Ketika Aminah dan Raina sedang mengobrol sambil berjalan beriringan tiba-tiba di kagetkan, “Baa”, oleh Alika dari belakang. Membuat mereka hampir jantungan lalu berteriak, Alika!”, kemudian berpelukan.
“Kamu kemana saja?”, tanya Raina.
“Aku itu berlibur ikut aunty”, jawab Alika dengan menutupi semua masalah yang terjadi.
“Berlibur kok sampai ponselnya tidak aktif, melewati batas libur sekolah yang hampir mau satu bulan, terus kak Denis itu.. “,omelan Aminah dipotong oleh Raina dan mengajak Alika masuk ke kelas dengan menarik lengannya. Aminah cemberut saat sedang mengeluarkan unek-unek malah dipotong oleh Raina. “uhh..ahh”, desah Aminah dan menyembul rambut poninya dengan mengikuti mereka dari belakang.
Tasya yang asyik menyeruput kopi saat berjalan melihat Denis lalu berteriak memanggilnya, “Denis! Denis!”, sambil berlari dan langsung merangkul lengannya. Teman disebelahnya menyapa Tasya, “Pagi Sya”, sapa balik dari Tasya, “Pagi juga kak Harry”, dengan senyum.
“Kak Denis nanti ada ulangan tidak?”, tanya Tasya.
“Tidak”, jawab Denis dengan malas sambil berjalan menuju kelas.
“Kalau begitu kita jalan-jalan mengulang moment kemarin, yuk”, ajak Tasya. Teman disebelahnya menggoda, “ciee.., jangan-jangan kalian sudah akur nih”, dengan kekehan. Denis mengumpat teman sebelahnya, “Bre**sek”, dan Harry ikut-ikutan menggoda, “Wahh, berarti nanti minta traktiran dong”, ucapnya sambil pamit, “Kami pergi dahulu, takut mengganggu”, tawa dua teman Denis dengan berlari.
“Kamu itu apaan sih Sya, yang kemarin itu hanya kebetulan saja. Karena aku kasihan saja saat melihat wanita menangis. So, kamu jangan kegeeran”, ucap Denis dengan melepaskan rangkulan lengan milik Tasya dan meninggalkannya.
“Tidak apa-apa Tasya, kamu harus berjuang mendapatkan pangeran pujaan hati. Kamu pasti bisa menaklukan. Dahulu saja bisa menaklukan monyet masa pangeran tidak bisa”, batin Tasya dengan menyemangati diri sendiri.
Jam istirahat berbunyi Alika, Aminah, dan Raina sedang duduk menunggu makanan yang di pesannya datang dengan sambil mengobrol dengan penuh kerinduan dengan Alika.
“Lik, kamu harus menceritakan liburan kamu dan kenapa tidak bisa dihubungi. Kasihan lho si kapten basket selalu nyariin kamu”, ucap Aminah
“Iya lik, dia datang selalu saja tidak dapat info apa-apa hanya adanya kamu pergi keluar negeri dengan aunty Liana”, nimbrung Riana.
“Baiklah akan aku ceritakan, pada zaman dahulu kala ada seorang putri cantik..”, cerita Alika yang akan dilontarkan terpotong dengan suara teriakan kedua temannya, “Alika!”, di telinga kanan dan kiri membuat keduanya berdengung gara-gara teriakan mereka.
“Kalian jangan teriak dekat telinga dong, telingaku jadi berdengung”, kesal Alika
“Salahkan diri kamu”, ucap Aminah tidak terima.
“Ceritakan Alika manis dan serius”, geram Aminah
Pada saat diselingan obrolan makanan datang dan mereka menyicipi kuah bakso dan dilanjutkan cerita yang belum terlontar satu kata pun dari Alika.
“ Apa tidak bisakah ditunda dahulu. Kita nikmati maknannya mumpung masih anget”
“Tidak bisa”, bantah Aminah sambil mengunyah bakso.
“Ayo Alika”, bujuk Raina
“Kan sambil makan bisa”, ucap Aminah.
“Iya, iya, aku itu diajak aunty Liana ke luar negeri di kota Berlin ke rumah milik Lucas. Rumahnya besar dan mewah seperti hampir kayak mall pokoknya. Di sana ponselku sengaja aku matikan karena aku ingin menikmati indahnya kota Berlin di setaip penghujung liburan..”, jeda Alika kembali makan baksonya.
“Berarti kamu di sana bertemu terus dong dengan bule ganteng”, ucap Aminah lalu diangguki oleh Alika sambil menyeruput es teh.
“Kota Berlin apakah sangat indah seperti di informasikan dalam pencarian internet kayak artikel gitu?”, tanya Raina dengan penasaran.
“Iya, kota Berlin itu indah aku diajak Lucas mengunjungi taman bermain, naik kincir angin, ke pusat mural dan lain-lain”, ucap Alika
“Jika kau ceritakan sangat panjang Min, Rain”, lanjut Alika.
“Aku senang mendengarnya, yang penting kamu selamat dan masih sehat”, ucap Raina berpelukan dan diikuti oleh Aminah untuk melepaskan rindu. Anisa yang berada di meja sebelahnya mengatakan dengan suara lirih, “alay”, dengan wajah sinis dan beranjak pergi bersama dua krucunya.
Ketika pulang Axel menghampiri Alika ke kelas. Dengan meminta waktunya untuk mengobrol di luar dan diangguki oleh Alika.
“Alika, syukurlah kamu sudah kembali.., apa kamu ada waktu untuk kita mengobrol?”, ucap Adit dan bertanya.
“Ya, tentu”, ucap Alika.
“Bagaimana kalau ke cafe”, tawar Axel yang diangguki Alika sambil menggendong tas ransel.
Kedua temannya yang di samping Alika menggoda, “cieee”.
“Ada orang yang rindu nih”, ucap Aminah dengan menggoda dan menaik turunkan kedua alisnya.
“Diamlah, Min”, ancam Alika sambil pergi berjalan dengan diikuti Axel dari belakang. Namun sayang, Alika dicegah oleh kedatangan Lucas membuat Axel bingung. Sedangkan Anisa yang berada di ujung tersenyum sinis dan mendekati Axel dengan menyuruh dua kruculnya untuk kembali duluan.
“Itu Alika, sedang berjalan beriringan dengan pria. Oh shit”, batin Lucas sambil memukul setir mobil lalu turun mencekal lengan Alika. Raina dan Aminah mengikuti dari belakang terkejut.
“Masuklah”, ajak Lucas. Namun Alika menghempaskan tangan Lucas yang mencekal lengannya.
“Anda siapa?”, tanya Axel dengan heran.
Entah persetan apa, Lucas mulai geram dan membentak Alika, “Masuk!”, perintahnya. Axel masih kekeh untuk meminta pria dewasa itu melepaskan cekalan dari lengan Alika yang terus memberontak. “Lepaskan tuan”, geram Axel. Mereka menjadi pusat perhatian para siswa di area parkir. Namun Lucas tidak pedulikan.
“Kamu jangan ikut campur”, geram Lucas dengan mata menyalang.
“Maaf tuan tolong lepaskan tangan pacar saya”, Anisa ikut menimbrung seperti pahlawan.
Raina dan Aminah tidak bisa berkutat apapun. Mereka malah saling berbisik di tengah perseteruan mereka.
“Rain sepertinya ada perang dunia ke dua deh”
“Iya, kita harus bagaiman nih?”
“Coba pikirkan, sebelum ada guru genit datang”, rasa khawatir Raina.
Pada saat Aminah dan Raina berbisik tiba-tiba Daniel datang ikut membantu Lucas. Itupun lebih mengejutkan bagi Aminah sama Raina.
“Maaf bukannya saya ikut campur tolong anda mengalah. Biarkan dia ikut bersama Mr. Lucas. Lihatlah kalian jadi pusat perhatian, apa tidak malu”, bela Daniel untuk Lucas. Perlahan tangan milik Axel terlepas dari lengan Alika dan Lucas. Kemudian Lucas menyeret Alika masuk dengan tatapan marah dan kosong.
Semua murid bubar kecuali siswi-siswi kecentilan mengerubungi Daniel untuk minta foto. Ia hari ini terlihat menawan dengan kemeja hitam menggulung di lengannya. Sedangkan Aminah tidak pedulikan dan berjalan menuju depan gerbang sekolah dengan disusul Daniel yang terlepas dari kerumunan para gadis SMU.
Di dalam mobil Alika menumpahkan semua marahnya dengan berteriak namun Lucas tidak mempedulikan dan tetap fokus menyetir.
“Arghhhh, aku sudah bilang padamu kalau aku membencimu, benci, benci!”, sambil memukul lengan Lucas dengan tangisan menderai. Isakan tangisan Alika membuat Lucas tidak tahan lalu ia membawa Alika ke hotel dengan memakaikakan jas untuk menutupi seragam sekolahnya lalu menggendong seperti karung dan terus meronta juga memukul punggung Lucas.
Saat tiba di kamar hotel Lucas melemparkan tubuh Alika di ranjang king size dengan sedikit merintih. Lalu Lucas mendekati dengan mengurung Alika di bawahnya dan menciumi ditengah isak tangis dengan dalam. Isakan tangisan berubah menjadi suatu lenguhan karena sentuhan Lucas di setiap tubuhnya. Lucas merasa puas dan tidak peduli dengan kemarahan Alika nantinya. Dia terus memberikan sentuhan-sentuhan geli membuat Alika bergerak tak karuan. Kenikmatan surga dunia dirasakan oleh dua sejoli yang tadi berantem menjadi sesuatu yang nikmat untuk mereka dengan macam gaya hingga terkulai lemas diatas ranjang. Lucas tidak lupa mengecup kening sebelum ikut terbaring. Mereka tertidur lelap di alam bawah sadar karena lelah berhubungan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments