Ciiittt!!!
" Aaakhhhh...!!!"
Erina menutup kedua matanya dengan tubuh gemetaran. Erina sangat takut sehingga terduduk di atas aspal dengan jantung yang hampir copot.
" Kamu tidak apa - apa...?"
Seorang perempuan mendekati Erina dan menepuk bahunya pelan. Erina yang kaget, langsung mendongakkan wajahnya kepada perempuan yang tadi hampir menabraknya.
" Nak, kamu dengar Ibu...?"
Wanita itu mengguncang tubuh Erina sedikit keras agar gadis itu merespon panggilannya.
" Nyonya, kita harus segera ke Bandara. Sebentar lagi privat jet Anda berangkat..." ucap pengawal pribadinya.
" Bagaimana dengan gadis ini? Saya tidak tega meninggalkannya sendiri disini..."
" Tapi waktu kita tidak banyak Nyonya kalau harus mengantarnya ke rumah sakit..."
" Ya sudah, bawa dia masuk ke dalam mobil. Saya akan membawanya ke London..."
" Tapi Nyonya_..."
" Cepatlah! Jangan membantah perintahku...!"
" Baik Nyonya..."
Setelah memapah Erina masuk ke dalam mobil, mereka langsung pergi ke Bandara. Hanya butuh waktu beberapa menit, mereka memasuki privat jet itu dan terbang ke London. Di dalam pesawat, Wanita paruh baya itu berusaha mengajak Erina berkomunikasi.
" Nak, kenalkan... saya Sarah, panggil saja ibu Sarah. Nama kamu siapa...?"
Erina menatapnya sendu, mungkin kesadarannya hampir menghilang.
" Ibu, kenapa kau meninggalkanku...?"
Tubuh lemah Erina ambruk ke dalam dekapan Bu Sarah. Kesadarannya hilang bersama angannya menggapai pelukan ibu yang sangat dirindukannya.
" Nak, bangunlah...!"
Sarah menggoncang tubuh Erina dengan kuat, namun gadis itu tetap tak bergeming. Sarah berteriak memanggil pengawalnya agar membantunya mengangkat tubuh Erina ke tempat tidur.
Sarah memeriksa keadaan gadis itu yang ternyata demam. Dengan telaten wanita paruh baya yang berumur sekitar 45 tahun itu merawat Erina.
" Ibu... Ibu..."
Erina selalu mengigau menyebut kata ' Ibu ' membuat Sarah semakin khawatir. Dia terus menjaga gadis itu sepanjang perjalanan menuju London.
" Kamu cantik Nak, tapi sepertinya hidupmu penuh dengan masalah..." gumam Sarah.
* * *
Setelah sampai di London, Nyonya Sarah langsung membawa Erina ke rumah sakit. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada gadis yang baru dibawanya itu. Entah mengapa, Nyonya Sarah merasa iba dan juga seperti ada ikatan batin diantara mereka.
" Semoga kamu baik - baik saja Nak..." gumam Sarah.
Lima belas menit menunggu, dokter yang memeriksa Erina keluar dari ruang IGD.
" Dokter, apa gadis itu baik - baik saja...?"
" Dia baik - baik saja Nyonya. Hanya saja tubuhnya sangat lemah, dehidrasi dan asupan nutrisinya sangat lemah. Jika dibiarkan, janin dalam kandungannya bisa tak terselamatkan..."
" Jadi gadis itu sedang hamil, Dok...?"
" Benar Nyonya, jaga dia baik - baik. Jangan biarkan dia mengalami stress dan memikirkan hal - hal yang berat..."
" Baik Dokter, terimakasih..."
" Kalau begitu saya permisi dulu Nyonya, masih banyak pasien yang harus saya tangani..."
" Silahkan Dokter..."
Setelah dokter pergi, Sarah berniat untuk melihat keadaan Erina di ruang IGD. Namun saat hendak membuka pintu, ponsel di dalam tasnya berdering.
" Hallo... Ada apa Nak...?" ucap Sarah.
[ " Bu, aku mau pulang ke Indonesia sekarang. Ibu dimana...?" ]
" Ibu sedang menunggu seseorang yang sedang sakit di rumah sakit. Datanglah kesini sebelum ke Bandara..."
[ " Sejak kapan Ibu di London...?" ]
" Belum lama, cepatlah kesini. Ibu tunggu di depan ruang IGD..."
[ " Ok, anak Ibu yang paling tampan ini segera meluncur..." ]
" Ya udah, Ibu tutup dulu telfonnya..."
Setelah menutup telfonnya, Nyonya Sarah mengurungkan niatnya untuk menghampiri Erina. Dia duduk di ruang tunggu, menunggu putra kesayangannya.
Lima belas menit kemudian, sang anak datang menghampiri ibunda tercintanya.
" Ibu...!!!"
" Ish... jangan teriak - teriak ini di rumah sakit...!" tegur Bu Sarah.
" Sorry Bu, Arvan masih rindu sama Ibu..." rengek Arvan.
" Kau ini, kelakuan kayak bocah...! Hans... jaga Arvan disana yaa Jangan sampai dia berbuat ulah..."
" Iya Bu, Hans pastikan kalau Arvan akan tetap jadi bayi mungil kesayangan Ibu..." ledek Hans.
" Ish... sialan! Awas saja kau nanti...!" sungut Arvan.
" Salam buat Ricko, kalau ada waktu suruh dia pulang. Sudah satu tahun dia nggak pulang. Kemarin Ibu ke kantor, Ricko lagi meeting di luar kota..."
" Iya nanti Arvan suruh dia pulang Bu..."
" Eh... Bu, sebenarnya siapa yang sakit? Kenapa Ibu menemaninya disini...?" tanya Hans.
" Ibu juga tidak mengenalnya, kemarin dia hampir tertabrak mobil Ibu sewaktu di Jakarta. Karena tak sempat membawanya ke rumah sakit, Ibu bawa sekalian kesini..."
" Bu, kenapa Ibu bisa mengambil keputusan seperti itu...? Kalau dia orang jahat gimana...?"
" Kalian tenang saja, dia sepertinya gadis yang baik..."
" Gadis...?" ucap Arvan dan Hans serentak.
" Iya, Ibu kasihan padanya. Dia sedang hamil dan sepertinya hidupnya sebatangkara..."
" Kalau dia punya suami dan keluarga gimana Bu? Pasti mereka bingung mencari gadis itu..." ucap Arvan khawatir.
" Begini saja, jika nanti gadis itu sudah sadar Ibu akan mengantarkannya pulang ke rumahnya..."
" Arvan hanya khawatir kalau gadis itu bermasalah dan nantinya akan mempersulit Ibu..."
" Tapi naluriku sebagai seorang ibu mengatakan kalau gadis itu membutuhkan pertolongan..."
" Terserah Ibu, tapi Arvan akan membuat perhitungan kalau sampai dia macam - macam sama Ibu..."
Mereka bertiga saling diam dengan pikirannya masing - masing. Arvan tidak mudah percaya pada orang baru. Tatapannya yang tajam mirip seperti sifat Ayahnya. Dia bisa melihat pergerakan lawan dengan cepat. Kemampuan IQ_nya memang diatas rata - rata sehingga dia menjadi orang yang sangat cerdas.
Arvan, Hans dan Ibunya berbincang dengan hangat sebelum akhirnya Arvan berpamitan untuk kembali ke Indonesia bersama Hans.
" Kalian tidak ingin melihat gadis itu dulu? Mungkin dia sudah sadar..."
" Cantik nggak Bu...? Hans jadi penasaran..." gurau Hans.
" Kau ini, perempuan itu sedang hamil masih mau kau ganggu...!" ketus Arvan.
" Hehehee... cuma bercanda Boss..." sahut Hans nyengir.
Mereka membuka pintu ruang IGD untuk melihat keadaan gadis itu. Namun baru melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu, Hans mendapatkan telfon supaya mereka cepat ke Bandara.
" Ar, itu yang diujung gadis yang Ibu ceritakan..."
" Ayo kita lihat Bu..."
" Tunggu Ar, kita harus cepat ke Bandara..." ucap Hans.
" Kita lihat dulu sebentar Hans..."
" Tak ada waktu lagi Ar, jadwal penerbangan kita 20 menit lagi..."
" Ah sial... ya udah Bu, kalau begitu kami pamit dulu. Jaga kesehatan Ibu, jangan terlalu lelah di toko bunga..."
" Iya, kalian hati - hati. Jaga diri disana, jangan berbuat aneh - aneh yang nantinya membuat keluarga kita malu..."
" Siap Boss...!" ucap Arvan dan Hans kompak.
Setelah berpelukan dengan kedua anaknya, Ibu mengantar mereka sampai ke lobby rumah sakit. Melihat Arvan dan Hans sudah memasuki mobilnya, Nyonya Sarah kembali ke ruang IGD untuk melihat keadaan Erina.
" Nak, kau sudah bangun...?" Sarah duduk di samping Erina.
" Nyonya siapa...?" tanya Erina.
" Saya adalah orang yang hampir menabrakmu semalam. Maaf ya, sopir saya lalai dalam berkendara..."
" Tidak apa - apa Nyonya, maaf merepotkan Anda..."
" Tidak Nak, kenalkan... nama saya Sarah, panggil saja Ibu jika kamu mau. Nama kamu siapa...?"
" Saya_..."
.
.
TBC
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Yatima Mauluddin
wow...main boyong aja horang kaya g main² London punya...
pastix Erina dah punya paspor & visa tp klo liat dari awal kayake nggak
2022-11-27
2
Itha Fitra
sejak kpn ibu sarah kembali ke indonesia n brngkt ke london?
2022-11-24
0
Yani Cuhayanih
Ini rasa penasaran sudah di ujung mata hadech thor arvan gk jdnengok erina.keseeeeel akoh huuh
2022-11-08
0