“Hu.. Hu.. Hu..”, seorang gadis kecil berumur 12 tahun menangis di depan tubuh neneknya yang lemas.
“Nenek bangun!”, panggil cucunya yang terisak dengan menggoyangkan tubuh yang tidak berdaya.
“Bangun!”
“Bangun Nek!”
Gadis kecil itu meminta tolong pada orang-orang disekitarnya namun tidak ada yang mengasihaninya. Dia berlari mencari bantuan untuk membawa neneknya berobat. Namun tidak ada yang berani dan menolongnya.
Gadis kecil itu terus berlari tanpa pantang menyerah dan tidak melihat ke depan ada mobil yang melaju kearahnya karena pikirannya sedang kalut untuk mendaptakan pertolongan dari orang-orang disekitarnya untuk menolong neneknya yang tergeletak lemah di pinggir jalan. Mobil itu terus melaju melesat dan gadis kecil itu hampir tertabrak jika tidak ada orang yang menyeleamatkan. Laki-laki itu lengannya sedikit terluka sedangkan gadis kecil itu menangis dan meminta maaf.
“Hai, are you ok sweet girl”
“Mr, tolongin nenek saya. Dia sakit-sakitan karena bekerja untuk aku sekarang dia terbaring di emper warung”, dengan sesegukan
Laki-laki itu belum memahami yang dibicarakan oleh gadis kecil itu namun dia akan menawari bantuan.
“Baiklah dimana nenek kamu?”
Gadis kecil itu menarik tangan milik laki-laki turis berjalan ke emper warung yang belum di tempati.
“Itu nenek saya Mr”.
“Okay, you calm down. I will call an ambulance to take your grandmother to the hospital”.
“Thank you Mr”.
Beberapa menit kemudian ambulan datang dan mengangkat nenek Khodtijah ke mobil ambulan. Gadis kecil dan laki-laki turis ikut naik ke ambulan menuju ke rumah sakit.
Sedangkan teman Lucas yang berada di cafe masih menunggunya begitu lama dan akhirnya Abraham menghubungi Lucas.
Suara deringan ponsel di saku celana kanan Lucas terus bergetar lalu ia mengangkatnya di samping Alika yang masih terisak.
“Hallo Lucas, kamu dimana?”
“I’m sorry Abraham, ada sedikit masalah jadi aku tidak bisa menemui kamu”.
“Baiklah, jika begitu tidak masalah, kamu selesain dulu masalah kamu baru kita jadwalkan lagi pertemuan”.
“Thank you, Abraham”.
Setelah selesai memberitahu Abraham Lucas memasukkan ponselnya ke dalam saku celana kanannya dan masih menunggui dokter di ruang ICU. Alika tertidur pulas di pangkuan Lucas. Lucas mengusap wajahnya dan mengamati seluruh wajah mungil gadis kecil itu yang terlelap di pangkuannya dengan menelisik. “Hai nak, di balik wajah kotor kamu ternyata wajahmu sunggu cantik”, batin Lucas dengan tersenyum tipis.
Satu setengah jam kemudian dokter keluar dari ruang ICU dan menanyakan wali dari nenek itu.
“Dimana walinya?”
Gadis kecil itu yang terlelap lalalu bangun mendengar suara bariton dari sang dokter. Alika bertanya, “Dokter bagaimana keadaan nenek saya?”
Dokter menjawab dengan wajah sedih, “Tunggulah nenek kamu akan bangun nak. Tapi saya harus berbicara kepada orang tua kamu. Dimana orang tua kamu?” ucap dokter yang sedang berjongkok.
Alika yang di tanya hanya diam membuat turis di sebelahnya mau tidak mau membantunya. “Dokter apa kita bisa bicara di ruangan anda?” ajak Lucas.
“Baik mari mr”, ajak dokter dengan sopan.
Sebelum pergi Lucas memberi tahu pada gadis kecil itu, “Nak, tunggulah nenek kamu baik-baik saja”,dengan memberikan senyuman hangat pada Alika. Dia menganggukkan kepala yang dikatakan mr turis itu.
Alika masih duduk meungg mr turis itu datang kembali dengan sambil berdoa, “Tuhan bantulah nenek saya untuk sembuh dari penyakitnya . Aku berharap Tuhan mengabulkan do’aku. Amin”, kata hati Alika.
Sepuluh menit kemudian Lucas menghampiri Alika yang duduk dengan wajah penuh debu. Alika menghampiri mr.turis itu.
“Nenek kamu baik-baik saja. Dia sebentar lagi akan bangun”, kata Lucas dengan berjongkok dan mengusap wajahnya yang ditutupi banyak debu.
“Bagaimana jika sambil menunggu kita makan kasihan perut kamu nak”, ajak Luca yang diangguki oleh Alika. Lucas menuntunnya sampai pada resto terdekat dengan rumah sakit inap neneknya.
Lucas mencari tempat duduk dan memesan makanan. Salah satu pelayan resto menghampiri.
“Is there anything i can help you sir?”, tanya pelayan dengan fasih bahasa.
“Ya, kami mau pesan satu paket A plush minumannya”, pesan Lucas
“Baiklah tuan, silahkan ditunggu”, kata pelayan sambil berlalu
Sambil menunggu makanan Lucas membuka pembicaraan.
“Hai nak, nama kamu siapa?”
“My name is Alika”, dengan senyum manis membuat Lucas yang berumur dua puluh tahun hatinya terasa tersentuh melihat wajah cerianya.
“Nama uncle siapa?”
“Nama saya Lucas, sweety”
Alika hanya ber-oh ria tanpa menanyakan kembali. Karena Alika belum bisa mengucapkan bahasa inggris dengan baik. Setelah perkenalan nama mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing dan Lucas memandang wajah gugup gadis di depannya dengan sesikit senyuman tipis yang tak terlihat karena tertutupi jari telunjuk di dekat bibir.
Kemudian datanglah sang pelayan membawa makanan yang di pesan. Lucas mempersilahkan Alika untuk makan lalu Alika berdoa dan memakannya dengan lahap seperti tiga hari tidak makan.
Lucas yang sejak tadi memperhatikan Alika makan dengan nikmat begitu menggemaskan baginya. Lucas memberikan tisu untuknya karena blepotan denagn cara dia makan. Setelah selesai menyelesaikan makan Lucas mengantar Alika menuju ruang inap lalu berpamitan kepadanya.
“Saya pulang dulu ya Alika dan kamu tungguin nenek kamu sampai ia bangun esok paginya. Kamu juga tidak perlu khawatir biaya administrasi sudah uncle bayarkan”.
“Thank you uncle”, ucap Alika dan sebagai tanda terima kasih dia mengecup pipi milik Lucas dan ia terkejut namun ciuman itu membuat hatinya tersentuh yang belum pernah ia rasakan meskipun pernah dicium oleh anak Abraham atau adiknya belum pernah merasakan aliran listrik yang menghangatkan hatinya sejak dua puluh tahun lamanya setelah tragedi saling membunuh antar keluarga yang membuat dirinya tidak percaya lagi dengan arti keluarga di kehidupannya.
Sejak itulah Lucas kembali mencari gadis kecil yang dirindukannya ketika mengingat ciuman dan pelukan hangat bagaikan percikan aliran listrik di tubuhnya yang begitu nyaman.
Setelah menemukan keberadaam gadis itu, Lucas meminta bantuan Abraham untuk memberikan tumpangan kepadanya dan mengangkat gadis itu bersama neneknya menjadi keluarganya.
Lucas juga mengatakan bahwa dirinya yang akan menanggung segala kebutuhan gadis itu bernama neneknya.
Lalu Abraham mengiyakan permohonan Lucas. Kemudian Abraham bersama Liana menjemput Alika di sebuah perkampungan yang kumuh dan membawanya pulang bersama neneknya.
Sampai di rumah, Liana membersihkan seluruh kotoran di tubuh Alika dengan sepenuh hati. Sebab dahulu Liana ingin memiliki anak seorang cewek namun belum di kasih oleh yang kuasa.
Setelah memandikan Liana memberikan makan begitu juga dengan neneknya.
Usai lewat beberapa hari, Lucas menemui Alika. Ketika pertama kali melihat Alika dari tangga Lucas menyapanya dan ia tersenyum hangat kemudian memberikan pelukan lalu bermain bersama seharian sampai Lucas kembali lagi ke negara asalnya.
Keluarga Abraham menerima Alika seperti putri kandungnya sampai ia beranjak remaja dan neneknya menghembuskan nafas terakhir. Namun kasih sayang yang diberikan keluarga Abraham yang diberikan oleh Alika tidak luntur tetap memberikan yang terbaik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments