" Tunggu Erina, ada hal penting yang harus kita bicarakan..." ucap Arvan.
" Raka lebih penting, aku harus bertemu dengannya terlebih dahulu..." sahut Erina.
" Baiklah, kita cari dia sama - sama..."
" Aku tahu dimana Raka berada, dia pasti di tempat biasa aku menghabiskan waktu sendirian di tempat ini..."
Arvan mengikuti langkah Erina menuju sudut taman dibawah pohon. Disana ada bangku panjang biasa tempat ia menumpahkan segala keluh kesahnya.
Benar dugaannya, anak kecil itu bersandar disana menatap anak - anak sebayanya tengah bermain dengan orangtua. Hati Erina kembali sakit saat melihat tatapan kesedihan di mata anaknya.
Erina segera mendekati Raka lalu memeluknya dengan erat.
" Maafin Mama sayang, ini semua salah Mama..."
" Mama... kenapa Mama ada disini...?" tanya Raka datar.
Sungguh saat ini Raka tidak berani menatap wajah orangtuanya itu.
" Jangan tinggalkan Mama, Raka..."
" Raka mau cari papa kandung Raka, Ma..."
" Sayang, saya ini papa kandung kamu..." ucap Arvan.
" Papa bohong...!"
" Raka, kita pulang dulu ya...? Kasihan kakek dan nenek nyariin kamu dari tadi..." bujuk Erina.
" Raka tidak akan pulang sebelum Mama jujur sama Raka...!"
" Raka, percayalah dengan papa. Erin, bilang sama Raka jika aku ini papa kandungnya..."
Erina menangis tak kuasa menahan perih dalam hatinya. Dia tak ingin mengingat masa lalunya lagi.
" Jawab Ma...? Siapa papa kandung Raka...!" pekik Raka.
" Ayolah Erina, demi Raka... Hapuskan semua kebencianmu padaku..." bujuk Arvan.
" Jadi Raka ini anak kamu, Van...?" ucap William tiba - tiba.
Semua terdiam, Rissa menggenggam kedua tangan anaknya. Rissa berharap, Raka bisa memahami perasaannya saat ini.
" Raka, kita pulang dulu ya? Nanti papa akan jelasin semuanya padamu..." bujuk Arvan.
" Raka, sini Uncle gendong ke mobil. Biar papa dan mama bikin adik bayi buat Raka yang banyak di rumah..." bujuk William.
" Kak Willy...!" pekik Erina dan Arvan bersamaan.
" Tuh kan, papa dan mama kamu aja kompak banget..." seloroh William.
" Beneran Raka mau punya adik...?" tanya Raka berharap.
" Jangan dengerin Uncle Willy, kita pulang sekarang..." ucap Rissa.
" Raka masih pengen disini Ma..." rengek Raka.
" Huft... baiklah, saya akan kembali ke tempat acara. Bisa kalian beritahu aku alamatnya..." pinta William.
" Kak Willy bisa pergi dengan kak Arvan..." ucap Rissa.
" Tidak, pikirkan perasaan anak kalian. Saya bisa pulang sendiri..." sahut William.
" Bawa saja mobilku Kak, nanti kami bisa naik taksi..." ucap Arvan.
" Apa kalian tidak repot...?"
" Tidak, kami akan pergi ke suatu tempat sebelum pulang. Bilang pada Ayah, kami langsung pulang ke rumah..."
" Baiklah, kalau begitu saya pulang dulu..." pamit William.
Setelah William pergi, Arvan mengajak Raka bermain. Raka bisa tertawa begitu lepas dalam dekapan papanya. Sungguh saat ini hatinya sangat bahagia. Kebahagiaan yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya.
" Mamaa... ayo ikut main...!" teriak Raka.
Erina tersentak dari lamunannya mendengar panggilan anaknya. Dia segera menghapus airmatanya dengan cepat agar tak terlihat oleh Raka.
" Iya sayang..."
Erina berjalan mendekati Arvan dan Raka. Dia menyambut uluran tangan dua lelaki beda usia itu dengan tersenyum.
Mereka bergandengan tangan mengelilingi taman hingga puas. Wajah bahagia Raka jelas terlihat dari senyumannya yang tak pernah surut.
" Pa, Raka lapar..." rengek Raka.
" Ya sudah, kita cari makan sekarang. Raka mau makan apa...?" tanya Arvan.
" Ayam crispy, tapi masakan Mama..." ucap Raka.
" Kita kan lagi dijalan sayang, beli aja ya? Raka mau kemana saja Mama akan antar hari ini. Pokoknya hari ini full time buat anak kesayangan Mama..."
" Papa juga ikut kan Ma...?" tanya Raka.
Erina terdiam sejenak lalu menatap Arvan seakan meminta jawaban.
" Tentu saja sayang, Papa akan ikut kemanapun Raka pergi..." jawab Arvan.
" Yeah! Sekarang Raka punya papa dan mama... Besok Raka mau sekolah, tak ada lagi yang bilang Raka tak punya papa..." teriak Raka senang.
Erina langsung memeluk putranya dengan erat. Pantas saja selama ini dia tidak suka bermain dengan anak tetangga ataupun disuruh ke sekolah. Raka lebih suka ikut kakeknya ke Markas Detektif dan belajar disana bersama William. Bahkan kemampuannya jauh melebihi anak remaja sekalipun.
Raka belajar baca tulis saat umurnya menginjak dua tahun lalu William mengajarkannya cara mengoperasikan komputer dan juga peralatan teknologi canggih yang lain. Tanpa sepengetahuan Rissa dan kakeknya pula secara diam - diam, William mengajarkan ilmu dasar bela diri dan berbagai macam senjata dari mulai belati hingga pistol yang tekanannya lebih ringan.
" Ayo kita cari makan sekarang, papa udah lapar..." ucap Arvan mengalihkan pembicaraan.
" Papa, gendong..." rengek Raka.
" Tentu saja sayang, jangankan gendong kamu... gendong Mama juga papa masih bisa..." gurau Arvan.
" Apaan sih...!" sungut Rissa.
Arvan menggendong Raka dan satu tangannya menggenggam tangan Erina dengan erat.
" Lepaskan...!" bisik Erina.
" Jangan membuat kebahagiaan Raka pudar. Aku mohon sekali ini saja, kita jadi orangtua yang baik untuk Raka..." ucap Arvan memohon.
Arvan menyetop taksi di depan taman lalu bergegas menuju restoran untuk makan siang. Tidak sampai lima belas menit mereka sampai di sebuah restoran yang cukup mewah.
Raka makan dengan sangat lahap karena hatinya sedang bahagia. Sesekali Arvan menyuapkan makanannya ke mulut anaknya. Raka sangat senang melihat papa dan mamanya tidak bertengkar lagi.
" Pa, kok mama tidak suapi sih? Papa nggak sayang sama mama...?" tanya Raka memecah kesunyian.
" Mama bisa makan sendiri Raka..." tolak Rissa.
" Buka mulutnya, ingat full time hari ini..." Arvan mendekatkan sendok ke mulut Rissa.
Dengan terpaksa Rissa membuka mulutnya dan menerima suapan laki - laki yang dibencinya itu. Raka begitu senang melihat orangtuanya akur dan tidak bertengkar seperti waktu di rumah tadi.
Selesai makan, mereka kembali naik taksi dan menuju suatu tempat yang hanya diketahui oleh Arvan.
" Pa, kita mau kemana...?" tanya Raka.
" Ke tempat yang sering di datangi mama dulu..." jawab Arvan tersenyum.
" Memangnya kau tahu aku sering pergi kemana saja...?" sahut Rissa datar.
" Tentu saja, bahkan detak jantungmu aku merasakannya..." bisik Arvan.
" Jangan mengada - ada...!" sungut Rissa.
" Tidurlah, Raka juga sudah terlelap. Kalau sudah sampai nanti aku bangunkan..." tutur Arvan lembut.
Arvan menarik tubuh Rissa ke dalam dekapannya dan menyuruhnya untuk beristirahat. Karena sudah lelah, Rissa menurut saja pada ucapan Arvan. Diapun terlelap dalam dekapan Arvan yang juga sedang memangku tubuh Raka.
Arvan tersenyum bahagia bisa mendekap dua orang yang sudah dia cari selama lima tahun ini. Sudah lama ia menantikan hari ini, hidup bersama perempuan yang membuatnya jatuh cinta walaupun hanya sekali bertemu.
" Aku sangat merindukanmu Erina, kuharap kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir. Aku ingin hidup bersamamu selamanya..." batin Arvan.
Arvan mencium kening Raka dan Rissa bergantian dengan lembut agar keduanya tidak terusik dalam tidurnya. Karena jalanan macet, perjalanan menjadi lebih lama. Namun semua ini justru membuat Arvan bahagia, dia bisa memeluk orang - orang yang disayanginya lebih lama.
Setengah jam kemudian, mereka sampai di tempat tujuan. Arvan merasa waktu berlalu dengan sangat cepat. Dengan terpaksa, ia membangunkan Raka dan Rissa yang masih terlelap pada dada bidangnya.
" Sayang, bangunlah... kita sudah sampai..." ucap Arvan lembut.
" Kita dimana kak...?"
.
.
TBC
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
novytha
bagusss bgt critac thor seru...sedih lucu..kesel smua rasa ada 😍
2022-11-16
1