“Marla?”
Teguran itu membuat Marla menoleh, mendapati Farhan yang mendekatinya di dapur.
Marla tegang saat Farhan menghampirinya, lalu menghadapnya. Tangan Farhan terulur, hendak meraih pipi Marla. Seketika, Marla langsung memalingkan muka.
“Mas, kita bukan lagi sepasang suami-istri.”
Farhan menyadarkan diri dan berusaha menahan diri. “Terimakasih sudah mengingatkanku.”
Saat Marla berbalik, melihat punggungnya, Farhan ingin meraihnya dan mendekapnya, meletakkan ujung dagu ke atas salahsatu bahunya. Sebelum Farhan menyadarkan diri, angannya membuat tubuhnya bergerak sendiri. Tangannya yang terulur meraih pelan pinggang Marla dan mendekapnya. Sontak tubuh Marla tegang, apalagi Farhan meletakkan kepala ke atas bahunya.
“Mas ....” Marla ingin menghindar meskipun menginginkan pelukan hangat ini.
“Sssh.”
Farhan berdesis, pelukannya mengerat.
Hidung Farhan mengendus aroma di bahu Marla, menjadi tempat terfavoritnya selama ini. Marla menggigit sebagian bibir, apalagi saat Farhan membuka bahunya dan henda mendaratkan bibir di sana.
“Mas ...” Marla ingin mencegahnya, ingin mendorong kepala Farhan menjauh. “Kita bukan lagi sepasang suami-istri .. yang kita lakukan ini ... z-zina, Mas ....”
Urung, Farhan menarik kepala dari bahunya, “Aku tahu.”
Lalu mendekatkan mulutnya ke wajah Marla. Hasratnya susah ditahan, dia ingin mencium Marla. Farhan seakan gelap mata, mulutnya hendak meraih bibir Marla yang terbuka. Dari suara tenggorokan dan gerakan jakunnya, Farhan menelan ludah gugup. Apalagi sebelah tangannya menuju ke salahsatu bagian tubuh Marla, membuat Marla kesusahan bernapas dan bergerak.
“Kak.”
Teguran keras itu berasal dari ambang pintu, sebelum sempat menuntaskan niatnya, keduanya menoleh dan mendapati Agustin di muka pintu.
Agustin melangkah mengentak.
“Aku memang tidak berhak mengatakan ini,” ujarnya, meragu untuk menegur.
“Tapi, perlu kukatakan. Kalian bukan lagi sepasang suami-istri. Setidaknya tahan diri kalian, sampai ... kalian menikah lagi nanti.” Agustin berkata tegas, menatap Farhan yang balas memandangnya dingin.
Lengan Farhan yang mengungkung pinggang Marla, akhirnya terlepas. Setelah itu bergerak menjauh dengan tidak rela, “baiklah. Kami memang bukan lagi sepasang suami-istri.”
Ditatapnya tajam Agustin, lalu berlalu keluar dari dapur. Farhan beranjak ke ruang tamu, meremas kepalanya, mendadak kepalanya terngiang sakit. Farhan meninju-ninju dinding. Segela tubuh dan indranya memerintah untuk memiliki Marla, tapi untuk kali ini saja Farhan tidak berhak.
Tahan dirimu, Han ... jangan sampai dikarenakan kamu tidak bisa menahan diri, Marla terjerumus ke zina bersamamu ...
.
.
Agustin menatap tubuh Marla di hadapannya, lalu tangannya bergerak menutupi bahu Marla yang terbuka. Argh, entah. Agustin kesal saat melihat tanda kebiruan berbekas di bahu perempuan yang menyandang status sebagai istrinya.
“Ingat,” mau tak mau Agustin harus memperingatkan.
Sebagai suami--rasanya tidak tepat, hanya sebagai penghuni rumah ini yang tak mau sebuah perzinahan terjadi.
“Kak Farhan bukan lagi suamimu. Jadi, agak jauhi dia. Bukan apa-apa, tidak ada niat lain saat aku mengatakan ini, bahaya saja. Aku lihat dia susah menahan diri.”
Marla hanya mengangguk tanpa berkata, berkilah ataupun berusaha membela diri. Agustin melirik pipinya yang memerah panas, meskipun keberatan sepertinya Marla tetap senang saat disentuh lelaki yang dicintainya.
Lelaki yang dicintai, ya? Farhan memang satu-satunya untuk Marla.
Tak perduli lancang, tangan Agustin menyentuh dada kiri Marla. Marla memberontak, Agustin semakin menekankan telapak tangannya. Lalu menarik telapaknya, setelah mengecek debaran keras di dada kiri Marla yang membuat Agustin kecewa.
“Apa-apaan kamu?!” Marla memekik sinis. Sudah berprasangka kalau Agustin ingin curi-curi memegang anggota tubuhnya.
Agustin mendengus samar, membuang muka ke lain arah. “Debaran jantungmu keras sekali.”
Marla bungkam, lalu menolak menatap Agustin. Tidak membantahnya, tapi tak ada gunanya pula mengakuinya.
Saat Marla hendak berjalan menjauhi Agustin, entah kenapa tidak nyaman berdua saja dengannya, telapak tangannya diraih lalu lengannya ditarik hingga kembali berhadapan dengan Agustin.
“Ada yang perlu aku cek. Yang menjadi perbedaan antara aku dan Kak Farhan ....”
Agustin menahan wajah Marla dan menciumnya. Marla berusaha mendorong wajahnya, Agustin terlalu kuat menahan kepalanya. Tangannya tidak tinggal diam, kembali menyentuh dada kiri Marla. Ingin mengecek denyut jantung Marla, apakah sama berdebar keras seperti Farhan atau kebalikannya.
Agustin kecewa. Denyutan yang dia rasakan berbeda, debarannya tak bisa disetarakan dengan yang sebelumnya. Gerakan Agustin berhenti menuntut, Marla yang muak berhasil mendorong tubuhnya menjauh.
“Tampar saja.” Potong Agustin saat Marla baru saja melambungkan telapak tangannya dan hendak melayangkan telapaknya ke pipi kanan Agustin. Gerakan Marla terhenti, dan mengurungkan niatnya.
“Tampar saja.” Desak Agustin.
“Kamu suamiku,” Marla menjawab lirih. “Jika kamu menyentuhku, sebenarnya aku tidak berhak menolak apalagi marah.”
“Tak perlu sungkan,” Agustin terkekeh.
“Aku hanyalah lelaki yang dibayar untuk menanam benih ke rahimmu, bukan seseorang yang serius menjabat tangan penghulu untuk meresmikanmu sebagai istriku. Jadi aku, bukan seutuhnya suami bagimu, yang harus mutlak mematuhi dan melayaniku.”
“Jadi ....”
Agustin meraih tangan mungil istrinya, senyum mirisnya melebar.
“Jika kamu tidak berkenan,” Agustin mengarahkan tangan Marla ke pipinya, berakhir menjadi sebuah tamparan menyengat di pipinya sendiri. Plak!
“Kamu boleh membantah atau menamparku.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Indah Yani
kasian agustin
2021-10-09
0
Diana M
😘😘😘
2021-10-07
0
Raisa Febiana
setelah berpetualang akhirnya menemukan novel sebagus ini...
2021-08-20
2