" Ah... Tuan ini bercanda..." kata pelayan itu tersenyum.
" Saya serius Bik, dari kemarin siang saya sama Arvan cari Raka tapi belum ketemu..." ucap Hans.
" Ya nggak mungkin Tuan, orang kemarin sore saja minta makan di dapur. Setelah itu Den Raka masuk kamar dan tidak keluar lagi..."
" Bibik nggak bohong kan...?" tanya Ricko.
" Apa untungnya buat bibik bohong Tuan..."
" Sebaiknya kita cek di kamar Arvan..." kata Ayah.
Semua orang berjalan menuju kamar Arvan untuk membuktikan ucapan pelayan bahwa Raka ada di rumah.
Hans langsung membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Setelah pintu terbuka, semua orang tercengang melihat pemandangan di depannya. Arvan sedang memeluk Raka layaknya guling. Mereka berdua masih terlelap dalam mimpinya.
" Astaga... dari siang hingga tengah malam kita keliling kota hanya untuk cari tuh bocah, ternyata sedang enak - enakan disini..." geram Hans.
" Banguunnn...!" teriak Hans.
" Arvan... Rakaa...!" pekik Ricko.
Hans dan Ricko loncat ke atas kasur menindih Arvan dan Raka. Ayah dan Ibu hanya geleng - geleng kepala melihat tingkah anaknya.
" Auwww... sakiittt...!" teriak Raka.
" Wooiii... kalian ngapain sih ganggu orang tidur saja...!" bentak Arvan dengan mata terpejam.
" Bangun, sudah siang! Kenapa nggak bilang kalau Raka ada di rumah...?" geram Ricko.
" Memangnya Raka sudah pulang...?" tanya Arvan.
" Eh... jangan berlagak bodoh kau, itu yang kau peluk siapa!" hardik Hans.
Arvan menggeliat karena masih mengantuk dan berusaha keras untuk membuka matanya.
" Astaga... Raka...? Sejak kapan kamu di kamar papa...?" tanya Arvan terkejut.
Arvan kembali memeluk Raka yang juga masih mengantuk.
" Maafin papa ya...? Jangan pergi lagi, papa sayang sama Raka..." ucap Arvan setelah mencium kening anak itu sekilas.
" Hmmm... lepasin Pa, Raka tidak bisa bernafas..." lenguh Raka yang masih mengantuk.
" Ya sudah, kita tidur lagi. Papa juga masih mengantuk..."
" Hei... bocil, kemarin kau pergi kemana...? Kenapa menghapus rekaman cctv...?"
" Cuma iseng aja Uncle..."
" Kau tidak lihat, semua orang panik mencarimu..." gerutu Hans.
" Maaf Uncle..."
Arvan mendekap tubuh anaknya yang cukup berisi walaupun tidak gemuk. Rasanya sangat nyaman seperti ada sesuatu yang membuat hati Arvan menghangat.
" Papa, ayo mandi... Raka pengen jalan - jalan..." rengek Raka.
" Iya, sebentar lagi sayang. Papa masih mengantuk..."
" Ayo Pa... Raka lapar! Kalau Papa nggak mau bangun, Raka telfon Mama biar Papa dimarahin..."
Kini Arvan dan Raka hanya berdua di dalam kamar karena Hans dan Ricko sudah keluar untuk sarapan.
" Telfon saja, biar kita semangat nanti beraktifitas setelah denger suara Mama..." sahut Arvan.
Arvan penasaran dengan suara ibunya Raka. Selama ini memang mereka tidak pernah berkomunikasi kecuali lewat pesan. Raka mengambil ponsel di bawah bantalnya lalu menekan nomor Mamanya.
" Hallo Ma..." sapa Raka.
[" Hai sayang... kamu sedang apa...?"] tanya Rissa di seberang telfon.
" Baru bangun tidur Ma, nih lagi sama Papa..."
Arvan hanya mendengarkan percakapan Raka dan ibunya. Namun karena Raka mengeraskan volume suaranya, Arvan bisa mendengar suara wanita itu di seberang sana.
[" Raka jangan ngrepotin Papa disana ya...? Nggak boleh nakal dan juga jangan meretas sembarangan..."]
" Iya Ma... tenang aja, Raka nggak nakal kok. Oh iya, Mama mau bicara sama Papa nggak...?"
Rissa mendengar suara berisik di seberang telfon sambil tertawa cekikikan.
[" Raka, kamu sedang apa...?"]
" Oh tidak Ma, ini Papa katanya kangen sama Mama. Cepetan pulang kesini..." celoteh Raka.
" Raka... apa yang kau katakan pada Mama...?" bisik Arvan namun masih terdengar jelas oleh Rissa.
[" Raka, Mama pulang saat hari pernikahan Uncle Ricko sayang..."]
" Mama pulang sama siapa...?"
[" Sama Uncle Willy, memangnya kenapa sayang...?"]
" Tidak apa - apa Ma, Raka sama Papa mau mandi dulu. Bye Mama, I love you..."
[" Love you too, sayang..."]
" Love you juga dari papa..." teriak Raka lalu mematikan sambungan telfonnya.
" Raka, Papa tidak bilang begitu...!" ucap Arvan kesal.
" Hehehee... sorry Papa..." sahut Raka nyengir.
" Dasar anak bandel..."
Arvan menggelitik tubuh Raka hingga anak itu meronta minta ampun.
" Udah Pa, Raka mau mandi...!" teriak Raka kesal.
" Ya udah, kita mandi sekarang tapi Raka harus janji tidak akan marah lagi sama Papa..."
" Janji...!" Raka menautkan jari kelingkingnya pada Arvan.
Arvan dan Raka masuk ke dalam kamar mandi lalu berendam bersama sambil bercanda. Mereka memang sangat cocok sebagai bapak dan anak.
# # #
Satu hari sebelum acara pernikahan, semua keluarga sudah berkumpul tinggal menunggu Rissa dan William. Mereka akan sampai malam hari karena memakai penerbangan umum.
Rissa dan William kini sedang berada di dalam pesawat tujuan Jakarta. Rissa sedari tadi hanya diam menatap awan di luar kaca pesawat. Ada keraguan dalam hatinya untuk menginjak tanah kelahirannya yang sudah lima tahun ditinggalkan.
" Rissa... kamu baik - baik saja...?" tanya William.
" Eh... iya Kak. Kenapa...?" ucap Rissa kaget.
" Kamu kenapa tegang Ris...?"
" Tidak apa - apa Kak, saya hanya sedikit ragu saja kembali ke Indonesia. Sudah lama saya tidak mengunjungi makam ibu, lima tahun berlalu tapi kenangan itu belum bisa aku lupakan..."
" Apa kamu masih mengingat wajah laki - laki itu...?"
" Aku tidak akan bisa melupakan orang itu. Aku sangat membencinya..."
" Bagaimana jika nanti kamu bertemu dengannya...?"
" Aku berharap tidak akan bertemu dengannya lagi..."
" Tapi kau tahu sendiri seperti apa Raka, jika dia tahu Arvan bukan ayah kandungnya pasti anak itu akan mencari sendiri siapa ayahnya..."
" Semoga saja tidak Kak, aku belum siap untuk bertemu dia..."
" Kamu tidak berusaha untuk mencarinya kan...?"
" Awalnya aku ingin mencarinya, namun sekarang aku ingin melupakannya..."
" Bagaimana dengan keluargamu...?"
" Mereka tidak pernah menganggapku ada dan sangat membenciku..."
" Apa sekarang kamu bahagia tinggal bersama keluarga Sebastian...?"
" Tentu saja, mereka sangat tulus menyayangiku tanpa memandang asal usulku. Aku menemukan sosok ibu dalam diri Bu Sarah. Dia membuat aku merasakan hangatnya dekapan seorang ibu..."
" Istirahatlah, perjalanan kita masih panjang..."
" Iya Kak..."
Rissa menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi lalu berusaha untuk memejamkan matanya. Berusaha membuang masa lalunya bersama awan - awan yang bertebaran di angkasa.
Namun baru beberapa menit, Rissa merasa hatinya gundah. Dia memikirkan tentang anaknya, Raka. Bagaimana jika nanti tanpa sengaja Raka bertemu dengan ayah kandungnya? Apa yang harus Rissa lakukan jika laki - laki itu masih mengenalinya?
Pikiran Rissa melayang jauh ke masa lalu dimana ia bertemu dengan laki - laki itu. Karena kebaikan dan kepolosannya kala itu, hidupnya menjadi hancur dan semakin dibenci oleh keluarganya sendiri. Hanya pusara sang ibu yang selalu membuat hatinya merasa tenang.
" Ibu, aku sangat merindukanmu. Maafkan aku tidak mengunjungimu selama lima tahun ini. Erina janji, mulai sekarang Erina akan sesering mungkin mengunjungi Ibu. Erina akan memperkenalkan Raka, cucu ibu. Aku sayang padamu Bu, engkau yang selalu membuatku bertahan dalam keterpurukanku..." batin Rissa.
Tanpa sadar, airmata mengalir deras dari pelupuk matanya. Sungguh saat ini, hanya ibunya yang paling dia rindukan.
.
.
TBC
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Dewi Dj
moga saat ktemuan erina senang adany
2022-11-24
0
Itin
Kayaknya Raka dah tau kalo Arvan itu ayahnya...
2021-11-29
1