Sesampainya di apartemen Agustin yang ‘terlalu sederhana’. Agustin dengan wajah tidak nyaman melirik cemas Marla, mengecek responnya. Dan tidak ada raut tidak senang dari sana, di sisi lain membuat Agustin bisa menghembuskan napas lega, meskipun masih ketakutan Marla takkan betah.
Masuk ke dalam apartemen Agustin, Marla menjelalajah untuk mencermati apartemen ‘bobrok’ Agustin yang akan menjadi tempat tinggalnya. Marla tidak melontarkan hinaan ataupun pujian, hanya diam sambil manggut-manggut. Sekali lagi, Agustin yang memperhatikannya menggaruk kepala.
Marla duduk di sofa keras untuk merehatkan diri. Agustin merasa bersalah melihat Marla bergerak sana-sini untuk mencari posisi nyaman di sofa yang tidak ada unsur nyamannya. Hingga ketahanan sofa ‘bobrok’ Agustin ambruk, membuat Marla terjatuh ke lantai.
Agustin langsung membantunya berdiri. Melirik tajam sofanya yang rusak. Agustin menyalahkan sofanya yang membuat Marla-nya terjun menghantam lantai, setidaknya jangan memberikan kesan terlalu buruk di percobaan pertama.
“Kamu tidak apa-apa?” Agustin menangkup pipi Marla.
Marla bangkit berdiri, lalu menjawab, “aku tidak apa-apa.”
Kali ini Marla berpindah ke dapur, semakin membuat Agustin menggaruk kepala. Agustin akan berterus-terang, peralatan di dapurnya tidak lengkap. Hanya ada kuali yang sedikit berbolong, beberapa mangkuk, sendok dan piring, panci berkarat, sendok memasak, pisau yang kurang di asah, selebihnya Agustin tidak memiliki perlengkapan dapur lain.
Sayur-mayur tidak memenuhi kulkasnya. Stock di rumah hanya ada mie instan, beberapa mangkuk es krim murah, botol-botol minuman kopi dan beberapa biji telur. Agustin malu saat Marla membuka kulkasnya dan mengecek persediaan, dahinya mengernyit melihat begitu ‘sederhana’-nya isinya.
Senyum kecil Marla tersungging, lalu meraih salahsatu cup es krim. Kepalanya menoleh ke Agustin lalu nyengir lebar, “minta, ya.”
Agustin terpana sesaaat. Lalu mengangguk, “boleh, kok dihabiskan semuanya.”
Marla kembali lagi ke sofa yang sebagiannya sudah ambruk, duduk di bagian yang masih utuh lalu melahap es krimnya. Kepalanya manggut-manggut, lalu bergumam, “enak.”
Tidak ada ruang untuk Agustin, dijatuhkannya tubuh di lantai menghadap sofa yang Marla duduki. Diamatinya wajah Marla yang fokus makan, Farhan benar, Marla suka ngemil dan makan makanan manis. Setidaknya, meskipun bukan es krim dan cokelat mahal, Agustin harus menyediakan stok untuk Marla di kala senggang.
“Mau lagi?” Agustin bertanya, mengingat ada beberapa cup sisa di kulkas.
Marla menggeleng. “Mau, sih tapi diet.”
Mendengarnya Agustin terkekeh geli. “Gak pa-pa gembul, aku masih berselera untuk membuahimu.”
Muka Marla memerah, digunakannya cup kosong untuk memukul kening Agustin. “Jangan ngawur!” Sungutnya, terlihat kesal.
Marla bangkti berdiri, sambil membasahi bibir dengan lidah, sepasang matanya berkeliaran menelusuri sekitar ruangan. “Tong sampah? Mana tong sampah?” Marla menoleh ke Agustin yang menggaruk kepala.
Agustin mengambil alih cup kosong di tangan Marla, membuka jendela lalu membuang cup-nya langsung ke luar jendela.
“Di sini praktis, bisa di buang dimana saja,” jawabnya dengan cengiran tidak enak.
Takut-takut diliriknya Marla, lalu perempuan itu tertawa. Menyahut dengan senyum lebar, “praktis banget, ya!”
Jangan kamar! Jangan kamar!
Agustin ingin menahan langkah Marla yang menuju kamar yang akan mereka tempati. Tapi tak punya alasan untuk menghadangnya dengan lemas Agustin membiarkan Marla membuka pintu kamarnya yang tidak dikunci, lalu menghidupkan lampu. Seketika, Marla terkesiap di ambang pintu.
Agustin menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Malu, woi di lihat bini kamar berantakan kayak kapal pecah!
Kamar Agustin cukup luas, dua kali lipat lebih renggang daripada ruang tamu yang menjadi saksi sofa ambruk barusan. Satu kasur bertiang dihamburi dengan lembaran-lembaran dokumen yang berceceran sana-sini, belum lagi di lantai dan meja kerja Agustin. Laptop Agustin dibiarkan terbengkalai dalam keadaan batere lobet, dan layar kompuernya terlihat menyala.
Marla melirik Agustin, lalu bertanya, “kamu tidak mematikan komputer sebelum pergi?”
Agustin tertawa canggung. “Aku buru-buru, sayang.”
Marla melirik tajam, “jangan panggil aku sayang!”
“Iya, iya.” Agustin mengalah.
Marla mendekati komputer Agustin, lalu menarik paksa colokannya hingga layarnya menghitam. Dipungutnya semua dokumen yang berceceran di lantai, kasur dan meja, disusun dalam satu map dan diletakkannya ke atas meja kerja. Marla mengibas-ngibas kasur dengan sapu lidi, mengampit hidung karena debu bertebaran dimana-mana. Setelah itu mengibas-ngibas tangan dan merapikan seprai.
Tangan Marla menekan daging kasur, lalu menariknya kembali. Agustin tahu apa yang Marla pikirkan; kasurnya keras!
Gantian ke lemari kayu tua Agustin, Marla membukanya. Meneliti pakaian Agustin satu-persatu. Cukup bagus dan tidak lusuh, terutama setelan kemeja yang Agustin gunakan untuk berangkat bekerja.
“Ada lemari lain?” Marla bertanya, menanyakan tempat untuk pakaian yang dia bawa berserta barang-barangnya yang lain.
Agustin menggaruk kepala, tentu jawabannya tidak. Lemari itu satu-satunya.
Ide terbersit, Agustin mendekati lemari dan mengeluarkan semua pakaiannya. Setelah itu dimasukkannya ke dalam bak hijau, selain setelan kemeja yang dia gantung di balik pintu dan berujar, “kamu pakai saja lemari itu, bajuku kuletakkan disini.”
“Oke.”
Marla pergi ke ruang tamu, menyeret tasnya. Lalu mengeluarkan baju-bajunya yang ditata ke dalam lemari. Agustin mengacak rambut kepala, saat dinyatakan dengan perbedaan kasta yang tergambar oleh pakaian bagus Marla yang mampu dibeli Farhan yang tertata di lemarinya yang lusuh dan bobrok.
“Jika kamu tidak nyaman tinggal disini, aku cari apartemen lain ... yang lebih layak.” Agustin menawarkan.
“Tidak perlu,” tandas Marla. “Di sini cukup.”
Apanya yang cukup? Agustin berkoar di dalam hati. Jelas-jelas apartemennya ini tidak layak!
Setelah merapikan pakaiannya ke lemari bobrok Agustin, Marla menjatuhkan diri ke kasur. Tubuhnya bergerak sana-sini, mencari tempat nyaman yang tidak kunjung ditemukan. Agustin lelah membayangkan isi hati Marla yang bisa jadi keheranan kenapa Agustin bisa terlelap di kasur yang segini kerasnya!
Gerakan tubuh Marla diam dan berhenti, sepertinya takut karna ulahnya kasur Agustin ikut ambruk.
Agustin memasang wajah ditekuk lalu menjatuhkan diri di ranjang yang sama dengan Marla. Didekapnya pinggang Marla, lalu berbisik, “dalam finansial, aku memang tidak semampu Kak Farhan ... maaf kalau kamu tidak nyaman.”
“Tidak apa-apa.” Marla terdengar sangat menggemaskan saat mengatakannya, banding terbalik dengan gerakan tubuhnya yang berusaha mendorong Agustin menjauh, dalam hal itu benar-benar menjengkelkan bagi Agustin hingga nekat mengeratkan pelukan.
Agustin mengusap perut Marla, lalu mencium lekuk perut ramping istrinya. Bajunya sedikit tersingkap, Agustin asyik memberi tanda di sana.
Marla mendorong wajah Agustin menjauh saat Agustin menuntut lebih untuk mencium bibirnya, “aku tidak berkenan dan sesuai perjanjian kamu tidak berhak!” Marla mengingatkan dengan sinis.
Agustin terkekeh gemas, “jadi, aku akan mencari kepuasan diperutmu.” Agustin membenamkan wajah di perut Marla, pusar istrinya menjadi langganan utama. Sama seperti Farhan jika diberikan pundak terbuka Marla kepadanya, kedua kakak-beradik itu sama-sama hilang kendali.
“Hentikan.”
Marla mendesis, Agustin menarik kepalanya.
Senyuman Agustin terlihat simpul, lalu mencuri kesempatan. “Kuhentikan jika kamu berkenan memberikanku satu ciuman di bibir.”
“Ih!” Marla memukul kepalanya. “Seenaknya saja!”
Agustin mengulangi pertanyaannya, “berkenan atau tidak berkenan?”
“Aku berkenan!” Marla menjerit terpaksa.
Agustin tersenyum menang, menutupi tubuh Marla lalu meraup bibirnya.
Agustin semakin tergugah, rasanya dia ingin melepas keperjakaannya sekarang juga. “Kita lanjutkan sampai ke inti ...?” Agustin mulai mengajukan ide ngawur, lalu bertanya. “Berkenan atau tidak berkenan?”
Marla turun dari ranjang setelah mendorong tubuh Agustin menjauh, sekencang mungkin menjerit. “TIDAK BERKENAN!!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Riwid
pasti lucu ya , aq bacanya geli 😀😀
2021-12-30
0
Chandra Dollores
sosor ya sosor aja Agustin
jan tanya berkenan ga nya terusss
keburu turun tensi nafsu, gairah menciut
2021-10-03
4
Raisa Febiana
bagus woi bagus
2021-08-20
0