Privat jet sudah mendarat, Arvan dan Hans langsung di sambut oleh anak buahnya di Bandara. Mereka langsung pergi ke Markas sang Ayah.
" Kalian sudah datang..." Ayah Arvan, Regan Sebastian pimpinan detektif swasta yang sangat terkenal karena beliau sering membantu pekerjaan polisi di negara itu.
" Iya Yah, Ibu tidak disini...?" tanya Arvan setelah memeluk Ayahnya.
" Tidak, Ibumu tidak suka tempat ini. Dia lebih suka berada di toko bunga miliknya..."
" Tidak apa - apa Yah, yang penting Ibu bahagia..."
" Ya sudah, kalian istirahat dulu. Besok kita bahas tentang tugas yang akan kalian tangani..." ucap Ayah.
" Baik Yah, besok Arvan akan ke rumah menemui Ibu..."
" Ibumu sangat berharap kau menetap disini..."
" Ayah kan tahu sendiri, pekerjaan Arvan lebih banyak di Indonesia..."
" Iya, Ayah percaya padamu. Tapi Ayah masih berharap kamu bisa melanjutkan bisnis Ayah ini..."
" Ayah tenang saja, Arvan akan memberikan penerus buat Ayah yang banyak..." gurau Arvan.
" Dasar anak nakal! Bahkan kekasihpun kau tak punya..." ledek Ayah.
"Ayah, Hans mau ke kamar duluan..." pamit Hans pada Ayah angkatnya.
" Oh iya, istirahatlah Nak. Kau pasti lelah mengurus Arvan..."
Hans segera masuk ke dalam kamar karena sangat lelah dan ingin cepat - cepat merebahkan tubuhnya di kasur. Dia sangat bersyukur karena bisa di pungut oleh keluarga Sebastian yang sangat kaya raya dan baik hati.
* * *
Pagi hari, Arvan mengunjungi ibunya di kediaman pribadi keluarga Sebastian.
" Ibuu..." teriak Arvan.
" Anak Ibu akhirnya pulang juga, kapan datang...?"
" Semalam Bu, Arvan menginap di tempat kerja Ayah..."
" Hans dan Ricko tidak ikut...?"
" Hans masih di tempat kerja Ayah, kalau Ricko ngurus pekerjaan di Indonesia..."
" Apa kau tidak bawa calon istri...?"
" Arvan itu masih muda Bu, baru 20 tahun. Tapi ada yang ingin Arvan bicarakan dengan Ibu..."
" Ada apa...?"
" Kita bicara di toko bunga aja, Arvan rindu pada bunga - bunga milik Ibu..."
" Ya sudah, kita berangkat sekarang..." ajak Ibu.
Arvan dan ibunya segera berangkat menuju toko bunga yang tidak terlalu jauh dari rumah utama. Sampai disana, Arvan berkeliling menikmati indahnya bunga bermekaran di kebun belakang toko sang Ibu.
Saat menatap bunga - bunga itu, Arvan teringat wajah Erina yang selalu mengusik pikirannya. Arvan berjanji pada dirinya sendiri untuk bertanggungjawab pada gadis yang telah dia sakiti itu.
" Van, kenapa kamu melamun? Apa ada masalah dengan pekerjaanmu...?" Ibu menghampiri Arvan yang sedang memetik setangkai bunga mawar putih.
" Oh tidak Bu, ini bukan masalah pekerjaan..."
Arvan menghirup aroma mawar itu cukup lama. Sepertinya aroma bunga itu tak asing untuknya. Dia berusaha mengingat sesuatu dan pikirannya langsung tertuju pada wangi tubuh gadis itu.
" Erina..." desis Arvan.
" Siapa Erina...?" tiba - tiba sang ibu menepuk bahunya.
" Mmmm... bukan siapa - siapa Bu, lupakan saja. Arvan harus segera menemui Ayah..."
" Kau tidak boleh pergi sebelum cerita pada Ibu...!"
" Bu, lain kali Arvan pasti cerita. Sekarang hanya pelukan Ibu yang Arvan butuhkan..."
Arvan mengurungkan niatnya untuk menceritakan masalahnya kepada sang ibu. Dia tidak mau ibunya berpikir bahwa dirinya adalah laki - laki yang tidak bermoral. Setelah cukup puas memeluk sang ibu, Arvan berpamitan untuk kembali ke markas ayahnya.
Lima belas menit kemudian, Arvan memasuki halaman markas Ayahnya dan melihat sekilas beberapa orang sedang berlatih bela diri.
" Selamat pagi Yah..." sapa Arvan.
" Selamat siang..." cibir Ayah.
Pasalnya sekarang sudah pukul sepuluh dan Arvan dengan santainya duduk di samping Ayahnya.
" Apa tugas yang harus Arvan kerjakan...? Pekerjaan di kantor sangat banyak, jadi Arvan nggak bisa lama stay disini..."
" Ikut Ayah ke ruang kerja, Hans sudah menunggu dari tadi..."
Arvan berjalan mengikuti sang Ayah di belakang. Tugas ini pasti sangat sulit sehingga Arvan harus terjun langsung ke lapangan. Biasanya William, orang kepercayaan Ayah Arvan yang akan turun tangan sendiri bersama anak buahnya.
Di ruang kerja itu, ada Hans dan William yang telah lama menunggu. Arvan segera duduk bersama keduanya.
" Ini kasus yang sangat rumit..." tutur Ayah.
" Maksud Ayah...?"
" Tentang pembunuhan seorang putri Pejabat negeri yang sangat terkenal. Pembunuhan ini dilakukan dengan sangat rapi dan tidak meninggalkan jejak sama sekali..."
" Apa ini soal pribadi atau perkerjaan orangtuanya Yah...?"
" Itulah yang harus kalian selidiki, tapi kalian harus hati - hati. Klien kita adalah orang terpandang, mungkin saja ini ulah para mafia atau pemberontak yang tak menyukai posisinya saat ini..."
" Baiklah, kami akan mempelajari berkas - berkas ini dulu..." ucap Arvan.
Setelah mempelajari berkas pembunuhan itu, Arvan dan Hans mulai bergerak menyelidiki di mulai dari tempat ditemukannya mayat korban yang berada di taman.
" Hans, retas cctv yang ada di ujung jalan itu...!" perintah Arvan.
" Tapi itu terlalu jauh Van, apa kau yakin...? Sistem keamanan di negara ini sangat ketat, cukup sulit untuk meretasnya..."
" Kita pulang sekarang, kita akan meretasnya di rumah..."
" Baiklah..."
Arvan masuk ke ruang kerjanya lalu membuka laptop untuk mencari jejak sang pembunuh. Ternyata benar, walaupun bukanlah tempat yang penting tapi sistem keamanannya memang sulit diretas.
" Huft... aku tidak bisa fokus..." keluh Arvan.
" Kenapa Van...?" tanya Hans.
" Di pikiranku hanya ada Erina saja, sepertinya aku sudah mulai gila...!" geram Arvan.
" Kau ini, apa ada rasa cinta yang mulai tumbuh dihatimu...?"
" Tidak mungkin, kami baru sekali bertemu..."
" Walaupun begitu, kau pernah melewati malam bersamanya..." cibir Hans.
" Aku merasa sangat bersalah padanya Hans, dia perempuan baik - baik yang telah kuhancurkan masa depannya..."
" Tenanglah, kita pasti akan menemukannya..." hibur Hans.
" Huft... kita lanjutkan nanti saja, pikiranku sedang kacau hari ini..."
Arvan melenggang masuk ke dalam kamarnya dan segera menjatuhkan tubuhnya di atas kasur king size miliknya.
* * *
Di tempat yang berbeda, Erina kini sedang berada di kampus barunya. Dia sedang duduk sendirian menatap orang - orang yang berlalu lalang di hadapannya.
" Woiii... bengong aja dari tadi...?" Sam datang membuyarkan lamunan Erina.
" Ish... ngagetin aja sih Sam...!" gerutu Erina kesal.
" Apa terjadi masalah Rin...? Kau boleh berbagi suka dukamu padaku..." tutur Sam lembut.
" Aku hanya lelah Sam, tidak perlu khawatir..." sahut Erina pelan.
"Mau aku antar pulang...?"
" Tidak usah Sam, aku bawa mobil sendiri..."
" Ok! Tapi kita makan dulu yuk di cafe depan, aku sangat lapar..." rengek Sam.
" Iya, tapi kamu yang traktir ya...?"
" Siap Nona...!"
Akhirnya mereka berdua berjalan menuju kafe yang hanya berseberangan dengan gerbang kampus. Sampai di dalam cafe, Sam memesan beberapa makanan untuk mereka berdua.
" Sam, kenapa pesan makanan sebanyak ini? Kita cuma berdua loh...?"
" Tidak apa - apa, makanlah yang banyak biar cepet gede..." gurau Samuel.
" Memangnya aku anak kecil..." cibir Erina.
" Sudah, makan saja Rin... keburu makanannya dingin..."
" Iya, terimakasih ya Sam... kamu selalu baik padaku, kamu sahabat terbaikku..." ucap Erina tulus.
Samuel menyunggingkan senyumnya walau dengan terpaksa. Sebenarnya dia ingin mengungkapkan perasaannya pada Erina sekarang, namun gadis itu malah menganggapnya hanya sebatas sahabat saja.
.
.
TBC
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Olan
mampir thor😍 salam dari hate but love
2021-11-02
1
ANAA K
Semangat yah thor🙏🏿
2021-10-15
0