Lima tahun kemudian,
" Rakaaa...!" pekik Rissa lantang.
Raka Sebastian, anak berusia empat tahun itu memiliki kemampuan di atas rata - rata. Sejak berusia dua tahun, William secara diam - diam mengajarinya berbagai macam alat komunikasi hingga cara kerja sebagai detektif. Anak yang belum mengenal huruf dan angka itupun perlahan mulai terbiasa menekan satu demi satu tombol di keyboard laptop yang dibelikan oleh William.
Saat usianya tiga tahun, Raka sudah pintar dalam hal membaca dan menulis hasil didikan William. Tanpa sepengetahuan Rissa, bahkan William mulai mengajarkan cara kerja detektif dengan komputer dan alat elektronik yang lain.
" Rissa... kamu pagi - pagi teriak seperti ada kebakaran saja..." sahut Sarah dari dapur.
" Raka dimana Bu...?"
" Lagi sama Opa mungkin di ruang kerja. Memangnya ada apa...?"
" Dia meretas data klien Bu, kalau sampai mereka bisa melacaknya gimana...?" keluh Rissa.
" Ya seperti itu hasil didikan Ayah kamu, lama - lama sifat Raka itu mirip dengan anak Ibu yang ketiga, Arvan..."
Rissa memang tidak pernah melihat anak - anak Nyonya Sarah kecuali Ricko yang beberapa kali datang berkunjung. Mereka juga tidak memajang foto keluarga sama sekali karena resiko pekerjaan sebagai detektif bisa membahayakan keluarganya kapan saja.
Arvan dan Hans juga sempat berkunjung namun bertepatan saat Rissa sedang perjalanan bisnis ke luar negeri. Mereka hanya bertemu dengan Raka, anak Rissa yang selalu membuat Arvan seperti melihat masa kecilnya. Saat pertama kali bertemu, Raka langsung memanggilnya dengan sebutan Papa, sehingga semua orang menyuruh Arvan bersedia untuk berpura - pura menjadi orangtuanya.
" Mamaaa...!" teriak Raka dengan senyumnya yang terkembang sempurna.
" Cepat kesini...!" perintah Rissa.
" Ada apa Ma...?" tanya Raka melihat amarah di mata Mamanya.
Raka, di depan sang Mama selalu terlihat sopan dan manis. Namun jika sedang membantu pekerjaan William, dia sangat serius bahkan kemampuan William saja berada dibawahnya.
" Kenapa kamu meretas data klien Mama...?" hardik Rissa.
" Maaf Ma..." ucap Raka sendu.
" Rissa... jangan memarahi anakmu seperti itu..." Tuan Regan membawa Raka duduk dalam pangkuannya.
" Ayah... jangan membela seperti itu! Semakin hari dia jadi tidak terkendali..." kesal Rissa.
" Namanya juga anak kecil, sudah jangan diributkan..."
" Maafin Raka ya Ma...? Soalnya perusahaan itu mengambil data dari kantor Mama..." ucap Raka.
" Maksud kamu apa...?" tanya Rissa sedikit terkejut.
" Sepertinya ada yang yang memberikan data perusahaan pada klien Mama, jadi Raka mengunci data perusahaan itu untuk mengambilnya kembali. Setelah menghapusnya, Raka akan mengembalikan sistem perusahaan itu seperti semula..."
" Maksud kamu ada yang berkhianat dalam kantor Mama...?"
" Iya Ma, sebentar Raka akan memindahkan file Mama yang dicuri itu ke file pribadi Mama dan akan menghapusnya. Semuanya beres sebelum mereka menyadarinya..." ucap Raka menjelaskan.
Ponsel Raka memang terhubung langsung dengan milik Rissa agar anak itu bisa terpantau walaupun mereka berjauhan. Rissa bisa tahu apa saja yang dilakukan Raka dengan ponsel pintarnya itu. Disaat teman yang lain asyik mobil - mobilan, Raka justru berkutat dengan laptop dan sejenisnya.
" Sudah selesai...!" ucap Raka dengan sumringah.
" Yakin kamu tidak meninggalkan jejak...?" tanya Rissa.
" Mama tenang saja, semua aman..."
" Siapa yang bikin kamu kayak gini...?"
" Papa yang mengajarkannya, ternyata Papa itu juga sangat pintar ya Opa...?" celoteh Raka.
" Iya, Papamu memang sangat pintar sayang..."
" Kapan Papa pulang...? Apa pekerjaannya sangat banyak disana...?"
" Mungkin, nanti kalau sudah tidak sibuk pasti Papa pulang..." ucap Tuan Regan.
" Ma, nanti kalau Papa pulang kita jalan - jalan bareng ya...?" rengek Raka dengan wajah memelasnya.
" Pergi dengan Uncle Willy juga bisa, kenapa harus nungguin papa Arvan...?" tanya Rissa.
" Kita bikin foto bertiga Ma, kalau Uncle Willy udah punya foto sendiri dengan kak Monica dan Aunty Clara..."
" Kita foto aja dengan Opa dan Oma...?"
" Tidak! Raka maunya sama Papa...!"
" Iya, nanti Raka foto sama papa dan mama..." ucap Tuan Regan melerai.
Rissa hanya menghela nafas panjang mendengar permintaan konyol anaknya. Bahkan melihat foto Arvan saja belum pernah. Mereka pasti akan sangat canggung saat bertemu nanti.
" Kalian dari tadi ribut terus, ayo sarapan..." ucap Nyonya Sarah yang baru keluar dari dapur.
" Tau tuh, mereka berdua hanya akur saat memejamkan mata saja..." keluh Ayah.
" Mama nakal Opa, masa' kemarin Raka dibelikan mainan balon warna pink..." sungut Raka yang merasa selalu dijahili mamanya.
" Hahahaaa... itu biar hatimu bisa sedikit lembut, nggak arogan. Anak kecil tapi tatapannya tajam seperti angry bird..." ledek Rissa.
" Mamaaa...!" teriak Raka.
" Oh iya Yah, satu bulan lagi Ricko akan menikah di Indonesia. Kita kesana kapan...?" tanya Ibu.
" Nanti Ayah atur jadwal dulu Ma, supaya tidak mengecewakan klien..."
" Rissa, kamu juga harus ikut. Ini acara yang sangat penting untuk kakak pertamamu..."
" Iya Bu, nanti Rissa usahakan. Tapi kan udah ada wakilnya nih yang bisa menghadiri acara kak Ricko..."
Rissa mengacak - acak rambut Raka hingga anak itu memanyunkan bibirnya.
" Kamu ini semakin lama srmakin sibuk saja di kantor. Dulu sibuk siang malam, sekarang sudah lulus kuliah masih sibuk aja..." gerutu Ibu.
" Rissa tidak mau Ayah lelah Bu, biar Rissa saja yang bekerja keras..."
" Ternyata anak perempuan Ayah ini paling pengertian..." ucap Ayah memuji.
" Lebay..." cibir Raka pelan namun masih bisa di dengar olah Rissa.
" Siapa yang mengajari kamu kata seperti itu...?" tanya Rissa seraya melayangkan tatapan tajamnya.
" Hehehee... Uncle Hans, Ma..." jawab Raka nyengir.
" Astaga... apa yang mereka lakukan pada Raka..." keluh Rissa.
Sekarang mereka semua diam karena sedang sarapan. Raka yang tidak mau makan harus dipaksa dulu. Tentu saja itu hanyalah sebuah kejahilan agar disuapi oleh mamanya.
Raka adalah anak yang mandiri, namun kadang kala sifat kekanakannya sering muncul di saat mamanya jarang di rumah. Dia sering menelfon dan merengek hanya sekedar minta di peluk.
Seperti saat ini, baru dua hari lalu Rissa pulang dari Kanada untuk bisnisnya Raka langsung minta tidur dengannya. Padahal biasanya Raka selalu tidur sendiri di kamar Arvan.
Setelah selesai sarapan, seperti biasa Ibu pergi ke toko bunga. Sedangkan Rissa ke kantor dan Raka ikut dengan Opanya ke Markas untuk bekerja.
" Hey... Uncle Willy, good morning..." sapa Raka yang melihat William masuk rumah.
" Good morning Boy, how are you to day...?" sahut Willy.
" I'm fine. Hehehee... sini Uncle..." bisik Raka.
" Rakaa... what are you doing...?" teriak Rissa.
Rissa merasa curiga dengan tingkah anaknya jika sudah bersama dengan Willy.
" No Mom... Raka hanya ingin ajak Uncle jalan - jalan..." ucap Raka berbohong.
" Really...? Jangan bohong sama Mama...!"
" Iya mama yang cantik di seluruh negeri ini..." seloroh Raka.
" Udah ah, Mama mau berangkat kerja dulu. Kak Willy tolong jaga Raka ya...? Jangan biarkan dia berbuat yang aneh - aneh lagi. Dan juga, jangan sampai dia meretas sembarangan data orang lain tanpa ijin...!"
" Baik Nona..." ucap Willy.
" Ibu berangkat bareng Rissa saja ya...?" ajak Rissa pada ibunya.
" Tidak usah, kita kan beda arah. Ibu udah punya supir sendiri..." tolak Nyonya Sarah.
" Ya sudah, Rissa duluan. Raka... Jangan nakal atau semua Mama sita...!"
" Ok Boss...!" ucap Raka tersenyum.
# # #
Dalam perjalanan ke kantor, ponsel Rissa berdering tanda ada panggilan masuk. Ternyata itu video call dari Ricko. Rissa menepikan mobilnya di pinggir jalan untuk menjawab panggilan dari kakak pertama.
" Hai Kak Ricko..." ucap Rissa.
[ " Hai Rissa... apa kabar...?"] tanya Ricko.
" Baik Kak, tumben VC... ada apa...?"
[ " Ini kakak kedua dan ketiga pengen bicara sama kamu. Tuh mereka lagi disana..." ]
Ricko mengarahkan ponselnya ke tempat Arvan dan Hans sedang duduk.
.
.
TBC
.
.
Apakah Erina sudah siap bertemu Arvan...?
Tunggu kelanjutannya yah...
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Itha Fitra
skli ny ktemu langsung ijab😀
2022-11-24
0
Gendhuk sri
aneh bngt 5 thn gk ketemu padahal 1 keluarga
2022-11-06
3
@Putri.a
mulai seru...
2021-11-09
1