...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...
...----------------...
Hari ini Bianca akan pergi tempat tinggal suaminya karena ia akan tinggal di sana.
Bianca berpamitan pada kakek Leon dan juga para pelayan disana walaupun baru beberapa hari tinggal disana tapi sudah terasa nyaman seperti keluarga sendiri.
Axel yang sudah berada dekat mobilnya hanya menatap tak suka melihat Bianca.
Kakek Leon yang melihat tatapan tak suka cucunya itu kearah bianca langsung menegur nya.
"Itu mata mau kakek colok ya masak liatin istri begitu"
Axel hanya mendengus mendengar teguran kakeknya itu.
"awas kalo kamu berlaku kasar pada Bianca langsung kakek pecat jadi cucu!" ancam Kakek Leon karena ia sudah ada firasat mengatakan seperti apa nanti perlakuan cucunya itu terhadap Bianca yang sudah menjadi istri nya.
Axel tak menghiraukan ancaman kakek Leon, dengan acuh ia memasuki mobil bersama Bianca yang mengikuti masuk karena sudah selesai berpamitan.
"Kalo Axel jahat sama kamu langsung lawan saja yaa..."
kata Kakek Leon pada Bianca yang sudah berada dalam mobil.
Bianca hanya tersenyum mendengar perkataan kakek Leon.
Setelah itu mobilnya langsung pergi dari sana.
Selama dalam perjalanan mereka hanya diam tidak yang mau berbicara.
Sebenarnya Bianca mau bertanya sesuatu tapi tak jadi saat melihat suaminya itu memejamkan matanya sambil bersedekap dada.
Marsel yang berada di bangku pengemudi mulut sudah gatal pengen menyumpahi bos dinginnya itu.
"sibos parah bener gak ada niatan apa ngajak ngomong tu bini, cantik2 dianggurin, entah sampai kapan sibos kek gini.."
gumam Marsel yang sedang menyetir.
Tak lama setelah itu mereka sampai didepan apartemen Axel, sebenarnya Axel punya rumah pribadi atau lebih tepatnya mansion yang mewah tapi entah mengapa ia tidak membawa istri nya kesana malahan ke apartemen.
Keluar dari mobil Bianca langsung berjalan mengikuti Axel yang sudah pergi duluan tanpa mengajaknya.
Marsel yang berjalan dibelakang sambil membawa koper hanya mendesah lemas melihat sang bos.
"ck, dasar es"
Selama beberapa tahun ini ia bekerja bersama bosnya itu belum pernah ia melihat sibos tersenyum bahagia hanya senyuman iblis sering terlihat jika saat bersama musuhnya dan tampang dingin, datar serta kejamnya yang selalu ia dapatkan. Ada sih sesekali sibos jengkel terhadap dirinya tapi ya begitulah gak ada manis manis nya sedikit pun.
Tapi ia juga memaklumi penyebab sifat Bosnya seperti itu karena masa lalunya yang juga kejam.
Marsel hanya mampu menunggu sampai waktu nya bosnya bisa bahagia lagi dan melupakan masa lalunya.
Dan mungkin istrinya nanti bisa membuat perubahan pada bosnya itu.
Sampai didalam ruangannya, Marsel langsung meletakkan koper milik nona bianca.
"bos, saya permisi keluar bentar?" kata Marsel yang sebenarnya alasannya saja karena gak enak disana.
"hmm..."
Setelah itu Marsel langsung pergi dari sana.
"mas?" panggil Bianca yang sekarang sudah duduk dekat Axel.
"hmm..."
"apa aku boleh lanjutin kuliah?"
tanya Bianca agak takut.
Axel yang awalnya melihat tabletnya langsung melihat kearah Bianca dengan alis terangkat.
"terserah" acuh Axel yang kembali beralih melihat tablet nya.
Bianca yang mendengarnya hanya mendesah lemah.
Setelah itu ia beranjak mengambil koper nya dan membawa kekamar.
Axel yang melihat Bianca pergi kekamar langsung menghentikannya.
"Siapa suruh kau memasuki kamar itu?" bentak Axel sambil menatap tajam ke arah Bianca.
Bianca tentu saja kaget mendengar bentakan suaminya dan dengan cepat berbalik.
"terus yang mana?" tanya Bianca sedikit menunduk karena takut melihat tatapan mata suaminya itu. Karena ia pikir bakalan sekamar dengan suaminya itu.
"cari saja sendiri, ck..."
Setelah itu Axel langsung pergi memasuki kamar yang akan dimasuki Bianca tadi.
Dengan sedih Bianca berjalan menuju kamar satunya lagi.
🌿🌿🌿
Dikampus tempat Bianca biasanya kuliah, Dinda terlihat gelisah karena sudah hampir seminggu tak ada kabar dari sahabatnya Bianca. Masuk tidak ada, ditelpon juga gak aktif.
"ni anak kemana sih? bikin khawatir aja..."
Seorang gadis yang lagi duduk di sebelah nya hanya kebingungan melihat reaksi Dinda.
"lo kenapa? khawatir banget kayak nya?"
"itu lho fin, masak lo gak tau sahabat gue si bianca, dia udah lama gak masuk masuk di telpon juga gak diangkat, waktu itu dia pernah bilang lagi ada masalah tapi beberapa hari ini nomor nya gak aktif"
jelas Dinda tampak cemas.
"owh, gue pikir apaan. Coba aja lo liat kerumahnya biar jelas"
saran gadis yang bernama Fina itu.
"ck, itu masalahnya papa tirinya galak banget takut gue, liat muka nya aja males banget gue"
"kan kagak makan orang ngapain takut, lagian cuman nanya keadaan Bianca doang"
"iya sih, tapi males aja gitu liat muka tu orang selain galak dia juga jahat sama bianca, gue jadi kasihan sama Bianca"
"udah nanti lo kesana aja biar gak kepikiran lagi"
Dinda hanya mengangguk saja karena ia khawatir sekali sama Bianca, entah bagaimana keadaan sahabatnya itu sekarang.
"Din..." panggil seorang cowok yang sedang berjalan kearah tempat Dinda duduk.
"apa?" tanya Dinda agak lesu.
"Bianca mana sih kenapa gak masuk masuk juga? apa dia udah putus kuliah?"
tanya cowok itu.
"gak tau gue sal, gue juga lagi mikirin tu anak"
"lah lo kan sahabatnya masak gak tau sih?"
"lo pikir karena gue sahabat nya teruus gue tau semuanya,ck..."
Cowok yang dipanggil Faisal itu hanya cengengesan saja.
Bertanya soal Fina tadi, ia sudah pergi dari sana.
"padahal kan gue pengen nembak dia, udah terlanjur lama gue nahannya rasanya sudah pengen diungkapkan biar gue bisa tenang"
Kata Faisal agak sedih.
Dinda yang mendengarnya hanya mendengus.
"ck gaya lo mau nembak dari kemarin kemarin juga gitu ngomong nya tapi saat Bianca udah didepan mata gak punya nyali bilang nya" ejek Dinda.
"itu sebenarnya belum waktu yang tepat aja karena gue belum terlalu siap, tapi sekarang gue udah siap lahir batin"
elak Faisal.
"ye ye... yang sabar aja nanti kalo bianca nya ketemu langsung bilang biar gak nunda nunda lagi"
kata Dinda sambil menepuk bahu Faisal.
Selain temanan sebenarnya Dinda sama Faisal sepupuan makanya dekat banget.
Didapur Bianca terlihat sedang sibuk memasak untuk dirinya dan suaminya.
Tak lama selesai memasak Bianca langsung menghidangkan nya diatas meja makan.
lalu pergi ke depan pintu kamar suaminya saat akan mengetok nya pintu sudah terbuka duluan dan keluar Axel dengan pakaian rapi berwarna hitam semua.
"mas mau kemana berpakaian seperti ini?" tanya Bianca sedikit penasaran.
"bukan urusan mu" ketus Axel.
Lalu dengan acuh Axel berjalan melewati Bianca akan pergi keluar.
Melihat itu, Bianca dengan cepat memanggil suaminya itu.
"mas makan dulu, aku udah masak buat kamu "
ucap Bianca berharap suaminya itu mau memakannya.
"gak usah, saya mau makan diluar"
Mendengar jawaban dari suaminya itu, Bianca jadi sedih padahal ia udah susah buat masakan enak buat sang suami tapi suami tak menghargai sedikit pun.
Akhirnya, Bianca makan sendirian dengan wajah sedihnya.
BERSAMBUNG...
...🌷Bagi yang suka ceritanya jangan lupa like, komen dan vote ya guys 🙏😁🌷...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
febby fadila
sabar ya bi,yg kuat kamu pasti bisa
2024-12-24
0
Yunerty Blessa
sabar saja Bianca
2023-04-01
1
Anna Susiana
yang sabar ya Bi, mudah mudahan tu es kutub utara bisa cair dan bersikap baik
2023-03-31
0