...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...
...----------------...
Beberapa hari telah berlalu...
Semenjak Wiliam mengetahui kebenaran nya, ia terlihat senang sekali malahan sekarang ia telah pulang kediaman keluarga nya. Tapi semua itu harus ia sembunyikan dari keluarganya atas permintaan Axel yang belum ingin kedua orangtuanya tau.
Masalah penyakit Wiliam juga merahasiakan dari mereka karena tak ingin membuat mereka tambah sedih dan banyak pikiran.
"kemana kamu selama ini nak? bikin kita khawatir aja" tanya Alina yang sekarang telah berada di ruangan keluarga bersama suami dan ketiga anaknya.
Wiliam hanya tersenyum kecil,
"sebenarnya Wiliam lagi keluar kota buat cari informasi tentang adik" jawab wiliam berbohong karena tidak mungkin ia bilang yang sebenarnya.
Mereka hanya menghela nafas lega, "teruuus apa kamu menemukan nya" tanya Reynand penasaran, begitu juga dengan Alina, Angel dan Daniel.
Wiliam hanya mendesah berat sambil menggelengkan kepalanya.
"hah...maafin Wiliam mom, dad...ini semua permintaan Axel" batin Wiliam saat melihat wajah suram ke-dua orangtuanya serta kedua adiknya.
...
Bianca sekarang sudah tinggal sepenuhnya di mansion suaminya, ia juga tak merasa kesepian karena disana ada beberapa pelayan yang bisa ia ajak buat ngobrol.
Walaupun sikap Axel masih dingin dan acuh padanya tapi ia tetap sabar karena ia yakin pasti ada waktu nya suaminya itu bakalan berubah.
Satu lagi, ia juga telah tau semuanya tentang keluarga kandung Axel waktu itu Wiliam sendiri yang menceritakan semuanya, disana Wiliam juga tau kalo Bianca istri Axel.
"ternyata mas Axel mempunyai masa lalu menyakitkan, aku gak nyangka mereka setega itu, kenapa dari awal mereka gak menyelidiki dulu tapi malah langsung menuduh saja" gerutu Bianca terlihat kesal dan marah sekali.
Setelah bosan mengoceh dan menggerutu sendiri, ia pergi ke kamar untuk bersiap siap akan pergi kuliah.
Axel juga telah pergi kekantor dari pagi tadi, ia juga gak tau kapan suaminya itu pulang tapi yang jelas sebelumnya suaminya itu sering pulang malam hari.
Entah dari markas entah dari mana, ia gak tau.
Setelah selesai, ia langsung pergi ke kampus diantar oleh supir pribadi yang telah disiapkan Axel sebelumnya.
Di kantor perusahaan Xander Grup.
Ruangan CEO...
Axel terlihat sedang sibuk mengotak ngatik laptopnya serta beberapa berkas atas meja kerjanya.
tok tok tok...
"masuk!" tegas Axel.
Lalu masuk seorang wanita yang tidak lain adalah sekretarisnya.
"Pak ini ada beberapa perusahaan ingin kerja sama dengan perusahaan kita" sambil menyodorkan beberapa berkas kearah Axel.
Mendengar itu, Axel langsung melihat isi berkas itu, ternyata benar ada beberapa perusahaan ingin mengajukan kerja sama dengan nya termasuk perusahaan keluarga kandungnya.
"hm...kau boleh keluar"
"baik pak, kalo begitu saya permisi"
Setelah wanita itu keluar, Axel langsung menyeringai,
"Smith...kalian tunggu saja permainan nya"
drtt...drtt...
Mendengar getaran hpnya, ia langsung melihat ternyata dari kakeknya.
"hmm...ada apa kek?" setelah mengangkat panggilan nya.
"kau ini seperti tak rela saja kakek telpon" balas kakeknya dari sana.
"bukan begitu kek, maksud Axel tumben kakek nelpon jam segini.." sabar Axel karena tak ingin membuat kakeknya itu kesal padanya.
"kakek lagi gabut, makanya kakek nelpon. kau juga jarang sekali main kerumah kakek. kapan kapan kesini sekalian ajak Bianca. kerasa kakek gak punya cucu saja" oceh kakeknya.
Axel hanya mendesah panjang,
"ok. nanti pulang kerja Axel kesana"
Terdengar tawa kakeknya dari sana, "nah...gitu dong, harus ajak Bianca ya... jangan sendirian"
"iya kek"
"semuanya lancar kan, gak ada masalah"
"lancar kek, semuanya aman"
"ya sudah...kau lanjut kerjanya"
"hmm..."
Setelah dimatikan kakeknya, Axel terlihat termenung sambil bersandar pada kursi kerjanya.
Tak lama setelah itu masuk asistennya siapa lagi kalau bukan Marsel.
"kenapa bos? apa butuh pijitan dari saya" candanya saat melihat wajah tak bersemangat campur lelah bosnya.
Axel hanya menatap males asistennya itu, lagian masuk main nyelonong aja. yah..Marsel emang begitu apalagi dia dan Axel sebenarnya temanan dari dulu jadi wajar saja kadang tak terlihat seperti bos dan bawahan.
"ada apa?" jengkelnya saat melihat Marsel telah duduk atas sofa.
"jengkel amat sih bos. saya cuman pengen liat muka datar plus dingin bos saja" ujar Marsel yang langsung ditatap tajam oleh Axel.
"balik sana keruangan sebelah" ketus Axel.
Marsel langsung menggeleng,
"mendingan bos suruh saya kerja lain seperti menyelidiki atau menjemput nona gitu.." sambil tersenyum lebar tanpa mempedulikan tatapan dingin bosnya.
"sana kau awasi Daniel kalau perlu kau menyamar jadi guru"
mendengar itu, Marsel langsung melotot, dia paling ogah sekali menjadi guru.
"tapi bos...saya kan..." belum selesai ngomong sudah dipotong Axel.
"akan dikurangi 30 persen" tegas Axel.
Akhirnya, Marsel menerima dengan muka masamnya, lagian salah ia juga minta kerjaan lain dari bosnya.
"baik bos. tapi tambah ya bos 50 persen lagi" sambil cengengesan.
Axel terlihat jengkel sekali dengan asistennya itu, "dasar matre"
"tau aja bos" cengir nya tanpa dosa sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan bosnya.
Axel sengaja meminta ingin mengincar Daniel dan itu bersangkutan dengan kejadian 18 tahun yang lalu.
Sebenarnya ia telah mengetahui siapa pelakunya tapi ia sengaja pura pura tak mengetahui nya karena ingin melihat sampai kapan mereka ingin menghancurkan keluarga Smith.
Dan sekarang mereka ingin mengincar adiknya.
Kenapa ia melindungi Daniel? karena Daniel tidak mengetahui apa apa, apalagi waktu itu dia masih kecil. Tapi walaupun begitu Axel masih ingin balas dendam dengan keluarga nya itu. Entah sampai kapan ia akan seperti itu karena terlalu dalam luka yang diberikan oleh mereka.
🌿🌿🌿
Setelah beberapa jam di kampus, Bianca tidak langsung pulang tapi ia pergi ke makam orangtuanya karena sudah cukup lama ia tak berkunjung kesana.
"ayah...ibu... maafin bianca baru berkunjung sekarang. Kalian tau gak sekarang Bianca udah menikah, Bianca udah bebas dari papa. sekarang Bianca udah hidup lebih tenang. suami Bianca tampan loh... walaupun sikap nya masih dingin tapi Bianca tetap bahagia kok..." Bianca terus curhat dihadapan makam ayah dan ibunya yang bersebelahan. Dengan sesekali menangis.
Setelah lama berada disana, Bianca baru pergi dengan tatapan sedihnya.
"non tidak apa-apa" tanya sang sopir saat melihat nonanya masih terlihat sedih lewat kaca.
"ah...tidak apa-apa pak" jawab Bianca tersenyum paksa.
"oiya..nanti berhenti di minimarket bentar ya pak!" ucap Bianca.
"baik non"
Bianca kembali mengalihkan pandangan nya keluar melihat kendaraan lalu lalang.
BERSAMBUNG...
Bagi yang suka ceritanya jangan lupa like, komen, vote and favorit ya guys 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Imam Sutoto Suro
wooow amazing story Thor lanjutkan
2023-01-30
1
Imelda Gea
karakter ceweknya membosankan
2022-05-17
0
RyuuHae
good brother mengutamakan adik bungsu disela balas dendam yg cantik
2022-02-11
2