" Ayah, maafkan Erina..."
Erina berlutut di hadapan ayahnya dengan airmata yang mengalir deras.
" Bangunlah...!" perintah Bagas.
Erina mendongakkan wajahnya menatap wajah sang ayah yang terlihat sembab. Erina berdiri dengan ragu lalu mendekat ke arah ayahnya.
" Maafkan Ayah, Nak..."
Bagas memeluk anaknya dengan erat. Rasa rindu yang selama ini terpendam dia curahkan di hari ia akan melihat anaknya terakhir kali menginjakkan kakinya di rumah itu.
" Ayah minta maaf Nak, Ayah tidak bisa menjadi orangtua yang baik untukmu. Ayah tidak bisa menjagamu sehingga semua ini terjadi. Ini semua salahku Nak..." ucap Ayah sambil menangis.
" Kenapa Ayah bicara seperti itu...?"
" Ayah sudah berlaku tidak adil padamu, harusnya Ayah lebih memperhatikan kamu sebagai anak kandung Ayah. Tapi karena tekanan dari ibumu, Ayah jadi terlalu memanjakan kakakmu..."
" Ayah tidak perlu minta maaf, ini semua takdir yang harus Erin jalani..."
" Jujurlah pada Ayah, siapa orang yang telah melakukan ini padamu...?"
" Erina tidak mengenalnya Yah, waktu itu Erina_..."
Erina menceritakan semua kejadian malam itu kepada Ayahnya. Dia kembali menangis dalam pelukan ayahnya.
" Kita harus kesana Rin, dia harus bertanggungjawab atas semua yang dia lakukan padamu..."
" Tidak Ayah, Erina takut dia tidak mengakui anak ini..."
" Bagaimanapun juga dia itu ayah dari anak dalam kandunganmu Nak...!"
" Erina akan mencari orang itu sendiri Yah, saya tidak mau Ayah ribut dengan Ibu karena membela Erina..."
" Ya sudah, tapi maafkan Ayah Nak, mulai sekarang Ayah tidak bisa mengijinkan kamu tinggal disini lagi. Kamu tahu sendiri seperti apa sifat ibu dan kakakmu. Ayah tidak bisa melihat mereka menyakitimu dan juga cucu Ayah..."
" Erina harus pergi kemana Yah, tidak ada siapapun yang mau menampung Erina..."
" Ini terimalah, pergilah dari kota ini jika laki - laki itu tidak mau bertanggungjawab padamu..."
Bagas menyerahkan amplop berisi uang untuk bekal hidup Erina selama beberapa bulan ini.
" Tapi Yah_..."
" Erin, Ayah mohon pergilah demi kebaikanmu..."
" Erina harus pergi kemana Yah...?"
" Ayah percaya kamu adalah wanita yang kuat seperti ibumu, pergilah Nak! Ayah yakin kamu akan bahagia di luar sana..."
Erina kembali terisak dalam dekapan sang Ayah. Mungkin ini adalah pelukan yang pertama dan terakhir untuk mereka. Sejak kecil Erina tak pernah mendapatkan kasih sayang kecuali dari bik Ina, pelayan yang mengurusnya sejak lahir.
Setelah berpamitan pada Ayahnya, Erina menyeret kopernya keluar dari rumah yang telah dia tempati sejak lahir. Sejenak dia berhenti, menatap rumah tempatnya bernaung selama ini. Rasa sedih menghinggapi seluruh jiwanya saat bik Ina memeluknya sambil menangis.
" Bik, tolong jaga Ayah. Erina tidak bisa lagi kembali ke rumah ini. Maafkan Erina sudah mengecewakan bibik..."
" Tidak Non, ijinkan bibik ikut dengan Non Erina..."
" Bik Ina tidak perlu khawatir, Erina bisa jaga diri..."
Erina segera memasukkan kopernya ke dalam taksi yang sudah di pesannya tadi. Dia tidak punya arah dan tujuan, hanya makam sang ibu yang bisa membuat hatinya merasa tenang.
" Pak, kita ke pemakaman dulu ya...?" kata Erina.
" Baik Non..." jawab sopir taksi.
Sampai di pemakaman, Erina menyuruh sopir taksi itu untuk menunggunya sebentar. Erina memasuki area pemakaman itu sendiri. Saat sampai di depan pusara sang ibu, tubuh Erina seketika luruh bersimpuh di makam ibunya. Hanya tangisan pilu yang bisa dia ungkapkan kali ini. Tak ada kata - kata yang mampu terucap dari mulutnya.
Kata maaf yang hanya menguar dari dalam hatinya membuat isakannya bagai sayatan sembilu. Siapapun yang melihatnya pasti tidak akan mampu menahan airmatanya.
" Ibu, maafkan Erin... Erin tidak bisa menjaga nama baik keluarga kita. Erin sudah kotor, tak bisa lagi meneruskan cita - cita Erin Bu. Apa yang harus Erin lakukan sekarang...?"
Erina mencurahkan seluruh isi hatinya di depan pusara sang ibu. Tangisannya terasa pilu dan menyesakkan dada. Dia hampir saja pingsan jika saja sopir taksi itu tak menghampirinya.
" Nona, apa yang terjadi...? Anda baik - baik saja...?" tanya sopir itu panik.
" Saya tidak apa - apa Pak..." jawab Erina pelan.
" Sebaiknya kita pergi dari sini Nona..."
" Iya pak, saya harus menemui seseorang..."
Sopir taksi itu memapah tubuh Erina yang lemah melewati beberapa makam hingga akhirnya sampai di mobil.
" Nona, apa kita perlu ke rumah sakit...?"
" Tidak pak, antarkan saya ke alamat ini..."
" Baik Nona..."
Erina terus saja menangis di sepanjang perjalanannya. Setengah jam kemudian, dia sampai di sebuah Apartment mewah.
" Nona, kita sudah sampai. Apa perlu saya antar keatas...?"
" Tidak pak, saya bisa sendiri. Terimakasih bantuannya..."
Erina memberikan ongkos taksi lalu turun dan menyeret kopernya menuju lift. Penyesalan terdalam dari dirinya mengingat tempat ini. Apartment mewah ini bagaikan neraka baginya. Saat menekan tombol nomor lantai paling atas, dadanya begitu sesak. Ada keraguan untuk melakukan semua itu. Berbagai pikiran buruk bersarang dalam benaknya. Bagaimana jika lelaki itu tidak mengakui perbuatannya? Apa yang akan terjadi dengan kehidupannya nanti bersama anaknya tanpa seorang ayah?
Sampai di lantai paling atas, Erina menyeret kopernya menuju sebuah pintu dengan nomor 150 yang terpampang jelas di depannya. Dengan ragu, Erina menekan bel itu berulang kali.
Erina semakin gelisah saat pintu di depannya tak kunjung terbuka. Hatinya semakin tak karuan ketika lelaki itu tak kunjung keluar dari kamarnya. Karena lelah, Erina duduk bersandar pada pintu itu lalu tertidur karena tubuhnya sangat lemah.
" Nona... bangunlah...!" seseorang menggoyangkan pelan tubuh Erina.
Erina mengerjabkan matanya beberapa kali untuk menetralkan penglihatannya. Tubuhnya terasa sakit semua karena tertidur terlalu lama sembari duduk. Dia melirik jam tangannya, ternyata sudah jam enam sore.
" Eh... maaf pak, saya ketiduran disini..."
Ternyata seorang security menghampirinya dan membangunkan dari tidurnya.
" Kenapa Anda disini Nona? Anda bukan penghuni Apartment ini..."
" Maaf pak, saya menunggu seseorang..."
" Siapa yang Anda tunggu...?"
" Saya... saya menunggu penghuni kamar ini..."
" Huft... sepertinya Anda datang di waktu yang salah Nona..."
Melihat pakaian lusuh yang dikenakan Erina, security itu merasa curiga pada wanita itu. Tapi saat wajahnya yang sembab, orang itu jadi tidak tega.
" Maksud bapak apa...?"
" Maaf Nona, penghuni kamar ini belum pulang semenjak tiga minggu yang lalu..."
" Bapak tidak bohongkan? Dia pergi kemana pak...?"
" Saya tidak tahu Nona, sepertinya beliau berada di luar negeri..."
Tubuh Erina kembali tersungkur ke lantai. Kini dia sudah tak punya harapan lagi. Tak ada siapapun yang peduli padanya. Erina merasa dirinya seperti sampah yang telah terbuang dan tak akan pernah ada yang mau memungutnya lagi. Hanya tangisan yang kembali dapat ia lakukan. Merutuki nasibnya yang begitu buruk dan juga harus menanggung janin dalam rahimnya seorang diri.
" Terimakasih pak, kalau begitu saya permisi..."
" Silahkan Nona, mari saya bawakan koper Anda sampai ke bawah..." ucap security itu menawarkan bantuan.
" Sekali terimakasih pak, maaf merepotkan..."
Sampai di bawah, Erina berjalan menyusuri jalan raya dengan menyeret kopernya perlahan. Tenaganya terkuras habis karena dari siang dia belum makan apapun juga. Dengan sempoyongan dia jalan tanpa arah hingga tak sengaja dia berjalan sampai ke tengah jalan.
Ciiitttt!!!
" Aaaakhhhh...!!!"
.
.
TBC
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Dewi Dj
moga ktemuan m Arvan berkat bantuan thor
2022-11-23
1
ANAA K
Boomlike hadir thor😉👍🏾 jangan lupa mampir yah😉🙏🏿
2021-10-15
0