Perpaduan Rasa Yang Sempurna

“ARRGHH!”

Agustin terbangun karena jeritan melengking Marla. Badannya terlonjak berdiri, dengan gelagapan bertanya panik setelah menghampiri ranjang dan berdiri di sebelah Marla. “Ada apa?”

Marla menoleh muak, sambil menutupi tubuh bagian depannya dengan selimut. PLAK! Satu tamparan melayang telak di satu pipi Agustin. Dengan sinis, Marla bertanya kesal. “Apa yang kamu lakukan pada tubuhku semalam?

Bukannya kamu sendiri yang bilang, tidak akan memulai sampai aku siap?” Sudut mata Marla berair, isakan kecilnya terdengar ngilu.

“Aku hanya menciummu.” Agustin menjawab lirih.

“Kalau hanya ciuman, kenapa kamu melepaskan bajuku?”

Agustin menggaruk kepala. Menyalahi kebodohannya semalam, menanggali atasan Marla tapi tidak memakaikannya kembali. “Sumpah aku hanya menciummu ....” Agustin membela diri. Lalu dengan bimbang melanjutkan kalimat, sedikit daging mulutnya digigit kuat.

Tentu, Marla membelalak. Lalu melemparkan bantal ke wajah Agustin, Agustin dengan sigap langsung menangkapnya. “Kurang ajar!” Pekik Marla lalu bergerak menghindar. Setelah dipungutnya pakaian dan memakainya, Marla pergi menjauhi Agustin dan ranjang.

“Marla,” Agustin beranjak mendekati, Marla langsung berteriak kencang.

“Jangan mendekat!”

Agustin tergugu lalu bertanya lirih, “kamu mau kemana?”

“Masak.” Marla menjawab tak acuh lalu pergi ke dapur, meninggalkan Agustin sendirian di kamar.

Agustin dengan mengendap mengikuti langkah Marla menuju dapur. Kepalanya menongol di ambang pintu, mengintip Marla yang membuka kulkas, mengambil beberapa sayur, mie dan telur. Marla membawanya ke meja dan mulai mengocok telur yang dicampur mie dan potongan sayur. Agustin masih mengintip, senyuman gemasnya tersungging.

Marla menguap dan menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. Setelah itu, segera mengambil kuali--sedikit cemberut melihat kualinya bolong. Marla menggoreng kocokan telur, di pertengahan memasak langsung menepuk jidat karena teringat sesuatu.

“Aku belum masak nasi.” Gerutunya, menyalahi kecerobohannya.

Agustin dengan langkah hati-hati mendekat. “Kamu lanjut aja masak, biar aku cuci beras dan nanak nasi.”

Marla menoleh sedikit sinis. “Ya udah, sana.”

Balasnya dengan menggerakkan dagu.

Agustin mengambil wadah, lalu mulai mencuci beras. Marla masih memperhatikan gelagatnya, lalu menuduh. “Kamu takkan meminta imbalan, ‘kan?”

“Jika kamu berkenan untuk memberikan satu ciuman pagi, aku bersedia.” Agustin nyengir, sambil mengganti air beras yang memutih ke air bersih yang baru.

Marla mendekat dan memukul pelan kepala Agustin dengan sendok. “Tidak berkenan!” Mungkin karena usianya Agustin jauh lebih muda dari Marla, Marla bersikap kurang segan dan memperlakukan Agustin layaknya adik, padahal status aslinya adalah seorang suami yang patut dipatuhi.

“Kalau begitu aku cium perutmu saja.” Agustin mengerlingkan mata nakal.

Marla enggan membalas, dengan muka merah kembali ke kompor dan mengangkat telurnya, meletakkannya ke piring setelah dipotong beberapa bagian.

Setelah meletakkan cucian beras ke penanak nasi, Agustin mendekati meja makan, mencomot salah satu potongan telur. Agustin mengunyah dengan wajah berseri, rasanya enak.

“Sini, deh,” Agustin menggerakkan tangannya sambil mengunyah sisa telur di dalam mulutnya. Marla mendekat dan mencondongkan wajah sambil mengerjap.

Agustin menunjuk bibirnya yang sedikit terbuka menggoda. “Mulutku rasa telur, mau coba, nggak?”

Menangkap maksud Agustin yang sangat berharap, Marla menepuk jidat suaminya. Hingga kepala Agustin terdorong ke belakang, lalu mengelus kening menggunakan dua telapak tangan dengan bibir mengerut.

“Ngawur!” Kesal Marla.

“Mulutmu rasa cokelat dan mulutku rasa telur, bukankah itu perpaduan rasa yang sempurna?” Agustin masih saja menggoda Marla yang tidak nyaman digoda seberlebihan itu. Seringaian Agustin terlihat begitu lebar, apalagi wajah tidak nyaman Marla yang membuatnya begitu gemas.

“Perpaduan rasa cokelat dengan madu lebih sempurna.”

Setelah mengatakannya, Marla melengos keluar dari dapur. Langkah Marla berhenti di ambang pintu, lalu menoleh ke wajah Agustin. “Setelah nasinya masak, makanlah.”

Agustin mengangguk.

“Kamu makan juga, ya. Makan bersama.”

“Panggil aku setelah nasinya masak.”

“Kalau perlu aku akan membawakanmu makanan ke kamar?” Agustin dengan sukarela menawarkan kerelaan diri.

“Tidak perlu.” Tandas Marla lalu keluar dari dapur, melaksanakan salat subuh.

.

.

Setelah salat subuh dari masjid, Farhan merenung menatap jendela besar yang ada di kamarnya yang pernah dia tempati bersama Marla dahulu. Kopia masih didaratkan di atas kepalanya, dengan baju kokoh dan kain sarung yang menggantung di pinggang. Farhan mengedarkan pandangan ke sekitar, kamar itu sepi. Suram terasa tanpa kehadiran Marla. Rindu yang mencekam yang Farhan rasakan.

Mulut Farhan terasa pahit, dibongkarnya laci lalu mengambil sebotol madu.

Untuk menyamarkan rasa pahit alami di mulutnya, Farhan meminum nyaris setengah botol madu. Rasa manis yang menyengat, mampu meminimalisir rasa pahit di dalam rongga mulutnya.

Farhan mengusap mulutnya dengan punggung tangan, lalu meletakkan sisa botol madu ke sembarangan tempat. Sekali lagi merenung menatap jendela besar yang ada di kamarnya yang gelap tanpa cahaya, sengaja dimatikan penerang ruangan. Lidah di dalam mulut Farhan asyik menjelajah di rongga mulutnya sendiri, menyapu habis sisa madu yang melekat dan menikmati rasa manis itu.

Biasanya Farhan akan meraup bibir Marla yang semanis cokelat, hingga menjadi perpaduan rasa yang sempurna. Tapi tak ada rasa cokelat, Farhan hanya bisa menikmati rasa manis alami tanpa perpaduan rasa manapun di mulutnya sendiri.

Farhan mendadak kacau. Mengerang lalu menghamburkan semua barang-barang di kamarnya. Secara total menjadi kacau-balau, lalu menendang-nendang ranjang. Tak perduli telapak kakinya nyeri, Farhan sekuat-mungkin melampiaskan emosinya kepada benda mati.

“KENAPA!?”

Farhan berteriak frustasi.

“KENAPA AKU HARUS MANDUL!?”

Bayangan anak-anak lucu yang keluar dari rahim Marla dari benih Farhan, buyar sudah. Sudah sejak lama Farhan mengkhayalkannya. Keluarga kecil bersama istri dan anak-anaknya. Tapi impian terbesar Farhan harus dibatasi oleh kenyataan. Kini, secara ikatan pernikahan Farhan bersama Marla sudah terpisah. Mungkin hanya sementara. Tapi membayangkan Marla akan disentuh lelaki lain, berhubungan dengan lelaki lain, mengandung anak orang lain, melahirkan anak orang lain, adalah mimpi terburuk Agustin selama hidup. Dan mimpi yang paling dihindari itu malah menjadi kenyataannya!

Sekalipun Agustin membuahi Marla untuknya. Tetap secara nasab, bayi yang dikandung Marla adalah bayi Agustin. Dan secara proses mereka, juga menyita pikiran Farhan hingga frustasi.

Farhan merindukan rasa cokelat berpadu dengan mulutnya yang semanis madu.

Cokelat dan madu. Sebuah perpaduan rasa manis yang sempurna, bukan?

Terpopuler

Comments

Heryanti Syamsu

Heryanti Syamsu

kasian ya,, mandul

2021-08-27

1

lihat semua
Episodes
1 Kemandulan Farhan
2 Sang Benih Bayaran
3 Malam Pertama Pengantin
4 Cemburu Dan Tidak Terima
5 Bukan Lagi Sepasang Suami-istri
6 Masalah Finansial Yang Tak Setara
7 Tempat Favorit Agustin
8 Berkenan atau Tidak Berkenan
9 'Terlalu Sederhana'
10 Membuat Daftar Pengeluaran
11 Perpaduan Rasa Yang Sempurna
12 Rasa Yang Dikenali
13 Anggap Saja Saya Mampu
14 Bukan Menantu Kesayangan Mario
15 Menantu Idaman Mario
16 Mencari Kebahagiaan Lain
17 Kejutan Dari Agustin
18 Perlakukan Aku Selayaknya Yang Kamu Inginkan
19 Ayah dan Anak Sama Saja
20 Menolak Istri Baru
21 Karena Agustin Bukan Farhan
22 Lihat Hasilnya Kelak
23 Jalan-Jalan Malam
24 Perpaduan Rasa Es Krim dan Mulut Bau Agustin
25 Anggap Aku Farhan
26 Anggap Aku Farhan (2)
27 Agustin Takkan Mengkhianati?
28 Saran Rio
29 Antara Farhan dan Agustin?
30 Dalam Pengaruh Alkohol
31 Mr. Merci
32 Bukan Ini Yang Farhan Mau
33 Agustin Yang Egois
34 Nggak Ada Rasa
35 Pewaris Mr. Merci
36 Hanya Dipinjamkan
37 Di Tepi Pantai
38 Ceroboh
39 Bukan Pahlawan
40 Salah Masuk Kamar
41 Salahpaham Ala Agustin
42 Sudah 4 Bulan
43 Mengingatkan Agustin
44 Berhenti Melalaikan Kewajiban
45 Bukan Tergila-gila
46 Testpack Kelima
47 Ayah dan Suami Terbaik
48 Membawa Pergi Marla
49 Agustina
50 Malam Pertama Di Rumah Mertua
51 Belldi Luce
52 Karena Marla
53 Bukan Marla Yang Memilih
54 Marla?
55 Marla? (2)
56 Doa Agustin
57 Agustin Bukan Tidak Peka
58 Penerbangan Pertama
59 Kediaman Belldi Pusat
60 END
61 PENGUMUMAN SEASON 2
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Kemandulan Farhan
2
Sang Benih Bayaran
3
Malam Pertama Pengantin
4
Cemburu Dan Tidak Terima
5
Bukan Lagi Sepasang Suami-istri
6
Masalah Finansial Yang Tak Setara
7
Tempat Favorit Agustin
8
Berkenan atau Tidak Berkenan
9
'Terlalu Sederhana'
10
Membuat Daftar Pengeluaran
11
Perpaduan Rasa Yang Sempurna
12
Rasa Yang Dikenali
13
Anggap Saja Saya Mampu
14
Bukan Menantu Kesayangan Mario
15
Menantu Idaman Mario
16
Mencari Kebahagiaan Lain
17
Kejutan Dari Agustin
18
Perlakukan Aku Selayaknya Yang Kamu Inginkan
19
Ayah dan Anak Sama Saja
20
Menolak Istri Baru
21
Karena Agustin Bukan Farhan
22
Lihat Hasilnya Kelak
23
Jalan-Jalan Malam
24
Perpaduan Rasa Es Krim dan Mulut Bau Agustin
25
Anggap Aku Farhan
26
Anggap Aku Farhan (2)
27
Agustin Takkan Mengkhianati?
28
Saran Rio
29
Antara Farhan dan Agustin?
30
Dalam Pengaruh Alkohol
31
Mr. Merci
32
Bukan Ini Yang Farhan Mau
33
Agustin Yang Egois
34
Nggak Ada Rasa
35
Pewaris Mr. Merci
36
Hanya Dipinjamkan
37
Di Tepi Pantai
38
Ceroboh
39
Bukan Pahlawan
40
Salah Masuk Kamar
41
Salahpaham Ala Agustin
42
Sudah 4 Bulan
43
Mengingatkan Agustin
44
Berhenti Melalaikan Kewajiban
45
Bukan Tergila-gila
46
Testpack Kelima
47
Ayah dan Suami Terbaik
48
Membawa Pergi Marla
49
Agustina
50
Malam Pertama Di Rumah Mertua
51
Belldi Luce
52
Karena Marla
53
Bukan Marla Yang Memilih
54
Marla?
55
Marla? (2)
56
Doa Agustin
57
Agustin Bukan Tidak Peka
58
Penerbangan Pertama
59
Kediaman Belldi Pusat
60
END
61
PENGUMUMAN SEASON 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!