" Kalian bersenang - senang rupanya..." ucap Tuan Regan mengagetkan mereka.
" Ayah... sejak kapan Ayah disitu...?"
Rissa menyambut kedatangan ayahnya dengan gembira.
" Sekitar lima menit yang lalu, kalian sepertinya bersenang - senang..." ucap Tuan Regan.
" Tumben Ayah kesini jam segini...?" tanya Ibu.
" Sebenarnya ada yang ingin Ayah bicarakan dengan Rissa..."
" Ada apa Yah...?" Rissa berdiri di depan Ayahnya.
" Begini, sebenarnya Ayah ada perjalanan bisnis minggu depan. Jadi Ayah minta kamu urus kantor ya...?"
" Tapi Yah, Rissa belum pernah bekerja di perkantoran..."
" Tenang saja, anak Ayah pasti bisa cepat belajar. Mulai besok William akan mengajari cara bekerja di kantor..."
" Ibu nggak ada temennya dong Yah disini..." sungut Ibu.
" Pekerjaan di kantor lebih penting Bu, Rissa harus jadi orang hebat seperti anak kita yang lain. Apalagi cucu kita nanti, dia akan menjadi anak genius di seluruh dunia..."
" Semoga saja harapan Ayah terkabul..." ucap Rissa tersenyum.
" Oh iya, Ayah sampai lupa. Tolong kamu juga handle kerjaan Ayah yang di bidang jasa itu..." senyum Ayah terkembang sempurna bagai bunga mawar yang sedang mekar.
" Ayah, Rissa tidak boleh ikut - ikutan dalam bisnis Ayah yang berbahaya itu...!" ucap Ibu kesal.
" Rissa hanya bertugas memantau di dalam kantor Bu..." bujuk Ayah.
" Iya Bu, Rissa tidak akan turun tangan langsung soal kerjaan yang satu itu..." ucap Rissa memohon.
" Lagian Ayah itu kurang kerjaan, jadi detektif itu pekerjaan yang harus mempertaruhkan nyawa..." kesal Ibu.
" Tidak usah marah, lagian pekerjaan ini legal. Yang penting Ayah itu tidak melanggar hukum..."
" Sepertinya jadi detektif cukup menantang Yah, nanti kalau anak Rissa sudah lahir boleh ya Rissa gabung..." ucap Rissa penuh harap.
" Tidak boleh! Kamu itu mestinya di rumah jaga anak kamu...!" gertak Ibu.
" Sudah, tidak perlu bertengkar. Lebih baik kita makan, Ayah sudah lapar..." ajak Ayah mengalihkan pembicaraan.
# # #
Arvan dan Hans kini berada di Malaysia. Mereka punya misi untuk menangkap seorang pembunuh salah satu pejabat daerah di KL.
" Van, yakin kita akan menyergapnya berdua saja...?" tanya Hans.
" Iya Hans, tak ada pilihan lain. Kita ajak beberapa orang polisi setempat untuk membantu menangkap penjahat itu. Serahkan semua bukti yang kita punya, aku akan terus memantau mereka disini..." ucap Arvan.
" Tapi Van, aku tidak bisa membiarkanmu disini sendirian...!"
" Ini perintah Hans...!"
" Baik Boss...!"
Dengan berat hati Hans meninggalkan Arvan yang sedang mengintai pergerakan para penjahat di sebuah gedung kosong yang terbengkalai.
" Hati - hati Van, jaga diri baik - baik..."
" Kamu juga hati - hati, kita harus menyergapnya sebelum mereka sadar dengan keberadaan kita..."
Setengah jam menunggu, namun Hans belum juga datang membawa bantuan. Arvan semakin lelah menunggu apalagi tiba - tiba dia mual. Rasanya seluruh isi perutnya memberontak ingin keluar.
" Hueekkk...!"
" Hueeekkk...!"
Arvan sudah tidak tahan lagi, akhirnya dia memuntahkan semuanya.
" Hei... siapa itu...!" teriak seseorang.
" Sial... mereka tahu keberadaanku. Anakku yang pintar, jangan membuat Papa susah kali ini..." gumam Arvan pelan.
Tanpa Arvan sadari, dia sudah dikepung oleh lima orang penjahat.
" Sepertinya ada mata - mata masuk ke markas. Habisi dia...!" perintah salah satu dari mereka.
Kepalang tanggung, akhirnya Arvan mencoba untuk bertahan dengan sisa tenaganya yang sudah terkuras karena mual dan muntah tadi.
" Hajar dia...!" pekik penjahat itu dengan keras.
Perkelahian sengit tak bisa terhindarkan. Satu lawan lima bukanlah pertarungan yang seimbang, namun karena kemampuan ilmu bela diri yang dimiliki Arvan jauh lebih tinggi dari mereka, Arvan mampu melumpuhkan sebagian.
Semakin lama musuh itu semakin bertambah membuat Arvan kuwalahan. Namun begitu, Arvan tetap bertahan menahan serangan para penjahat itu.
" Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi, jumlah mereka semakin banyak..." gumam Arvan.
Arvan terus melayangkan pukulan dan tendangan kepada para penjahat itu. Namun karena kurang waspada, lengannya terkena sajam.
" Auwww... sial beraninya kalian melukaiku...!" geram Arvan.
Arvan dan para penjahat itu kembali baku hantam. Pertarungan semakin sengit karena Arvan mulai tak terkendali dan juga meluapkan semua amarahnya yang dia pendam selama ini. Pelampiasan kali ini lebih mengerikan karena Arvan membuat para penjahat itu kalang kabut dengan kebringasannya.
Arvan memang tidak menghilangkan nyawanya, namun sebagian dari mereka patah kaki dan tangannya.
Di saat yang bersamaan, Hans datang bersama pihak berwajib yang langsung meringkus mereka semua.
" Van, kau tidak apa - apa...?" tanya Hans khawatir melihat darah di lengan Arvan.
" I'm fine, ayo kita kejar bossnya sebelum dia pergi jauh..." jawab Arvan.
" Tapi kau terluka...?"
" Jangan pikirkan aku! Kita selesaikan ini secepatnya...!" teriak Arvan.
Arvan segera bangkit menuju mobilnya diikuti Hans dan dua orang anggota polisi.
" Biar aku yang mengemudi Van..." ucap Hans.
" Hmmm...." sahut Arvan pelan.
Salah satu polisi itu mengikat lengan Arvan dengan kain agar darahnya tak keluar lebih banyak lagi.
" Tuan... mereka memasuki hutan, jika kita kehilangan jejak akan sulit untuk menemukannya..." ucap salah seorang polisi.
" Lebih cepat lagi Hans, kita harus bisa menangkapnya hidup atau mati...!" perintah Arvan.
" Siap Boss...!"
Setengah jam pengejaran akhirnya mereka menyerah setelah terjebak di pinggir jurang. Mereka ditangkap tanpa perlawanan dan langsung dibawa ke kantor polisi.
Setelah semua pekerjaan selesai, Arvan dan juga Hans kembali ke hotel.
" Van, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang. Lukamu cukup parah itu..." kata Hans.
" Aku tidak apa - apa Hans, tidak perlu cemas. Hanya tergores sedikit saja..." sahut Arvan santai.
" Cihh... jangan anggap enteng! Aku keluar sebentar..." ucap Hans.
Hans keluar dari kamar hotel menuju resepsionis. Setelah berbincang sebentar, Hans kembali ke kamar menemui Arvan.
" Dari mana...?" tanya Arvan.
" Pesen makanan sama cari dokter buat ngobatin lengan kamu..." jawab Hans.
" Nanti sore kita kembali ke Indonesia..." ucap Arvan.
" Kondisi kamu masih begitu, besok saja kita istirahat dulu..."
" Ada kabar tentang Erina...?"
Hans yang baru saja ingin merebahkan tubuhnya mengurungkan niatnya dan kembali duduk tegak di sofa.
" Sudah sebulan orang - orang kita mencari namun tak ada hasil. Gadis itu seakan hilang di telan bumi, entah bersembunyi dimana..."
" Aku tidak akan menyerah Hans, dia sudah membawa milikku. Aku pasti bisa menemukan mereka..."
# # #
Rissa sudah bersiap - siap untuk pulang bersama Nyonya Sarah. Namun sedari tadi perasaannya tidak enak. Seperti ada sesuatu yang terjadi pada seseorang yang sangat dekat dengannya.
" Rissa, kamu kenapa melamun...?" Nyonya Sarah menepuk bahu Rissa pelan.
" Eh... Ibu, saya... mmm... tidak apa - apa..." jawab Rissa terbata.
" Jangan bohong pada Ibu, kamu mencemaskan seseorang...?"
" Tidak tahu Bu, tiba - tiba saja Rissa mencemaskan sesuatu tapi Rissa sendiri tidak mengerti tentang apa. Hanya saja saat ini perasaan Rissa tidak enak..."
" Perut kamu tidak apa - apa kan...?"
" Tidak Bu, dia baik - baik saja..."
" Apa mungkin terjadi sesuatu dengan Ayah dari anakmu...? Bagaimanapun juga kalian itu punya ikatan batin yang kuat. Anak dalam kandunganmu juga bisa merasakan apa yang orangtuanya alami..."
" Rissa tidak mau mengingat dia lagi Bu, dia hanya akan menambah luka dalam hatiku..."
" Tapi dia itu tetaplah Ayah dari anakmu itu. Suatu saat pasti kalian akan bertemu lagi..."
Rissa tak bisa menolak takdir jika suatu saat nanti anaknya menanyakan Ayahnya. Apa yang harus dia lakukan untuk menjelaskan pada anaknya. Tanpa dia sadari, airmata membasahi kedua pipinya.
.
.
TBC
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
@Putri.a
lw baca sich...tak baca kyak lagi baca koran ya kak...tp q suka ceritanya...
lnjut dulu yaaaa
2021-11-08
1