Ricko mengarahkan ponselnya ke tempat Arvan dan Hans yang sedang duduk.
" Maaf ya kak, lain kali saja ya...? Rissa sedang di jalan mau ke kantor ada meeting pagi..."
[ " Oh begitu, ya udah. Kirain nggak sibuk, selamat bekerja adik kecilku..." ]
" Iya Kak, bye..."
Setelah mematikan panggilan telfonnya, Rissa kembali menjalankan mobilnya menuju kantor.
# # #
Hari ini Ricko, Arvan dan Hans sedang mempersiapkan acara pernikahan Ricko yang hanya tinggal satu minggu lagi. Mereka menunggu kedatangan keluarga dari London karena sebentar sampai.
" Van, siapa yang jemput Ayah dan Ibu...?" tanya Ricko.
" Sopir kantor tadi aku suruh jemput Kak, soalnya kita sedang sibuk disini..." jawab Arvan.
" Hai semua..." sapa gadis cantik yang berjalan mendekati mereka.
Gadis itu adalah Sandra, calon istri Ricko. Seorang model terkenal yang juga anak seorang pengusaha.
" Eh... kakak ipar, silahkan duduk..." sahut Hans.
" Sayang, kamu ngapain kesini...?" tanya Ricko.
" Memangnya nggak boleh aku datang kesini...?!" jawab Sandra ketus.
" Bukan begitu, tapi kan aku lagi sibuk mempersiapkan semuanya..." ucap Ricko.
" Aku kesini bukan buat kamu...!"
" Terus buat siapa dong...?"
" Mau ketemu adik ipar yang imut itu..." Sandra melirik ke arah Arvan yang sedari tadi diam sambil memainkan bunga mawar putih di tangannya.
" Kak Sandra mau ngapain ketemu aku...?" tanya Arvan.
Mereka semua terlihat sangat akrab karena tiga tahun menjalin hubungan dengan Ricko, Sandra juga sangat akrab dengan Arvan dan Hans.
" Van, memangnya benar kamu menjalin hubungan special dengan Selly...?"
" Siapa yang bilang...?"
" Salah satu temanku mengenal Selly, dia bilang kamu akan segera menikahinya..."
" Cihh... harusnya aku bunuh saja dia dari dulu...!" geram Arvan.
" Apa perlu kita buang dia di Club Reymond...?" usul Hans.
" Jangan sekejam itu..." ucap Sandra.
" Tapi dia sudah keterlaluan Kak, dia sudah menjebak Arvan lima tahun yang lalu..." sahut Hans.
" Dia minta pertanggungjawaban pada Arvan...?"
" Tidak, tapi adiknya Selly yang jadi korban..."
" Terus kemana gadis itu...?"
" Entahlah, dia pergi dan tak bisa dilacak..."
" Pasti dia sangat menderita..." ucap Sandra sendu.
" Sudahlah, sebentar lagi Ibu datang. Sambut dengan senyuman..." tegur Ricko.
Tak lama orang tua Arvan datang bersama seorang anak kecil. Mereka hanya bertiga sehingga Ricko mencari - cari seseorang di belakang mereka.
" Yah, Rissa mana...?" tanya Ricko.
" Dia belum bisa datang hari ini, katanya pas hari H baru pulang. Kalian tahu sendiri kalau adik perempuan kalian itu sangat hebat dalam berbisnis..." jawab Ayah dengan bangga.
" Anak itu nggak capek apa ya...?" gerutu Ricko.
" Papa... nanti Raka tidur di kamar Papa ya...?"
Raka menghampiri Arvan dan langsung duduk di pangkuannya.
" Iya, nanti Raka tidur sama Papa..."
Arvan menciumi pipi gembul Raka dengan gemas. Di gendongnya anak itu menuju ke kamarnya di lantai atas.
" Harusnya kau diet biar tubuhnya kelihatan atletis..." Arvan kembali menggelitiki tubuh anak dalam gendongannya itu.
" Papaa... hentikan...!" teriak Raka.
" Sebaiknya ganti dulu bajumu, baru nanti kita main..." ucap Arvan.
Sandra memperhatikan keduanya dengan tatapan tajam. Kemiripan wajah keduanya, senyumnya, tingkahnya, tatapan matanya sungguh tak dapat dipercaya.
" Sandra, kamu kenapa...?" tanya Ibu.
" Eh... tidak Bu, Sandra hanya sedang memperhatikan Arvan..." jawab Sandra tanpa sadar.
" Maksud kamu apa...?" sahut Ricko ketus.
" Apa kakak ipar lebih suka sama Arvan daripada kakak pertama...?" goda Hans.
" Ish... jangan ngaco kamu Hans! Coba deh perhatikan mereka..." geram Sandra.
Semua mata tertuju pada Arvan dan Raka yang sedang berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
" Apanya yang aneh Kak...?" tanya Hans polos.
" Ah... kalian ini, coba lihat mereka baik - baik! Wajahnya mirip, senyumnya, tingkah lakunya, tatapan matanya... Mereka itu memang seperti keluarga yang sebenarnya. Apa itu anak kandung Arvan...?"
" Bukanlah sayang, tidak mungkin. Raka itu anaknya Rissa..." sahut Ricko.
" Sudahlah, kita istirahat dulu. Ibu sudah lelah pengen tidur..." ucap Sarah.
" Kalau begitu Sandra juga sekalian pamit, tadi cuma pengen ketemu ibu dan Ayah saja..." pamit Sandra.
" Aku antar ya sayang...?" kata Ricko.
" Tidak usah, aku bawa mobil sendiri..." tolak Sandra.
Di dalam kamar, Arvan sedang mandi bersama Raka. Mereka terlihat bersenang - senang dengan bermain air di dalam bathup.
" Pa, apa pekerjaan Papa sama seperti Mama...? Mama sering sekali nggak pulang. Kata Opa, Mama lagi banyak kerjaan..."
" Mungkin Mama memang lagi sibuk Raka, nanti kalau tidak sibuk pasti temenin Raka..." jawab Arvan lembut.
" Papa kenapa tidak tinggal dengan Mama...? Apa Papa membenci Mama...? Atau Mama yang pergi dari Papa...? Apa Papa menyakiti Mama...?" tanya Raka bertubi - tubi.
Arvan tidak tahu harus menjawab apa pada anak kecil di hadapannya sekarang. Bahkan melihat wajah ibunya Raka pun Arvan belum pernah.
" Hmmm... nanti saat pernikahan Uncle Ricko, Papa dan Mama pasti bersama lagi..." ucap Arvan sambil tersenyum.
" Papa jangan berpisah lagi dengan Mama ya...? Raka sering melihat Mama tiba - tiba menangis saat tengah malam, tapi Raka tidak berani bertanya. Mama sangat kuat saat di luar, tapi sangat rapuh saat sendiri..."
" Sudah, tidak perlu memikirkan Mama. Mama pasti bahagia memiliki kamu..."
" Bukan aku Pa, tapi kita..." ucap Raka tegas.
" Iya sayang..." Arvan menarik hidung mancung anaknya.
" Oh iya Boy, boleh Papa tanya sesuatu...?"
" Tanya apa Pa...?"
" Kenapa waktu pertama kali bertemu, kamu bisa memilih saya sebagai Papa kamu...?"
" Karena kau memang Papaku..." jawab Raka sarkas.
" Kenapa tidak memilih Uncle Ricko atau Uncle Hans...?" cecar Arvan.
" Apa Papa tidak mau mengakui Raka sebagai anak Papa...?" ucap Raka sendu.
Seperti ada yang mengusik hati anak kecil itu, diapun langsung keluar dari bathup dan membilas tubuhnya pada shower. Setelah itu, Raka keluar dengan handuk yang sudah melekat di tubuhnya.
" Apa aku salah bicara...? Mengapa dia terlihat sedih...? Kenapa hatiku sakit melihat matanya berkaca - kaca seperti itu...?"
Arvan segera membersihkan diri, lalu menyusul Raka ke dalam kamar. Namun saat membuka pintu kamar mandi, Arvan tak melihat keberadaan anak kecil itu.
Setelah memakai baju, Arvan segera keluar kamar mencari Raka. Arvan mencari anak itu di lantai bawah namun tidak ada. Hingga mengelilingi seluruh rumah, namun batang hidung anak itu tetap tak terlihat.
" Kemana sih anak itu pergi? Apa dia marah padaku...?" gumam Arvan.
Arvan mencari Raka ke dalam semua kamar yang ada di dalam rumah itu. Dia mulai frustasi dan meminta bantuan pada Hans yang masih tidur.
" Hans... bangun...!" teriak Arvan.
" Hmmm... kenapa sih Van...? Ganggu orang tidur aja...!" gerutu Hans kesal.
" Raka tidak ada Hans...!" pekik Arvan.
Arvan khawatir Raka hilang karena ulahnya. Tiba - tiba dia teringat dengan Erina yang menghilang akibat ulahnya pula.
" Apaa...? Maksudmu tidak ada apa Van...?" Hans mencoba untuk menepis rasa kantuknya.
" Tadi dia mandi bersamaku tapi keluar duluan dari kamar mandi dan saat aku keluar dia sudah tidak ada. Aku sudah mencari ke seluruh rumah tapi tidak ada..."
" Ish... sejak kapan kepalamu itu tidak bisa berfikir...?" tanya Hans mengejek.
" Apa maksudmu...?"
.
.
TBC
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments