Rasa Yang Dikenali

Menyudahi makannya, Agustin pergi dari dapur untuk bersiap ke kantor. Sedangkan Marla masih menikmati nasi dengan lauk, makan dengan lambat, terlihat seperti tidak berselera. Bukan karna merendahkan lauk yang terhidang, Marla hanya tidak ***** makan.

Setelah membersihkan diri, ditariknya satu setelan kemeja, Agustin segera memakainya. Lalu menemui Marla, yang belum menyudahi makannya sedari tadi.

“Lama amat, sih.” Gerutu Agustin dengan wajah gemas. Tanpa izin mengambil piring Marla, lalu menggantikan diri untuk melahap seisi piring Marla mau nasi dan lauk. Marla meliriknya, tidak protes mendapati kelancangan Agustin yang menyerobot piring makannya sembarangan dan makan dengan lahap seperti orang kelaparan.

“Makan sampai habis.” Marla hendak beranjak meninggalkan Agustin, Agustin keburu menahan pundaknya.

“Ada apa?” Marla membalas malas.

“Sinikan perutmu.”

Marla cemberut. Terlihat tidak senang. “Aku malu memperlihatkan perutku yang membesar setelah makan.”

“Setengah piring saja tidak kamu habiskan.” Agustin gemas dengan pengelakan Marla. Lalu mendesak sekali lagi, “Sinikan perutmu, sayang.”

“Jangan di perut, ya.” Marla memelas iba.

“Sinikan bibirmu.” Peluang bagi Agustin untuk mencicip cita-rasa yang lain, selain perut Marla yang menjadi hak utuh untuknya.

“Jangan bibir ... ” Marla memalingkan muka saat Agustin hendak meraih mulutnya, mau melakukan ciuman pagi.

“Sudah kalau begitu.” Agustin menyerah, Marla salah mengira dia akan terbebaskan. Agustin tanpa aba-aba, mengecup sekilas pipi Marla. Lalu, sambil menggandeng tas pergi keluar dari dapur.

“Agustin!” Pekik Marla dengan wajah bersemu.

Agustin melambaikan tangannya, lalu meraih handle pintu. Marla langsung menghampirinya dan menghalangi langkah Agustin. Agustin mengira akan diomeli atau ditepuk jidat, salah sangka Marla hanya meraih punggung tangannya dan menciumnya takdzim. Agustin tergugah, ditangkapnya tangan Marla lalu menggenggamnya erat nyaris meremuknya.

Dibawanya punggung tangan Marla ke bibirnya, menyapukan benda kenyal itu sekilas ke balik punggung tangan Marla. “Aku kerja, ya sayang.” Agustin membawa tangan Marla ke pipinya, “Kalau nggak lembur, aku usahakan langsung pulang dari kantor.”

Rautnya langsung berubah suram dan merasa bersalah. “Aku nggak mau kamu kelamaan sendirian di apartemen ‘kita’ yang bobrok ini.”

.

.

Di kantor, makan siang Agustin hanya melahap sepotong roti banjir madu untuk mengganjal perut. Selebihnya, waktu dia pergunakan untuk segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang lebih awal setelah Zuhur. Setelah mengetik beberapa dokumen dan melakukan print, Agustin langsung berkemas dengan terburu.

“Cie, pengantin baru, buru-buru amat mau pulang.”

Celetuk salahsatu rekannya dari bangku kerja sebelah.

Agustin hanya tersenyum kecil. Mengambil cuti beberapa hari yang lalu, berita Agustin cuti dua hari untuk menikah sudah menyebar luas. Satu kantor, terlebih sesama junior kecewa Agustin tidak mengundang mereka atau memperkenalkan istrinya, Agustin membuat jawaban tanpa membongkar perjanjiannya dengan Farhan kalau dia menikah hanya secara ijab kabul tanpa pesta pernikahan, itu juga pernikahannya dilakukan di luar kota. Terpaksa, Agustin harus membumbui sedikit kebohongan, agar tidak ada lagi yang beranggapan, Agustin songong karna tidak turut mengundang mereka dalam walimahnya.

Lagian di pernikahannya dengan Marla. Apa yang perlu dirayakan? Hingga dengan antusias harus membagikan banyak undangan ke banyak kenalan? Pernikahan karna perjanjian, Agustin selaku benih bayaran harus membuahi mantan Kakak Iparnya sendiri, lalu setelah mengandung dan melahirkan Agustin harus rela melepaskannya begitu pula bayi yang dikandungnya.

Agustin memasuki lift dan turun ke lantai terbawah. Di rogohnya tas dan mengambil bungkus roti madu yang baru, Agustin memakannya dengan lahap. Sambil mengunyah, fokusnya terhenti pada madu yang mengisi perut roti, lalu mencoleknya dan mengolesinya ke bibir.

“Perpanduan cokelat dan madu lebih sempurna?” Agustin mengulang kalimat yang pernah Marla katakan tadi pagi, saat Agustin menyodorkan mulutnya yang bau telur. Lalu seringaiannya tersungging, “Baiklah, pulang nanti aku akan mencobanya.”

.

.

“Beruntung sekali aku.” Saat Agustin pulang, didapatinya Marla yang tertidur pulas di ranjang. Setelah mengetuk pintu apartemen tanpa disahuti, Agustin langsung mengeluarkan kunci cadangan dan masuk dengan lengkah mengendap-ngendap. Dugaannya Marla pasti tengah tertidur pulas, jadi Agustin tidak berani membangunkannya meskipun tidak sengaja.

Agustin mencuri kesempatan untuk menguji perpaduan rasa cokelat dan madu yang sempat diagungkan Marla. Dibukanya perlahan mulut Marla, Agustin bergerak lambat, menjelalajahi mulut Marla yang rasa cokelatnya masih begitu membekas. Perlahan, Agustin menarik wajah, nafasnya terhembus berantakan.

“Yeah, kamu benar, Mar ..” kembali diciumnya Marla yang terlelap, kali ini ciumannya yang terkesan lebih membangunkan Marla yang sontak mendorong wajah Agustin menjauh.

Marla menelan saliva, rasa madu yang dikenalinya membuat wajahnya keras.

“Maaf--”

Baru saja Agustin hendak meminta maaf, Marla segera memotong. “Kemarikan wajahmu.”

Agustin menurut, duduk di sisi ranjang. Marla dengan lambat meraup bibirnya, dan menciumnya dengan tenang. Agustin tergugu, menikmati ciuman Marla yang terkesan manis dan lembut. Sedangkan Marla berusaha mencari-cari rasa yang dia kenali. Mulut semanis madu. Yang Marla dambakan, karna merupakan cita-rasa dari mulut mantan suaminya.

Agustin terlihat tidak nyaman, saat Marla mulai memasukkan lidahnya. Menelusuri rongga mulutnya, masih dengan gerakan lambat dan tenang. Marla merebahkan tubuh Agustin hingga terbaring di ranjang, Marla masih menciumnya dengan lembut dari atas. Terus mencari-cari rasa manis yang dia rindukan, meskipun yang dia rindukan ada di bibir lain.

“Kamu ingin mengambil komando?” Agustin bertanya, menatap wajah Marla dari bawah.

“Kamu pikir aku mau apa?”

Agustin tersenyum tidak enak. “Kukira kita akan melangsungkan ritual pertama.”

Marla menepuk pelipisnya. “Masih jauh di sana wahai lelaki perjaka.”

“Aku masih sabar menunggu, wahai wanita.” Agustin tertawa saat membalasi kalimat Marla.

Marla mencium Agustin sekali lagi, masih mencari-cari rasa manis itu. Rasa manis yang sama, yang di miliki mulut Farhan. Kali ini Agustin menikmatinya, menahan kepala Marla dan balas mencium. Perpaduan rasa madu dan cokelat, tekstur bibir yang kenyal dan menggoda, dan dua lidah lembut yang beradu perlahan mencari kepuasan masing-masing.

“Nona, mana bisa aku menghentikan momen indah ini tanpa melanjutkan?” Masih di bawah, Agustin terlihat menyayangkan jika tidak menuntaskannya sampai ke inti.

“Bersabarlah.” Marla berhenti, saat rasa manis madu di mulut Agustin setelah dia cek sekali lagi sudah terasa samar. Marla turun dari tubuh Agustin dan menjauhi ranjang, lalu mengajak suaminya. “Ayo makan, sudah kubuatkan makan siang.” Marla mengidahkan dagu ke arah dapur.

Agustin mengangguk, sesuai ajakan segera membangkitkan tubuh lalu mengekori langkah Marla menuju dapur.

Di ambang pintu, Agustin tanpa disangka menangkap punggung Marla dan memeluknya erat, mengungkung pinggang mungil itu dengan kedua lengannya. “Biarkan aku memelukmu seperti ini .. sebentar saja.” Diendusnya rambut kepala Marla, lalu terlena sendiri.

Terpopuler

Comments

Siska

Siska

elah Marla g bolh gt Agustin bukan Farhan mreka beda...

2021-12-17

2

Yeni Maryani

Yeni Maryani

marla hanya suka perpaduan madu dan coklat

2021-10-25

1

Indah Yani

Indah Yani

lanjuuutt

2021-10-10

0

lihat semua
Episodes
1 Kemandulan Farhan
2 Sang Benih Bayaran
3 Malam Pertama Pengantin
4 Cemburu Dan Tidak Terima
5 Bukan Lagi Sepasang Suami-istri
6 Masalah Finansial Yang Tak Setara
7 Tempat Favorit Agustin
8 Berkenan atau Tidak Berkenan
9 'Terlalu Sederhana'
10 Membuat Daftar Pengeluaran
11 Perpaduan Rasa Yang Sempurna
12 Rasa Yang Dikenali
13 Anggap Saja Saya Mampu
14 Bukan Menantu Kesayangan Mario
15 Menantu Idaman Mario
16 Mencari Kebahagiaan Lain
17 Kejutan Dari Agustin
18 Perlakukan Aku Selayaknya Yang Kamu Inginkan
19 Ayah dan Anak Sama Saja
20 Menolak Istri Baru
21 Karena Agustin Bukan Farhan
22 Lihat Hasilnya Kelak
23 Jalan-Jalan Malam
24 Perpaduan Rasa Es Krim dan Mulut Bau Agustin
25 Anggap Aku Farhan
26 Anggap Aku Farhan (2)
27 Agustin Takkan Mengkhianati?
28 Saran Rio
29 Antara Farhan dan Agustin?
30 Dalam Pengaruh Alkohol
31 Mr. Merci
32 Bukan Ini Yang Farhan Mau
33 Agustin Yang Egois
34 Nggak Ada Rasa
35 Pewaris Mr. Merci
36 Hanya Dipinjamkan
37 Di Tepi Pantai
38 Ceroboh
39 Bukan Pahlawan
40 Salah Masuk Kamar
41 Salahpaham Ala Agustin
42 Sudah 4 Bulan
43 Mengingatkan Agustin
44 Berhenti Melalaikan Kewajiban
45 Bukan Tergila-gila
46 Testpack Kelima
47 Ayah dan Suami Terbaik
48 Membawa Pergi Marla
49 Agustina
50 Malam Pertama Di Rumah Mertua
51 Belldi Luce
52 Karena Marla
53 Bukan Marla Yang Memilih
54 Marla?
55 Marla? (2)
56 Doa Agustin
57 Agustin Bukan Tidak Peka
58 Penerbangan Pertama
59 Kediaman Belldi Pusat
60 END
61 PENGUMUMAN SEASON 2
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Kemandulan Farhan
2
Sang Benih Bayaran
3
Malam Pertama Pengantin
4
Cemburu Dan Tidak Terima
5
Bukan Lagi Sepasang Suami-istri
6
Masalah Finansial Yang Tak Setara
7
Tempat Favorit Agustin
8
Berkenan atau Tidak Berkenan
9
'Terlalu Sederhana'
10
Membuat Daftar Pengeluaran
11
Perpaduan Rasa Yang Sempurna
12
Rasa Yang Dikenali
13
Anggap Saja Saya Mampu
14
Bukan Menantu Kesayangan Mario
15
Menantu Idaman Mario
16
Mencari Kebahagiaan Lain
17
Kejutan Dari Agustin
18
Perlakukan Aku Selayaknya Yang Kamu Inginkan
19
Ayah dan Anak Sama Saja
20
Menolak Istri Baru
21
Karena Agustin Bukan Farhan
22
Lihat Hasilnya Kelak
23
Jalan-Jalan Malam
24
Perpaduan Rasa Es Krim dan Mulut Bau Agustin
25
Anggap Aku Farhan
26
Anggap Aku Farhan (2)
27
Agustin Takkan Mengkhianati?
28
Saran Rio
29
Antara Farhan dan Agustin?
30
Dalam Pengaruh Alkohol
31
Mr. Merci
32
Bukan Ini Yang Farhan Mau
33
Agustin Yang Egois
34
Nggak Ada Rasa
35
Pewaris Mr. Merci
36
Hanya Dipinjamkan
37
Di Tepi Pantai
38
Ceroboh
39
Bukan Pahlawan
40
Salah Masuk Kamar
41
Salahpaham Ala Agustin
42
Sudah 4 Bulan
43
Mengingatkan Agustin
44
Berhenti Melalaikan Kewajiban
45
Bukan Tergila-gila
46
Testpack Kelima
47
Ayah dan Suami Terbaik
48
Membawa Pergi Marla
49
Agustina
50
Malam Pertama Di Rumah Mertua
51
Belldi Luce
52
Karena Marla
53
Bukan Marla Yang Memilih
54
Marla?
55
Marla? (2)
56
Doa Agustin
57
Agustin Bukan Tidak Peka
58
Penerbangan Pertama
59
Kediaman Belldi Pusat
60
END
61
PENGUMUMAN SEASON 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!