Tentang perasaan

...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...

...----------------...

Dua hari kemudian, Axel kembali ke Indonesia bersama Marsel. Untuk para anggota nya sudah kembali terlebih dahulu tapi hanya sebagian saja karena sebagian lain masih tetap tinggal disana untuk membantu yang lainnya karena masih dalam pengobatan. Axel juga memerintahkan untuk memperketat penjagaannya dan memperkuat pelatihan nya.

"bos, kemarin saya dapat telpon dari nona. Dia nanyain bos" ujar Marsel yang sudah berada di dalam jet pribadi bersama Axel.

Axel yang baru ingat hanya menghela nafas panjang karena sebelumnya ia tak sempat mengabarkan Bianca tentang keberangkatan nya yang mendadak.

"kenapa dia tidak menghubungi ku saja?" bingung Axel.

"katanya sudah bos, tapi bos nya aja yang kagak ngangkat" jelas Marsel memutar matanya melas.

"kenapa sih bos? kek gitu amat sama istri sendiri, panggilan dia aja kagak diangkat" heran Marsel yang tau harus berbuat apa lagi dengan sifat dingin dan tak kepedulian bos nya itu.

Axel hanya menampilkan muka papan datarnya bodoh amat mendengar celotehan asisten sekaligus tangan kanannya itu.

"saya sarankan ya bos. lebih baik bos itu jangan terlalu kasar dan dingin pada nona. apalagi noh muka papan datar kagak ada ekspresi sedikit pun. Kasian saya liat nona bos..." oceh Marsel mulai cerewet.

"kau dengar kan bos! saya gak mau ya kalau sampai nona minta pisah cuman gara gara gak tahan dengan sikap seperti ini padanya. Bos..." lalu Marsel menengok kearah sang bos, dan bam... ternyata bos nya itu malah tidur sambil bersedekap dada. Tanpa mempedulikan ocehannya.

Marsel langsung gregetan melihat bosnya itu malah tidur bukannya mendengar kan omongan nya.

"untung bos. kalau gak udah gue pelintir telinganya" gerutu Marsel dalam hatinya.

"kasian amat lu nona, kenapa gak sama gue aja ya nikahnya. pasti langsung bahagia" gumam Marsel yang tak sadar kalau sudah ditatap tajam oleh makhluk buas.

"kok gue jadi merinding ya" bingung Marsel sambil mengusap kuduk nya. Dan saat ia melihat kearah si bos. Ia baru sadar penyebab nya bos nya itu.

"eh, udah bangun bos" kikuk Marsel sambil garuk-garuk kepala tak gatal.

"kenapa tidak dari sebelumnya kau bilang? sekarang dia sudah jadi istri bos mu jadi jangan berharap ingin jadi pebinor" ketus Axel masih terdengar dingin.

Marsel sendiri hanya ternganga mendengarnya, karena ia gak nyangka bos nya itu mendengar gumam nya tadi. Tapi setelah itu Marsel langsung tersenyum licik.

"kau takut ya bos, makanya jangan terlalu dingin sama nona. kalau tidak nanti saya bakalan jadi pebinor" ejek Marsel masih tersenyum licik dan sedikit menggoda bos nya itu.

"coba saja kalau kau tak ingin ku buat jadi sate untuk makanan Joy" sinis Axel.

Marsel yang mendengarnya langsung ketakutan. Dan menatap memelas kearah bos kejamnya itu.

"kejam amat sih bos. asisten sendiri mau dijadiin sate" dramatis Marsel sok sedih.

Axel hanya acuh dan kembali memejamkan matanya karena perjalanan nya masih lama.

"selamat tidur bos laknat" ucap Marsel dalam hatinya.

Mungkin kalo Axel bisa mendengar nya pasti sudah menendang asisten kagak ada akhlak itu.

"kira kira nanti bos bisa jadi bucin gak ya pada nona bianca. penasaran gue" pikir Marsel sampai terbayang bayang oleh nya yang tidak tidak tentang Axel.

🌿🌿🌿

Di tempat keberadaan Bianca, ia terlihat sedang belanja di minimarket bersama Dinda.

"bii... emang kamu udah ada perasaan gitu sama suami kamu itu"

tanya Dinda yang sedang mendorong troli.

"perasaan apa maksud kamu Din?" bingung Bianca yang belum mengerti.

"gimana sih? itu aja kagak tau. itu lho maksudnya kamu udah ada rasa gak sama suami kamu. kamu cinta dan sayang gak sama suami kamu" jelas Dinda sedikit jengkel.

Bianca yang sudah mengerti hanya manggut-manggut saja.

"itu toh, aku pikir apaan"

"umm... gimana ya, belum jelas juga" pikir Bianca terlihat kebingungan.

Dinda yang melihat kebingungan Bianca hanya memutar matanya melas.

"kagak jelas"

"udah ah, sana bayar dulu belanjaan kamu"

Bianca hanya mengiyakan saja dan mendorong troli nya kearah kasir yang diikuti Dinda dibelakang.

Setelah belanjaan nya dihitung, Bianca langsung mengeluarkan black card yang dikasih sang suami.

Selesai pembayaran mereka pergi dari sana.

"kita langsung ke apartemen kamu kan" tanya Dinda yang sudah berada dalam mobil bersama Bianca.

"iya Din" angguk Bianca.

"oiya... Faisal pernah nelpon kamu gak bii?"

"pernah sih waktu itu"

"dia bilang apa sama kamu? apa dia ada gitu mau ngajak kamu ketemuan atau jalan jalan gitu"

"kagak Din"

Bianca yang ditanya begitu sedikit bingung.

"emng kenapa Din?"

"nanti ya kalau misalnya dia ngajak kamu jalan jangan mau, soalnya takutnya nanti ketahuan sama suami kamu. bisa mampus Faisal"

Bianca yang tadinya kebingungan langsung ketawa.

"pemikiran kamu ada ada aja Din, lagian aku juga bakalan nolak tapi kalau ada kamu mah gak papa. Dan satu lagi aku pasti minta izin dulu lah sama mas Axel"

"mana taun bii, aku kan cuman ngingetin doang, soalnya sepupu aku tu kan suka banget sama kamu" cemberut Dinda yang kesal karena ditertawakan oleh Bianca.

"iya iya tau kok"

angguk Bianca karena itu memang benar.

Karena keasyikan ngobrol tak terasa mereka sudah sampai didepan apartemen Bianca.

"gue benaran boleh masukkan, suami kamu gak marah kan bii?"

"boleh Din. dia gak bakalan marah kok. Lagian mas Axel gak ada didalam"

"ya udah deh"

Lalu Dinda membantu Bianca membawa barang belanjaan nya.

"emang suami kamu itu kemana sih? soalnya kemarin kamu bilang ia sudah tiga hari kagak kesini" heran Dinda sedikit kepo.

"kamu tau lah Din, dia itu siapa jadi wajar, mungkin aja lagi ada urusan bisnis" jawab Bianca seadanya. Walaupun sebenarnya ia juga kurang tau dengan jelas, karena saat bertanya pada Marsel asisten suaminya itu tidak terlalu dijelaskan hanya menyebutkan tempat keberadaan nya saja.

"iya sih" angguk Dinda.

"apa dia pernah ngajak kamu jalan jalan bii?" tanya Dinda lagi mulai penasaran.

Bianca hanya menggeleng saja karena memang tidak pernah.

"anjiiir...parah bener suami kamu itu bii"

"udah ah, gak usah ngomongin mas Axel lagi. Dosa tau"

"hmm"

Lalu Bianca melangkahkan kakinya kearah kulkas.

"bii...kamu juga pisah kamar ya sama Axel"

"iya Din"

Dinda hanya menatap kasihan pada sahabatnya itu.

"kasian amat kamu bi, gak dapat tidur seranjang sama cogan" celetuk Dinda sok sedih.

"biasa aja kok, kamu nya aja yang berlebihan" acuh Bianca.

"suami istri tapi gak kerasa seperti sepasang suami istri pada umumnya"

oceh Dinda lagi.

BERSAMBUNG...

...🌷Bagi yang suka ceritanya jangan lupa like, komen dan vote ya guys 🙏😁🌷...

Salam hangat dari author 😘😘

Terpopuler

Comments

febby fadila

febby fadila

kepo aja dinda

2024-12-24

0

miss see

miss see

kepoh sngt si Dinda

2023-11-07

1

Imam Sutoto Suro

Imam Sutoto Suro

nice thor lanjutkan seruuuu banget

2023-01-30

0

lihat semua
Episodes
1 Bianca & Axel
2 Merasa takut
3 Pernikahan
4 Di bentak
5 kekejaman Axel
6 Sebuah penyesalan
7 Bianca malu
8 Ketakutan
9 Kesedihan Keluarga Smith
10 Dinda kaget
11 Apa kau yakin?
12 Penyerangan
13 Tentang perasaan
14 Tak sanggup
15 Apa dia mulai gila?
16 Kanker otak stadium awal
17 Flashback
18 Gak mungkin
19 Asisten matre
20 Astaghfirullah
21 Kakek Leon minta cicit
22 Penyesalan sang mantan
23 Dicuekin
24 Dijemput suami
25 Liana sang mantan
26 Kemarahan Axel
27 Kaget
28 Cerewet
29 Masih perawan
30 Di ajak suami
31 Seperti kerbau
32 Yang penting nona bahagia
33 Meminta warisan
34 Eric Sanjaya
35 Tuduhan Bianca
36 Mengerjai istri
37 Berita heboh
38 Membantu keluarga Smith
39 Kakek Leon merajuk
40 Merasa bersalah
41 Apa dia marah padaku!!
42 Apa kau tuli!
43 Jaga ucapanmu!!
44 Malam pertama yang tertunda
45 Kekesalan Faisal
46 Kekhawatiran Axel
47 Pertanyaan konyol sang kakek
48 Lepasin!
49 Bianca kesal
50 Aneh
51 Cengeng
52 Axel jengah
53 Dasar Omes!
54 Bangga
55 Daniel Cengeng
56 Kagak! cari aja sendiri!
57 Hamil
58 Apa yang terjadi!
59 Maaf
60 Karena kau bajingan!
61 Kabar buruk
62 Memaafkan
63 Wiliam iri
64 Harus Sekarang
65 Penyiksaan Raditya
66 Dicurigai Istri Sendiri
67 Mantan Mafia Tapi Penakut
68 Rencana Liana
69 Hilang Sudah
70 Bimo
71 Tangisan Bianca
72 Marah
73 Minuman spesial
74 Bianca kecelakaan
75 Penyesalan Liana
76 Wiliam si perjaka tua
77 Arkansa Leon Alexander (END)
78 Pengumuman
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Bianca & Axel
2
Merasa takut
3
Pernikahan
4
Di bentak
5
kekejaman Axel
6
Sebuah penyesalan
7
Bianca malu
8
Ketakutan
9
Kesedihan Keluarga Smith
10
Dinda kaget
11
Apa kau yakin?
12
Penyerangan
13
Tentang perasaan
14
Tak sanggup
15
Apa dia mulai gila?
16
Kanker otak stadium awal
17
Flashback
18
Gak mungkin
19
Asisten matre
20
Astaghfirullah
21
Kakek Leon minta cicit
22
Penyesalan sang mantan
23
Dicuekin
24
Dijemput suami
25
Liana sang mantan
26
Kemarahan Axel
27
Kaget
28
Cerewet
29
Masih perawan
30
Di ajak suami
31
Seperti kerbau
32
Yang penting nona bahagia
33
Meminta warisan
34
Eric Sanjaya
35
Tuduhan Bianca
36
Mengerjai istri
37
Berita heboh
38
Membantu keluarga Smith
39
Kakek Leon merajuk
40
Merasa bersalah
41
Apa dia marah padaku!!
42
Apa kau tuli!
43
Jaga ucapanmu!!
44
Malam pertama yang tertunda
45
Kekesalan Faisal
46
Kekhawatiran Axel
47
Pertanyaan konyol sang kakek
48
Lepasin!
49
Bianca kesal
50
Aneh
51
Cengeng
52
Axel jengah
53
Dasar Omes!
54
Bangga
55
Daniel Cengeng
56
Kagak! cari aja sendiri!
57
Hamil
58
Apa yang terjadi!
59
Maaf
60
Karena kau bajingan!
61
Kabar buruk
62
Memaafkan
63
Wiliam iri
64
Harus Sekarang
65
Penyiksaan Raditya
66
Dicurigai Istri Sendiri
67
Mantan Mafia Tapi Penakut
68
Rencana Liana
69
Hilang Sudah
70
Bimo
71
Tangisan Bianca
72
Marah
73
Minuman spesial
74
Bianca kecelakaan
75
Penyesalan Liana
76
Wiliam si perjaka tua
77
Arkansa Leon Alexander (END)
78
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!