“Tinggalah di sini sementara sampai Marla mengandung dan melahirkan, Tin.”
Saat makan siang, Farhan mulai membahas tentang ke depannya. Menyediakan rumahnya sebagai tempat, untuk menampung Marla dan Agustin sekaligus. Apalagi, Farhan tidak rela jika harus pisah rumah dari Marla sampai berbulan-bulan bahkan mungkin lebih dari setahun karena harus mengikuti suaminya.
Agustin berhenti menyuap, menarik sendoknya, dari rautnya terlihat keberatan.
“Aku harus kembali ke apartemenku. Aku juga karyawan baru di perusahaan, harus rutin masuk untuk bekerja. Dan apartemenku dekat dengan kantor. Mengambil cuti dua hari saja, aku sampai disindir atasan.”
“Kalau begitu, berhentilah bekerja di sana dan bekerja saja di perusahaanku. Aku akan langsung menaikkan jabatanmu.”
Dengan cuma-cuma Farhan memberikan penawaran.
Anehnya, Agustin menolaknya. “Tidak, Kak. Aku ingin berusaha sendiri.”
“Marla tidak mungkin ikut bersamamu.” Farhan mengembuskan napas, itu yang dia cemaskan.
“Kenapa tidak?” Agustin menyahut, terdengar tersinggung.
Mau tak mau Farhan harus berterus-terang.
Dari pengamatannya beberapa bulan yang lalu saat mampir ke apartemen Agustin, bagi Farhan, kediaman itu sangat tidak layak dihuni oleh istrinya. Apalagi, selama bertahun-tahun Farhan memanjakan Marla dengan uang bulanan besar, rumah bagus, baju dan tas bermerk, macam-macam perhiasan. Jika hidup miskin bersama Agustin, tentunya Marla takkan terbiasa.
Dan mungkin tidak akan tahan.
“Apartemenmu sempit, jendela ventilasinya kurang, sedikit kotor dan bobrok. Kulihat alat dapurmu tidak lengkap, kasurmu keras ... em, aku tak mau Marla hidup seperti itu bersamamu.”
Agustin disinggung telak.
Bukan salahnya jika dia belum menjadi lelaki mapan. Selama ini dia mati-matian hidup berhemat, baru selesai kuliah dan baru saja mendapat pekerjaan tetap. Gaji Agustin perbulan memang sampai di atas empat juta karena nilainya bagus dan bekerja di perusahaan besar sebagai karyawan pemula yang sudah disanjung dengan prestasi.
Setiap gajian, Agustin berusaha menghematkan uang satu juta dalam sebulan, sisanya dia tabung, untuk masa depan.
“Aku akan mencukupkan semua kebutuhan Marla. Kalau perlu, aku akan menyewa apartemen lain yang lebih berkualitas yang berdekatan dengan kantor.”
Agustin mengambil keputusan. Entah kenapa demi Marla, dia tidak keberatan membongkar tabungannya.
“Tidak perlu.” Farhan menolak.
“Aku yang akan mencukupkan semua kebutuhan Marla. Aku akan mengiriminya uang perbulan, dia butuh uang untuk bahan makanan dapur dan sayur, dia juga perlu uang untuk membeli barang-barang kesukaannya dan shopping di mall. Apalagi kosmetik tidak murah, Marla suka mengkoleksi buku perbulannya, cemilan cokelat Marla saat disenggang.”
Saat mulutnya tidak dibungkam, Farhan membeberkan semua kebutuhan Marla yang tentunya tidak murah. Farhan sengaja, agar Agustin sadar, kalau dia tidak mampu untuk itu.
“Biar aku yang membiayai semuanya, karena semua itu butuh uang. Andalkan saja aku, Tin.”
Raut Agustin terlihat sangar saat diremehkan. “Kutanya, siapa yang suami Marla disini?”
Farhan terdiam.
Agustin tersenyum sinis, “Aku ‘kan? Jadi biarkan aku yang mengatur semuanya.”
“Sebagai suami, kamu mampu?”
Agustin mengangguk mantap.
“Aku memang tidak sekaya kamu, Kak. Tapi aku bekerja, aku punya gaji, aku juga punya tabungan. Setidaknya, aku akan berusaha mencukupkan semua kebutuhan Marla.”
“Tapi kamu tidak semampu aku, Tin.”
Rahang Agustin mengeras. “Tapi setidaknya Kakak sadar, siapa suami Marla disini.”
Agustin membalas serangannya.
“Biarkan Marla tinggal disini. Kalian juga hanya menikah sementara, iya ‘kan? Jadi untuk apa Marla repot-repot pindah?” Farhan mendesak.
“Masalah jarak, dari sini ke kantormu tidak terlalu berjauhan, Tin. Kalau kamu takut terlambat, aku bisa menyuruh supir untuk mengantarmu.”
“Bukan hanya itu, Kak. Ada yang lebih gawat.”
“Apanya yang gawat?” Farhan terlihat heran.
“Menempatkan Kakak bersama Marla di satu rumah, itu yang gawat, Kak.”
Farhan mengernyit, “maksudmu?”
“Memangnya Kakak tahan tidak menyentuh Marla setidaknya sampai sembilan bulan?”
Disudutkan dengan pertanyaan tersebut, yang didapatkan dari Farhan ialah kebungkaman.
“Bahkan ini, ya ....” Oleh Agustin, diraihnya jemari Marla dan ditangkupnya di antara kedua telapak tangan. Menggenggamnya erat, membuat Farhan menyorot mereka cemburu.
“Nyentuh tangan Marla kayak gini aja, Kakak nggak berhak.”
“Aku tahu.” Sahut Farhan.
Untuk memancingnya, Agustin mengecup punggung tangan Marla. Sontak Marla langsung menarik kembali tangannya, menatap Agustin tajam. Diperlakukan seperti itu, Agustin tersenyum dingin. “Tapi yang Kakak inginkan dari Marla bukan hanya sekedar tangan ... padahal genggaman tangan saja tidak berhak ....”
Agustin tidak kenal takut, terus menyambung kalimatnya. “Kakak menginginkan bibirnya ... tubuhnya ... pelukannya ... ciumannya ... bahunya … bahkan hubungan yang lebih intim daripada itu.”
Agustin mendaratkan punggung ke sandaran kursi, kembali menjelaskan fakta kepada Kakaknya.
“Mana bisa aku membiarkan istriku serumah dengan orang yang berpikiran seperti itu. Yang adanya, saat aku tidak ada, atau malah saat aku ada, kamu kebablasan, Kak. Mungkin, saat mendapati kalian ciuman. Aku akan membiarkan kalian dan tidak terlalu menanggapinya. Tapi setelah ciuman, pasti ada hal yang lebih. Ujung-ujungnya, Kakak yang bakalan membuahi Marla. Tapi benihnya tak pernah tumbuh.”
“Agustin!” Membentak murka, Farhan memukul meja makan hingga seisinya bergetar. “Jaga ucapan kamu, ya.”
“Kakak sendiri tidak menjaga ucapan Kakak. Dan terus meremehkan kehidupanku. Seakan-akan aku memang tidak bisa diandalkan.” Agustin membalas sengit.
“Marla harus tetap disini.” Farhan terdengar seakan tidak bisa bantah.
“Tidak.” Agustin menolak, “aku tidak mau kalian berhubungan haram karena tidak bisa menahan diri.”
“Itu hanya tuduhanmu saja, Tin! Belum tentu.”
“10% belum tentu, selebihnya ada kemungkinan. Perbandingannya sangat jauh. Kenapa aku bilang begini. Pertama, kalian mantan suami-istri. Pernah berhubungan badan. Apalagi kamu lagi nggak ada pasangan Kak, hasratnya mau dilampiaskan kemana, lain lagi kalau Kakak mau menikah kontrak dengan perempuan lain selagi Marla menjadi istriku setidaknya ***** Kakak ke Marla bisa dilampiaskan ke perempuan lain. Kedua, tadi pagi saja aku melihat kalian bermesraan. Tanda dibahu. Kalau aku tidak ada. Mungkin cupangnya udah berenang ke leher, punggung, perut, atau kemana saja, deh.”
Mendapat serangan bertubi-tubi, Farhan berhasil disudutkan. Agustin tersenyum menang. “Jadi biarkan aku membawa Marla keluar dari sini, tenang saja, aku akan segera mengembalikannya sampai Marla mengandung dan melahirkan.”
“Terserah. Tapi biarkan aku membiayai semua kebutuhan Marla, aku masih meragu tentang kemampuan finansialmu untuk mencukupi kebutuhan Marla.”
“Tidak, Kak. Aku tidak setuju. Aku punya pekerjaan dan gaji, perlu kutegaskan sekali lagi, aku mampu!”
“Tin, tidak perlu terlalu menghayati peranmu sebagai suami. Karena kamu itu hanya dibayar untuk membuat Marla melahirkan anak! Bukan menjadi suami sungguhan untuk Marla!”
Tersenyum licik, akhirnya Agustin menemukan satu kalimat yang tepat untuk membuat Farhan panas dan terbakar api cemburu. Ya, Agustin tanpa sungkan akan mengatakannya.
“Tapi, Kak karena Marla harus melayaniku di ranjang, jadi aku sendiri yang harus mencukupi semua kebutuhannya!” Agustin menyeringai menang, melihat Farhan yang wajahnya mengeras. Manik kelamnya menatap cemburu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Yeni Maryani
lama kelamaan Agustin tak mau menceraikan marla karena anak
2021-10-11
1
Yeni Maryani
ini cerita bagus lain dari yg sudah saya baca
2021-10-11
0
Indah Yani
ihklas kan dulu marla mu farhan biar cepet hamil
2021-10-09
0