“Sampai kapan kamu akan terus seperti ini, Han?”
Wanita paruh baya itu berjalan mendekati. Terlihat begitu berimpati, menjatuhkan diri di sebelah anaknya lalu mengusap lengan kokoh Farhan, naik ke atas rambutnya menyisirinya dengan sayang.
Farhan mengusap mulut dengan punggung tangan, badannya melemas. Rautnya seperti ditekuk. Diraihnya kembali botol madu, hendak kembali meminumnya, Ibunya keburu menahan pergelangan tangannya. “Hentikan, Farhan!” Sentaknya, membuat Farhan menatapnya dingin.
Jika stres maupun terguncang, pelarian Farhan bukan alkohol atau club malam. Farhan berbeda dari anak-anaknya yang lain. Sejak kecil dia hobi mengkonsumsi madu, semenjak Fardi membuat lahan lebah tersendiri untuk Farhan. Farhan suka makanan manis yang rasanya menyengat di lidah, karena sejak kecil Farhan selalu mengeluh tentang mulutnya yang terasa pahit. Alasan utamanya dikarenakan asam lambung, dan sedikit alasan lain karena mulut pahit menandakan suasana hati Farhan yang tergambarkan sama. Karena di saat Farhan terguncang, dia tidak akan menyentuh makanan. Seketika mulutnya pahit, karena asam lambungnya kambuh. Madu merupakan satu-satunya jalan untuk menyamarkan rasa pahit itu. Bukan hanya madu, Farhan akan menggabungkan perpaduan rasa di mulut Marla. Rongga mulut Marla selalu berhasil menghalau rasa pahit di mulutnya, tapi kali ini Farhan hanya bisa menyamarkan rasa pahit itu sendiri.
Farhan mengeluh, dengan kalimat yang sama. “Mulutku pahit, Ma.”
Wajah Ibunya keras, beranjak mengambil piring, mengisinya dengan nasi berserta lauk dan meletakkannya ke atas meja. “Makanya makan, Han!”
Farhan menggeleng, “Aku tidak mau makan, Ma.”
“Sudah berapa hari kamu mogok makan, hah?!” Kehilangan kesabarannya, tidak dapat mengontrol emosinya, Ibunya menjerit. “Dari hari ke hari yang kamu konsumsi cuma madu itu saja! Benar-benar, Ayah dan anak sama saja!” Nafas Ibunya terdengar tidak teratur. Berusaha menahan tangis, diiusapnya ujung mata dengan punggung tangan. Teringat Fardi, menjadi luka tersendiri untuk Fitra.
Selain karena suaminya sudah meninggal, lebih dari itu Fitra selalu terluka jikalau teringat Fardi tak pernah mencintainya. Pernikahan mereka juga didalihkan oleh hubungan bisnis. Fardi mendambakan isteri sahabatnya, bermacam usaha dia lakukan hingga berakhir menyerah, Fardi pasrah dinikahkan dengan Fitra. Fardi bukanlah sosok suami sekaligus ayah yang buruk. Kepada Fitra dan anak-anak mereka, Fardi adalah sosok yang sempurna. Mencintai memang bukanlah alasan utama untuk bahagia. Tapi Fitra yang mencintai Fardi, selalu menjadi luka tersendiri jika teringat Fardi tak pernah mencintainya. Fardi menyayangi Fitra sebagai seorang istri sekaligus keluarga, tapi tak ada perasaan khusus selain itu.
Dalam hidup Fardi, Fitra tidak memiliki peran istimewa samasekali selain seorang istri dari pernikahan bisnis dan Ibu dari anak-anak Fardi. Selain itu, Fitra tidak memiliki keistimewaan lain. Sadar akan posisinya di mata Fardi, ketika skandal Fardi dengan seorang perempuan muda melahirkan anak haram, Fitra tidak bisa marah karena itu. Apalagi setelah dijelaskan, yang terjadi hanyalah kesalahan singkat di malam yang lebih singkat, tapi melahirkan kesalahan besar yang yang diperpanjang.
Fitra selalu mengiri kepada Maria. Mereka sering bertemu satusama lain, semenjak Marla menjadi menantunya. Saat Fardi masih hidup, ketika bertemu Maria, Fardi masih terlihat begitu mendambakannya. Dan Fitra cemburu karena itu, tapi Fitra tidak berhak untuk protes. Meskipun sudah bertemu langsung dengan Maria, sikap Fardi terhadapnya tidak berubah. Tidak memburuk atau mengungkit untuk meninggalkannya.
Saat Fitra mengungkitnya duluan. Fardi selalu mengatakan, “Peran masa laluku memang hanyalah seorang lelaki pendamba. Tapi di masa ini, aku tidak boleh melalaikan peranku sebagai suamimu dan ayah dari anak-anak kita, Fitra. Menyampingkan kebahagiaan yang aku dambakan, aku harus lebih menghargai kebahagiaan yang sudah aku terima yaitu kamu dan anak-anak kita.”
Fitra sempat terbuai oleh kalimat Fardi yang mengatakan; Fitra maupun anak-anak mereka adalah kebahagiaan Fardi untuk saat ini, yang tak pantas dia lalaikan. Tapi mulut kadang berkata berlawanan dengan hati, Fardi lebih mendambakan kebahagiaan yang tak pernah teraih. Buah dari harapan yang tak pernah tergapai itu, Fardi berakhir jatuh sakit.
Dan, meninggal.
Jika tidak bisa meraih ‘kebahagiaan lama’ itu, bisa membuat Fardi berakhir mati. Berarti selama ini, meskipun bersama Fitra dan anak-anak mereka, Fardi tidak merasakan kebahagiaan samasekali.
Jadi apakah ketidakbahagiaan itu akan menurun kepada anak sulungnya juga?
Farhan, duplikat Ayahnya sendiri. Jika sedih tidak mau makan, berakhir asam lambung dan mengkonsumsi madu untuk menyamarkan rasa pahit. Benar-benar Ayah dan anak. Tapi Fitra tidak mau anak sulungnya akan berakhir sama tragisnya dengan suaminya …
Mati hanya karena tidak dapat meraih kebahagiaan yang dia dambakan?
Fitra tahu, kebahagiaan apa yang Farhan dambakan.
Marla, dan anak-anaknya bersama Marla.
Divonis mandul, Farhan tidak akan bisa membuahi anak. Dan sekarang, Marla dipisahkan pula olehnya.
Fitra menyisiri rambut lebat Farhan, lalu berbisik. “Kamu bisa mencari kebahagiaan lain, Han.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Fitri Merry Lesar
hampir setahun agak enggan buka NovelToon karna blum dapat cerita yg pas...
kali ini bersemangat lagi...tank you thoor🙏
2023-07-13
0
Zahra Zahra
seru thor ceritanya
2021-10-31
0
Lilis Suryani
semangat kak 💪💪💪💪
2021-10-17
0