Marla menenteng kresek, selesai belanja dari toko yang ada di sebelah gedung apartemen yang dia tempati bersama Agustin. Membeli bahan pangan dapur, dan keperluan bersih-bersih. Menghabiskan cukup banyak waktu, lebih dari satu jam beranjak ke dua jam. Tangannya terisi penuh dua kresek belanjaan, mulai dari bumbu, sayur-mayur, rempah-rempah kemasan, dan keperluan bersih-bersih semacam sabun pel, spons cuci piring dan semacamnya.
Keluar dari toko menuju kembali ke apartemen, dahinya mengernyit melihat sebuah mobil pick up yang menampung banyak barang besar berbobot berat berhenti di pekarangan depan. Beberapa petugas yang berbadan tinggi membawa lemari, kasur, kulkas, kompor dan segala macamnya. Semua barang-barang tersebut dibawa ke salah satu apartemen. Marla diam-diam mengintili mereka, terkejut mendapati satu-persatu barang dibawa ke apartemennya bersama Agustin.
Agustin juga sudah ada di sana, memandu orang-orang suruhan yang membawa barang-barang yang dia pesan dari beberapa hari yang lalu. Sebelum Marla ke toko kurang dari dua jam yang lalu, Agustin masih ada di kantor. Sekarang, Marla mendapati Agustin yang tersenyum lebar ke arahnya. Sambil melambai, Agustin berjalan mendekati lalu memeluk Marla erat. Saking dibuat kaget oleh kejutan Agustin, Marla tidak sempat mengelak saat dipeluk.
“Agustin? Apa-apaan ini?” Marla mengerjap, menyahut bingung.
“Ini kejutan.” Agustin meraih pipi kanan Marla, dan mengecup pipi kirinya.
“Berapa banyak uang yang kamu habiskan untuk ini semua, Tin?”
Senyum Agustin mengembang sempurna. Kedua tangannya merayap ke kedua pipi Marla, lalu menjawab. Senang melihat respon istrinya, meskipun tercengang hingga tidak bisa melontarkan pujian di awal sepertinya Marla terkesan. “Kamu tak perlu tahu nominalnya. Ini sudah kewajibanku, menjadikan tempat tinggal kita layak untuk kita berdua tinggali.”
Dengan lembut, Agustin menarik lengan Marla, membawa istrinya ke dalam.
Marla tergugu di tempat. Dari sudut ruangan memperhatikan beberapa orang berbadan besar membawa semua barang-barang dan perabotan baru ke dalam rumahnya. Sofa lusuh yang sedari hari pertama Marla menetap di sini yang ambruk, diganti menjadi sofa berwarna krim yang empuk. Lemari lusuh yang menampung baju-baju bagus Marla diseret keluar, dan digantikan dengan lemari empat pintu yang untungnya masih muat di dalam kamar Agustin yang memang cukup luas. Tiga petak panjang dalam lemari akan digunakan untuk Marla, sisanya menjadi tempat untuk pakaian-pakaian Agustin yang jumlahnya tidak seberapa.
Kompor satu tungku di dapur diganti dengan kompor dua tungku yang saat dinyalakan apinya membiru indah. Perabotan-perabotan bolong lainnya seperti kuali, panci, piring dan semacamnya semuanya diganti dengan segala macam perabotan baru. Kulkas kecil Agustin, diganti dengan kulkas besar berpintu tiga, yang isinya sudah berderet berbagai macam cokelat dan cemilan yang Marla suka.
Yang paling penting. Sesuatu yang paling menganggu Agustin karena sering mendapati Marla mengeluh tidak nyaman karena daging kasur yang dia baringi begitu keras, meskipun tidak pernah berterus-terang, Agustin selalu merasa bersalah karena itu. Ranjang keras Agustin diganti dengan ranjang doble bed yang luarbiasa empuk, saat menjatuhkan diri di atasnya, tubuh seakan tenggelam di antara daging-daging kasur.
Selesai menyaksikan semua perabotan apartemen yang disulap dari level kumuh menjadi level mewah, Marla menghampiri Agustin yang baru saja mengeluarkan kotak terbungkus dari dalam tas kerjanya. “Agustin, aku tidak pernah memintamu untuk membeli ini semua ‘kan?” Protesnya, meskipun Marla tahu, apa yang Agustin lakukan semata-mata untuk menyenangkannya, memenuhi kewajibannya sebagai suami.
“Yap.” Agustin mengangguk mengiakan. “Tapi apa yang aku lakukan, semuanya atas kehendak diriku sendiri, Mbak.”
“Berapa nominal uang yang kamu hamburkan untuk membeli ini semua?”
“Tidak perlu merasa berhutang budi, Mbak.” Wajah Agustin mendekat, dengan telapak tangan yang mengusap dagu Marla, tergoda untuk menyatukan bibir mereka. “Cukup dengan bibir Mbak saja, semua hutang budi Mbak sudah lunas terpenuhi.” Dengan sebelah tangan, Agustin membanting pintu di belakang punggung Marla hingga tertutup. Didaratkannya tubuh Marla ke sandaran pintu, lalu mengungkungnya dengan kedua lengan. Pelan-pelan menyambar bibir Marla. Marla terlihat tidak nyaman, tapi saat rasa manis madu mengubah cita rasa mulutnya, Marla tergugah untuk balas mencium Agustin. Sekali lagi, dia merindukan mulut Farhan. Dan dari bibir Agustin yang ikut semanis madu itulah dia bisa menuntaskannya.
Ujung bibir Agustin sedikit tertarik, mendapati reaksi Marla yang menuntut lebih. Sekarang Agustin memiliki solusi. Jika ingin mendapatkan bibir idamannya, cukup memolesi bibir dengan madu, setelah itu Marla akan menerima ciumannya begitu saja, bahkan memberikan reaksi lebih dari yang Agustin harapkan. Tidak perlu persetujuan dari kata ‘Berkenan atau tidak berkenan itu lagi’!
Agustin melangkah ke belakang, masih mengungkung punggung Marla. Dengan sendirinya menjatuhkan diri ke atas kasur, membuat Marla menindihnya dari atas. Saat kedua tubuh bersamaan dihempaskan ke atas ranjang, keduanya seakan tenggelam di antaranya. Bukan hanya ingin bermesraan, Agustin ingin mengecek kualitas dari kasur yang dia beli. Dan sepertinya, akan menyenangkan menghabiskan ‘hal yang lebih’ di atas sini.
“Tunggu dulu, Mbak. Berhenti dulu.” Agustin mendorong wajah Marla, meminta istrinya untuk sedikit menjauh.
Marla menatap Agustin dari bawah. Lelaki muda itu tersenyum, lalu menyingkir dari bawah tubuh Marla. Tangan besarnya meraih sesuatu di atas nakas, kotak bermuatan cukup besar yang terbungkus plastik. “Hadiah tambahan.” Itulah jawaban dari pandangan bingung Marla, Agustin segera merobek bungkusnya dan memperlihatkan isinya.
Satu paket make up, skincare dan alat kosmetik!
Agustin mengangkatnya dan menyodorkannya kepada Marla, “Ini untuk Mbak.”
Marla terlihat keberatan. Entah berapa juta nominal uang yang Agustin habiskan hanya untuk satu paket bahan solek yang dihadiahkannya. “Aku tidak terlalu membutuhkan ini, Tin.”
Agustin menggeleng, dengan satu jempol mengusap bibir kering Marla. “Kalau Mbak cantik juga untuk aku ‘kan? Jadi Mbak membutuhkan ini. Aku tidak rugi, malah aku yang diuntungkan jika istriku tambah cantik.”
Marla berhenti membantah, menerimanya dan membawa satu paket kecantikan itu ke pangkuan. Seharusnya wajahnya terlihat cerah, Marla malah berwajah suram. Dia merasa terlalu merepotkan Agustin, karena menghamburkan banyak uang hanya untuk sesuatu yang tidak terlalu penting. Padahal selama bertahun-tahun Agustin menabung, susah payah untuk berhemat di setiap gajian agar tidak terlalu berfoyah-foyah dan Agustin mengumpulkan uang tidak semudah Farhan yang memang memiliki penghasilan besar di setiap jam dari waktu perharinya. Di saat Farhan hanya duduk-duduk saja, uang itu masih mengalir ke rekeningnya. Berbeda dari Agustin, satu rupiah dari penghasilannya membutuhkan banyak buliran keringat yang harus dikorbankan.
Melihat raut Marla yang merasa bersalah, Agustin mencoba menggodanya. “Kalau Mbak cemberut, jelek ah. Percuma aku menghamburkan uang untuk membeli ini semua, jika istriku masih saja terlihat jelek. Senyum, dong. Saat senyum, Mbak selalu terlihat cantik. Dan aku suka melihat istriku yang cantik.” Cengiran Agustin melebar, kedua tangan jahilnya menarik sudut bibir Marla. Membentuk senyuman lebar, memperlihatkan seluruh deretan dari dua seberang gigi-gigi Marla.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
@Secrets_Cha
Semangat Thor semoga sukses..
2021-10-15
1
Shakira Keyyila Zahra
aah aq jdi PGN jdi marla,,Agustin suami idaman..Agustin smoga km cpt sukses,melebihi farhan
2021-09-11
5