Bab 13

Setelah mengantar Allesya, Sean tidak berniat langsung pulang karena beberapa menit yang lalu, Jeffrey menghubungi dan memintanya bertemu di tempat mangkal yang biasa digunakan ke empat squad, yaitu di Bar And Restaurant milik Alvin.

Tidak sampai menyita waktu 20 menit, akhirnya mobil Sean sudah sampai di pelataran bangunan yang dituju.

Di dalam bangunan ternyata Jeffrey, Sammy, dan Alvin sudah terlihat berkumpul.

Dreettt!

Sean menarik bangku meja kosong dan langsung mendaratkan tubuhnya. "Apa kalian sudah lama datangnya?" tanya Sean kemudian ia melambaikan tangannya kepada salah satu waitress untuk memesan segelas cocktail.

"Kami juga baru datang. Jadi kau tidak perlu merasa tak enak hati," sahut Sammy lalu kembali menyeruput coffee ice yang tampak tinggal setetes tersebut.

Sroot..! Sroot..! Sroot..!

"Kau itu sangat berisik!" cerca Alvin merasa risih dengan suara yang dihasilkan Sammy.

"Ada apa kau memintaku untuk datang Jeff? Biasanya kau yang paling susah diajak nongkrong setelah menikah," tanya Sean heran.

"Kenapa kau masih menanyakan hal itu ke dia Sean, jelas-jelas kita sudah sangat hafal dengan situasi ini," sela Alvin menyungging salah satu ujung bibirnya seraya memasang mimik muka mengejek.

Sean mengangkat kedua alisnya seolah sedang mencari kebenaran dari apa yang dia terka di dalam otaknya. "Jangan bilang kau diusir Jenny lagi dari rumah Jeff?"

Sepertinya terkaan Sean sama sekali tidak meleset dengan ditandai gelak tawa Sammy dan Alvin yang tiba-tiba pecah.

"Kau sungguh memalukan Jeff. Kemana perginya manusia kutub congkak dan jutek yang aku kenal? Setelah menikah kau mendadak menjadi suami takut istri," ledek Sammy di sela tawanya yang renyah. Tangannya juga tampak berkali-kali memukul bahu Jeffrey yang sudah tampak kesal.

"Tanpa sadar kau telah menjilat kembali air liur yang sudah kau sembur. Apa kau ingat dulu kau bersumpah-sumpah bahwa tidak akan tertarik kepada Jenny? Nyatanya, kau sekarang sudah terserang penyakit bucin stadium akhir," Ledek Alvin tidak mau kalah dengan Sammy.

Sementara Sean yang juga ikut tergelak tiba-tiba merasa tercubit. Ucapan Alvin barusan hampir sama dengan ucapan sang Kakek sebelum ia mengantar Allesya pulang.

Apakah ucapan spontan Alvin merupakan sebuah sinyal dari Tuhan? Atau hanya sebuah kebetulan semata. Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawab.

Hanya saja, kita sebagai manusia harus selalu mengingatkan diri bahwa pentingnya untuk selalu menjaga lidah dalam bertutur kata karena semua itu pasti akan diminta pertanggungjawabannya di masa depan.

"Ah, hal itu tidak mungkin terjadi." bantah Sean di dalam hati.

Pletak!

Pletak!

"Apa kalian sudah bosan melihat matahari?!" hardik Jeff setelah melayangkan sebuah jitakan ke kepala Sammy dan Alvin.

"Aw!" pekik Sammy dan Alvin bersamaan. Gelak tawa mereka seketika menguap pada detik itu juga, berganti ringisan menahan sakit.

"Kenapa jurus jitakanmu semakin hari semakin kuat?!" sungut Alvin seraya mengusap bekas jitakan di kepalanya

"Lagi-lagi kepalaku kau jadikan sasaran. Sean apa kau tidak ingin membalaskan dendamku kepada si Beruang Kutub itu?" protes Sammy mencari pembelaan kepada Sean. Pasalnya, di antara anggota geng Squad hanya Sean yang berani melawan Jeffrey.

"Ada imbalannya," sahut Sean seraya memainkan cocktail garnish yang menghiasi gelas berkaki di tangannya.

"Apapun imbalannya akan aku berikan, asalkan kau mau menjitak kembali si Jeffrey," ucap Sammy tanpa berpikir panjang. Mukanya tampak cemberut seraya melirik tajam ke arah Jeffrey.

"Oke, berikan 50 persen saham yang kau tanam di Allison Corp kepadaku dan aku tidak akan ragu menghajar bocah sialan ini," tawar Sean dengan sangat enteng, seenteng bulu anak ayam yang baru menetas.

Jeffrey dan Alvin tampak menyeringai ketika Sean meminta imbalan yang tentu bisa membuat Sammy mendadak jadi gelandangan.

"Bajingan kau Sean, apa kau ingin melihatku menjadi gelandangan?! Kau itu lebih kaya dari pada aku tapi masih tega memerasku," maki Sammy lalu kembali menyeruput coffee ice miliknya yang ternyata sudah tandas tak tersisa.

"Hah? Vin, apa kau mencuri minumanku? Kenapa cepat sekali habis?" tuduh Sammy ke Alvin seenak jidatnya. Sesekali ia memeriksa gelasnya yang sudah kosong, mungkin saja gelasnya yang bocor. Pikir Sammy.

"Ck! Apa kau sedang bermimpi? Jelas-jelas kau yang meminumnya dengan sangat rakus," sarkas Alvin merasa jengkel.

"Bodoh!" umpat Sean setelah melihat tingkah konyol Sammy.

Sedangkan Jeffrey tampak menggelengkan kepalanya lalu meneguk habis cairan bewarna keemasan dari gelas kristalnya.

"Sean bagaimana keadaan ibumu sekarang, tempo hari kau terlihat sangat cemas waktu itu?" tanya Jeffrey yang entah mengapa justru membuat Sean mengulang kembali ingatan ketika Allesya berhasil membuat sang Mama tersenyum.

"Tidak ada masalah serius, sekarang dia sudah sangat baik," jawab Sean seperlunya.

"Sean bukannya waktu itu kau sempat ingin bercerita tentang ibu tirimu yang sempat mengganggu pikiranmu?" sela Sammy yang ternyata masih menyimpan rasa ingin tahu.

"Lupakan hal itu kar..," Sean kontan menggantung ucapannya ketika ketiga sahabatnya menghunus tatapan menuntut kepadanya dengan sangat kompak.

"Hah! Oke oke, aku akan bercerita," akhirnya Sean menyerah dan mulai bercerita.

"Beberapa hari yang lalu aku melihat Inggrid bertemu dengan seorang pria. Dari gelagatnya mereka sepertinya bertemu secara diam-diam dan tidak ingin orang lain melihatnya," Sean menerawang dan mulai mengumpulkan kepingan-kepingan ingatan waktu itu.

Di salah satu sudut kota London, tepatnya di sebuah kawasan tidak jauh dari pinggiran sungai Thames.

"Apa kau sudah gila? Berani-beraninya kau menemuiku?!" geram Inggrid setengah tertahan. Sepasang matanya tampak beberapa kali menyelidik lingkungan sekitar seolah tidak ingin orang yang dia kenal melihat pertemuannya dengan Reymond, mantan suaminya.

"Aku hanya ingin bertemu dengan istriku. Kau sungguh kejam Inggrid, selama aku mendekam di balik jeruji besi jahanam itu, tak sekalipun kau menjengukku," ucap Reymond dengan mimik muka sedih penuh kepalsuan.

"Aku bukan lagi istrimu Reymond!" bantah Inggrid dengan sorotan mata tajam namun tersirat akan kecemasan di dalamnya.

Reymond menyeringai sinis melenyapkan muka sedih kepalsuannya. Tangannya terulur dan membelai muka Inggrid. "Ingat! Kita belum bercerai, jadi kau masih istriku Inggrid sayang."

Inggrid menepis kasar tangan Reymond dari mukanya. "Katakan apa maumu?" tanya Inggrid to the point.

Reymond kembali menyeringai. "Uang. Beri aku uang. Aku yakin suami barumu tidak akan jatuh miskin jika kau memberiku 50.000 pound."

"Apa?! Kau benar-benar gila Reymond! Kau mencoba memerasku. Kenapa kau tidak membusuk saja di penjara?! hardik Inggrid yang kian berselimut amarah.

Reymond membetulkan tubuhnya dalam posisi tegak. Dia masukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kemudian menghela napas panjang. "Jangan salahkan aku jika Erick membuangmu karena mengetahui bahwa kau telah menipunya. Aku tahu bahwa kau mengarang cerita bahwa suamimu sudah mati," ancam Reymond yang sukses membuat Inggrid tercekat karena panik.

Tanpa berpikir panjang, Inggrid mengambil lembaran cek dari dalam tas mahalnya lalu menulis jumlah nominal sesuai permintaan Reymond.

Reymond tertawa puas ketika selembar cek sudah berada di dalam genggaman tangannya.

"Bagaimana kabar putra kita, Arthur? Aku sangat merindukannya."

"Akan aku pastikan bahwa dia akan menjadi pewaris tunggal HSN. Corp milik Erick. Sebaiknya kau jangan temui dia, karena dia mengira Ayahnya telah mati," pinta Inggrid penuh penekanan.

Alih-alih merasa sedih atau kecewa, Reymond justru tergelak. "Ternyata takdir hidupku begitu miris. Aku harus berpura-pura mati padahal aku masih bernyawa. Tuhan sepertinya sangat ingin melihatku menjadi anjing pecundang. Sial!"

Seolah tak ada sedikitpun rasa iba, Inggrid malah tersenyum sinis. "Tidak ada gunanya kau hidup, sebaiknya kau mati saja."

"Dan ku pastikan, aku akan mati bersamamu, sayang."

"Ngomong-ngomong di mana tinggalnya putri kesayangan kita? Aku sudah lama tidak bermain-main dengannya," ucap Reymond dengan mimik muka penuh makna.

"Gadis itu tinggal bersama Ibuku. Ingat! Aku katakan sekali lagi. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Tutup mulut busukmu itu. Karena Erick hanya tahu bahwa aku hanya memiliki Arthur." Inggrid memberi peringatan keras hingga akhirnya melenggang pergi dari hadapan Reymond dengan langkah tergesa-gesa karena tidak ingin orang lain melihatnya.

"Begitulah ceritanya, apa kalian sudah puas?" ucap Sean mengakhiri ceritanya.

"Sebaiknya kau lebih berhati-hati Sean, dia berniat menjadikan saudara tirimu sebagai pewaris tunggal perusahaan Ayahmu. Akan ada kemungkinan dia menyiapkan rencana jahat untuk menyingkirkanmu karena sebenarnya kau lah pewaris tunggal dari semua aset kekayaan milik Ayahmu," Jeffrey mengeluarkan asumsinya.

"Yang dikatakan Jeffrey benar Sean. Ingat, jika kau mengalami masalah segera hubungi kita. Kita akan selalu ada untukmu," ucap Sammy yang langsung diikuti anggukan Jeffrey dan Alvin, sebagai tanda mereka memiliki pemikiran yang sama.

Sean tersenyum simpul. "Terima kasih kawan,"

"Ngomong-ngomong, siapa putri yang di maksud ibu tirimu itu? Apa kau mengetahuinya Sean?" tanya Alvin yang masih penasaran.

Sean menggeleng pelan. "Aku tidak tahu siapa putri yang di maksud. Tapi firasatku mengatakan bahwa putrinya itu berada di satu kota dengan kita," Sean berasumsi.

*❣

❣*

Bersambung~~

...Ayo biasakan tinggalkan jejak like dan co****m*******ment*** pada setiap bab setelah membacanya ya para readers. Biar ini cerita nggak sepi kayak kuburan🤣 Sumbangkan vote dan gift juga kalau berkenan🤭...

...Intinya, dukungan para Readers adalah penyemangat berharga bagiku untuk terus menulis🥰...

...Terima kasih.. Lop Lop you superrr...

...💜💙💚💛🧡❤...

Terpopuler

Comments

Mayang

Mayang

alesya jgn2...

2022-10-09

1

Bundae icha

Bundae icha

putrimu tinggal bersama ibuku

apa mungkin itu alesya yang tinggal dengan nenek nya

autor mah gitu

2022-10-07

2

Arin

Arin

jngn bilng klo putriny itu alesya,tpi kok spertny iya ya...ach si author tega bngt klo iya😔

2022-09-06

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Author Menyapa
119 Karya Baru
120 Karya Ke 5
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Author Menyapa
119
Karya Baru
120
Karya Ke 5

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!