Part 11

" Kalian bersenang - senang rupanya..." ucap Tuan Regan mengagetkan mereka.

" Ayah... sejak kapan Ayah disitu...?"

Rissa menyambut kedatangan ayahnya dengan gembira.

" Sekitar lima menit yang lalu, kalian sepertinya bersenang - senang..." ucap Tuan Regan.

" Tumben Ayah kesini jam segini...?" tanya Ibu.

" Sebenarnya ada yang ingin Ayah bicarakan dengan Rissa..."

" Ada apa Yah...?" Rissa berdiri di depan Ayahnya.

" Begini, sebenarnya Ayah ada perjalanan bisnis minggu depan. Jadi Ayah minta kamu urus kantor ya...?"

" Tapi Yah, Rissa belum pernah bekerja di perkantoran..."

" Tenang saja, anak Ayah pasti bisa cepat belajar. Mulai besok William akan mengajari cara bekerja di kantor..."

" Ibu nggak ada temennya dong Yah disini..." sungut Ibu.

" Pekerjaan di kantor lebih penting Bu, Rissa harus jadi orang hebat seperti anak kita yang lain. Apalagi cucu kita nanti, dia akan menjadi anak genius di seluruh dunia..."

" Semoga saja harapan Ayah terkabul..." ucap Rissa tersenyum.

" Oh iya, Ayah sampai lupa. Tolong kamu juga handle kerjaan Ayah yang di bidang jasa itu..." senyum Ayah terkembang sempurna bagai bunga mawar yang sedang mekar.

" Ayah, Rissa tidak boleh ikut - ikutan dalam bisnis Ayah yang berbahaya itu...!" ucap Ibu kesal.

" Rissa hanya bertugas memantau di dalam kantor Bu..." bujuk Ayah.

" Iya Bu, Rissa tidak akan turun tangan langsung soal kerjaan yang satu itu..." ucap Rissa memohon.

" Lagian Ayah itu kurang kerjaan, jadi detektif itu pekerjaan yang harus mempertaruhkan nyawa..." kesal Ibu.

" Tidak usah marah, lagian pekerjaan ini legal. Yang penting Ayah itu tidak melanggar hukum..."

" Sepertinya jadi detektif cukup menantang Yah, nanti kalau anak Rissa sudah lahir boleh ya Rissa gabung..." ucap Rissa penuh harap.

" Tidak boleh! Kamu itu mestinya di rumah jaga anak kamu...!" gertak Ibu.

" Sudah, tidak perlu bertengkar. Lebih baik kita makan, Ayah sudah lapar..." ajak Ayah mengalihkan pembicaraan.

# # #

Arvan dan Hans kini berada di Malaysia. Mereka punya misi untuk menangkap seorang pembunuh salah satu pejabat daerah di KL.

" Van, yakin kita akan menyergapnya berdua saja...?" tanya Hans.

" Iya Hans, tak ada pilihan lain. Kita ajak beberapa orang polisi setempat untuk membantu menangkap penjahat itu. Serahkan semua bukti yang kita punya, aku akan terus memantau mereka disini..." ucap Arvan.

" Tapi Van, aku tidak bisa membiarkanmu disini sendirian...!"

" Ini perintah Hans...!"

" Baik Boss...!"

Dengan berat hati Hans meninggalkan Arvan yang sedang mengintai pergerakan para penjahat di sebuah gedung kosong yang terbengkalai.

" Hati - hati Van, jaga diri baik - baik..."

" Kamu juga hati - hati, kita harus menyergapnya sebelum mereka sadar dengan keberadaan kita..."

Setengah jam menunggu, namun Hans belum juga datang membawa bantuan. Arvan semakin lelah menunggu apalagi tiba - tiba dia mual. Rasanya seluruh isi perutnya memberontak ingin keluar.

" Hueekkk...!"

" Hueeekkk...!"

Arvan sudah tidak tahan lagi, akhirnya dia memuntahkan semuanya.

" Hei... siapa itu...!" teriak seseorang.

" Sial... mereka tahu keberadaanku. Anakku yang pintar, jangan membuat Papa susah kali ini..." gumam Arvan pelan.

Tanpa Arvan sadari, dia sudah dikepung oleh lima orang penjahat.

" Sepertinya ada mata - mata masuk ke markas. Habisi dia...!" perintah salah satu dari mereka.

Kepalang tanggung, akhirnya Arvan mencoba untuk bertahan dengan sisa tenaganya yang sudah terkuras karena mual dan muntah tadi.

" Hajar dia...!" pekik penjahat itu dengan keras.

Perkelahian sengit tak bisa terhindarkan. Satu lawan lima bukanlah pertarungan yang seimbang, namun karena kemampuan ilmu bela diri yang dimiliki Arvan jauh lebih tinggi dari mereka, Arvan mampu melumpuhkan sebagian.

Semakin lama musuh itu semakin bertambah membuat Arvan kuwalahan. Namun begitu, Arvan tetap bertahan menahan serangan para penjahat itu.

" Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi, jumlah mereka semakin banyak..." gumam Arvan.

Arvan terus melayangkan pukulan dan tendangan kepada para penjahat itu. Namun karena kurang waspada, lengannya terkena sajam.

" Auwww... sial beraninya kalian melukaiku...!" geram Arvan.

Arvan dan para penjahat itu kembali baku hantam. Pertarungan semakin sengit karena Arvan mulai tak terkendali dan juga meluapkan semua amarahnya yang dia pendam selama ini. Pelampiasan kali ini lebih mengerikan karena Arvan membuat para penjahat itu kalang kabut dengan kebringasannya.

Arvan memang tidak menghilangkan nyawanya, namun sebagian dari mereka patah kaki dan tangannya.

Di saat yang bersamaan, Hans datang bersama pihak berwajib yang langsung meringkus mereka semua.

" Van, kau tidak apa - apa...?" tanya Hans khawatir melihat darah di lengan Arvan.

" I'm fine, ayo kita kejar bossnya sebelum dia pergi jauh..." jawab Arvan.

" Tapi kau terluka...?"

" Jangan pikirkan aku! Kita selesaikan ini secepatnya...!" teriak Arvan.

Arvan segera bangkit menuju mobilnya diikuti Hans dan dua orang anggota polisi.

" Biar aku yang mengemudi Van..." ucap Hans.

" Hmmm...." sahut Arvan pelan.

Salah satu polisi itu mengikat lengan Arvan dengan kain agar darahnya tak keluar lebih banyak lagi.

" Tuan... mereka memasuki hutan, jika kita kehilangan jejak akan sulit untuk menemukannya..." ucap salah seorang polisi.

" Lebih cepat lagi Hans, kita harus bisa menangkapnya hidup atau mati...!" perintah Arvan.

" Siap Boss...!"

Setengah jam pengejaran akhirnya mereka menyerah setelah terjebak di pinggir jurang. Mereka ditangkap tanpa perlawanan dan langsung dibawa ke kantor polisi.

Setelah semua pekerjaan selesai, Arvan dan juga Hans kembali ke hotel.

" Van, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang. Lukamu cukup parah itu..." kata Hans.

" Aku tidak apa - apa Hans, tidak perlu cemas. Hanya tergores sedikit saja..." sahut Arvan santai.

" Cihh... jangan anggap enteng! Aku keluar sebentar..." ucap Hans.

Hans keluar dari kamar hotel menuju resepsionis. Setelah berbincang sebentar, Hans kembali ke kamar menemui Arvan.

" Dari mana...?" tanya Arvan.

" Pesen makanan sama cari dokter buat ngobatin lengan kamu..." jawab Hans.

" Nanti sore kita kembali ke Indonesia..." ucap Arvan.

" Kondisi kamu masih begitu, besok saja kita istirahat dulu..."

" Ada kabar tentang Erina...?"

Hans yang baru saja ingin merebahkan tubuhnya mengurungkan niatnya dan kembali duduk tegak di sofa.

" Sudah sebulan orang - orang kita mencari namun tak ada hasil. Gadis itu seakan hilang di telan bumi, entah bersembunyi dimana..."

" Aku tidak akan menyerah Hans, dia sudah membawa milikku. Aku pasti bisa menemukan mereka..."

# # #

Rissa sudah bersiap - siap untuk pulang bersama Nyonya Sarah. Namun sedari tadi perasaannya tidak enak. Seperti ada sesuatu yang terjadi pada seseorang yang sangat dekat dengannya.

" Rissa, kamu kenapa melamun...?" Nyonya Sarah menepuk bahu Rissa pelan.

" Eh... Ibu, saya... mmm... tidak apa - apa..." jawab Rissa terbata.

" Jangan bohong pada Ibu, kamu mencemaskan seseorang...?"

" Tidak tahu Bu, tiba - tiba saja Rissa mencemaskan sesuatu tapi Rissa sendiri tidak mengerti tentang apa. Hanya saja saat ini perasaan Rissa tidak enak..."

" Perut kamu tidak apa - apa kan...?"

" Tidak Bu, dia baik - baik saja..."

" Apa mungkin terjadi sesuatu dengan Ayah dari anakmu...? Bagaimanapun juga kalian itu punya ikatan batin yang kuat. Anak dalam kandunganmu juga bisa merasakan apa yang orangtuanya alami..."

" Rissa tidak mau mengingat dia lagi Bu, dia hanya akan menambah luka dalam hatiku..."

" Tapi dia itu tetaplah Ayah dari anakmu itu. Suatu saat pasti kalian akan bertemu lagi..."

Rissa tak bisa menolak takdir jika suatu saat nanti anaknya menanyakan Ayahnya. Apa yang harus dia lakukan untuk menjelaskan pada anaknya. Tanpa dia sadari, airmata membasahi kedua pipinya.

.

.

TBC

.

.

Terpopuler

Comments

@Putri.a

@Putri.a

lw baca sich...tak baca kyak lagi baca koran ya kak...tp q suka ceritanya...
lnjut dulu yaaaa

2021-11-08

1

lihat semua
Episodes
1 Part 01
2 Part 02
3 Part 03
4 Part 04
5 Part 05
6 Part 06
7 Part 07
8 Part 08
9 Part 09
10 Part 10
11 Part 11
12 Part 12
13 Part 13
14 Part 14
15 Part 15
16 Part 16
17 Part 17
18 Part 18
19 Part 19
20 Part 20
21 Part 21
22 Part 22
23 Part 23
24 Part 24
25 Part 25
26 Part 26
27 Part 27
28 Part 28
29 Part 29
30 Part 30
31 Part 31
32 Part 32
33 Part 33
34 Part 34
35 Part 35
36 Part 36
37 Part 37
38 Part 38
39 Part 39
40 Part 40
41 Part 41
42 Part 42
43 Part 43
44 Part 44
45 Part 45
46 Part 46
47 Part 47
48 Part 48
49 Part 49
50 Part 50
51 Part 51
52 Part 52
53 Part 53
54 Part 54
55 Part 55
56 Part 56
57 Part 57
58 Part 58
59 Part 59
60 Part 60
61 Part 61
62 Part 62
63 Part 63
64 Part 64
65 Part 65
66 Part 66
67 Part 67
68 Part 68
69 Part 69
70 Part 70
71 Part 71
72 Part 72
73 Part 73
74 Part 74
75 Part 75
76 Part 76
77 Part 77
78 Part 78
79 Part 79
80 Part 80
81 Part 81
82 Part 82
83 Part 83
84 Part 84
85 Part 85
86 Part 86
87 Part 87
88 Part 88
89 Part 89
90 Part 90
91 Part 91
92 Part 92
93 Part 93
94 Part 94
95 Part 95
96 Part 96
97 Part 97
98 Part 98
99 Part 99
100 Part 100
101 Part 101
102 Part 102
103 Part 103
104 Part 104
105 Part 105
106 Part 106
107 Part 107
108 Part 108
109 Part 109
110 Part 110
111 Part 111
112 Part 112
113 Part 113
114 Part 114
115 Part 115
116 Part 116
117 Part 117
118 Part 118
119 Part 119
120 Part 120
121 Part 121
122 Part 122
123 Part 123
124 Part 124
125 Part 125
126 Part 126
127 Part 127
128 Part 128
129 Part 129
130 Part 130
131 Part 131
132 Part 132
133 Part 133
134 Part 134
135 Part 135
136 Part 136
137 Part 137
138 Part 138
139 VISUAL
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Part 01
2
Part 02
3
Part 03
4
Part 04
5
Part 05
6
Part 06
7
Part 07
8
Part 08
9
Part 09
10
Part 10
11
Part 11
12
Part 12
13
Part 13
14
Part 14
15
Part 15
16
Part 16
17
Part 17
18
Part 18
19
Part 19
20
Part 20
21
Part 21
22
Part 22
23
Part 23
24
Part 24
25
Part 25
26
Part 26
27
Part 27
28
Part 28
29
Part 29
30
Part 30
31
Part 31
32
Part 32
33
Part 33
34
Part 34
35
Part 35
36
Part 36
37
Part 37
38
Part 38
39
Part 39
40
Part 40
41
Part 41
42
Part 42
43
Part 43
44
Part 44
45
Part 45
46
Part 46
47
Part 47
48
Part 48
49
Part 49
50
Part 50
51
Part 51
52
Part 52
53
Part 53
54
Part 54
55
Part 55
56
Part 56
57
Part 57
58
Part 58
59
Part 59
60
Part 60
61
Part 61
62
Part 62
63
Part 63
64
Part 64
65
Part 65
66
Part 66
67
Part 67
68
Part 68
69
Part 69
70
Part 70
71
Part 71
72
Part 72
73
Part 73
74
Part 74
75
Part 75
76
Part 76
77
Part 77
78
Part 78
79
Part 79
80
Part 80
81
Part 81
82
Part 82
83
Part 83
84
Part 84
85
Part 85
86
Part 86
87
Part 87
88
Part 88
89
Part 89
90
Part 90
91
Part 91
92
Part 92
93
Part 93
94
Part 94
95
Part 95
96
Part 96
97
Part 97
98
Part 98
99
Part 99
100
Part 100
101
Part 101
102
Part 102
103
Part 103
104
Part 104
105
Part 105
106
Part 106
107
Part 107
108
Part 108
109
Part 109
110
Part 110
111
Part 111
112
Part 112
113
Part 113
114
Part 114
115
Part 115
116
Part 116
117
Part 117
118
Part 118
119
Part 119
120
Part 120
121
Part 121
122
Part 122
123
Part 123
124
Part 124
125
Part 125
126
Part 126
127
Part 127
128
Part 128
129
Part 129
130
Part 130
131
Part 131
132
Part 132
133
Part 133
134
Part 134
135
Part 135
136
Part 136
137
Part 137
138
Part 138
139
VISUAL

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!