Siang sudah menjelang malam.
Masih di rumah Farhan, untuk malam pertama yang seharusnya mereka lalui, Agustin dan Marla terpaksa meminjam kamar Farhan yang dulunya ditempati oleh Farhan bersama Marla. Ruangan sekitar seakan kelam, tak ada aksesoris ataupun riasan yang menghiasi. Berbeda saat dulu Farhan menikahi Marla, ruangan banjir riasan menor dan di atas ranjang ditaburi kelopak-kelopak bunga.
Sama-sama duduk di tepi ranjang dengan saling membelakangi, pandangan Agustin mengitari sekeliling ruangan.
Dari ruangan tersebut, aroma parfum khas memanjakan hidung Agustin, diam-diam selagi Marla tidak menahu dan membelakanginya, Agustin merangkak dan mengendus pakaiannya. Ingin memastikan, dan ternyata memang sama dengan aroma tubuh Marla. Agustin merasa familier, karena selama ijab kabul duduk bersebelahan dengan Marla dan aroma lembut Marla memanjakan hidungnya sampai ijab kabul tersebut berakhir.
Setelah memastikan Agustin menarik diri dan kembali membelakangi Marla, meskipun matanya tidak bisa berhenti melirik perempuan tersebut. Yang saking terguncanganya, sudah tidak bisa menangis lagi dan terus diam sepanjang mereka di dalam kamar.
Agustin tahu dia harus memulainya. Yang harus dia lakukan adalah berhubungan intim dengan perempuan itu, membuahinya, dan membuat Marla melahirkan anaknya.
Lebih cepat lebih baik, malam ini mereka berhubungan, bisa jadi seminggu kemudian Marla sudah hamil. Dan Agustin tidak perlu mengulanginya untuk keduakali sampai Marla melahirkan, dan mereka resmi bercerai.
Tapi berfirasat Marla begitu enggan, dan sepertinya tidak akan siap, Agustin berusaha memahaminya. Mana mungkin Marla rela disentuh lelaki asing yang tak dicintainya? Hanya Farhan satu-satunya, Marla sudi dan bahagia jika Farhan yang menyentuhnya.
Tapi kesampingkan dulu perasaan Marla, Agustin harus. Semakin cepat Marla hamil, semakin cepat Marla akan dikeluarkan dari penjara batin itu. Memikirkannya membuat Agustin geram, kedua pihak di dalam hatinya saling berlawanan. Antara menundanya, atau menuntaskannya.
Kini tubuh Agustin berputar dan menghadap Marla. Ditatapnya punggung mungil tersebut.
Baiklah, Agustin akan mencobanya. Memulai duluan, jika Marla memberikan penolakan. Maka Agustin akan berhenti, jika Marla seakan pasrah karena tahu apa yang harus melakukan, maka Agustin akan mleanjutkannya, menuntaskannya, dan menunggu seminggu kemudian.
Untuk hasil akurat, mereka memang harus terus mengulanginya. Tapi ada kemungkinan lain, satu kali saja, sudah cukup. Lihat saja di ke depannya.
Agustin adalah lelaki perjaka yang tidak pernah pacaran ataupun jatuh cinta. Jadi, dia bingung harus bagaimana memulainya. Meminta izin terlebih dahulu? Atau ... merangsang Marla terlebih dahulu.
Mengingat Marla adalah perempuan yang pernah bersuami, yang tentunya lebih berpengalaman. Argh, Agustin menyesal memiliki pemikiran yang begitu ngelantur.
Agak ragu, Agustin akhirnya memilih untuk memakai rencana nomor dua. Tangan besarnya menyambar kepala Marla, langsung meraup bibir perempuan tersebut. Dihempaskannya tubuh perempuan itu di bawah tubuhnya, Marla seperti berusaha melepaskan kepalanya. Ngos-ngosan, Agustin menarik kepala ke atas. Menatap wajah Marla yang membelalak, tidak tahu Agustin akan begitu lancang.
“Aku juga tidak mau melakukan ini.” Agustin menjelaskan. Takutnya, dia berpikir Agustin adalah lelaki yang tidak bisa menahan diri.
“Aku sangat tidak mau melakukan ini!” Tegas Marla, membuang muka ke lain arah.
Agustin menghela napas, lalu menyambung frustrasi. “Tapi kita harus.”
“Sekalipun harus, aku tidak mau.” Marla ingin pergi dari bawah tubuh Agustin, secepat kilat Agustin menahan tubuhnya.
“Kamu harus hamil, dan setelah melahirkan secepatnya, kamu bisa kembali ke Farhan. Dan jika mau hamil, kamu tahu ‘kan apa yang harus kita lakukan?” Agustin membelai pelipis Marla.
Marla bungkam, seakan pasrah. Tubuhnya melunak seakan letih, matanya berembun sedih. Agustin mendekatkan wajahnya, kembali mencium Marla. Dia memberanikan diri untuk melakukan lebih, diliriknya wajah Marla yang tidak nyaman. Agustin melepaskan bibirnya, lalu menanggali tutup kepala Marla. Kembali ditahannya wajah Marla.
Marla tidak membalas, membiarkan Agustin bertindak sendiri. Tangan besar Agustin menyingkap bahu Marla, hendak memindahkan bibirnya ke sana.
Marla keburu menahan kepalanya, “J-jangan ... jangan disana.”
Agustin menarik kepalanya, lalu menatap Marla bingung. “Kamu tidak suka disentuh disini?”
“Itu tempat kesukaan Mas Farhan.” Marla mengakuinya, seketika membuat wajah Agustin masam.
“Oh begitu, baiklah.” Agustin sedikit menjauhkan badan, menghela napas lelah.
Ide terbersit, diliriknya perut Marla. Lalu menyingkapnya, mendaratkan bibir ke sana. “Kalau begitu, ini akan menjadi tempat favoritku.”
Tangannya meraih wajah Marla, lalu gerakan tangannya terhenti dan meringis. Marla menangis, dengan kedua lengan menutupi bagian depan tubuhnya. Jadinya Agustin tidak tega untuk melanjutkannya.
Mungkin bagi Agustin, biasa saja menuntaskannya. Namun berbeda bagi Marla. Dia mencintai Farhan, enggan dan benci disentuh lelaki lain sekalipun Agustin sudah menjadi suami untuk Marla.
Agustin rasa, tidak hari ini. Mereka harus menyiapkan diri terlebih dahulu, terlebih Marla. Agustin mencium kening Marla, berbisik, “maafkan aku, Marla.” Lalu menyempatkan diri mengecup sekilas bibir perempuan itu, entah kenapa Agustin mulai terbiasa dengan mulutnya.
Agustin memungut selimut, lalu menyelimuti Marla dan masuk ke dalam selimut yang sama. Diraihnya punggung Marla dan memeluknya erat dari belakang, Marla bergerak menjauh, dan bibir yang mendesis.
“Marla.” Agustin memanggil, membuat Marla menoleh, “jangan khawatir, aku takkan bertindak sampai kamu siap.”
Berita itu, membuat Marla dapat menghela napas lega.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Indah Yani
aq padamu thor
semangat 💪💪💪
2021-10-09
0
Raisa Febiana
ini kemaren ada di app sebelah kah...perasaan aku udah pernah baca kemaren
2021-08-20
1