“Agustin, jangan lagi menghamburkan uangmu hanya untukku.”
“Kenapa jangan?” Agustin menarik badan, kembali terlihat tersinggung. Sorot riangnya seketika berubah surut.
Melihat raut Agustin yang berubah sangar, Marla tergagap. Segera membujuk. “Maksudku, aku tidak mau merepotkanmu.”
“Setidakmampu itukah aku di mata Mbak sampai-sampai untuk memenuhi kewajiban dan menyenangkan istri masuk dalam kategori merepotkan diri sendiri?” Dengusan Agustin terdengar kasar. Maniknya terlihat kecewa. Seperti itukah Marla menganggapnya? Padahal Agustin ingin menyenangkan Marla, tapi lagi-lagi Marla meragukan kemampuan finansialnya.
“Bukan begitu, Agustin.” Marla ingin meraih lengan Agustin saat lelaki itu menghindar. Kekecewaannya nampak begitu jelas. Terlebih lagi, ketika Agustin membuang pandangannya. Menghindari tatapan Marla yang kali ini berubah memelas. “Aku tidak bermaksud menyinggungmu, Agustin.” Telapak tangan Marla menyambar wajah Agustin, membawanya menghadapnya. “A-aku …” Masih tergagap, dengan susah payah Marla menelan saliva. “Hanya ingin meringankan beban suamiku.”
“Beban?” Agustin masih tersinggung dengan kata-kata Marla. Padahal Marla pikir, dia sudah menggunakan satu kata yang tepat. “Aku tidak menganggapmu sebagai beban, Marla. Tapi memenuhi kebutuhanmu dan menyenangkanmu adalah kewajiban untukku. Tidak kulakukan secara terpaksa, tapi karena aku senang memenuhi kewajibanku dan senang dengan peranku sebagai suamimu!”
Agustin menghela nafas, beranjak turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu keluar kamar.
Marla menahan punggungnya. Menangkap leher Agustin, karena bobot yang terlalu berat membuat keduanya kembali jatuh ke atas ranjang. Kali ini berganti posisi, Marla di bawah terkungkung oleh lengan Agustin yang menatapnya dari atas. Melihat wajah mereka sedekat ini, Agustin menelan ludah.
“Kenapa kamu tidak bisa mengerti, Agustin?” Marla bersuara lirih. Kadang Agustin begitu menyenangkan, tapi jika disinggung soal finansial dia samasekali tidak bisa menjadi orang yang pengertian.
“Sudah kubilang, anggap saja aku mampu ‘kan?” Agustin memandangi wajah Marla yang tertunduk. Agustin merapatkan tubuhnya, semakin mengungkung Marla. Kini disandarkannya kepala di sela leher istrinya, jika bersuara langsung tepat ke lubang telinga. “Sekalipun aku tidak mampu.” Agustin tersenyum sinis saat menyambung kalimatnya sendiri.
Ingin dianggap mampu padahal dirinya jelas tidak mampu? Agustin tahu, setidaktahu diri begitulah dirinya. Tapi meskipun kenyataannya demikian, Agustin tetap tidak mau diremehkan. Terlebih oleh istrinya sendiri.
“Kamu mampu, Tin.” Marla membalas, “Tapi bukan berarti aku bisa seenak jidat meminta uang kepadamu dan menyuruhmu membelikanku apapun yang aku mau ‘kan? Aku tidak mau menjadi istri yang tidak tahu diri.”
“Bagaimana dengan Kak Farhan?” Lagi-lagi Agustin mengungkit Farhan. Dalam perkara rumah tangga Marla dengan Farhan di masa lalu. Bagaimana Farhan memperlakukan dan memanjakannya, dan apakah Marla juga berhati-hati dan segan seperti ini jika ingin meminta sesuatu kepada Farhan karena takut merepotkannya?
“Kenapa mengungkit Mas Farhan?”
Agustin menyenderkan kepalanya ke bahu Marla, sambil menjawab. “Karena .. jika ingin menjadi suami yang sempurna untukmu, hanya Kak Farhan yang bisa dijadikan perbandingan.”
“Kamu dan Mas Farhan berbeda. Jadi perlakukan aku, seperti yang kamu inginkan memperlakukanku. Jangan meniru-niru Mas Farhan, meskipun perlakuannya sama, karena kalian adalah dua orang yang berbeda, tetap kesannya berbeda.”
Bagi Marla, meskipun sedarah berbeda Ibu dan memiliki sebagian kemiripan di masing-masing wajah mereka, Agustin dan Farhan tetaplah dua orang yang berbeda. Sangat berbeda. Sekalipun Agustin berusaha meniru-niru sifat Farhan, perlakuannya sebagai suami, dan semacamnya. Tapi bersama Agustin, bagi Marla berbeda jauh di saat dia bersama Farhan. Dari lubuk hatinya, Marla lebih bahagia jika Farhan yang mengungkung badannya seperti ini. Bukan Agustin. Tapi mengingat status Agustin selaku suaminya meski sementara, Marla dilarang untuk berterus-terang, karena sikap Agustin yang mudah tersinggung Marla tidak mau Agustin berakhir terluka.
Meskipun tidak ada hal istimewa yang mengikat mereka.
“Jadi olehku, Mbak ingin diperlakukan seperti apa?”
Agustin memasukkan kepalanya ke sela leher dan bahu Marla, menghirup aromanya dalam-dalam.
“Perlakukan aku seperti yang kamu mau, Tin.”
“Em,” Agustin bergumam, lalu senyumnya melebar. “Jadi …” tangan besar Agustin menelusup ke perut Marla, mengusapnya intens. Lalu berganti ke pahanya. Agustin menarik kepala, senyum lebarnya berubah menjadi seringaian. “Mau mencoba keempukan kasur bersamaku, Mbak?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Siska
Agustin ad aj yaa idenyaa....
2021-12-17
0
Indah Yani
😂😂😂agustin udah gk sabar
2021-10-10
2
Diana M
🌹🌹😍😍😍
2021-10-07
1