“Kamu ada uang?”
Suapan Agustin terhenti ketika tangannya nyaris memasukkan nasi ke dalam mulut.
“Ada,” jawabnya dengan nada sedikit meragu.
“Berapa?” Kelak Agustin akan mengecek koceknya, kalau kurang dari jumlah yang Marla minta maka Agustin akan menggeledah ATM-nya. Sudah kewajiban Agustin untuk memenuhi, bukan? Dan Agustin tidak melakukannya secara terpaksa, Agustin hanya malu jika dia tidak mampu.
“Berapapun yang ada, aku hanya ingin membeli bahan dapur.”
Agustin mengangguk, lalu pergi ke kamar, membongkar tas kerjanya dan mengambil dompet. Agustin berdecak saat melihat dompetnya hanya bersisa uang 50.000, dibarengi beberapa lembar uang receh lain. Menggaruk kepala, wajah Agustin terlihat kewalahan, lalu mengambil kartu ATM dan rekening, ingin menarik beberapa lembar uang untuk simpanan dan kebutuhan.
“Mau kemana?” Tegur Marla saat melihat Agustin baru saja memakai hoodie dan akan membuka pintu apartemen, hendak keluar.
“Ke ATM.”
“Uangmu tidak cukup?” Marla bertanya, membuat Agustin membuang muka malu.
“I-iya …” jawabannya terdengar tergagap.
“Emangnya ada berapa?” Langkah lebar Marla mendekat, berdiri menghadap Agustin.
“Cuma 50.000.” Agustin menunjukkan selembar uang berwarna biru yang terlihat lusuh.
Marla langsung mengambilnya, “Ini aja cukup, kok. Cuma untuk makan doang, ‘kan.” Marla melipat selembar uang yang diberikan Agustin lalu memasukkannya ke dalam saku. Ditepuknya lengan atas Agustin lalu mengajak suaminya kembali ke dapur, menyambung kegiatan makan yang sempat tertunda. “Makan lagi, yuk!”
Agustin urung membuka pintu apartemen lalu mengikuti langkah Marla. Di balik punggung istrinya, Agustin menanyai. “Serius cukup?”
Marla menoleh dan mengangguk dengan senyuman. “Iya, cukup. Kalau kurang tinggal minta lagi, ‘kan?” Keduanya kembali duduk di meja makan, menikmati makan siang masing-masing yang sempat tertunda. Kali ini Agustin tidak bisa makan dengan lahap seperti sebelum dia beranjak, entah kenapa dia tidak yakin dengan jawaban Marla.
“Uang 50.000 bisa dicukupkan berapa hari?”
Untuk menutupi keraguannya, Agustin bertanya kepada ahlinya yakni sang istri.
“Em,” Marla berlagak bergumam. “Bisa lima hari .. atau sepuluh hari. Kalau sengaja berhemat, cukup, kok.”
Agustin masih terlihat tidak yakin. “Kamu butuh uang bulanan?” Tanyanya.
Marla menggeleng. “Tidak perlu.”
Agustin mengernyit. “Kenapa tidak perlu?”
“Kalau kamu tidak mampu, ya sudah.”
Rahang Agustin mengeras, lalu menggeram. Teringat dengan ejekan Farhan tentang kemampuan finansialnya yang begitu diragukan. “Sudah kubilang aku mampu!” Tandasnya.
“Maksudku,” Marla tergagap, berusaha meluruskan kesalahpahaman. “Maksudku, jika kamu kesusahan memenuhinya--”
“Aku bisa! Dan aku tidak kesusahan.” Agustin tersinggung meskipun Marla tidak bermaksud untuk menyinggungnya samasekali.
Agustin bangkit berdiri dan beranjak meninggalkan meja makan, tangannya meraih handle pintu dan terdengar derap langkahnya menjauhi apartemen. Marla panik, bangkit untuk mengejar langkah Agustin. Tapi punggung Agustin sudah tertelan jarak di lorong bawah, Marla rasa dia tidak perlu mengejarnya. Membujuk Agustin setelah lelaki itu kembali.
Agustin dengan berjalan kaki menuju lokasi ATM terdekat untuk menarik jumlah uang. Dimasukinya sebuah petak sempit yang terlihat gerak-geriknya dari luar karna hanya di dindingi sebuah kaca gelap. Agustin menggesek kartunya, lalu menghitung jumlah uang simpanannya yang tercantum disana. Agustin mengambil jumlah maksimal yang bisa dia tarik, 5 juta. Dilipatnya puluhan lembar uang merah yang nampak baru lalu memasukkannya ke dalam saku.
Agustin mendorong pintu ATM dan beranjak keluar. Dengan tergesa kembali ke apartemen, dimana Marla tengah menungguinya dengan cemas. “Ini, 5 juta.” Agustin meletakkan puluhan lembar uang ke atas meja, lalu memunggungi Marla dan masuk ke dalam kamar.
Marla memunguti setiap lembar uang satu-persatu lalu mengejar langkah Agustin yang kini berbaring lemas di atas ranjang keras.
“Tin ..” Marla memanggil lirih, “Ini terlalu banyak.” Dipisahkannya separuh uang yang diberikan oleh Agustin, lalu menyodorkannya kepada lelaki itu, hendak mengembalikannya.
“Bahkan 5 juta masih terlalu sedikit untukmu, Marla.” Agustin menyahut serak.
“Satu juta cukup untukku selama sebulan--”
Kalimat Marla terpotong oleh pertanyaan Agustin. “Bagaimana dengan Kak Farhan? Berapa uang belanja yang diberikannya kepadamu?” Agustin menoleh tajam, melirik Marla dengan raut kusut.
Marla menelan ludah, lalu dengan ragu menjawab. “60 juta ..”
“Dalam seminggu?” Agustin menyahut cepat.
Marla mengangguk lemas.
“Dalam sebulan sudah ratusan juta!” Agustin menegaskan setelah menghitung jumlah tepatnya di kepala. Jumlah nol-nya membuat Agustin semakin merasa rendah, apalagi saat Marla mengatakan 5 juta sudah terlalu banyak untuknya sedangkan selama dengan Farhan Marla mendapatkan puluhan kali lipat lebih banyak.
Mungkin Marla hanya ingin menghargai Agustin, pekerjaan dan pemberiannya, yang semampu lelaki itu, tapi Agustin malah merasa sebaliknya, dia seperti dikasihani dan Agustin menganggapnya sama saja dengan merendahkan!
“5 juta yang kuberikan tidak sebanding dengan apa yang Kak Farhan berikan kepadamu selama ini, bukan hanya uang bulanan! Pakaian! Rumah! Makanan! Itu, ini, dan semuanya!”
Nafas Agustin terdengar berat, lelaki itu bangkit dari ranjang. Didekatinya Marla, direnggutnya uang itu lalu menekannya ke dada Marla, “terima itu. Besok aku akan menambahinya.”
Wajah berapi Agustin berubah lunak, dengan hati-hati diraihnya wajah Marla. “Karna aku sudah menafkahimu .. aku boleh meminta hakku ‘kan?”
Bibirnya mengincar bibir lain, menyesapnya lambat. Suasana hati Agustin tengah buruk, Marla tak kuasa menolak, apalagi Agustin bak kayu rapuh. Jika disikut, maka ambruk dan runtuh.
“Em,” Marla menarik wajahnya, berbisik lirih. “Agustin, pelan-pelan.” Gerakan Agustin sebelumnya terlalu menuntut. Agustin mengangguk, lalu mencium dengan tenang.
“Mbak,” panggilan Agustin selalu berubah-rubah. Kadang menuduh, kadang memanggil dengan sopan. Kedua tangan besar Agustin menangkup rahang mungil Marla, mendambakan wajah istrinya yang begitu terlihat memesona.
“Saya mohon ..” Agustin berbisik lirih, “anggap saja saya semampu Kak Farhan, meskipun realita sebaliknya, tapi jangan ragu ataupun enggan meminta sesuatu apapun kepada saya.”
Tangkupan Agustin mengerat. “Saya memang tidak tahu diri, Mbak .. nyatanya tidak kaya, tapi meminta dianggap mampu. Tapi sebagai suami, jika Mbak butuh atau ingin sesuatu, saya usahakan untuk mencukupi. Tapi Mbak jangan diam saja, katakan apa yang perlu saya lakukan. Dan minta apapun yang Mbak inginkan.”
“Karna Mbak ..” Agustin menubrukkan kedua kening mereka, mata Marla berembun menatapnya. “ .. adalah istri saya. Orang pertama, yang benar-benar saya anggap sebagai keluarga, setelah nasab saya tidak jelas selama ini.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Siska
Marla bilang donk klo kamu mau brhemat demi kelnjutan hidup supaya g membebani Agustin bukn untk merendahkan...
2021-12-17
1
SyaSyi
bagus ceritanya thor sudah aku jadikan. favorit
2021-10-18
0
Indah Yani
kasian sekali kamu tin 😭😭aku jd ikut nyesek
2021-10-10
0