Tiga minggu berada di London, Arvan segera menyelesaikan kasusnya dengan cepat. Dia ingin segera mencari keberadaan Erina. Arvan ingin bertanggungjawab dengan semua yang telah diperbuatnya.
" Hans, kapan kasus ini selesai...?"
" Sebentar lagi Van, kasus ini hampir selesai. Tinggal kita tangkap tersangka utama pembunuhan ini..."
" Ternyata kasus ini hanya sepele tapi sangat rumit. Kita tangkap dia malam ini, jangan sampai lolos..."
Ya, setelah menyelidiki kasus ini selama tiga minggu ternyata ini hanya kasus cinta segitiga yang berujung kematian. Mantan kekasih dari korban ternyata seorang psikopat makanya dia bisa merencanakan pembunuhan dengan sangat rapi.
* * *
Sementara itu, di kediaman keluarga Bagaskara. Erina yang sedang membantu ART menyiapkan makan siang tiba - tiba merasa mual dan pusing.
Erina berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya. Tubuhnya terasa sangat lemah dan akhirnya tergeletak di lantai saat dia hendak berpegangan meja dapur. Erina tak sadarkan diri dan membuat para pelayan kaget.
" Nona... bangunlah...!" teriak salah satu pelayan.
" Cepat panggil Tuan kesini...!" ucap pelayan yang tadi pada temannya.
Pelayan itu berlari menuju kamar Tuan Bagaskara dengan tergesa - gesa.
" Tuan... Nyonya...!" pelayan itu mengetuk pintu seraya berteriak.
" Ada apa kau berteriak seperti itu...?!" bentak Nyonya Bagaskara.
" Maaf Nyonya, itu... Non Erina pingsan di dapur..."
" Kenapa dengan Erina...?" Tuan Bagas tiba - tiba merasa sangat khawatir.
" Saya tidak tahu Tuan..."
Bagaskara segera berlari menghampiri anaknya yang tergeletak di lantai dapur.
" Erina...? Bangunlah Nak...!" ucap Tuan Bagas khawatir.
" Tuan, sebaiknya Non Erina dibawa ke rumah sakit saja..." saran pelayan di sampingnya.
Pelayan itu sudah bekerja pada keluarga Bagaskara sejak Erina lahir. Semenjak ibunya Erina meninggal saat melahirkannya, dialah yang merawat Erina hingga sekarang.
Bagaskara segera mengangkat tubuh Erina keluar dari rumah diikuti istri dan pelayan yang merawat Erina. Setelah semua masuk ke dalam mobil, Bagaskara segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Erina langsung dibawa ke ruang IGD dan ditangani dengan cepat. Lima belas menit kemudian, dokter keluar untuk menemui keluarga pasien.
" Keluarga Erina Bagaskara...?" panggil dokter yang menangani Erina.
" Saya Ayahnya Dokter, apa yang terjadi pada anak saya...?"
" Anak Anda baik - baik saja Tuan, dia hanya kelelahan saja dan kurang asupan gizi. Jaga baik - baik, kehamilannya sangat rentan di usianya yang masih muda..."
" Apaa...?! Dokter bilang anak saya hamil...?"
Bagaskara membeku seketika, tubuhnya seakan mati rasa. Ini sangat mengejutkan untuknya, putrinya yang terlihat selalu santun dan bertutur kata dengan lembut itu telah mencoreng mukanya. Ini sebuah penghinaan yang tak dapat untuk dilupakan.
" Benar Tuan, usia kehamilan anak Anda sekitar tiga minggu. Mohon dijaga dengan baik kondisi kesehatannya. Saya permisi dulu, masih ada pasien lain yang harus saya tangani..."
Setelah dokter pergi, Yona istri Bagas malah mencibir anak tirinya itu dengan sinis.
" Ayah lihat sekarang kelakuan anak tidak tahu diri itu! Dia tak lebih hanya seorang wanita j*l*ng..." cibir Yona.
" Diam kau! Tidak bisakah kau tidak mengusikku sebentar saja...!" bentak Bagaskara.
Bik Ina yang sedari tadi diam hanya bisa menangis meratapi nasib gadis yang selama ini dirawatnya.
" Harusnya kau sadar Bagas, anak itu kelakuannya sama dengan ibunya...!" pekik Yona.
Bagas tak menanggapi ucapan istrinya, dia lebih memilih melihat kondisi anaknya.
" Hey... anak sampah ini sudah sadar ternyata..." cibir Yona.
" Erina, bilang pada Ayah sekarang! Siapa ayah dari anak yang kau kandung itu...!"
" Maksud Ayah apa...?" tanya Erina bingung.
" Tidak usah kau berpura - pura Erin! Semua sudah tahu kalau kau itu sedang mengandung entah anak dari laki - laki yang mana..." timpal Yona.
" Tapi Bu, bagaimana mungkin Erina hamil...?" Erina mulai terisak.
" Jangan b*d*h kamu, katakan siapa ayah dari anakmu itu...!"
" Erin tidak tahu Bu..."
Erina menangis tersedu, dia baru ingat dengan kejadian yang menimpanya tiga minggu yang lalu. Laki - laki di Apartment itu telah merenggut dengan paksa kesuciannya
Setelah menyelesaikan administrasinya, Ayah membawa Erina pulang. Dia sangat kecewa dengan putri semata wayangnya itu. Walaupun terkesan tidak pernah peduli, namun sebenarnya Bagas sangat menyayangi anaknya. Dia hanya takut jika terlalu dekat dengan anaknya itu, Yona akan menyakitinya.
Sebelum Bagas menikahinya, Yona adalah janda satu anak yaitu Selly. Usianya terpaut dua tahun dengan Erina. Ibu Erina jadi istri kedua lantaran Yona tak bisa lagi memiliki keturunan setelah melahirkan Selly.
Sampai di rumah, Selly yang sedang membaca majalah fashion di ruang keluarga kaget dengan teriakan ibunya di luar.
" Ibu, kenapa marah - marah? Ada apa lagi...?" tanya Selly.
" Tanya saja sama anak pembawa sial itu...!" pekik Yona penuh amarah.
" Erin, apa yang kau lakukan pada ibuku... hah...!" teriak Selly.
Erina hanya bisa menangis dalam pelukan bik Ina. Tak ada kata - kata yang bisa keluar dari mulutnya.
" Cukup...!" hardik Bagas.
" Apanya yang cukup Mas, anak ini telah membuat kita malu. Dia sudah mencoreng muka kita dengan kelakuan bejatnya. Aku tidak mau lagi melihat dia di rumah ini...!"
Selly menatap tajam pada adik tirinya itu. Dia berpikir pasti sudah terjadi sesuatu yang membuat kedua orangtuanya murka.
" Ibu, apa yang sudah Erin lakukan hingga Ibu murka seperti ini...?" tanya Selly.
" Hhh... dia hamil dan tidak tahu siapa yang bertanggungjawab..." sahut Yona.
" Apaa...?! Erin... Dengan berapa pria kau melakukan itu? Harusnya kau ingat siapa saja yang menidurimu...?" kata - kata Selly membuat Erin semakin hancur.
Erina hanya bisa pasrah dengan nasibnya, dia sendiri tidak tahu siapa pria yang telah menghamilinya itu.
" Mas, kau harus mengusir anak pembawa sial ini...!" pekik Yona.
" Maafkan Erin Bu, jangan usir Erin dari rumah ini..." Erina berlutut di kaki ibu tirinya.
" Ayah, Erina mohon jangan usir Erin dari sini. Cuma Ayah yang Erina miliki saat ini..."
Erina menghiba di depan Ayahnya, ini adalah pertama kalinya Erina memohon kepada Ayahnya. Sebelumnya, Erina tidak pernah meminta apapun dari sang Ayah walaupun hanya sekedar pelukan.
" Pergi kau dari sini...! Ayah tidak sudi melihatmu lagi...!" bentak Bagas.
Walaupun dalam hati ingin rasanya Bagas memeluk anaknya yang sedang terpuruk itu, namun dia tidak bisa melakukannya. Mungkin dengan Erina meninggalkan rumah, anaknya itu bisa memperoleh kebahagiaan di luar.
Ayah langsung meninggalkan mereka semua dan langsung masuk ke dalam ruang kerjanya. Setelah mengunci pintunya, Bagas langsung jatuh ke lantai dengan deraian airmata yang tak bisa di bendung lagi. Dia merasa jadi orang yang patut disalahkan dengan kejadian yang menimpa Erina. Selama ini Bagas tidak pernah mendidik dan memberikannya kasih sayang yang layak untuk anaknya. Dia lebih memilih memanjakan anak yang jelas - jelas bukan darah dagingnya sendiri.
Kini penyesalan bersemayam di dalam lubuk hati Bagas yang paling dalam. Harusnya dia bisa bersikap adil kepada dua anaknya.
" Maafkan Ayah Erin, Ayah memang pengecut. Seharusnya Ayah tidak menelantarkanmu..."
" Semoga kamu bisa mendapatkan kebahagiaan di luar sana Nak, tetap berada di rumah ini hanya menambah luka dihatimu dengan cacian dan hinaan dari Yona dan Selly. Ayah tidak mau melihatmu tersiksa lagi, cukup sampai disini kau menderita..." gumam Bagas.
Sementara di luar, Yona dan Selly melempar koper milik Erina lalu menyuruh gadis itu keluar dari rumah.
" Pergi kau...! Jangan pernah injakkan kakimu di rumah ini...!" bentak Selly.
" Kak, aku mohon... biarkan aku bertemu Ayah untuk terakhir kalinya..." pinta Erina.
Selly melirik ke arah ibunya yang tersenyum sinis menatap anak tirinya itu.
" Belum tentu ayahmu itu mau bertemu denganmu...!" cibir Yona.
" Erin mohon Bu, sekali saja Erin ingin bertemu dengan Ayah..."
" Baiklah..."
Erina mengetuk pintu ruang kerja Ayahnya, berharap bisa memeluknya untuk yang terakhir kalinya sebelum dia pergi.
" Ayah, biarkan Erin masuk. Erin hanya ingin berpamitan pada Ayah..." teriak Erina.
Ceklek!
Pintu terbuka dan Bagas membiarkan Erina masuk lalu mengunci pintu itu kembali.
" Ayah, maafkan Erina..."
.
.
TBC
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Itha Fitra
ortu yg egois
2022-11-24
1
Mpok Nana
Sedih,,😭😭😭
2022-02-07
0
Titis Pindo Arty
😭😭
2021-11-06
0