...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...
...----------------...
Mansion Pribadi Axel
Setelah sejam lebih menempuh perjalanan, akhirnya Axel sampai di mansion miliknya.
Di sana juga telah terparkir mobil sport yang biasanya dibawa oleh Marsel, yang berarti dia telah berada di dalam.
Selama ini yang tinggal disana hanya dirinya dan Marsel serta para pelayan dan dua orang anggota mafia nya yang sengaja ia kerahkan sebagai penjaga disana.
Mereka yang melihat sang majikan langsung menyambut dengan sopan dan ramah.
Sebagai balasannya Axel hanya berdeham dan melanjutkan langkahnya pergi keruangan dimana Marsel membawa Wiliam, yang terletak dilantai atas.
Setelah sampai disana, Axel memasuki ruangan itu.
Marsel yang melihat bosnya datang langsung berdiri dari duduknya.
"bagaimana?" dingin Axel dengan mata menatap kearah Wiliam yang sedang terbaring lemah diatas tempat tidur.
Mendengar pertanyaan bosnya, Marsel terlihat sedikit berat mengatakan nya dengan sesekali menengok kearah Wiliam.
Axel yang melihat reaksi Marsel tentu saja mengeryit bingung,
"sebenarnya apa yang terjadi Sel, kenapa kau bereaksi seperti itu?"
selidik Axel sambil memicingkan matanya.
"begini bos,umm...tapi bos harus tenang setelah mendengarnya!" ucap Marsel masih terdengar aneh bagi Axel.
"tidak usah bertele-tele, langsung ke poinnya" geram Axel karena sudah tak sabaran mendengarnya sambil mendudukkan bokongnya diatas sofa.
"begini bos, setelah diperiksa dokter Zidan dia tidak gila seperti pemikiran bos tapi dia punya sebuah penyakit ganas..." jelas Marsel sedikit gugup.
Axel yang menjadi pendengar tampak mengerutkan dahinya, bukan karena tidak mengerti tapi ia kebingungan dengan penyakit ganas yang di maksud Marsel.
"penyakit apa?" bingung Axel mulai penasaran.
"itu bos, hm...kan-ker otak stadium awal" jawab Marsel sedikit gugup, apalagi saat melihat bosnya itu langsung terdiam.
Setelah cukup lama terdiam dan berkelana dalam pikirannya, Axel kembali bersuara,
"apa dia tidak sadarkan diri semenjak tadi?"
"benar bos, semenjak sampai disini dia belum sadarkan diri, dan pendarahan yang keluar dari hidungnya pun baru berhenti setelah diperiksa dokter tadi" jelas Marsel panjang lebar dan juga merasa kasihan dengan saudara kandung bosnya itu.
"ya sudah kau boleh keluar, oiya sekalian jemput Bianca, bawa dia kesini" ucap Axel yang terlihat mengusap kasar wajah nya.
"baik bos" Lalu Marsel melangkahkan kakinya keluar dari sana.
Setelah Marsel pergi, Axel langsung berdiri dan berjalan mendekat ke arah tempat tidur yang diisi oleh Wiliam.
Matanya menatap nanar kearah Wiliam, ia tak menyangka abangnya itu mengidap penyakit seperti itu. Awalnya ia hanya ingin membuat abangnya itu merasakan seperti apa yang ia rasakan dulu walaupun tidak seberat yang ia rasakan.
Dan mungkin setelah ini ia tidak akan melakukan itu lagi dan mungkin ia akan mengatakan yang sebenarnya terhadap Wiliam. Tapi tidak untuk kedua orangtuanya karena belum waktunya.
Setelah cukup lama disana, Axel pergi ke luar dan memanggil pelayan nya untuk membuatkan makanan buat Wiliam.
"selesai langsung antar kekamar disebelah kamar saya"
Setelah berkata seperti itu, Axel pergi keruang kerjanya dengan pikiran masih berkelana tentang mantan keluarga nya dan yang lebih utama tentang Wiliam.
🌿🌿🌿
Marsel yang diminta menjemput Bianca sekarang telah berada didepan apartemen. Tapi saat ia panggil nonanya itu tidak menjawab sama sekali.
"apa nona lagi keluar ya?" pikir Marsel.
Tapi setelah itu, Marsel ingat kalau nonanya itu masih kuliah jadi ia langsung melajukan mobilnya pergi ke kampus ternama dan terpopuler di Jakarta tempat nonanya itu kuliah yang tidak lain adalah milik bosnya sendiri. Tapi tidak seberapa orang yang tau kalau itu milik bosnya hanya para dekan dan dosen disana yang tau.
Saat sampai di sana, Marsel langsung menghubungi nomor nonanya itu.
Dalam kampus atau lebih tepatnya di kantin, Bianca yang sedang ngobrol bersama Dinda langsung menghentikan obrolan nya saat mendengar hpnya berdering.
Saat melihat siapa yang menelepon Bianca langsung mengangkat nya.
"ya hallo kak... ada apa?" karena tidak biasa nya asisten suaminya itu menelponnya.
"begini nona, sekarang saya lagi didepan untuk menjemput nona atas perintah bos Axel" jelas Marsel dari sana.
Walaupun sedikit tak percaya, Bianca tetap mengiyakan nya.
Dinda yang dari tadi terlihat penasaran dengan siapa Bianca berbicara. Saat telah melihat Bianca selesai menelpon Dinda langsung bertanya,
"siapa bii? pakai panggil kak segala?"
"owh, itu kak Marsel asistennya mas Axel, dia jemput aku" jawab Bianca.
Dinda yang mengerti hanya manggut-manggut saja.
"kamu mau pulang sekarang Din?" tanya Bianca soalnya ia juga mau pergi karena jadwal nya telah selesai.
"iya aja lah, ya udah yuk kedepan"
Sebelum pergi mereka membayar makanan nya dulu dan langsung pergi ke arah parkiran.
setelah sampai di parkiran, Bianca melihat seorang pria berjas hitam sedang bersandar dekat mobil, dia tidak lain adalah Marsel yang sedang menunggunya.
Lalu Bianca melangkahkan kakinya mendekati Marsel yang diikuti oleh Dinda.
"jadi ini asistennya itu" bisik Dinda yang dianggukan oleh Bianca.
"ganteng bii" bisik Dinda lagi. Bianca hanya tersenyum kecil mendengarnya.
Marsel yang melihat nonanya langsung membuka kan pintu mobil untuk nonanya.
"ya udah aku duluan ya" pamit Bianca pada Dinda.
Setelah melihat mobil yang dinaiki Bianca pergi, Dinda juga menaiki mobilnya.
Dari jauh terlihat seorang pemuda melihat semuanya termasuk saat Bianca pergi bersama Marsel tadi. Dia tidak lain ialah Faisal.
"baru kali ini gue liat Bianca dijemput oleh pria, ada hubungan apa Bianca sama dia" batin Faisal.
"apa mungkin pacarnya?" pikir Faisal terlihat sangat penasaran sekali.
Faisal terlihat tak tenang, ia sangat penasaran sekali tentang pria yang menjemput Bianca.
* * *
Di dalam mobil Bianca terlihat kebingungan karena arahnya bukan menuju apartemen.
"kak kita mau kemana? ini kan bukan jalan ke apartemen" bingung Bianca.
"kita langsung ketempat bos nona" jawab Marsel yang sedang fokus menyetir.
Bianca hanya manggut-manggut saja, walaupun sebenarnya ia sedikit penasaran tapi ia tidak terlalu mempertanyakan nya karena nanti juga bakalan tau sendiri.
...
Dikediaman keluarga Smith, terlihat seorang remaja yang tidak lain adalah Daniel sedang menenangkan Alina sang mommy yang sedang bersedih.
"Niel, mom sangat khawatir sekali dengan abang mu itu, apa yang terjadi dengan nya? Rafa saja belum ketemu dan sekarang malah dia yang hilang entah kemana? hiks..." Alina terus mengoceh dan menangis dalam pelukan Daniel putra bungsunya.
"bukan mommy aja yang khawatir, tapi Daniel juga. mommy jangan terlalu bersedih lagi. Daniel yakin abang pasti ketemu. Sekarang mommy makan dulu ya" Daniel sangat sedih sekali melihat keadaan mommy nya karena akhir-akhir ini mommynya itu tidak mau makan.
Sampai Daniel, Angel dan Daddy nya jadi pusing membujuk Alina supaya mau makan.
Contoh nya saja seperti sekarang, Alina hanya sibuk menangis sambil memeluk foto Wiliam dan Rafa( untuk Rafa foto nya waktu masih usia 7 tahun).
Setelah sekian bujukan dilakukan oleh Daniel, Alina baru mau makan disuapi oleh Daniel.
"ya Allah, semoga aja abang cepat ketemu" batin Daniel.
BERSAMBUNG...
...🌷Bagi yang suka ceritanya jangan lupa like, komen, vote and favorit ya guys🌷...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Imam Sutoto Suro
good job thor lanjutkan seruuuu banget
2023-01-30
1
Novianti Ratnasari
senakal nakal nya ank ga baik lah di usir apa lagi masih di bawah umur.
2022-04-18
2
RyuuHae
cobalah berdamai dgn masa lalu n buka hati mu memaafkan mereka xel, jgn biarkan dendam menguasai diri yg berakhir penyesalan yg mendalam nantiny
2022-02-10
2