku. Maafkanlah aku... Aku akan menikahimu..."

" Aku tidak sudi menikah denganmu...!" teriak Erina.

" Pikirkan tentang anak kita, dia butuh kita berdua..." bujuk Arvan.

" Aku benci padamu... Aku tidak mau melihatmu lagi...! Aku akan bawa Raka pergi sejauh mungkin darimu...!"

" Erina, bagaimanapun juga aku papa kandung Raka. Dia juga membutuhkan aku..."

" Kenapa kau begitu yakin kalau dia anakmu? Kau bukan satu - satunya lelaki yang menghabiskan malam bersamaku..."

" Hentikan ocehanmu Erina! Aku yakin Raka adalah anakku...!"

Perdebatan panjang terus saja terjadi, Raka yang tadinya ingin mengajak mereka berangkat ke pernikahan Ricko mengurungkan niatnya.

Raka mendengar kedua orangtuanya memperdebatkan tentang status papa kandungnya. Walaupun umurnya masih masuk usia balita, namun jalan pikirannya jauh diatas anak seusianya. Airmatanya mengalir deras mendengar pertengkaran kedua orangtuanya.

" Apa benar papa Arvan bukan papa kandungku...? Siapa papaku yang sebenarnya...?" batin Raka.

Raka segera turun dan keluar dari rumah tanpa sepengetahuan para penjaga rumah. Dia juga menghapus semua rekaman cctv di rumah itu selama dia keluar.

" Jika keberadaanku hanya membuat papa dan mama bertengkar, lebih baik Raka pergi dari kalian. Raka tidak mau menjadi beban untuk kalian..." gumam Raka seraya menyeka airmatanya.

Raka mengirim pesan pada seseorang lalu mematikan ponsel pintarnya. Dia berjalan menyusuri jalanan tak tahu harus pergi kemana. Raka masih menangis menatap orang - orang berlalu lalang di depannya.

Saat ini Raka duduk di sudut taman seorang diri. Melihat seorang anak seusianya yang digandeng dengan penuh kasih sayang oleh kedua orangtuanya membuat Raka merasa iri. Sejak lahir, belum pernah ia merasakan kasih sayang orangtua yang utuh. Arvan yang dia anggap sebagai papa kandungnya ternyata hanya sebuah kebohongan belaka. Mamanya juga tidak pernah terlihat bersama dengan papanya.

" Sebenarnya aku ini anak siapa...?" batin Raka.

# # #

Setengah jam kemudian, seseorang sampai di rumah kemudian bergegas menuju kamar Arvan. Masih terdengar suara perdebatan di dalam kamar itu.

" Hentikan pertengkaran kalian...!"

.

.

TBC

.

.

Episodes
1 Part 01
2 Part 02
3 Part 03
4 Part 04
5 Part 05
6 Part 06
7 Part 07
8 Part 08
9 Part 09
10 Part 10
11 Part 11
12 Part 12
13 Part 13
14 Part 14
15 Part 15
16 Part 16
17 Part 17
18 Part 18
19 Part 19
20 Part 20
21 Part 21
22 Part 22
23 Part 23
24 Part 24
25 Part 25
26 Part 26
27 Part 27
28 Part 28
29 Part 29
30 Part 30
31 Part 31
32 Part 32
33 Part 33
34 Part 34
35 Part 35
36 Part 36
37 Part 37
38 Part 38
39 Part 39
40 Part 40
41 Part 41
42 Part 42
43 Part 43
44 Part 44
45 Part 45
46 Part 46
47 Part 47
48 Part 48
49 Part 49
50 Part 50
51 Part 51
52 Part 52
53 Part 53
54 Part 54
55 Part 55
56 Part 56
57 Part 57
58 Part 58
59 Part 59
60 Part 60
61 Part 61
62 Part 62
63 Part 63
64 Part 64
65 Part 65
66 Part 66
67 Part 67
68 Part 68
69 Part 69
70 Part 70
71 Part 71
72 Part 72
73 Part 73
74 Part 74
75 Part 75
76 Part 76
77 Part 77
78 Part 78
79 Part 79
80 Part 80
81 Part 81
82 Part 82
83 Part 83
84 Part 84
85 Part 85
86 Part 86
87 Part 87
88 Part 88
89 Part 89
90 Part 90
91 Part 91
92 Part 92
93 Part 93
94 Part 94
95 Part 95
96 Part 96
97 Part 97
98 Part 98
99 Part 99
100 Part 100
101 Part 101
102 Part 102
103 Part 103
104 Part 104
105 Part 105
106 Part 106
107 Part 107
108 Part 108
109 Part 109
110 Part 110
111 Part 111
112 Part 112
113 Part 113
114 Part 114
115 Part 115
116 Part 116
117 Part 117
118 Part 118
119 Part 119
120 Part 120
121 Part 121
122 Part 122
123 Part 123
124 Part 124
125 Part 125
126 Part 126
127 Part 127
128 Part 128
129 Part 129
130 Part 130
131 Part 131
132 Part 132
133 Part 133
134 Part 134
135 Part 135
136 Part 136
137 Part 137
138 Part 138
139 VISUAL
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Part 01
2
Part 02
3
Part 03
4
Part 04
5
Part 05
6
Part 06
7
Part 07
8
Part 08
9
Part 09
10
Part 10
11
Part 11
12
Part 12
13
Part 13
14
Part 14
15
Part 15
16
Part 16
17
Part 17
18
Part 18
19
Part 19
20
Part 20
21
Part 21
22
Part 22
23
Part 23
24
Part 24
25
Part 25
26
Part 26
27
Part 27
28
Part 28
29
Part 29
30
Part 30
31
Part 31
32
Part 32
33
Part 33
34
Part 34
35
Part 35
36
Part 36
37
Part 37
38
Part 38
39
Part 39
40
Part 40
41
Part 41
42
Part 42
43
Part 43
44
Part 44
45
Part 45
46
Part 46
47
Part 47
48
Part 48
49
Part 49
50
Part 50
51
Part 51
52
Part 52
53
Part 53
54
Part 54
55
Part 55
56
Part 56
57
Part 57
58
Part 58
59
Part 59
60
Part 60
61
Part 61
62
Part 62
63
Part 63
64
Part 64
65
Part 65
66
Part 66
67
Part 67
68
Part 68
69
Part 69
70
Part 70
71
Part 71
72
Part 72
73
Part 73
74
Part 74
75
Part 75
76
Part 76
77
Part 77
78
Part 78
79
Part 79
80
Part 80
81
Part 81
82
Part 82
83
Part 83
84
Part 84
85
Part 85
86
Part 86
87
Part 87
88
Part 88
89
Part 89
90
Part 90
91
Part 91
92
Part 92
93
Part 93
94
Part 94
95
Part 95
96
Part 96
97
Part 97
98
Part 98
99
Part 99
100
Part 100
101
Part 101
102
Part 102
103
Part 103
104
Part 104
105
Part 105
106
Part 106
107
Part 107
108
Part 108
109
Part 109
110
Part 110
111
Part 111
112
Part 112
113
Part 113
114
Part 114
115
Part 115
116
Part 116
117
Part 117
118
Part 118
119
Part 119
120
Part 120
121
Part 121
122
Part 122
123
Part 123
124
Part 124
125
Part 125
126
Part 126
127
Part 127
128
Part 128
129
Part 129
130
Part 130
131
Part 131
132
Part 132
133
Part 133
134
Part 134
135
Part 135
136
Part 136
137
Part 137
138
Part 138
139
VISUAL

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!