" Tuan, lepaskan saya...!" teriak Erina.
Meskipun berteriak dengan keras, namun tenaganya tak mampu untuk memberontak karena pria itu mencengkeram kedua tangannya dengan kuat.
" Maafkan saya Nona, saya pasti bertanggungjawab..." hanya kata maaf yang terucap dari mulut Arvan dengan suara tertahan.
Arvan terus menciumi bibir Erina hingga gadis itu sangat sulit untuk bernafas. Puas dengan bibirnya, Arvan menurunkan ciumannya pada leher jenjang dan mulus itu. Tangannya mulai tak terkendali, dia melepas paksa pakaian gadis itu hingga tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun. Arvan tak ingin berlama - lama menyiksa gadis itu, diapun langsung menuntaskan hasratnya dengan sedikit memaksakan kehendak pada gadis yang tak berdaya itu.
Erina mengerang kesakitan saat mahkota yang paling berharga miliknya diambil paksa oleh lelaki yang tak dikenalnya. Laki - laki itu tampak mendesah keras saat berhasil menyemburkan benihnya ke dalam rahim gadis yang sama sekali tak bersalah itu.
Erina hanya bisa pasrah dan menangis saat lelaki itu ambruk menindihnya dengan keringat yang bercucuran. Namun baru beberapa menit berhenti, hasrat Arvan kembali bergejolak. Mungkin obat yang diberikan pada minumannya itu dosisnya sangat tinggi.
Berkali - kali mengucap maaf dan akan bertanggung jawab, Arvan melakukannya lagi untuk menghilangkan reaksi obat perangsang itu.
Hampir tiga jam, akhirnya Arvan menyudahinya dan terlelap di samping Erina. Mungkin pengaruh obat itu sudah mulai hilang hingga tubuh Arvan sangat lemah.
Erina merintih menahan sakit di sekujur tubuhnya terutama di area intinya. Dengan jalan tertatih, Erina mengambil bajunya di lantai dan membersihkan dirinya di kamar mandi sebentar lalu pergi meninggalkan Apartemen Arvan.
Dalam perjalanan pulang, Erina terus saja menangis merutuki nasibnya yang sangat buruk. Hampir tengah malam, Erina sampai di rumah dan langsung masuk ke dalam kamarnya karena penghuni rumah pasti sudah lelap dalam tidurnya.
Erina kembali membersihkan dirinya yang sudah kotor itu. Walaupun sudah berkali - kali di bersihkan, tetap saja dia merasa bahwa dirinya sudah benar - benar kotor dan tak bisa dibersihkan lagi.
Selesai mandi, Erina segera merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Dia masih menangisi nasibnya yang begitu buruk hari ini. Niatnya hanya ingin menolong, namun kebaikannya itu malah menghancurkan dirinya. Kini hilang sudah harapannya, dia tidak akan bisa melanjutkan kuliahnya lagi jika sampai orangtuanya tahu apa yang telah dialaminya saat ini.
* * *
Pagi hari Arvan terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih pusing karena kejadian semalam. Dia ingat semalam membawa seorang gadis ke dalam kamarnya. Saat menyibak selimut yang dipakainya, terlihat bercak darah pada seprai putih di ranjangnya.
" Sial... gadis itu ternyata masih perawan...!" geram Arvan frustasi.
Arvan benar - benar merasa bersalah pada gadis yang telah menolongnya semalam. Dia juga akan membalas semua perbuatan wanita murahan yang telah menjebaknya.
" Aku pasti akan menghancurkanmu Selly...!" teriak Arvan.
Tak lama ada orang yang tiba - tiba masuk ke dalam kamar Arvan mengetuk pintu terlebih dahulu.
" Arvan, bangun...lah! Oh my God...! Apa yang terjadi? Kenapa kamarmu berantakan...?"
Yap, dia adalah sahabat Arvan yang selalu setia mendampinginya kemanapun dia pergi. Hans Wijaya, asisten di kantor dan juga rekan satu tim saat menjadi seorang detektif.
" Buang Selly dari negara ini, selamanya...!" perintah Arvan.
" Tapi kenapa? Apa kau menidurinya semalam...?" tanya Hans.
Hans berjalan ke arah tempat tidur dan menyibak selimut yang berada di depannya.
" Astaga, perempuan itu siapa Van? Tidak mungkin itu Selly, dia sudah puluhan kali tidur dengan banyak lelaki. Gadis mana yang telah kau rusak...?" cecar Hans.
Pasalnya Arvan bukanlah orang yang suka bermain dengan perempuan. Mana mungkin semalam dia bisa membawa seorang gadis ke Apartemennya.
Arvan berkali - kali menghembuskan nafasnya dengan kasar seraya menceritakan kejadian yang dia alami semalam mulai dari ia bertemu Selly di cafe hingga seorang gadis yang menolongnya di jalanan.
" Shitt...! Kenapa kau tidak menelfonku? Aku pasti bisa membantumu dengan membawa wanita malam kesini..." ketus Hans.
" Kau pikir aku juga mau melakukan itu! Pastikan perusahaan orangtua Selly hancur secepatnya...!" geram Arvan.
" Sudahlah, semua sudah terjadi. Sebaiknya kau bersiap - siap sekarang. Satu jam lagi kita terbang ke London, Ayah membutuhkan bantuan kita lagi..."
" Huft... aku harus mencari gadis itu Hans..." lirih Arvan.
" Kita tidak punya waktu sekarang Ar, kita bisa mencarinya setelah pulang dari London..."
" Berapa hari kita di London...?"
" Belum tahu, Ayah tidak memberitahukan kasus yang akan kita tangani..."
" Hhh... gimana dengan perusahaan...?"
" Tenang saja, Ricko yang akan mengurus semuanya. Dia adalah sekretaris yang handal..."
" Benar juga, kalian memang sangat bisa diandalkan..."
" Cepatlah mandi, privat jet sudah menunggu dari tadi..."
" Kenapa nggak pakai penerbangan umum saja, Ayah terlalu berlebihan..."
" Beliau itu sayang padamu bukannya berlebihan..."
" Huft... siapkan pakaianku...!"
" Siap Boss..."
Arvan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun saat hendak menyalakan shower, Arvan seperti menginjak suatu benda. Arvan segera berjongkok untuk mengambil benda itu.
" ERINA..." gumam Arvan saat memungut benda yang ternyata sebuah kalung berlian dengan liontin bertuliskan ' ERINA '.
" Ini pasti kalung milik gadis itu..." gumam Arvan.
Selesai mandi, Arvan segera bersiap - siap untuk pergi. Tak lupa kalung milik gadis itu dia pakai di lehernya dan di masukkan ke dalam bajunya agar tak terlihat orang lain.
" Aku pasti akan mencarimu dan bertanggungjawab Erina..." batin Arvan.
Arvan dan Hans segera menuju Bandara untuk pergi ke London menemui Ayah Arvan. Perjalanan panjang membuat Arvan merasa lelah sehingga diapun tertidur.
Baru sebentar memejamkan mata, bayangan Erina melintas di pikirannya. Rasa bersalah menyeruak di dalam hatinya, membuat Arvan terlihat sangat pucat dan tak bersemangat melakukan apapun.
" Van, apa yang kau fikirkan...?" tanya Hans membuyarkan lamunan Arvan.
" Erina..." ucap Arvan tanpa sadar.
" Hah... siapa Erina...?" Hans menutup laptopnya dan berjalan mendekati Arvan.
" Gadis malang itu Hans, tadi aku menemukan kalung ini di kamar mandi..."
Arvan memperlihatkan kalung berlian dengan liontin bertuliskan ' Erina ' dari lehernya.
" Kau masih ingat wajahnya...?"
" Aku tidak yakin Hans, tapi jika bertemu pasti aku mengenalinya..."
" Oh iya, bukannya di Apartement ada cctv? Kita bisa cari dia dari situ..."
" Kau benar Hans, di basement juga pasti ada cctv. Gadis itu memarkirkan mobilnya disana..."
" Kau harus semangat Van, pasti sangat mudah mencari gadis itu. Penjahat kelas kakap saja bisa kita tangkap, apalagi hanya gadis malang itu..."
" Gimana kerjaan Ricko...?"
" Beres, aku baru kirimkan berkas via email untuk meeting lusa. Tapi sepertinya Ricko harus mengerjakannya sendiri karena kita bisa seminggu lebih berada di London..."
" Apa gadis itu mau memaafkanku Hans...? Aku merasa sangat bersalah padanya..."
" Memangnya ada gadis yang menolak pesona Arvan Sebastian...?" ledek Hans.
" Cihh... mereka itu hanya wanita jal*ng yang cuma membutuhkan uang saja...!" cibir Arvan.
" Tidak perlu kau fikirkan gadis itu sekarang Van, fokus dengan tugas dari Ayah..."
" Aku lagi nggak mood, pergilah! Aku mau tidur dulu, bangunkan saat sudah mendarat...!"
" Siap Boss...!"
Arvan merebahkan tubuhnya di tempat tidur untuk menghilangkan rasa penat dalam pikirannya. Pikirannya melayang kemana - mana seperti privat jet yang dia naiki sekarang, menari di atas awan dengan indahnya.
.
.
TBC
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Dewi Dj
andalan seorang gadis di perkosa oleh org mabuk adoow
2022-11-23
2
Martini Ayat
Maaf thor, kn baju nya dirobek ya?
Gimana make bujannya lagi.?
2022-11-20
1
Titis Pindo Arty
nyimak
2021-11-06
0