Part 14

" Ish... sejak kapan kepalamu itu tidak bisa berfikir...?" tanya Hans.

" Apa maksudmu...?" ucap Arvan.

Hans menertawakan kebodohan Arvan semenjak sering memikirkan Erina.

" Rumah ini banyak cctv, pasti ada salah satu yang merekam bocah kecil itu..." kekeh Hans.

" Akh... sial! Kenapa tidak kepikiran dari tadi..." geram Arvan.

Arvan langsung berlari ke ruang kerjanya untuk mengecek cctv diikuti oleh Hans. Setelah membuka komputer yang terhubung dengan cctv, Arvan melacak satu demi satu kamera yang terpasang di rumahnya.

" Sial... anak itu bisa meretas cctv ini...!" umpat Arvan.

" Apa Raka sedang marah sampai berbuat seperti itu...?" tanya Hans.

" Entahlah, sebenarnya cuma salah faham saja. Mungkin anak itu sedang memikirkan sesuatu..."

Sepertinya Raka menghapus rekaman cctv saat dia menyelinap keluar dari rumah. Ternyata anak itu lebih cerdik dari yang Arvan duga.

" Raka ternyata sangat genius, pantas saja Ayah tidak pernah meminta bantuan kita lagi..." ucap Hans tersenyum.

" Huft... kemana dia pergi...?" keluh Arvan.

" Kita cari keluar Van, siapa tahu anak itu keluar gerbang..." ajak Hans.

" Ayo... Bisa dibantai sama Ayah kalau anak itu sampai hilang..."

Arvan keluar gerbang menyusuri jalan yang mungkin dilewati oleh Raka.

" Rakaa...!" teriak Hans.

" Rakaaa... jangan bersembunyi dari Papa..." teriak Arvan frustasi.

" Sebenarnya apa yang terjadi Van...? Apa kau bertengkar dengan anak kecil...?" cecar Hans.

" Dia saja yang terlalu sensitif..." sahut Arvan.

" Memangnya kalian ngobrolin apa...?"

" Aku cuma tanya kenapa dia memilih aku sebagai papanya, bukan kau atau kak Ricko..."

" Terus dia jawab apa...?"

" Dia malah marah dan menganggap aku tak mengakuinya sebagai anakku..."

" Itu memang salahmu! Anak sekecil itu pastilah marah. Secara tidak langsung kamu itu memang tidak bertanggungjawab..."

" Tapi dia memang bukan anakku kan...?"

" Sudahlah, ku harap kau takkan menyesal untuk kedua kalinya..."

" Ayo kita cari lagi, kau ambil mobil saja. Siapa tahu anak itu ada di jalanan..." perintah Arvan.

" Ya, kau tunggu sebentar..."

Arvan dan Hans berkeliling menyusuri jalanan mulai dari komplek perumahannya hingga jalanan di kota. Tak terasa mereka berkeliling hingga sore hari.

" Van, sebaiknya kita pulang. Mungkin Raka sudah ada di rumah..." ajak Hans karena merasa lelah dan lapar.

" Kalau dia tidak ada gimana Hans...? Ayah dan Ibu pasti murka. Dia masih kecil, aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk padanya..."

" Kita harus menghadapi apapun yang terjadi Van, tenanglah... Raka anak yang pintar..."

" Ya sudah, kita pulang..."

Hans melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang sangat macet karena waktunya jam pulang kerja.

" Hans, berhenti di depan sana...!" perintah Arvan.

Arvan menunjuk ke arah cafe yang kedai makanan ayam crispy. Sejak kecil Arvan memang sangat menyukainya, begitu juga dengan Raka. Anak itu sangat gemar makan ayam crispy dan sering pergi berdua dengan Arvan kala mereka bertemu di London.

" Makanan favorit kalian juga sama, kau memang pantas jadi papanya, Van..."

" Apa aku juga harus menjadikan ibunya istriku...?" gurau Arvan.

" Apa salahnya? Toh gadis yang selama ini kau cari tak muncul juga..."

" Aku tidak mungkin melakukan itu Hans, bagaimana jika Erina datang saat aku membuka hati untuk wanita lain? Aku akan tetap menunggu dia walaupun sampai seumur hidupku..."

" Kau itu baru sekali bertemu sudah bucin seperti ini Van..." cibir Hans.

" Jangan mengejekku, kau kira aku tidak tahu perbuatanmu..." ketus Arvan.

" Perbuatan apa...?" kilah Hans.

" Mengejar Delia hingga rumah sakit... hahahaa..." ledek Arvan.

" Ish... apa kau menguntitku...?!"

" Untuk apa menguntitmu, kayak nggak ada kerjaan lain saja..."

Sampai di rumah, Arvan dan Hans langsung berlari ke ruang tengah tempat orangtuanya sedang berkumpul.

" Kalian ngapain lari - lari kayak di kejar setan...?" tanya Ricko.

" Kak, lihat Raka nggak...?" tanya Hans.

" Bukannya seharian ini sama Arvan...?" kini Ibu yang bicara.

" Dari tadi siang kami mencari Raka tapi nggak ketemu Bu..." ucap Arvan.

" Gimana sih kamu, jaga satu anak saja nggak bisa..." geram Ayah.

" Tadi Arvan tinggal mandi sebentar Yah, tapi Raka sudah menghilang..."

" Kalian harus temukan Raka sampai dapat...!" perintah Ayah.

Akhirnya Arvan, Hans dan Ricko kembali menyusuri jalanan untuk mencari Raka. Arvan sangat putus asa dan merasa bersalah atas hilangnya anak kecil itu. Kejadian ini mengingatkannya akan hilangnya Erina yang sampai sekarang tak dapat ia temukan.

" Kenapa rasanya sama seperti saat Erina pergi meninggalkan aku? Kehilangan Raka juga sangat menyakitkan hatiku. Erina, kemana aku harus mencarimu...? Anak kita pasti sudah sebesar Raka sekarang. Kembalilah Erina? Aku ingin menghabiskan waktuku hanya denganmu? Walaupun hanya satu kali bersama, namun aku tidak bisa melupakanmu. Kurasa aku benar - benar mencintaimu..." batin Arvan.

Arvan menggenggam liontin yang tergantung di lehernya itu. Tidak tahu mengapa, saat berdekatan dengan Raka bayangan Erina muncul dalam ingatannya. Dia merasa sangat dekat dengan Erina saat memeluk Raka.

" wooiii...!" teriak Ricko.

" Hahahaa... ada yang lagi galau nih..." ledek Hans.

" Berisik kalian...!" bentak Arvan.

" Lagi mikirin apa sih Van, dari tadi diam kayak patung..." tanya Ricko.

" Erina... kenapa sulit sekali mencari keberadaanmu? Apa kau benar - benar membenciku...?" gumam Arvan.

" Van...!" teriak Ricko dengan keras.

" Apa sih Kak...?"

" Kenapa malah ngelamun sih...?"

" Entahlah Kak, mencari Raka sama sulitnya seperti mencari Erina..."

" Apa kamu nggak pernah berfikir bahwa mungkin saja Raka itu anaknya Erina...?"

" Nggak mungkin Kak, masa' iya Erina bisa tinggal sama Ibu di London..."

" Iya juga sih, rasanya mustahil..."

Hingga jam sepuluh malam Arvan dan yang lainnya lelah mencari Raka. Mereka memutuskan untuk pulang dan beristirahat lalu mencari bocah itu keesokan harinya.

Sampai di rumah, keadaan sudah nampak sepi bahkan lampu di ruang tengah sudah dimatikan. Mereka bertiga masuk ke kamar masing - masing untuk beristirahat.

Arvan masuk ke dalam kamar yang gelap lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Pikirannya masih tidak tenang karena belum juga menemukan Raka.

Hingga lewat tengah malam, Arvan tidak bisa memejamkan matanya. Hatinya sangat gelisah memikirkan Raka dan juga Erina.

Karena juga bisa tidur, Arvan mengambil laptopnya lalu duduk di sofa kamarnya. Dia segera memeriksa beberapa email yang masuk hari ini yang belum sempat ia buka. Arvan juga mengambil beberapa berkas yang belum sempat dia kerjakan kemarin di ruang kerjanya.

" Berkas ini harus selesai sebelum kak Ricko menikah..." gumam Arvan.

Arvan berdiri untuk meregangkan ototnya sebentar lalu kembali memeriksa berkas - berkas itu dengan layar laptop sebagai penerangannya. Hingga waktu menunjukkan pukul tiga pagi Arvan baru menyelesaikan pekerjaan.

Setelah merapikan semua berkasnya, Arvan ke kamar mandi untuk mencuci kemudian berjalan ke tempat tidur karena merasa sangat lelah dan mengantuk. Arvan berbaring sambil memeluk guling yang menurutnya agak keras. Namun karena sudah tak kuat menahan rasa kantuknya, Arvan tak memikirkan hal itu. Dia segera terlelap dalam hitungan detik saja.

# # #

Jam tujuh pagi, semua sudah bersiap di meja makan untuk sarapan. Namun seperti ada yang kurang hingga Ayah membuka suara.

" Dimana Arvan dan Raka...?" tanya Ayah.

" Arvan sepertinya masih di kamar Pa, kalau Raka... kami belum menemukannya..." ucap Ricko pelan.

" Kalian tidak menemukan Raka...!" teriak Ayah marah.

" Jadi Raka tidak pulang dari kemarin...?" Ibu mulai terisak.

Salah seorang pelayan datang untuk menyajikan sarapan untuk sang majikan.

" Nyonya, kenapa menangis...?" tanya pelayan itu iba.

" Raka hilang dari kemarin bik..."ucap Hans.

" Hilang...?" ucap pelayan itu tidak paham.

" Sejak kemarin siang Raka menghilang bik..."

" Ah... Tuan ini bercanda..."

.

.

TBC

.

.

Terpopuler

Comments

Itha Fitra

Itha Fitra

msak iya,anak umur 4th udh tau internet?

2022-11-24

0

Dewi Dj

Dewi Dj

ah Thor Raka dimana sih jangan"Uda balik

2022-11-24

0

Nurlaila Ginting

Nurlaila Ginting

sebagai detektif arvan gagal dua kl utk org yg plg hrs
di lindunginya, pertemuan Erina dan arvan seperti sinetron Indosiar 😏

2022-11-13

0

lihat semua
Episodes
1 Part 01
2 Part 02
3 Part 03
4 Part 04
5 Part 05
6 Part 06
7 Part 07
8 Part 08
9 Part 09
10 Part 10
11 Part 11
12 Part 12
13 Part 13
14 Part 14
15 Part 15
16 Part 16
17 Part 17
18 Part 18
19 Part 19
20 Part 20
21 Part 21
22 Part 22
23 Part 23
24 Part 24
25 Part 25
26 Part 26
27 Part 27
28 Part 28
29 Part 29
30 Part 30
31 Part 31
32 Part 32
33 Part 33
34 Part 34
35 Part 35
36 Part 36
37 Part 37
38 Part 38
39 Part 39
40 Part 40
41 Part 41
42 Part 42
43 Part 43
44 Part 44
45 Part 45
46 Part 46
47 Part 47
48 Part 48
49 Part 49
50 Part 50
51 Part 51
52 Part 52
53 Part 53
54 Part 54
55 Part 55
56 Part 56
57 Part 57
58 Part 58
59 Part 59
60 Part 60
61 Part 61
62 Part 62
63 Part 63
64 Part 64
65 Part 65
66 Part 66
67 Part 67
68 Part 68
69 Part 69
70 Part 70
71 Part 71
72 Part 72
73 Part 73
74 Part 74
75 Part 75
76 Part 76
77 Part 77
78 Part 78
79 Part 79
80 Part 80
81 Part 81
82 Part 82
83 Part 83
84 Part 84
85 Part 85
86 Part 86
87 Part 87
88 Part 88
89 Part 89
90 Part 90
91 Part 91
92 Part 92
93 Part 93
94 Part 94
95 Part 95
96 Part 96
97 Part 97
98 Part 98
99 Part 99
100 Part 100
101 Part 101
102 Part 102
103 Part 103
104 Part 104
105 Part 105
106 Part 106
107 Part 107
108 Part 108
109 Part 109
110 Part 110
111 Part 111
112 Part 112
113 Part 113
114 Part 114
115 Part 115
116 Part 116
117 Part 117
118 Part 118
119 Part 119
120 Part 120
121 Part 121
122 Part 122
123 Part 123
124 Part 124
125 Part 125
126 Part 126
127 Part 127
128 Part 128
129 Part 129
130 Part 130
131 Part 131
132 Part 132
133 Part 133
134 Part 134
135 Part 135
136 Part 136
137 Part 137
138 Part 138
139 VISUAL
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Part 01
2
Part 02
3
Part 03
4
Part 04
5
Part 05
6
Part 06
7
Part 07
8
Part 08
9
Part 09
10
Part 10
11
Part 11
12
Part 12
13
Part 13
14
Part 14
15
Part 15
16
Part 16
17
Part 17
18
Part 18
19
Part 19
20
Part 20
21
Part 21
22
Part 22
23
Part 23
24
Part 24
25
Part 25
26
Part 26
27
Part 27
28
Part 28
29
Part 29
30
Part 30
31
Part 31
32
Part 32
33
Part 33
34
Part 34
35
Part 35
36
Part 36
37
Part 37
38
Part 38
39
Part 39
40
Part 40
41
Part 41
42
Part 42
43
Part 43
44
Part 44
45
Part 45
46
Part 46
47
Part 47
48
Part 48
49
Part 49
50
Part 50
51
Part 51
52
Part 52
53
Part 53
54
Part 54
55
Part 55
56
Part 56
57
Part 57
58
Part 58
59
Part 59
60
Part 60
61
Part 61
62
Part 62
63
Part 63
64
Part 64
65
Part 65
66
Part 66
67
Part 67
68
Part 68
69
Part 69
70
Part 70
71
Part 71
72
Part 72
73
Part 73
74
Part 74
75
Part 75
76
Part 76
77
Part 77
78
Part 78
79
Part 79
80
Part 80
81
Part 81
82
Part 82
83
Part 83
84
Part 84
85
Part 85
86
Part 86
87
Part 87
88
Part 88
89
Part 89
90
Part 90
91
Part 91
92
Part 92
93
Part 93
94
Part 94
95
Part 95
96
Part 96
97
Part 97
98
Part 98
99
Part 99
100
Part 100
101
Part 101
102
Part 102
103
Part 103
104
Part 104
105
Part 105
106
Part 106
107
Part 107
108
Part 108
109
Part 109
110
Part 110
111
Part 111
112
Part 112
113
Part 113
114
Part 114
115
Part 115
116
Part 116
117
Part 117
118
Part 118
119
Part 119
120
Part 120
121
Part 121
122
Part 122
123
Part 123
124
Part 124
125
Part 125
126
Part 126
127
Part 127
128
Part 128
129
Part 129
130
Part 130
131
Part 131
132
Part 132
133
Part 133
134
Part 134
135
Part 135
136
Part 136
137
Part 137
138
Part 138
139
VISUAL

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!