...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...
...----------------...
Sebuah mobil sport mewah terlihat sedang melaju sedang dijalan raya yang cukup padat.
Didalamnya terlihat seorang pemuda tampan sedang sibuk mengotak ngatik tablet nya.
Dan di bagian kursi pengemudi seorang pria terlihat sedang fokus menyetir.
Mereka tidak lain adalah Axel dan Marsel.
"kita kemana dulu bos?" tanya Marsel sedikit melirik Axel lewat kaca.
"markas" jawab Axel singkat.
"ok, bos" Marsel langsung melajukan mobilnya menuju markas.
Sejam kemudian, mereka sampai di depan markas, dua pria yang menjadi penjaga didepan langsung menyambut Bos besar mereka dengan sopan.
"sel kau ikut dengan ku" perintah Axel yang sudah melangkah kan kaki nya kedalam markas.
"baik bos" patuh marsel dan langsung mengikuti langkah Axel.
Setelah masuk Axel langsung melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan bagian belakang.
Saat sudah sampai di sana, dua pria yang menjaga disana langsung menyambut Axel dengan sopan.
"bagaimana apa dia masih hidup?" tanya Axel dengan dingin yang terdengar sedikit kejam.
"masih bos, dia selalu berteriak seperti orang gila" jawab salah satu dari mereka.
"hmm...buka pintunya" perintah Axel.
"baik bos" patuh mereka dan langsung membuka kunci pintu nya.
"sel, kau tunggu disini" kata Axel pada Marsel yang sudah berdiri dibelakang nya.
"baik bos" patuh Marsel.
Setelah itu, Axel langsung melangkahkan kakinya memasuki ruangan gelap itu.
Lalu ia menjentikkan jarinya dan ruangan berubah menjadi terang.
Di sana ia melihat seorang pria sedang terbaring lemah diatas tempat tidur yang tak empuk nya sama sekali.
Melihat itu, Axel langsung menyeringai iblis, rasa nya sangat menyenangkan melihat kesengsaraan sang musuh walaupun kakak kandungnya sendiri.
Yap pria yang terbaring itu tidak lain adalah Wiliam Arnold Smith.
Dia tidak menyadari keberadaan Axel karena dia sedang tertidur lemas.
"bangun" panggil Axel dengan suara tegas dan dingin nya.
Karena melihat Wiliam tak kunjung bangun, Axel langsung memerintahkan salah satu anak buahnya mengambil air.
"siram" perintah Axel pada pria yang sudah membawa seember air.
Byuur...
Wiliam yang merasa dingin langsung tersadar. Dan melihat wajah Axel yang sedang menyeringai kearah nya.
"ka-u..." gagap Wiliam yang merasa lemas.
Axel hanya diam dan memerintahkan pria yang membawa air untuk keluar.
Lalu melangkahkan kakinya mendekati Wiliam yang masih terduduk lemas diatas tempat tidur yang sudah terlihat kotor.
"hm... bagaimana rasa menyakitkan bukan?" ejek Axel nada dingin nya.
Wiliam hanya menggertak kan rahangnya mendengar ejekan Axel. Ia sangat ingin sekali memukul wajah Axel tapi tidak bisa karena semua tubuhnya terasa lemas.
"heii... kenapa diam? kau tidak bisu kan?" ejek Axel lagi sambil tersenyum iblis.
"apa kau lapar,hm...?" tanya Axel masih terdengar mengejek.
Wiliam hanya diam sambil menatap tajam kearah Axel.
"baiklah sekarang langsung keinti nya saja" kata Axel sambil mengeluarkan sebuah foto dari saku jasnya.
"apa kau mengenal bocah ini?" tanya Axel masih dengan senyuman iblis nya.
Wiliam yang melihat bocah dalam foto itu langsung terbelalak. Karena bocah itu adiknya Rafasya masih yang masih berumur 6 tahun. Walaupun sudah sangat lama ia tetap masih mengingat dengan jelas.
"ka-u, dari ma-na kau men-dapatkan foto i-ni" kaget Wiliam sambil menatap curiga kearah Axel.
Axel terlihat acuh acuh saja, memang ia sengaja memperlihatkan foto dirinya masih kecil untuk melihat reaksi Wiliam.
Sebenarnya ia tidak terlalu membenci abang nya itu tapi karena abangnya itu sudah menjadi musuh bebuyutan nya didunia mafia jadi ia sedikit menyiksanya.
"kau mengenal nya?" tanya Axel pura pura tidak tau.
"tentu saja karena dia adalah adik kandung ku" jawab Wiliam sedikit meninggi kan suaranya walaupun masih terdengar lemas.
"apa kau yakin?" tanya Axel lagi sambil memicingkan matanya.
"tentu saja" jawab Wiliam sedikit melemah dan menundukkan kepalanya.
"hahaha...kau sungguh lucu?" tawa Axel yang terdengar sedikit menyedihkan.
"apa kau tidak ingat semua yang kau lakukan padanya, disaat dia tersiksa dan diusir kau sama sekali tidak membelanya dan kau malahan ikut ikutan menyudutkannya dan mengusir nya, dan sekarang kau mengaku dia adikmu, hahaha...gila"
tekan Axel dengan mata sudah memerah sambil tertawa miris bukan karena marah tapi karena menahan tangisnya saat mengingat semua masa lalunya.
Wiliam yang mendengar semuanya tentu saja sangat bingung dan juga sedih.
Bingung karena musuhnya itu mengetahui semuanya dan sedih mengingat apa yang ia lakukan terhadap sang adik.
"ka-u, dari kau bisa tau semuanya?" bingung Wiliam tampak curiga.
"ck, itu tidak perlu kau ketahui, karena kau juga tak perlu tau" dingin Axel.
"apa kau tau dimana dia?" tanya Wiliam dengan mata sudah berkaca-kaca.
Dia juga berharap Axel mengetahui nya karena selama ini ia sudah mencari sang adik tapi tidak ketemu sampai ia memasuki dunia mafia hanya untuk mencari keberadaan sang adik tapi nihil sampai sekarang pun ia tak menemukan informasi tentang adik nya itu sepersen pun.
Axel tak menjawab pertanyaan Wiliam dengan acuh ia melangkah kan kakinya keluar dari ruangan itu.
"kalian bersihkan ruangan ini dan beri dia makanan" perintah Axel pada kedua anggota nya itu.
"sel kita langsung kekantor" kata Axel pada Marsel sambil melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Marsel hanya mengikuti perintah bos nya itu.
🌿🌿🌿
Di depan apartemen, Bianca terlihat keluar dari sebuah mobil bersama Dinda.
"jadi kamu tinggal disini bi?" kata Dinda sambil menatap kearah apartemen tempat tinggal sang sahabat.
"iya Din. Emang kenapa?"
"gak papa bi, aku pikir kamu tinggal di mansion mewah soalnya kan suami kamu sultan"
Bianca hanya terkekeh pelan mendengar penuturan Dinda.
"masuk yuk?" aja Bianca.
"gak usah deh bi, takutnya nanti suami kamu ada didalam" tolak Dinda yang terlihat sedikit takut.
"kagak Din, soalnya mobilnya gak ada disini" ujar Bianca saat tak melihat mobil Axel yang berarti suaminya itu masih diluar sana.
"umm...gak usah deh bi, kapan-kapan aja deh" tolak Dinda lagi.
"ya udah" pasrah Bianca, lagian ia juga tak memaksa sahabatnya itu masuk.
"kalo gitu aku balik dulu ya bi" pamit Dinda yang akan memasuki mobil.
"iya hati hati dijalan" jawab Bianca sambil tersenyum.
"iya cuyuung ku" balas Dinda sambil melambaikan tangan nya.
Bianca juga membalas lambaian nya sambil tersenyum.
Saat tak melihat mobil Dinda lagi, Bianca baru melangkahkan kakinya memasuki apartemen.
Ditempat Wiliam tadi, ia masih melamun setelah selesai mengisi perut nya dengan makanan yang diantarkan anak buah Axel.
Ruangan itu juga sudah terlihat bersih, Wiliam juga mulai sedikit nyaman.
"sebenarnya apa hubungan Axel dengan Rafa, apa mereka berteman atau saudara angkat"
pikir Wiliam.
"Atau jangan-jangan Axel itu Rafa , tapi...mana mungkin"
tebak Wiliam.
BERSAMBUNG...
Biar para readers tambah semangat membacanya, author kasih Visual Axel sama Bianca😁🤭
Semoga suka 😊
...🌷Bagi yang suka ceritanya jangan lupa like, komen dan vote ya guys 🙏😁🌷...
Salam hangat dari author 😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Yani Vmin
Oh sehun , member exo ,
2024-12-23
0
febby fadila
visualx mantp
2024-12-24
0
Yunerty Blessa
mantap visualnya..tampan dan cantik.. memang padan
2023-04-01
1