" Apa itu...?" gumam Arvan.
Arvan melihat sesuatu di dalam selimut bergerak - gerak di sofa.
" Siapa pagi - pagi tidur disini...?"
Arvan berjalan mendekati sofa dan melihat William tidur di sofa sisi kanan. Kemudian Arvan melirik ke sofa bagian kiri ke arah orang yang bergerak - gerak di dalam selimut.
" Apa mungkin ini mamanya Raka...? Tapi kenapa tidur disini...?" gumam Arvan lagi.
" Kak Willy... bangun...!" Arvan mengguncang bahu William.
" Hmmm..." sahut William malas.
" Kak, ini sudah siang. Mau ikut ke pernikahan kak Ricko nggak..." pekik Arvan.
Bu Sarah dan yang lainnya menghampiri Arvan yang nampak berbicara dengan seseorang.
" Bicara sama siapa Van...?" tanya Ibu.
" Ini bangunin kak Willy, Bu..."
" Willy sama Rissa sudah datang...?"
William yang mendengar suara berisik langsung bangun walaupun sebenarnya matanya masih pengen terpejam.
" Uncle Willy..." pekik Raka bahagia.
" Hey boy... sepertinya kau betah tinggal disini..." sahut Willy.
" Mama dimana Uncle...?"
" Tuh, masih tidur... bangunin sana, Uncle mau mandi dulu..."
Hans sudah siap dengan mobilnya tinggal menunggu para penumpang.
" Ini jadi berangkat nggak...?" tanya Hans.
" Tapi Rissa belum bangun..." ucap Arvan.
" Begini saja, Arvan nanti tungguin Rissa dan Willy mandi. Yang lain berangkat duluan..." ucap Ayah.
" Baiklah, Arvan tunggu kak Willy saja..."
Willy segera masuk ke dalam kamar Hans untuk membersihkan diri sementara yang lain sudah berangkat.
Arvan duduk bersama Raka di depan Rissa yang masih tidur. Raka tidak mau membangunkan mamanya karena kasihan.
" Raka, bangunin mama kamu. Nanti bisa telat ke pernikahan Uncle Ricko..."
" Mama pasti capek Pa, pulang kerja langsung kesini. Tunggu sebentar lagi sampai mama bangun sendiri..."
Willy yang sudah siap, segera menghampiri Arvan dan Raka yang sedang berdebat.
" Ayo berangkat...!" ajak Willy.
" Rissa masih tidur Kak..." jawab Arvan.
" Kenapa tidak dibangunin...?"
" Jangan Uncle, kasihan mama lelah..."
" Huft... tapi kita bisa terlambat Raka..."
" Papa sama Uncle duluan saja, nanti Raka belakangan sama Mama..."
" Begini saja, kak Willy duluan saja pakai supir. Biar Arvan bareng Raka dan Rissa..."
" Ya udah, kalau begitu saya pergi dulu..." pamit William.
Hampir setengah jam menunggu, akhirnya Rissa membuka selimutnya lalu duduk.
" Jam berapa ini...? Kenapa rumah sepi sekali...?" gumam Rissa.
" Mama...!" teriak Raka tiba - tiba.
Raka berlari memeluk mamanya yang masih setengah sadar itu. Rissa tersenyum lalu mencium pipi gembul sang anak.
" Sayang, kok rumah sepi...?" tanya Rissa.
" Semua sudah pergi ke rumah Aunty Sandra, Ma..."
" Kenapa nggak ada yang bangunin Mama, sayang...?"
" Mama pasti lelah, Raka tidak tega bangunin Mama..."
" Ya udah, dimana kamar Raka. Mama mau mandi dulu..."
" Ada diatas, ayo Raka antar..."
Setelah mengantar mamanya ke kamar, Raka turun menemui papanya.
" Pa, lagi ngapain...?" tanya Raka.
" Bikin sarapan buat Mama kamu, sayang. Mama udah bangun...?"
" Udah, itu lagi mandi di kamar Papa..."
" Kenapa di kamar Papa...?"
" Mama tadi tanya kamar Raka, jadi Raka antar saja ke kamar Papa..." celoteh Raka.
" Ya sudah, kita bawa makanan ini ke kamar saja biar selesai mandi langsung sarapan..."
Raka dan Arvan meletakkan makanan di meja kamar lalu keduanya rebahan di tempat tidur menunggu Rissa selesai mandi.
Tak lama, pintu kamar mandi terbuka dan suara langkah kaki mendekati Arvan dan Raka yang tengah berbaring memunggunginya.
" Raka, kak Arvan..." panggil Rissa.
" Suara ini_..." gumam Arvan seakan mengingat sesuatu.
" Mama sudah selesai mandi...? Tuh, Papa udah membuat sarapan special buat Mama..." sahut Raka.
Jantung Arvan berdetak sangat kencang mendengar suara yang mirip dengan wanita yang selama ini dia cari.
" Perasaan macam apa ini? Kenapa aku merasa gugup untuk berhadapan dengan Rissa..." batin Arvan.
Rissa juga merasakan hal yang sama seperti Arvan. Jantungnya berdetak tak karuan dan gugup menghinggapi hatinya.
Perlahan Arvan beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Rissa yang duduk di sofa bersama Raka.
" Rissa..."
" Iya Kak_..."
Mereka saling bertatapan, namun dengan tatapan yang berbeda. Mereka sangat terkejut hingga Rissa menjatuhkan sendok ditangannya ke lantai.
" Kau..."
" Erina..." lirih Arvan.
" Kenapa kau ada disini...!" teriak Rissa yang tiba - tiba histeris.
" Erina, dengar dulu penjelasanku..." ucap Arvan.
" Pergi! Aku tidak sudi melihatmu lagi...!" pekik Rissa sambil menangis membuat Raka ketakutan.
" Mama kenapa marah sama Papa...?" tanya Raka takut.
" Diam Raka, dia bukan papa kamu...!" bentak Rissa.
" Cukup Erina! Jangan membentak Raka, dia tidak tahu apa - apa tentang masa lalu kita..." Arvan meraih Raka dalam gendongannya agar anak itu berhenti menangis.
" Jangan dengarkan ucapan Mama sayang, sampai kapanpun papa adalah papa kamu..." ucap Arvan pada anaknya.
" Kenapa Mama marah...?"
" Raka tunggu di luar ya? Biar papa bicara sama Mama..."
" Iya Pa..."
Raka keluar dari kamar dan menunggu mereka dibawah. Arvan mendekati Erina yang terlihat sangat marah.
" Maafkan saya Erina, saya tidak sengaja melakukan itu padamu..."
" Pergi! Saya tidak sudi melihatmu lagi...!"
" Saya tahu ini sulit untukmu, saya sudah mencarimu selama lima tahun ini. Bagaimana bisa kamu pergi sejauh itu? Hidupku juga menderita karena rasa bersalah yang selalu menghantuiku. Maafkanlah aku... Aku akan menikahimu..."
" Aku tidak sudi menikah denganmu...!" teriak Erina.
" Pikirkan tentang anak kita, dia butuh kita berdua..." bujuk Arvan.
" Aku benci padamu... Aku tidak mau melihatmu lagi...! Aku akan bawa Raka pergi sejauh mungkin darimu...!"
" Erina, bagaimanapun juga aku papa kandung Raka. Dia juga membutuhkan aku..."
" Kenapa kau begitu yakin kalau dia anakmu? Kau bukan satu - satunya lelaki yang menghabiskan malam bersamaku..."
" Hentikan ocehanmu Erina! Aku yakin Raka adalah anakku...!"
Perdebatan panjang terus saja terjadi, Raka yang tadinya ingin mengajak mereka berangkat ke pernikahan Ricko mengurungkan niatnya.
Raka mendengar kedua orangtuanya memperdebatkan tentang status papa kandungnya. Walaupun umurnya masih masuk usia balita, namun jalan pikirannya jauh diatas anak seusianya. Airmatanya mengalir deras mendengar pertengkaran kedua orangtuanya.
" Apa benar papa Arvan bukan papa kandungku...? Siapa papaku yang sebenarnya...?" batin Raka.
Raka segera turun dan keluar dari rumah tanpa sepengetahuan para penjaga rumah. Dia juga menghapus semua rekaman cctv di rumah itu selama dia keluar.
" Jika keberadaanku hanya membuat papa dan mama bertengkar, lebih baik Raka pergi dari kalian. Raka tidak mau menjadi beban untuk kalian..." gumam Raka seraya menyeka airmatanya.
Raka mengirim pesan pada seseorang lalu mematikan ponsel pintarnya. Dia berjalan menyusuri jalanan tak tahu harus pergi kemana. Raka masih menangis menatap orang - orang berlalu lalang di depannya.
Saat ini Raka duduk di sudut taman seorang diri. Melihat seorang anak seusianya yang digandeng dengan penuh kasih sayang oleh kedua orangtuanya membuat Raka merasa iri. Sejak lahir, belum pernah ia merasakan kasih sayang orangtua yang utuh. Arvan yang dia anggap sebagai papa kandungnya ternyata hanya sebuah kebohongan belaka. Mamanya juga tidak pernah terlihat bersama dengan papanya.
" Sebenarnya aku ini anak siapa...?" batin Raka.
# # #
Setengah jam kemudian, seseorang sampai di rumah kemudian bergegas menuju kamar Arvan. Masih terdengar suara perdebatan di dalam kamar itu.
" Hentikan pertengkaran kalian...!"
.
.
TBC
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments