Menantu Idaman Mario

Mario pikir, dia perlu lebih mendekatkan diri kepada menantunya sendiri. Bukan Farhan, sedari awal Mario tidak pernah senang kepada Farhan. Bukan karena Farhan lelaki buruk atau tidak sesuai perkiraan awal mereka berjumpa, tapi sedari pertama Marla menyebut nama Farhan sebagai anak sulung dari Fardi, statusnya sebagai pewaris Fardi itulah yang membuat Mario tidak menyukainya.

Hubungan Mario dengan Fardi yang buruk, membuat Mario tidak senang jika harus besanan dengan Fardi. Zaman kuliah, Fardi dan Mario memang berteman akrab, tapi hubungan itu renggang semenjak Fardi mencoba merebut Maria, Mama Marla, yang saat itu berstatus sebagai calon istri Mario.

Fardi membujuk Maria dengan embel-embel harta dan kekayaan yang sudah Fardi miliki sedari lahir, sedangkan Mario belum punya apa-apa saat itu, masih berstatuskan asisten dosen seusai tamat kuliah.

Fardi pernah nyaris berhasil, saat orangtua Maria perlu biaya untuk berobat dan Fardi menawarkan beberapa jumlah uang, sebagai gantinya Maria harus menikah dengannya dan meninggalkan Mario.

Saat itu Mario salut, Maria menolak bantuan Fardi yang jelas memiliki maksud lain secara terang-terangan.

Sebagai gantinya, Mario berusaha mencari pinjaman sana-sini untuk membiayai berobat orangtua Marla, dan setelah menikah Maria bersama Mario kompak sama-sama bekerja mencari uang untuk melunasi hutang itu. Hidup mereka memang berjalan cukup berat selama satu setengah tahun, tapi buah dari perjuangan mereka, hutang lunas dan Maria bersama Mario bisa fokus untuk membiayai Kakak Marla yang waktu itu masih berusia beberapa bulan.

Karna pernah berniat menjatuhkan Mario di masa lalu, dendam Mario masih tersisa untuk Fardi. Sampai sekarang ‘pun meskipun Fardi sudah meninggal, Mario masih menyisakan dendam lain untuk keluarga yang dia tinggalkan.

Tapi takdirnya begitu menentang, mungkin bermaksud memperbaiki hubungan Mario bersama Fardi, mereka berakhir menjadi besanan. Meskipun Mario masih enggan menjalin tali silaturahmi dengan baik dan terus menyusahkan Farhan menantunya.

Agustin memang masih darah-daging Fardi. Tapi Mario menganggapnya berbeda. Melihat Agustin, seperti melihatnya di masa lalu. Agustin yang banting tulang untuk kehidupannya, dengan nasab tidak jelas, seakan ditelantarkan dan tidak benar-benar memiliki anggota keluarga.

Mario juga anak dari hubungan haram, Ayahnya seorang pejabat negara yang namanya bertebaran di majalah, koran dan televisi. Sedangkan Ibunya hanyalah seorang pelayan restoran, yang kebetulan bertemu dengan Ayahnya. Terikat hubungan singkat, berakhir hamil, dan setelah itu dibuang setelah didesak untuk menggugurkan anaknya.

Tapi Ibunya mempertahankan Mario dan kandungannya. Sama saja menerima takdir buruk yang berakhir tragis, karna Ibunya meninggal setelah melahirkan Mario. Setelah itu Mario dititipkan ke pasangan berusia senja yang dibayar Ayahnya untuk membesarkannya dari bayi sampai Mario dewasa.

Melihat Agustin, seperti membawa Mario ke masa-masa kelamnya dahulu. Sama-sama tidak bernasab jelas, sama-sama ditelantarkan, sama-sama tidak dianggap, sama-sama banting tulang untuk kehidupan masing-masing. Membangun semua mimpi dari nol!

Tidak selayaknya Farhan dan Fardi, keduanya sudah menikmati kehidupan gemilang sedari lahir. Tidak usah susah-payah, harta, masa depan dan pekerjaan sudah ditetapkan untuk mereka. Farhan dan Fardi, sama-sama bernasab jelas, memiliki orangtua dan keluarga yang menganggap kehadirannya, mendapatkan kasih sayang utuh dan setidaknya .. memiliki sesuatu yang disebut dengan ‘keluarga’.

Semenjak bersitatap muka dengan Agustin, Mario sudah menetapkan Agustin sebagai menantu idaman. Jika bisa, Mario ingin mempertahankan Agustin sebagai menantu. Tapi, perjanjian mereka kecil kemungkinannya bisa disalahi. Cepat atau lambat, Marla harus kembali ke Farhan.

Pemikiran itu membawa Mario ke kediaman Marla bersama menantunya Agustin. Mario sudah tahu letaknya meskipun belum pernah mampir, Marla pernah menunjukkan alamatnya. Mobil Mario berhenti di halaman gedung beberapa tingkah yang terlihat lusuh, lalu beranjak turun. Dicarinya nomor apartemen yang ditujukan Marla, setelah menemukannya lalu mengetuk pintu dan mengucap salam.

Krak! “Walaikumsalam.” Disusul jawaban, Agustin terlihat membuka pintu. Tubuhnya langsung terlonjak ke belakang, membelalak mendapati Mario. Karna pernah bertemu, Agustin mengenalinya sebagai Ayah Mertuanya.

“Halo.” Mario menyapa dengan satu senyum maskulin.

“Pak Mario?” Agustin tergagap, melangkah mundur saat Mario memasuki apartemen mereka. Tatapan Mario mengintai ke segala penjuru ruangan, mengamati setiap benda satu-persatu, terutama dinding yang catnya mengelupas dan plafon yang sedikit memperlihatkan cela.

Agustin pias, Mario benar-benar menyaksikan ketidakmampuannya, bahkan sekedar untuk tempat tinggal bagi Marla. Pengamatan Mario beralih, menatap wajah Agustin yang tertunduk malu. “Dimana anakku?”

“D-di kamar.”

Mario mendekati sebuah pintu, “Ini kamar kalian?”

Agustin mengangguk takut. Jika Mario membukanya, maka kelusuhan apartemennya semakin terlihat jelas.

Mario membuka pintu kamar, menemukan anaknya yang tengah bersisir. Dari tubuh anaknya, mata Mario berkeliaran ke segala sudut kamar mereka, Agustin yang malu semakin menutupi wajah dengan kedua telapak tangan.

“Papa?” Senyum Marla melebar, sedikit kaget dengan segera berjalan mendekati Ayahnya lalu menyalami tangannya. “Papa, kok kesini?” Marla terdengar begitu antusias.

“Papa hanya ingin mengunjungi kalian.” Tangan berkeriput Mario mengelus puncak kepala anaknya.

Tangan Mario beralih ke wajah Agustin, “Oh, ya kamu belum sempat menyalami tanganku sedari menyambutku sejak tadi ‘kan?”

Agustin gelagapan, dengan hati-hati meraih tangan ayah mertuanya dan membawanya ke dahi. “Maafkan saya Pak Mario.”

“Tidak perlu formal,” dengan santai Mario mengibaskan tangan. “Panggil saja aku Papa, seperti sebutan Marla kepadaku.”

“I-iya, Pa.” Agustin menurut, langsung menggunakan panggilan yang sama dengan tergagap. Menyaksikannya Mario tersenyum kecil, gelagat Agustin nyaris sama dengannya di masa lalu saat berkenalan dengan Ayah Maria. Kedua mertuanya juga menyapa Mario seperti ini, mengintai tempat tinggal sepasang pengantin baru dan mengajaknya mengobrol dengan hangat.

“Aku sepenuhnya mempercayakan Marla kepadamu, Agustin.” Dengan kebapakan, Mario menepuk bahunya.

Agustin mengangguk, masih canggung. “I-iya, Pa.”

Bibir kering Mario mendekat ke sisi telinga Agustin, setelah mengecek jarak di antara mereka dengan Marla cukup berjauhan. “Kamu lebih layak daripada Farhan. Sampingkan dulu hal finansial, kamu masih merintis karirmu di usiamu sekarang. Aku setuju memilihmu untuk Marla, karna aku tahu jalan pikirmu setelah mengalami kehidupan yang sama.”

Mario tersenyum sendu, “Jika kamu ingin mempertahankan anakku, pertahankan. Aku sebagai mertuamu, akan mendukungmu. Sekalipun lawan kita Farhan sekeluarga dan perasaan Marla sendiri.”

Terpopuler

Comments

rinny

rinny

ayo semangat Augustin..... papa mertua mendukungmu 💪💪💪💪💪

2021-12-29

0

Siska

Siska

ayo Agustin tunjukkan kamu mampu,bisa lbh segalanya dr Farhan.udh ddukung sma mertua itu loh...

2021-12-17

0

Yeni Maryani

Yeni Maryani

Agustin dapat dukungan dari mertua

2021-10-25

2

lihat semua
Episodes
1 Kemandulan Farhan
2 Sang Benih Bayaran
3 Malam Pertama Pengantin
4 Cemburu Dan Tidak Terima
5 Bukan Lagi Sepasang Suami-istri
6 Masalah Finansial Yang Tak Setara
7 Tempat Favorit Agustin
8 Berkenan atau Tidak Berkenan
9 'Terlalu Sederhana'
10 Membuat Daftar Pengeluaran
11 Perpaduan Rasa Yang Sempurna
12 Rasa Yang Dikenali
13 Anggap Saja Saya Mampu
14 Bukan Menantu Kesayangan Mario
15 Menantu Idaman Mario
16 Mencari Kebahagiaan Lain
17 Kejutan Dari Agustin
18 Perlakukan Aku Selayaknya Yang Kamu Inginkan
19 Ayah dan Anak Sama Saja
20 Menolak Istri Baru
21 Karena Agustin Bukan Farhan
22 Lihat Hasilnya Kelak
23 Jalan-Jalan Malam
24 Perpaduan Rasa Es Krim dan Mulut Bau Agustin
25 Anggap Aku Farhan
26 Anggap Aku Farhan (2)
27 Agustin Takkan Mengkhianati?
28 Saran Rio
29 Antara Farhan dan Agustin?
30 Dalam Pengaruh Alkohol
31 Mr. Merci
32 Bukan Ini Yang Farhan Mau
33 Agustin Yang Egois
34 Nggak Ada Rasa
35 Pewaris Mr. Merci
36 Hanya Dipinjamkan
37 Di Tepi Pantai
38 Ceroboh
39 Bukan Pahlawan
40 Salah Masuk Kamar
41 Salahpaham Ala Agustin
42 Sudah 4 Bulan
43 Mengingatkan Agustin
44 Berhenti Melalaikan Kewajiban
45 Bukan Tergila-gila
46 Testpack Kelima
47 Ayah dan Suami Terbaik
48 Membawa Pergi Marla
49 Agustina
50 Malam Pertama Di Rumah Mertua
51 Belldi Luce
52 Karena Marla
53 Bukan Marla Yang Memilih
54 Marla?
55 Marla? (2)
56 Doa Agustin
57 Agustin Bukan Tidak Peka
58 Penerbangan Pertama
59 Kediaman Belldi Pusat
60 END
61 PENGUMUMAN SEASON 2
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Kemandulan Farhan
2
Sang Benih Bayaran
3
Malam Pertama Pengantin
4
Cemburu Dan Tidak Terima
5
Bukan Lagi Sepasang Suami-istri
6
Masalah Finansial Yang Tak Setara
7
Tempat Favorit Agustin
8
Berkenan atau Tidak Berkenan
9
'Terlalu Sederhana'
10
Membuat Daftar Pengeluaran
11
Perpaduan Rasa Yang Sempurna
12
Rasa Yang Dikenali
13
Anggap Saja Saya Mampu
14
Bukan Menantu Kesayangan Mario
15
Menantu Idaman Mario
16
Mencari Kebahagiaan Lain
17
Kejutan Dari Agustin
18
Perlakukan Aku Selayaknya Yang Kamu Inginkan
19
Ayah dan Anak Sama Saja
20
Menolak Istri Baru
21
Karena Agustin Bukan Farhan
22
Lihat Hasilnya Kelak
23
Jalan-Jalan Malam
24
Perpaduan Rasa Es Krim dan Mulut Bau Agustin
25
Anggap Aku Farhan
26
Anggap Aku Farhan (2)
27
Agustin Takkan Mengkhianati?
28
Saran Rio
29
Antara Farhan dan Agustin?
30
Dalam Pengaruh Alkohol
31
Mr. Merci
32
Bukan Ini Yang Farhan Mau
33
Agustin Yang Egois
34
Nggak Ada Rasa
35
Pewaris Mr. Merci
36
Hanya Dipinjamkan
37
Di Tepi Pantai
38
Ceroboh
39
Bukan Pahlawan
40
Salah Masuk Kamar
41
Salahpaham Ala Agustin
42
Sudah 4 Bulan
43
Mengingatkan Agustin
44
Berhenti Melalaikan Kewajiban
45
Bukan Tergila-gila
46
Testpack Kelima
47
Ayah dan Suami Terbaik
48
Membawa Pergi Marla
49
Agustina
50
Malam Pertama Di Rumah Mertua
51
Belldi Luce
52
Karena Marla
53
Bukan Marla Yang Memilih
54
Marla?
55
Marla? (2)
56
Doa Agustin
57
Agustin Bukan Tidak Peka
58
Penerbangan Pertama
59
Kediaman Belldi Pusat
60
END
61
PENGUMUMAN SEASON 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!