" Temui saya nanti sore di taman kota jam lima..." ucap seorang pelayan kepada Arvan yang hendak masuk ke dalam mobil.
" Untuk apa...?" tanya Arvan.
Pelayan itu langsung masuk tanpa menjawab pertanyaan Arvan.
" Kenapa Van...?" tanya Hans.
" Ayo pergi...!" ucap Arvan datar.
Keluar dari halaman rumah Erina, Arvan nampak frustasi. Berkali - kali Arvan mengumpat karena tidak berhasil menemukan gadis itu.
" Pelayan tadi bicara apa padamu Van...?" tanya Hans.
" Dia memintaku menemuinya di taman kota nanti sore..." jawab Arvan malas.
" Mungkin dia punya informasi tentang Erina..."
" Entahlah! Sepertinya keluarga itu memang bermasalah. Aku tidak menyangka Erina adalah adik dari Selly, perempuan iblis itu..."
" Jadi secara tidak langsung Selly sudah menghancurkan hidup adiknya sendiri..." ucap Hans.
# # #
Tepat pukul lima sore, seorang wanita paruh baya duduk di sebuah bangku panjang di taman kota. Dia berharap laki - laki itu datang menemuinya.
Arvan yang tadinya enggan untuk datang dipaksa oleh Hans. Siapa tahu pelayan itu punya informasi penting tentang gadis yang dicarinya.
" Bibik..." panggil Hans.
" Eh Tuan... bibik kira kalian tidak datang..."
" Kenapa bibik menyuruh kami kesini...?" tanya Arvan.
" Saya hanya ingin memastikan jika salah satu dari kalian adalah orang yang bertanggungjawab dengan kehamilan Non Erina..."
" Iya Bik, itu anak saya..." jawab Arvan.
" Lalu, kenapa Non Erina tidak bersamamu sekarang...?"
" Saya juga sedang mencarinya Bik..."
" Tapi waktu itu Nona bilang mau mencari Tuan..."
" Benar, tapi waktu itu saya sedang berada di luar negeri. Saya tidak sempat bertemu dengannya..."
" Tolong cari dia Tuan, saya tidak mau terjadi sesuatu yang buruk menimpa anak malang itu. Jangan sampai Non Erina bertemu dengan Nyonya dan Non Selly, saya tidak sanggup melihat non Erina menderita..."
" Apa Selly sering menyakiti Erina...?"
" Sering, bahkan sejak kecil sudah seperti itu..."
" Mungkin bibik tahu tempat yang sering didatangi Erina...?"
" Dia kuliah di Universitas XX dan juga sering mengunjungi makam ibunya di pemakaman dekat kompleks..."
" Cuma itu...? Mungkin bibik tahu teman dekat Erina...?"
" Yang bibik tahu, dia hanya dekat dengan seorang laki - laki teman sejak masih SMP namanya Samuel. Mereka kuliah di kampus yang sama tapi beda Fakultas..."
" Terimakasih Bik, saya akan mencari Erina sampai dapat..."
" Tolong jaga dia Tuan, sejak lahir gadis malang itu tak pernah lepas dari saya. Tapi saat ini, Nona melarang saya untuk mengikutinya. Saya sangat khawatir..."
" Saya akan berusaha untuk menemukannya secepatnya Bik, jangan khawatir. Hubungi saya jika suatu saat Erina menghubungi bibik..."
" Baik Tuan..."
" Saya harus pergi sekarang, permisi..." ucap Arvan.
" Silahkan Tuan..."
# # #
Satu bulan berlalu, Arvan belum juga menemukan jejak Erina. Erina sudah tidak datang ke kampus sejak mendatangi Apartement Arvan waktu itu. Bahkan orang suruhannya yang disuruh berjaga - jaga di pemakaman ibunya Erina juga tak mendapati gadis itu mengunjungi pusara sang Ibu.
Arvan semakin frustasi dan juga mual di pagi hari seakan merontokkan seluruh tulangnya. Dia tidak bisa mencium bau yang menyengat di hidungnya. Bahkan dia beberapa kali meninggalkan klien begitu saja hanya karena mencium aroma parfum mereka yang menurutnya sangat menyengat dan membuatnya muntah.
" Van, kau dari pagi belum makan. Ini aku belikan makanan untukmu..." ucap Ricko.
" Terimakasih Kak, tapi saya sedang tidak berselera untuk makan..."
Setiap hari Arvan hanya makan buah - buahan segar dan sedikit asam agar tidak mual dan muntah.
" Kamu juga harus makan Van, kalau Ibu tahu kamu sakit pasti beliau khawatir..."
" Asal kak Ricko dan Hans tidak bilang, Ibu tidak akan tahu..."
" Huft... susah ngomong sama kamu...!"
Hans yang baru datang langsung meletakkan paper bag di depan Arvan dengan tersenyum.
" Apa itu Hans...?" tanya Ricko.
" Oh ini makanan dari rumah Erina, masakan bik Ina pelayan di rumah Tuan Bagas..."
" Untuk apa...?" tanya Arvan heran.
Bisa - bisanya Hans minta makan di rumah orang, apakah uang yang dia berikan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya? Pikir Arvan.
" Ini buat kamu Van, kata bik Ina jika seorang istri sedang hamil dan yang ngidam itu suaminya mungkin makanan yang sukai sang istri membuat suaminya tidak merasa mual. Coba deh kamu makan..." tutur Hans.
" Aturan dari mana itu? Selera tiap orang kan berbeda...?" sahut Arvan.
" Coba dulu baru komentar...!" kesal Hans.
Ricko mengambil piring dan sendok untuk Arvan. Layaknya anak kecil, Si Boss itu dapat pelayanan khusus dari dua saudaranya.
" Wah... sepertinya ini enak, ayo cobain..." ucap Hans menyodorkan sendok ke mulut Arvan.
Dengan terpaksa Arvan membuka mulutnya dan menerima suapan dari Hans, kakak kedua.
" Gimana? Enak nggak...?" tanya Ricko.
" Lumayan sih Kak..." jawab Arvan tersenyum.
" Ya udah, makan sendiri! Aku masih banyak pekerjaan...!" ujar Hans meletakkan sendok di piring.
" Memangnya siapa yang minta disuapi...?" elak Arvan sambil menyuap makanan ke mulutnya.
" Oh iya Van, Ayah minta kita untuk menangani kasus di Malaysia. Apa kau bisa...?" tanya Hans.
" Kasus apalagi...?"
" Aku belum terima datanya, nanti saya minta sama Willy supaya dikirimkan..."
" Arvan kan masih sering sakit, apa bisa menangani kasus? Nanti kalau ada kontak fisik gimana...?" tegur Ricko.
" Tidak apa - apa Kak, nanti Hans yang akan jagain Arvan..."
" Saya juga ikut...!" ucap Ricko tegas.
" Kantor gimana...?"
" Saya bisa mengaturnya nanti, saya akan menyusul kalian di hari Sabtu. Kalian harus bisa memecahkan kasus itu sebelum saya datang..."
" Siap kakak pertama...!" ucap Arvan nyengir.
Tanpa terasa, makanan di dalam piringnya telah kandas tak tersisa. Ini pertama kalinya Arvan tidak memuntahkan makanannya. Dia merasa sangat senang dan berterimakasih pada Hans.
" Hans, terimakasih untuk makanannya. Lain kali minta bik Ina untuk mengirimkan makanan kesini..."
" Iya, tapi untuk bisnis Bagas gimana...? Katanya kau mau menghancurkan keluarga Selly..."
" Tapi mereka juga keluarga Erina, Hans...!"
" Ah... benar juga..."
" Biarkan saja, tapi tetap suruh orang untuk mengawasi gerak - gerik Selly..."
" Siap Boss...!"
# # #
Di London, Inggris.
Hari ini, di pagi yang cerah seorang gadis sedang tersenyum bersama bunga - bunga yang bermekaran. Hatinya begitu nyaman saat menatap mawar putih dalam genggamannya.
" Rissa...!"
Sarah yang berada di ujung pintu memanggil anak angkatnya itu dengan tersenyum.
" Eh Ibu... Ada apa Bu...?"
" Kamu sedang apa disitu...? Tersenyum sendirian..."
" Hehehee... Rissa hanya sedang menatap mawar putih yang sangat cantik ini..."
" Kamu itu sama kayak anak Ibu, dia juga menyukai mawar putih..."
" Oh ya, apa mungkin kami akan cocok saat bertemu nanti...?"
" Semua anak Ibu itu sangat ramah, mereka pasti bisa menerima kamu dengan tangan terbuka. Oh ya, sepertinya kamu sudah tidak pernah mual lagi Nak...?"
" Iya Bu, cuma pas awal - awal disini saja setelah itu sudah nggak mual lagi sampai sekarang..."
" Syukurlah, jaga cucu Ibu baik - baik. Kita akan merawatnya bersama - sama.
" Iya Bu, Rissa akan merawat anak ini dengan baik walaupun dia tidak tahu siapa bapaknya..."
" Sudah, tidak perlu difikirkan. Kita semua akan menyayangi anak ini dengan setulus hati..."
Ibu Sarah dan Rissa bercengkrama di antara bunga - bunga yang bermekaran. Mereka berdua nampak bahagia hingga seseorang mengejutkan keduanya.
" Kalian bersenang - senang rupanya..."
.
.
TBC
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Dewi Dj
semangat ya Rissa moga ktemuan ma. arvan
2022-11-24
0
Farida Wahyuni
aku saya... tolong kata2nya kalau pakai kata "aku", aku saja kaka, ga usah pakai kata "saya" , aku jadi kurang enak bacanya,padahal ceritanya bagus.
2022-01-10
1
Itin
sudah gantian bapaknya yg mual tiap hari 😂😂
2021-11-29
0