Aminah berjalan menuju ke rumah yang sudah lama dia tinggali dan lansung berteriak dari luar memanggil simbahnya yang sedang menikmati siaran tv adegan comedy yang diperankan Sule dan sahabat lainnya.
“Simbahhhh!!”, teriak Aminah dengan suara Cemprengny. Membuat simbah Nela kaget. Aminah langsung memeluk simbahnya dan menciumi pipi kanan-kiri.
“Kamu itu kenapa?”, tanya simbah Nela yang sedang menyusur mbako dimulutnya.
“Aku kangen mbah denganmu”, ucap Aminah yang masih memeluk mbahnya.
“Aminah! Kamu sedang ngapain sih?”, heran maminya.
“Aku sedang meluk. Pakai di tanya”, ucap Aminah
“Ka.mu mulai nakal ya”, marah sang mami sambil menarik telinganya.
“auchh...mi jangan tarik telinga Aminah! Sakit tahu!”, adu Aminah sambil marah lalu menghempaskan tangannya.
“Mbah lihat mami itu seperti ibu tiri. Bagaiman nasib cucumu yang selalu dianiaya olehnya. Belain dong mbah jangan ketawa”, ucap Aminah dengan mengadu simbahnya.
“Sudah kalian itu sudah dewasa jangan bertengkar. Mbahmu ini lagi liat Sule nanti ketinggalan tiap adegan yang dimainkannya”, ucap simbah Nela
“Kalian keluarlah mabh lagi nikmatinya!”, usir mbah Nela
Aminah merajuk dengan menghentakkan kakinya dan bernyanyi dengan dramatis yang diikuti maminya. “Malangnya nasib aku bagaikan lentera yang sendirian dengan teraniaya dari pihak ibu tiri sana sini aku selalu jadi orang bagai kan angsa yang tak ternilai, huhu.. Aduh..huhu, nasibku... Huhu..nasibku”, nyanyian cempreng Aminah dan karangannya sendiri membuat Wulan menutup telinganya dan langsung berlalu pergi karena kesal melihat anaknya gak pernah nurut kepadanya.
Raina yang berada di pelataran sedang menyiram bunga melihat Wulan menggerutu sendiri membuat Raina harus bertanya, “ada apa tante?”.
“Itu Aminah bimin tante kesal terus. Pulang-pulang membuat tante jengke. Lebih baik tante menyuruh Daniel buat bersamanya”, omel Wulan
“Aminah sudah kembal?”, tanya Raina yang dianggukin oleh Wulan.
“Oh ya, mamah kamu di rumah?”, tanya Wulan mengalihkan obrolan.
“Iya, dia sedang bersama ibu-ibu lain”, jawab Raina. Lalu Wulan langsung pamit izin masuk yang diangguki Raina.
Ketika Raina mematikan kran suara panggilan keras dan cempreng langsung menoleh.
“Raina!”, panggil Aminah dengan suara keras
“Bagaimana?”, tanya Raina
“Bagaimana? Apa”, ucap Aminah bingung. Raina langsung menarik lengan Aminah untuk duduk di depan rumah. Lalu menanyakn dia saat bersama Daniel. Karena Raina sudah tahu rahasia temannya jika Daniel menikahi sahabatnya dengan memaksa saat ia masih menginjak kelas 3 SMP.
“Bagaimana kamu dengan Daniel?”, tanya Raina dengan penasaran.
“Aku dengan pria iblis itu..,” Aminah menjawab menggantung dan meminta Raina untuk bawakan camilan dan minuman sebelum ceritanya berlanjut, “Rain, aku akan ceritakan tapi aku haus dan lapar beri aku camilan dan minuman dong”, ucap Aminah yang tak tahu malu.
“Ck..”, decak Raina, “Baiklah, kamu harus menceritakan, aku kepo Min”, ucap Raina sambil beranjak dari duduk lalu masuk ke rumah dengan berganti pakaian. Bukannya mengambilkan minum Raina malah menari tangan Aminah membuatnya kesal.
“Rain, kamu kok lama amat cuman ngambilin minum dan camilan”, omel Aminah yang lansung di tarik lengannya berjalan ke arah pangkalan ojek di depan perumahan.
“Apaan sih, Rain!”, kesal Aminah dengan menghempaskan tangannya.
“Aku mau ngajak kamu pergi keluar buat ngobrolin kamu dengan Daniel”, ucap Raina
“Terus yang bayarin siapa?”, tanya Aminah
“Biar, aku yang traktir”, ucap Raina menawarakannya.
“Baiklah, jadi ngojeknya kamu yang bayarin ya”, ucap Aminah dengan semangat. “Kamu tahu kan aku gak bawa dompet”, memelas Aminah dengan wajah ditekuk.
“Iya, bawel”, ucap Raina menarik tangan Aminah.
Sedangkan hari ini adalah menjelang pernikahan Alika dan Lucas tanpa sepengetahuan temannya di Indonesia. Lucas saat ini sedang berbahagia dan berbanding terbalik dengan Alika yang bingung.
Ketika Liana masuk Alika sudah banyak pertanyaan untuk dilontarkan buat aunty-nya.
“Sayang kamu terlihat cantik, anggun, dan elegan”, puji Liana sambil mengusap pipinya penuh kasih sayang.
“Aunty...ehmm..”, ucapan Alika terjeda karena Denis masuk saat akan melontarkan begitu banyal pertanyaa.
“Hai girl, kamu sangat manis hari ini. Oh ya, mom, aku di suruh petugas untuk segerah bersiap. Aku tinggal dulu ya mom. Alika kak Denis tunggu di luar”, ucap Denis menutup pintu dan berjalan duduk dekat dengan daddynya yang membicarakan bisnis.
“Apa kamu sudah beritahu momymu?”, tanya Abrahama yang diangguki Denia lalu beranjak ke depan pintu pelataran pengantin.
MC mulai penyambutan untuk para tamu undangan pernikahan yang dilakukan Lucas. Para tamu undangan menyambut dengan baik yang dihadiri keluarga dan kolega. MC lalu memberikan beberapa patah kata dan memanggil pengantin pria. Sedangkan Lucas sudah tidak sabar dan gugul begitupun Alika yang sejak tadi gugup dan bingung apa yang direncanakan auntynya dan Lucas.
“Selamat pagi para undangan, terima kasih atas sekalian yang sudah datang diacara momen bahagia dari keluarga Eleazhar. Semoga mereka selalu diberkati hingga sampai ajal menjemput. Kita langsung saja panggil pengatin pria menaiki pelataran pernikahan yaitu Lucas”, ucap MC yang disambut Para tamu undangan berdiri memberi sambutan momen bahagia begitupun dengan orang tuanya Lucas.
“Aunty, aku mau tanya sebelum menjeda pertanyaanku”, jeda Alika yang membuat Liana penasaran dan harapan Alika tidak bertanya banyak soal pesta ini. Dia juga berharap akan cepat ada orang sebelum Alika melontarkan pertanyaan yang curiga buat Alika. “Aunty ini..maksud aku, kenapa aku di dandanin seperti pengantin? Sejak tadi aku bingung dan para penata rias hanya memberi senyuman. Apa aunty tahu maksud semua ini?”, tanya Alika yang bertubi-tubi dan bingung.
Liana akhirnya yang dikhawatirkan terjawab, dia harus memberikan kalimat seperti apa agar Alika mau mengerti. Ketika Lianan diam, Alika memanggil, “aunty!aunty!”, panggilan Alika dua kali.
“Ya...ya sayang. Aunty akan jawab ta..tapi kamu harus janji jika kamu mendengarkan inj tidak boleh marah dengan aunty, uncle Abraham maupun Kak Denis”, ucap Liana dengan mewanti-wanti yang daingguki Alika
“Sebenarnya..”, ucapan Liana terpotong karena tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar, “tok, tok, tok”.
“Ya!”, teriak Liana. Petugas dari acara memberitahukan bahwa mereka segerah untuk keluar.
“Baiklah”, ucap Liana.
“Sayang kita sudah di suruh keluar, Nak”, ucap Liana
“Ayo gandeng lengan aunty”, ajak Liana dan berjalan beriringan. Alika menaikkan sedikit gaun pengantin yang membuatnya sejak tadi bingung. Apa yang direncanakan Lucas bersama keluarga Abraham. Alika tidak tahu harus apa dan bagaimana. Kenyataanya saat bergandeng tangan deng Abraham tiba-tiba Alika terkejut dari lamunannya yang di sambut begitu banyak tamu dan petugas pengantin. Alika mulai menyadari lalu akan meninggalkan tempat sebelum menerima bunga dari Lucas tetapi acara kaburnya, tangannya di cekal oleh Lucas hingga menabrak dada bidangnya.
“Apa yang kamu lakukan uncle”, bisik Alika dengan mata berair.
“Aku melakukan yang terbaik. Jangan buat orang lain malu karena sikap kekanakan kamu”, bisik Lucas dengan dingin sambil memeluk erat Alika agar tidak kabur.
“Le...lepasin Lucas. Sikap kekanakan itu kamu. Tanpa persetujuan aku, kamu memutuskan sendiri. Aku benci kamu”, bisik Alika dengan air mata menetes.
“Simpan kebencian kamu. Lihatlah keluarga Abraham yang sudah berjasa mereka terlihat senang. Apa kamu mau mengecewakan mereka?”, ucap Lucas dengan gigi mengetat dan dingin.
“Hapuslah air mata kamu”, bisik Lucas
Para tamu undangan yang menyaksikan heran dengan kedua pengantin dan pada akhirnya kecurigaan tamu terhempas melihat sepasang pengantin menuju ke tempat dimana mereka akn mengucapkan janji suci di depan semua keluarganya.
Pada akhir ucapan janji suci semua undangan bertepuk meriah begitu juga ibu Lucas menangis bahagia melihat anaknya yang keras kepala seperti daddynya yang suka memaksa. Lucas dan Alika sekarang memiliki status suami istri. Para tamu undangan memberikan selamat dan dilanjutkan sesi photo. Setelah selesai acara Lucas membawa Alika pergi ke manshion yang lebih megah dari sebelumnya yang mereka tempati dengan banyak pengawal dan pembantu. Sesampainya di kamar Alika menagis dan marah sedangkan Lucas membiarkan Alika meluapkan kemarahan kepadanya.
“Lucas kamu kejam!”
“Aku benci kamu!”
“huhu”
“A..aku ma..sih ingin berkarir. Ka..ka..kamu sudah meng..menghancurkan mimpiku”, kesal Alika dengan penuh amarah dan memukul dada Lucas yang langsung di tarik lengan oleh Lucas lalu memeluknya. Isak tangis rasa marah pecah di dalam pelukan Lucas dan diakhiri Alika pingsan. Membuat Lucas kelimpungan dan lansung memanggil dokter secepatnya. Rasa khawatir di malam pertama Lucas di penuhi kesedihan dari Alika karena keegoisannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments