" Jangan pergi, tetaplah bersamaku..." rintih Arvan.
Walaupun matanya terbuka, namun penglihatan Arvan buram. Kepalanya pusing ditambah demam membuatnya meracau tidak jelas.
Delia mengernyitkan dahinya, pasalnya selama ini Arvan tidak pernah dekat dengan seorang perempuan.
" Hans, apa yang terjadi dengan Arvan...?" tanya Delia.
" Saya juga tidak tahu Del, sejak kejadian tiga minggu yang lalu dia jadi tidak fokus dengan pekerjaannya..."
" Kenapa...?"
" Nanti saya ceritakan di luar, biar Arvan istirahat..."
Hans dan Delia duduk di ruang tamu sambil menulis resep obat untuk Arvan.
" Tadi Arvan sering muntah - muntah, katanya mual. Saya tidak tahu harus melakukan apa..." ucap Hans.
" Apa dia memiliki kekasih...?"
" Tidak, tapi kurasa dia mencintai seorang gadis..."
" Siapa...?"
" Entahlah, mereka hanya bertemu satu kali namun sangat berkesan..."
" Maksudnya mereka melakukan_..."
" Ya begitulah, Arvan dijebak oleh seseorang dengan obat itu sehingga dia melampiaskannya pada gadis yang menolongnya..."
" Astaga, bagaimana bisa itu terjadi...?"
" Huft, harusnya aku tak membiarkan Arvan pergi sendiri malam itu..." sesal Hans.
" Hans, apa mungkin gadis itu hamil? Mungkin saja Arvan ngidam karena dia selalu memikirkan gadis itu. Kau harus cepat menemukan gadis itu sebelum kejiwaan Arvan terguncang..."
" Saya sedang melacak mobil itu, semoga besok pagi gadis itu bisa ditemukan..."
" Ya sudah, aku harus kembali ke rumah sakit. Tebus obat ini di Apotek, paksa dia untuk makan agar badannya tidak sakit. Dan suruh dia untuk tenang serta tidak memikirkan hal - hal berat dulu..."
" Mau saya antar Nona Delia...?" goda Hans.
" Saya bawa mobil sendiri, sebaiknya jaga adikmu baik - baik..." sahut Delia.
" Ok, terimakasih sudah menyempatkan waktumu..."
" It's OK! Arvan orang yang sangat berjasa bagiku, saya akan melakukan apapun untuknya..."
" Really...? Bagaimana jika saya yang sakit...?" tanya Hans.
" Kamu itu kuat, tidak akan sakit..." Delia menepuk dada Hans sambil tersenyum.
Setelah Delia keluar, Hans menghubungi Apotek terdekat untuk mengantarkan obat yang dibutuhkan Arvan.
* * *
Satu minggu hanya berbaring di kamar, Arvan merasakan tubuhnya sangat sakit. Kini dia mencoba untuk bangun dan mencari keberadaan Erina.
" Hans...!" panggil Arvan dari dalam kamar.
Hans segera masuk ke dalam kamar saat mendengar panggilan dari Arvan.
" Ada apa Van...?" tanya Hans.
" Kamu sudah tahu keberadaan Erina...?"
" Maaf, saya tidak sempat mencarinya karena pekerjaan di kantor sangat banyak dan Ricko sedang berada di cabang luar kota..."
" Jadi kau tidak mencarinya...?!" bentak Arvan.
" Saya sudah menemukan alamat rumahnya, dia adalah anak dari Bagaskara. Dia pemilik Restoran cepat saji yang cukup terkenal di kota ini..."
" Antar saya ke rumahnya! Saya harus bertemu Erina secepatnya..."
" Baiklah, kita berangkat sekarang..." ucap Hans.
Sebenarnya Hans sedikit ragu untuk mengantar Arvan ke rumah Erina. Jika benar dugaan Delia bahwa Erina hamil, ada kemungkinan kedatangannya ke Apartment waktu itu dengan membawa koper karena telah diusir dari rumah.
Satu jam kemudian,
Arvan dan Hans sampai di depan rumah berlantai dua. Cukup mewah walaupun tak sebesar rumah miliknya. Arvan segera keluar dari mobil diikuti oleh Hans di belakangnya.
Setelah menekan bel beberapa kali, muncullah seorang pelayan yang membukakan pintu.
" Selamat pagi, saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini. Apa mereka ada di rumah...?" tanya Hans.
" Iya Tuan, semuanya masih di rumah. Silahkan masuk, saya akan memanggil Tuan dan Nyonya..."
" Terimakasih Bik..."
Arvan dan Hans duduk di ruang tamu menunggu Tuan rumah keluar. Derap langkah kaki mendekati mereka hingga dengan malas Arvan berdiri untuk menghormati pemilik rumah.
" Selamat pagi Tuan Bagaskara..." ucap Arvan.
" Selamat pagi, apa kita saling mengenal...?" tanya Bagas.
" Tidak, tapi saya mengenal putri Anda..."
" Oh... kau teman dari putriku? Sebentar saya panggilkan dia, tunggulah disini..."
Tak lama muncullah seorang gadis dengan pakaian seksinya di belakang Bagas. Arvan dan Bagas terlonjak kaget begitupun dengan gadis itu.
" Arvan...!" pekik Selly.
" Selly...!" Arvan dan Hans melotot dan syok melihat gadis di depannya.
Selly menghambur ke pelukan Arvan dengan senyum manjanya. Arvan sangat geram, ingin rasanya dia menghempaskan tubuh gadis itu ke lantai dengan keras.
" Selly... jaga sikapmu...!" titah Bagas.
" Ayah, dia ini calon menantu Ayah..." ucap Selly manja.
Yona, ibu Selly juga ikut bergabung dengan mereka. Dia tersenyum melihat putrinya memiliki kekasih yang sangat tampan.
" Maaf Selly... bisakah kau melepaskan pelukanmu...?" ucap Arvan menahan amarah.
" Duduklah dulu, kita bisa mengobrol dengan santai..." ucap Bagas.
" Maaf Tuan Bagas, kedatangan saya kemari_..." ucapan Arvan terpotong oleh pekikan Selly.
" Honey... kau mau melamarku...?" mata Selly berbinar menatap Arvan.
" Cihh... menjijikkan sekali wanita ini! Apa mungkin Hans salah alamat...?" batin Arvan geram.
" Astaga, apa aku salah alamat ya...? Perasaan alamatnya sesuai dengan mobil yang dipakai Erina..." batin Hans.
Arvan menatap tajam ke arah Hans untuk memberikan penjelasan.
" Begini Tuan, maksud kami berdua datang kemari adalah untuk mencari Erina..." ucap Hans tegas.
" Erina...?" ucap keluarga Bagaskara serentak.
" Iya, bukankah Anda memiliki anak bernama Erina? Atau mungkin kami salah alamat..." ucap Arvan menegaskan.
" Untuk apa kalian mencari gadis pembawa sial itu...?" ucap Nyonya Bagas.
" Bu, jaga ucapanmu...!" bentak Bagas.
Arvan dan Hans saling berpandangan lalu menatap keluarga itu penuh curiga.
" Maaf, Tuan... ada apa kalian mencari Erina...?" tanya Bagas.
" Kami ada urusan yang belum selesai..." jawab Hans.
" Tapi Erina sedang tidak ada di rumah..." ucap Bagas.
" Untuk apa kau mencari perempuan murahan itu Van? Mungkin sekarang dia tinggal dengan Ayah dari anak yang di kandungnya..." ucap Selly sinis.
" Itu kalau dia tahu Ayahnya yang mana..." timpal ibunya Selly.
" Cukup...! Apa kalian tidak puas sudah mengusir Erina dari rumah ini...!" bentak Bagas.
" Ayah, kami hanya tidak ingin Erina membawa kesialan dalam rumah ini..." ucap Selly.
" Van, sepertinya ada yang tidak beres dengan keluarga ini..." bisik Hans.
" Kita dengarkan saja dulu..." balas Arvan pelan.
Arvan dan Hans hanya melihat drama keluarga yang memekakkan telinga itu. Arvan sangat geram karena Selly menyebut Erina sebagai perempuan murahan.
" Maaf Tuan, Anda melihat kekacauan di rumah kami..." ucap Bagas merasa tidak enak hati.
" Tidak masalah, teruskan saja jika belum selesai..." jawab Arvan dengan tersenyum.
" Tidak... bukan begitu. Sebaiknya kita bicara di ruangan saya saja..."
" Baiklah..."
Bagaskara beranjak menuju ruang kerjanya diikuti Arvan dan Hans. Sampai di dalam, Bagas menutup pintunya dengan rapat.
" Tuan... sebenarnya kalian ini siapa...?" tanya Bagas.
" Saya Arvan Sebastian dan ini asisten saya Hans. Saya kesini untuk mencari Erina..." ucap Arvan.
" Apakah putri saya membuat kesalahan kepada Anda? Saya sebagai ayahnya minta maaf, mungkin anak saya membuat kesalahan yang besar. Maklum saja di usianya yang masih 18 tahun itu dia masih labil..."
" Tidak Tuan Bagas, saya hanya menanyakan keberadaan Erina sekarang..."
Bagas menghela nafas panjang lalu membuangnya kasar. Dia menundukkan kepalanya dan beberapa tetes airmata lolos begitu saja membasahi pipinya.
" Ini semua salah saya, saya tidak bisa mendidiknya dengan baik. Dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dengan layak. Jika memang Erina berbuat salah, saya bersedia menanggung semuanya..."
" Kenapa kalian mengusir Erina...?" Arvan mulai geram.
" Istri dan anak tiri saya, Selly tidak pernah menyukai Erina. Sejak lahir Erina selalu mendapatkan perlakuan buruk dari mereka. Saya tidak berani berbuat apa - apa untuk membela anak kandung saya sendiri. Saya memang seorang pecundang..."
" Masalahnya apa sampai Erina harus diusir...?"
" Erina hamil dan dia tidak bisa menyebutkan siapa yang bertanggungjawab untuk janinnya. Saya tidak bisa melihat dia tersiksa jika tetap berada di rumah ini. Bagaimanapun ada cucuku di rahim Erina. Saya tidak mau Selly menyakiti mereka berdua. Saya menyuruh Erina pergi untuk meminta pertanggungjawaban pria itu. Semoga saja mereka bertemu dan bisa memulai kehidupan baru dengan kebahagiaan..."
Arvan nampak frustasi dan mengacak rambutnya dengan kasar. Saat Bik Ina masuk membawa minuman itu, Arvan langsung meminumnya dalam sekali teguk. Bik Ina memperhatikan saat Arvan selalu bertanya soal Erina lalu dia keluar kembali ke dapur.
Lima belas menit kemudian, Arvan dan Hans keluar dari rumah Bagas tanpa hasil. Saat ingin masuk ke dalam mobil, seseorang memanggilnya.
" Temui saya nanti sore di taman kota jam lima..."
.
.
TBC
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Dewi Dj
tenang aj Van Erina berada PD org ygbtepat yaitu ortu kandung mu
2022-11-23
1
Mpok Nana
Sedih banget,, tpi suka.
2022-02-07
0