Agustin Handika.
Tujuh tahun jauh lebih muda dari Farhan yang sudah berusia 30-an, dan lebih muda lima tahun dari Marla yang menginjak usia 27 tahun. Agustin terbilang masih muda, baru penyelesaian S2 dan bekerja sebagai karyawan pemula di sebuah perusahaan. Hidup Agustin tidak segemilang kehidupan Farhan yang serba lebih dan memiliki kekayaan yang disegani. Bisa dikatakan, Agustin cukup melarat.
Agustin memang selaku adik bagi Farhan, meskipun sekedar adik tiri.
Ada skandal yang terjadi di masa lalu akibat ulah Ayahnya. Jadinya, lahirlah Agustin dari rahim seorang perempuan muda tanpa ikatan pernikahan. Maaf dikatakan, jelas anak haram. Setelah Ayah mereka merenggang nyawa dan meninggal, Agustin yang selaku anak haram yang tidak bisa dinasabkan ke Ayahnya samasekali tidak mendapatkan warisan.
Jadinya, kehidupan Agustin yang serba kurang tetap tidak bisa diperbaiki untuk menjadi sejahtera. Tapi biaya makan dan sekolah, kehidupan sehari-hari Agustin selagi masih menjadi pelajar dan mahasiswa, semuanya ditanggung oleh Farhan. Setelah Ibunya lepas tanggungjawab atas Agustin saat Agustin tamat SMP, untuk menikah dengan lelaki lain yang tak mau menampung anak.
Saat Farhan menemuinya di apartemen kecil tempat Agustin tinggal. Farhan menawarkan sejumlah uang sebagai bayaran atas perjanjian mereka. Nominalnya luarbiasa, Agustin akan merugi jika menolaknya.
Akhirnya, demi uang tersebut sekaligus hitung-hitung balas budi terhadap Farhan, Agustin tanpa banyak protes menyanggupinya. Menikahi mantan Kakak Iparnya, menghamilinya, setelah sang Kakak Ipar melahirkan, maka Agustin harus mengembalikannya kepada sang Kakak.
“Baiklah, Kak.” Jawaban Agustin waktu ditanyai kesanggupannya.
Farhan tersenyum miris. Antara lega dan sedih. “Uangnya akan aku kirim ke rekeningmu. Kupercayakan semuanya kepada, Tin. Jangan kecewakan Kakakmu.”
“Oke.” Agustin mengiakan untuk keduakali, lalu ikut bersama Farhan menemui calon keluarga dan istrinya nanti, meskipun hanya untuk kurang dari setahun.
Seraya mendengarkan Farhan dan Ayah Marla yang adu berkata, Agustin memperhatikan seorang perempuan yang akan menjadi istrinya. Perempuan dewasa yang lebih tua, tentu cantik dan terlihat lembut.
Agustin merasa bersalah melihat perempuan tersebut menangis, tentunya jika tidak terpaksa, perempuan itu mana mau menikah dengannya. Agustin meremas jemari yang saling berpaut, diam-diam secara perlahan menghembuskan napas.
Di dalam hati, bertanya-tanya.
‘Keputusanku tidak salah ‘kan?’
“Aku talak kamu, La. Setelah tiga kali suci, menikahlah dengan Agustin. Setelah mengandung dan melahirkan, kembalilah padaku.”
Tangis Marla meledak, saat Farhan menalaknya. Farhan terlihat tidak tega, terlebih Agustin. Seketika, lelaki muda itu menelan saliva, merasa kasihan dan merasa bersalah.
“Berkemaslah dan kembalilah ke rumahku sekarang. Tuntaskan masa iddahmu selama tiga kali suci, setelah itu baru kamu bisa menikah dengan Agustin.”
Agustin menghembuskan napas dari mulut. Tiga kali suci? Setidaknya tiga bulan, waktunya untuk mempersiapkan diri. Menjadi suami sementara untuk perempuan tersebut. Sebagai lelaki perjaka, mungkin Agustin harus mempersiapkan tata-cara bercinta yang baik dan benar. Jika bisa, sekali mencoba, Marla langsung hamil tanpa perlu mengulang ronde ke berikutnya.
Lebih cepat lebihbaik, bukan?
>><<
Selepas tiga kali suci. Tiga bulan kurang-lebih sudah terlewat. Penghulu dipanggil ke rumah Farhan. Tak ada tamu penting yang diundang, hanya beberapa saksi pernikahan yang terdiri dari orang-orang rumah. Marla didandani seadanya, memakai kebaya yang sama saat pernikahannya dengan Farhan dahulu. Agustin meminjam kemeja Farhan, tidak butuh dipermak lebih.
Agustin dan Marla duduk bersebelahan, tudung dijatuhkan diatas kepala keduanya. Penghulu duduk menghadap Agustin, sedangkan Farhan duduk di antara barisan saksi, tangannya mengerat di atas paha, memejamkan mata rapat berusaha menahan air mata, dan melapangkan dada agar tidak membuat kekacauan. Orangtua Marla juga ada di antara saksi yang menyaksikan, termasuk adik-adik Farhan dan Ibunya. Hanya mereka yang terdiri mengelilingi calon pengantin.
Suara penghulu mulai terdengar, “saya nikahkan dan saya kawinkan, saudara Agustin Handika ….”
Seiring kalimat itu, Farhan menahan diri. Dadanya mulai sesak, lalu bangkit berdiri dan beranjak ke belakang. Marla menyorotnya sendu, lalu menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Ingin menangis, tapi berusaha menahannya.
Agustin menjawab dengan tegas, “saya terima nikahnya saudari Marla Widyan binti Mario Arcel ....”
Di dapur, Farhan mengambil segelas air putih dan mendaratkan punggung ke dinding. Napasnya semakin sesak, diminumnya air untuk menenangkan diri. Jawaban ijab kabul Agustin dari ruang tamu masih terdengar samar sampai ke dapur, mau tak mau, Farhan secara tidak langsung tetap menyaksikannya.
“Sah?”
Suara penghulu diundang seruan saksi, “sah!”
Sedangkan Farhan yang tidak ada di antara barisan saksi di ruang tamu, dari ruang dapur di belakang, berbisik pelan. “Tidak sah!” Inginnya begitu, tapi Marla dan Agustin sudah resmi menjadi sepasang suami-istri.
Dengan tangan gemetar, Marla menyambut tangan Agustin dan mencium balik punggungnya.
Dengan ragu, Agustin mengecup puncak kepalanya. Nyaris tidak kena, bibir Agustin hanya menyentuh ujung kain tutup kepala. Tapi setelah menyadarkan diri kalau dirinya harus terbiasa dengan segala kontak fisik di ke depannya karena harus menghamili Marla, dengan tekanan kuat Agustin mencium kening Marla. Bertahan 10 detik, hingga melepaskan bibirnya. Sentuhan pertamanya, sebuah ciuman di kening istrinya. Agustin merasa bersalah jika membayangkan, bibirnya akan menjelajahi seluruh tubuh perempuan tersebut.
Ck, rasanya Agustin ingin membatalkan perjanjian dan mengembalikan semua uang Farhan.
Apalagi saat matanya mengitari ruangan, Farhan hilang di antara para saksi.
Farhan pasti susah menerimanya.
>><<
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Indah Yani
jd nyesek bacanya 😭😭😭
2021-10-09
2
Diana M
hadir tooor
2021-10-07
0
@Secrets_Cha
Semangat lanjut Thor
2021-10-01
0