" Berisik! Apa yang harus kita lakukan sekarang...?" pekik Arvan.
" Tenang, kita sudah melihat wajahnya, sekarang kita cari alamat gadis itu..." ucap Hans.
" Gimana caranya kita bisa mendapatkan alamatnya...?"
" Shitt!!! Sejak kapan kau jadi bodoh seperti itu...!" umpat Hans kesal.
" Huft... aku tidak bisa berpikir jernih sejak bertemu gadis itu..." keluh Arvan.
" Apa kau mulai menyukai gadis itu? Ternyata kau terpikat dengan sentuhan satu malam itu..." ledek Hans.
" Diam kau! Atau ku ledakkan kepalamu sekarang juga...!" hardik Arvan siap dengan pistol di saku jaketnya.
" Hahahaa... makanya jangan terlalu bodoh...!"
Hans mengambil ponsel di saku celananya lalu menghubungi seseorang. Tak lama kemudian, seseorsng datang mengetuk pintu. Hans segera membukanya dan mempersilahkan orang itu masuk.
" Ada yang bisa saya bantu Tuan..."
Orang yang di telfon Hans barusan ternyata seorang kepala security di Apartement itu.
" Iya pak, kami membutuhkan bantuan Anda..." ucap Hans.
Arvan hanya diam memperhatikan Hans yang sedang berbicara dengan security itu.
" Maaf pak, apa kami boleh meminta rekaman cctv Apartement ini...? Saya ingin mencari seseorang di tempat parkir sekitar tiga minggu yang lalu..." kata Arvan sopan.
" Sebentar Tuan, saya akan mengambil flashdisk terlebih dahulu..."
Lima menit kemudian, security itu datang kembali dengan flashdisk di tangannya.
" Silahkan Tuan, ini rekaman selama satu bulan ini. Saya selalu menyimpan di flashdisk yang berbeda setiap satu bulan agar mudah mencarinya jika dibutuhkan...c
" Terimakasih pak..."
Arvan membuka flashdisk itu dengan laptopnya. Setelah mengutak - atik sebentar dia mencari tanggal dan jam saat Erina membawanya masuk ke dalam Apartement.
" Itu dia Van...!" pekik Hans.
" Catat nomor mobilnya dan cari tahu dimana rumah gadis itu...!" perintah Arvan.
" Siap Boss...!"
" Tunggu Tuan... bisa Anda perjelas wajah gadis itu...?" pinta security.
" Kenapa...? Kau mengenalnya...?" tanya Arvan.
" Tidak, tapi saya sepertinya pernah melihat gadis itu..."
Arvan memperbesar wajah gadis itu agar terlihat jelas. Namun hatinya semakin merasa bersalah ketika memandangi wajah gadis cantik itu.
" Apa Anda mengenalnya...?"
" Benar, wajahnya sangat mirip dengan gadis itu..."
" Dimana kau melihatnya...? Kapan...?"
" Kemarin sore di depan kamar Tuan ini. Dia mencari Tuan, sepertinya dari siang dia menunggu disini. Gadis itu membawa koper, pakaiannya lusuh penuh dengan tanah. Dia terus saja menangis saat saya bilang kalau Tuan sedang di luar negeri..."
" Dia datang kesini...?"
Arvan semakin frustasi mendengar cerita dari security itu. Arvan berpikir pasti telah terjadi sesuatu yang buruk dengan gadis itu.
" Apa bapak tahu dia pergi kemana...?"
" Tidak Tuan, saya hanya mengantarnya sampai depan Apartment..."
" Terimakasih bantuannya pak, Anda boleh keluar sekarang..." ucap Hans seraya memberikan sejumlah uang padanya.
" Kalau begitu saya permisi Tuan..."
Hans segera menutup kembali pintunya setelah security itu pergi. Dia menghampiri Arvan yang sedang bersandar di sofa sembari memejamkan matanya. Pikirannya melayang entah kemana, tak ada yang bisa ia lakukan sekarang.
Hans membereskan laptop di depan Arvan dan menyimpannya di ruang kerja. Setelah itu dia beranjak keluar Apartment untuk mencari makanan.
" Van, istirahatlah di kamar! Kau bisa sakit kalau seperti itu terus..." titah Hans.
" Hmmm..." sahut Arvan malas.
" Mau makan apa? Aku mau beli makanan dulu..."
" Terserah kau saja Hans..."
" Ok...!"
Hans keluar meninggalkan Arvan sendiri di dalam Apartment. Dia akan menemui seseorang untuk melacak pemilik mobil yang di pakai Erina. Harusnya Arvan yang lebih jago dalam hal meretas data, namun karena pikirannya sedang kacau dia tidak bisa memikirkan apapun.
Arvan masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang empuk itu. Namun baru saja memejamkan mata, dia teringat dengan gadis yang telah menemani malamnya waktu itu.
" Erina... aku pasti menemukanmu..." gumam Arvan.
Wajah Erina tak bisa lepas dari benak Arvan. Kecantikan wajahnya, suaranya... sungguh tak bisa ia lupakan.
" Shitt!!! Kenapa aku memikirkan dia terus...! Aakkhhh...!!!"
Arvan frustasi memikirkan gadis yang selalu datang dalam mimpinya setiap malam. Lamunannya buyar saat merasakan mual dan hendak muntah. Arvan langsung lari ke dalam kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Rasanya sangat pahit karena hanya cairan bening yang keluar dari mulutnya. Memang dari semalam dia belum makan apapun.
" Akhh... sial...! Kenapa tubuhku sangat lemah..." umpat Arvan.
Karena tubuhnya yang lemah, Arvan langsung berbaring di tempat tidur. Arvan memejamkan matanya agar bisa tidur dan segera sembuh dari sakitnya.
Tak lama Hans datang bersama dengan Ricko. Karena tak melihat Arvan, Hans langsung masuk ke dalam kamarnya.
" Sepertinya Arvan sangat lelah, apa kasus yang kalian hadapi begitu sulit...?" tanya Ricko seraya menatap Arvan yang terlihat pucat.
Ricko adalah yang paling tua umurnya, usianya 23 tahun. Sedangkan Arvan dan Hans seumuran hanya terpaut beberapa bulan saja, Hans lebih dulu lahir sehingga mereka menganggap Arvan sebagai anak kecil yang harus di lindungi.
" Bukan masalah kasus di London, tapi masalah disini..."
Hans mengajak Ricko keluar dari kamar Arvan lalu duduk di ruang tamu.
" Apa yang terjadi dengan Arvan...? Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya apa yang akan kita katakan pada Ibu...?" ucap Ricko.
" Biar saya yang urus semua ini, kau fokus saja dengan perusahaan kakak pertama... hahahaa..." kekeh Hans.
" Ish... kenapa kau selalu memanggilku seperti itu...!"
" Tentu saja, kau adalah kakakku..."
" Terserah kau saja, jika kau tak sanggup menangani masalah Arvan aku akan membantumu..."
" Terimakasih Kakak, kau sangat baik..."
" Oh iya, besok kalian harus ke kantor. Saya harus mengurus cabang di luar kota selama tiga hari. Untuk jadwal besok udah saya kirim ke email kamu..."
" Siap kakak..."
" Ya sudah, aku mau pulang dulu. Mmmm... sebaiknya kalian juga tinggal di rumah, tega sekali meninggalkan aku sendiri..."
" Iya Kak, nanti aku ajak Arvan pulang..."
# # #
Sore hari Arvan baru bangun dari tidurnya, namun kepalanya masih terasa pusing. Dia berusaha bangun, tapi rasa mual langsung terasa dari dalam tubuhnya. Dengan tenaga yang tersisa Arvan berlari ke kamar mandi.
Hans yang sedang berkutat dengan laptopnya kaget dengan suara gaduh di dalam kamar adik angkatnya itu. Dia segera menutup laptopnya dan berlari ke kamar Arvan.
Hans sangat terkejut melihat ada Vas bunga yang pecah di meja samping pintu kamar mandi. Hans juga mendengar Arvan muntah di dalam.
" Ar, kamu kenapa...? Boleh aku masuk...?" teriak Hans khawatir.
Tak lama Arvan membuka pintu lalu ambruk dihadapan Hans. Untung saja Hans langsung menangkap tubuh Arvan sehingga tidak tersungkur ke lantai.
" Van, kamu sakit...?"
Hans segera memapah Arvan ke tempat tidur lalu membaringkannya dan memasang selimut hingga sebatas dada. Setelah itu Hans menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan Arvan.
Dua puluh menit kemudian, seorang gadis cantik datang lengkap dengan baju dan tas kerjanya.
" Hey... apa yang terjadi dengan Tuan Muda...?" tanya Delia, dokter cantik incaran Hans.
" Saya tidak tahu, tiba - tiba saja dia hampir pingsan. Periksa dia cepat...!" perintah Hans.
Dokter Delia memeriksa keadaan Arvan sebentar lalu duduk di sampingnya. Tak lama Arvan pun bangun dan menatap Delia dengan tajam.
" Jangan pergi, tetaplah bersamaku_..."
.
.
TBC
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Itha Fitra
arvan ngidam
2022-11-24
1