" Ish... sejak kapan kepalamu itu tidak bisa berfikir...?" tanya Hans.
" Apa maksudmu...?" ucap Arvan.
Hans menertawakan kebodohan Arvan semenjak sering memikirkan Erina.
" Rumah ini banyak cctv, pasti ada salah satu yang merekam bocah kecil itu..." kekeh Hans.
" Akh... sial! Kenapa tidak kepikiran dari tadi..." geram Arvan.
Arvan langsung berlari ke ruang kerjanya untuk mengecek cctv diikuti oleh Hans. Setelah membuka komputer yang terhubung dengan cctv, Arvan melacak satu demi satu kamera yang terpasang di rumahnya.
" Sial... anak itu bisa meretas cctv ini...!" umpat Arvan.
" Apa Raka sedang marah sampai berbuat seperti itu...?" tanya Hans.
" Entahlah, sebenarnya cuma salah faham saja. Mungkin anak itu sedang memikirkan sesuatu..."
Sepertinya Raka menghapus rekaman cctv saat dia menyelinap keluar dari rumah. Ternyata anak itu lebih cerdik dari yang Arvan duga.
" Raka ternyata sangat genius, pantas saja Ayah tidak pernah meminta bantuan kita lagi..." ucap Hans tersenyum.
" Huft... kemana dia pergi...?" keluh Arvan.
" Kita cari keluar Van, siapa tahu anak itu keluar gerbang..." ajak Hans.
" Ayo... Bisa dibantai sama Ayah kalau anak itu sampai hilang..."
Arvan keluar gerbang menyusuri jalan yang mungkin dilewati oleh Raka.
" Rakaa...!" teriak Hans.
" Rakaaa... jangan bersembunyi dari Papa..." teriak Arvan frustasi.
" Sebenarnya apa yang terjadi Van...? Apa kau bertengkar dengan anak kecil...?" cecar Hans.
" Dia saja yang terlalu sensitif..." sahut Arvan.
" Memangnya kalian ngobrolin apa...?"
" Aku cuma tanya kenapa dia memilih aku sebagai papanya, bukan kau atau kak Ricko..."
" Terus dia jawab apa...?"
" Dia malah marah dan menganggap aku tak mengakuinya sebagai anakku..."
" Itu memang salahmu! Anak sekecil itu pastilah marah. Secara tidak langsung kamu itu memang tidak bertanggungjawab..."
" Tapi dia memang bukan anakku kan...?"
" Sudahlah, ku harap kau takkan menyesal untuk kedua kalinya..."
" Ayo kita cari lagi, kau ambil mobil saja. Siapa tahu anak itu ada di jalanan..." perintah Arvan.
" Ya, kau tunggu sebentar..."
Arvan dan Hans berkeliling menyusuri jalanan mulai dari komplek perumahannya hingga jalanan di kota. Tak terasa mereka berkeliling hingga sore hari.
" Van, sebaiknya kita pulang. Mungkin Raka sudah ada di rumah..." ajak Hans karena merasa lelah dan lapar.
" Kalau dia tidak ada gimana Hans...? Ayah dan Ibu pasti murka. Dia masih kecil, aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk padanya..."
" Kita harus menghadapi apapun yang terjadi Van, tenanglah... Raka anak yang pintar..."
" Ya sudah, kita pulang..."
Hans melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang sangat macet karena waktunya jam pulang kerja.
" Hans, berhenti di depan sana...!" perintah Arvan.
Arvan menunjuk ke arah cafe yang kedai makanan ayam crispy. Sejak kecil Arvan memang sangat menyukainya, begitu juga dengan Raka. Anak itu sangat gemar makan ayam crispy dan sering pergi berdua dengan Arvan kala mereka bertemu di London.
" Makanan favorit kalian juga sama, kau memang pantas jadi papanya, Van..."
" Apa aku juga harus menjadikan ibunya istriku...?" gurau Arvan.
" Apa salahnya? Toh gadis yang selama ini kau cari tak muncul juga..."
" Aku tidak mungkin melakukan itu Hans, bagaimana jika Erina datang saat aku membuka hati untuk wanita lain? Aku akan tetap menunggu dia walaupun sampai seumur hidupku..."
" Kau itu baru sekali bertemu sudah bucin seperti ini Van..." cibir Hans.
" Jangan mengejekku, kau kira aku tidak tahu perbuatanmu..." ketus Arvan.
" Perbuatan apa...?" kilah Hans.
" Mengejar Delia hingga rumah sakit... hahahaa..." ledek Arvan.
" Ish... apa kau menguntitku...?!"
" Untuk apa menguntitmu, kayak nggak ada kerjaan lain saja..."
Sampai di rumah, Arvan dan Hans langsung berlari ke ruang tengah tempat orangtuanya sedang berkumpul.
" Kalian ngapain lari - lari kayak di kejar setan...?" tanya Ricko.
" Kak, lihat Raka nggak...?" tanya Hans.
" Bukannya seharian ini sama Arvan...?" kini Ibu yang bicara.
" Dari tadi siang kami mencari Raka tapi nggak ketemu Bu..." ucap Arvan.
" Gimana sih kamu, jaga satu anak saja nggak bisa..." geram Ayah.
" Tadi Arvan tinggal mandi sebentar Yah, tapi Raka sudah menghilang..."
" Kalian harus temukan Raka sampai dapat...!" perintah Ayah.
Akhirnya Arvan, Hans dan Ricko kembali menyusuri jalanan untuk mencari Raka. Arvan sangat putus asa dan merasa bersalah atas hilangnya anak kecil itu. Kejadian ini mengingatkannya akan hilangnya Erina yang sampai sekarang tak dapat ia temukan.
" Kenapa rasanya sama seperti saat Erina pergi meninggalkan aku? Kehilangan Raka juga sangat menyakitkan hatiku. Erina, kemana aku harus mencarimu...? Anak kita pasti sudah sebesar Raka sekarang. Kembalilah Erina? Aku ingin menghabiskan waktuku hanya denganmu? Walaupun hanya satu kali bersama, namun aku tidak bisa melupakanmu. Kurasa aku benar - benar mencintaimu..." batin Arvan.
Arvan menggenggam liontin yang tergantung di lehernya itu. Tidak tahu mengapa, saat berdekatan dengan Raka bayangan Erina muncul dalam ingatannya. Dia merasa sangat dekat dengan Erina saat memeluk Raka.
" wooiii...!" teriak Ricko.
" Hahahaa... ada yang lagi galau nih..." ledek Hans.
" Berisik kalian...!" bentak Arvan.
" Lagi mikirin apa sih Van, dari tadi diam kayak patung..." tanya Ricko.
" Erina... kenapa sulit sekali mencari keberadaanmu? Apa kau benar - benar membenciku...?" gumam Arvan.
" Van...!" teriak Ricko dengan keras.
" Apa sih Kak...?"
" Kenapa malah ngelamun sih...?"
" Entahlah Kak, mencari Raka sama sulitnya seperti mencari Erina..."
" Apa kamu nggak pernah berfikir bahwa mungkin saja Raka itu anaknya Erina...?"
" Nggak mungkin Kak, masa' iya Erina bisa tinggal sama Ibu di London..."
" Iya juga sih, rasanya mustahil..."
Hingga jam sepuluh malam Arvan dan yang lainnya lelah mencari Raka. Mereka memutuskan untuk pulang dan beristirahat lalu mencari bocah itu keesokan harinya.
Sampai di rumah, keadaan sudah nampak sepi bahkan lampu di ruang tengah sudah dimatikan. Mereka bertiga masuk ke kamar masing - masing untuk beristirahat.
Arvan masuk ke dalam kamar yang gelap lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Pikirannya masih tidak tenang karena belum juga menemukan Raka.
Hingga lewat tengah malam, Arvan tidak bisa memejamkan matanya. Hatinya sangat gelisah memikirkan Raka dan juga Erina.
Karena juga bisa tidur, Arvan mengambil laptopnya lalu duduk di sofa kamarnya. Dia segera memeriksa beberapa email yang masuk hari ini yang belum sempat ia buka. Arvan juga mengambil beberapa berkas yang belum sempat dia kerjakan kemarin di ruang kerjanya.
" Berkas ini harus selesai sebelum kak Ricko menikah..." gumam Arvan.
Arvan berdiri untuk meregangkan ototnya sebentar lalu kembali memeriksa berkas - berkas itu dengan layar laptop sebagai penerangannya. Hingga waktu menunjukkan pukul tiga pagi Arvan baru menyelesaikan pekerjaan.
Setelah merapikan semua berkasnya, Arvan ke kamar mandi untuk mencuci kemudian berjalan ke tempat tidur karena merasa sangat lelah dan mengantuk. Arvan berbaring sambil memeluk guling yang menurutnya agak keras. Namun karena sudah tak kuat menahan rasa kantuknya, Arvan tak memikirkan hal itu. Dia segera terlelap dalam hitungan detik saja.
# # #
Jam tujuh pagi, semua sudah bersiap di meja makan untuk sarapan. Namun seperti ada yang kurang hingga Ayah membuka suara.
" Dimana Arvan dan Raka...?" tanya Ayah.
" Arvan sepertinya masih di kamar Pa, kalau Raka... kami belum menemukannya..." ucap Ricko pelan.
" Kalian tidak menemukan Raka...!" teriak Ayah marah.
" Jadi Raka tidak pulang dari kemarin...?" Ibu mulai terisak.
Salah seorang pelayan datang untuk menyajikan sarapan untuk sang majikan.
" Nyonya, kenapa menangis...?" tanya pelayan itu iba.
" Raka hilang dari kemarin bik..."ucap Hans.
" Hilang...?" ucap pelayan itu tidak paham.
" Sejak kemarin siang Raka menghilang bik..."
" Ah... Tuan ini bercanda..."
.
.
TBC
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Itha Fitra
msak iya,anak umur 4th udh tau internet?
2022-11-24
0
Dewi Dj
ah Thor Raka dimana sih jangan"Uda balik
2022-11-24
0
Nurlaila Ginting
sebagai detektif arvan gagal dua kl utk org yg plg hrs
di lindunginya, pertemuan Erina dan arvan seperti sinetron Indosiar 😏
2022-11-13
0