Episode 9

Di SMU N Nusa 45 sedang melakukan pertandingan dengan SMU N 25. Para siswa sedang bersorak mendukung para pemain di sekolah masing-masing.

“ Go..Ale.. Ale.. Nusa 45 pasti menang”, suara nyanyian para pendukung Nusa 45 dan bersahutan lagu dari SMU N 25. Mereka tidak kalah seru untuk memberi semangat begitupun kehebohan Aminah. Ia berteriak dengan suara cempereng, “Nusa 45 pasti menang!!”, membuat Alika dan Raina di sampingnya gendangnya hampir mau pecah.

“Aminah jangan teriak-teriak. Lebih baik nonton saja”, ucap Raina

“Aku kan lagi nyemangatin pangeran berkuda putih”, jawab Aminah dan berteriak kembali, “Axel kamu pasti menangggg!!”, kemudian lelah berteriak dan minum susu. Orang-orang yang duduk dekat sekitar Aminah melototinya namun dia abaikan dengan masa bodohnya.

Pertandingan quarter pertama dengan skor sama wasit yang memipin jalannya pertandingan membunyikan peluitnya, “pritttt”,pertanda pertandingan pertama telah usai. Mereka diberi waktu 10 menit untuk beristirahat.

Pak Doni selaku pelatih Nusa 45 memberi arahan pada anak didiknya.

“Kalian ganti posisi, Axel kamu halangi dia yang berambut keriting dia lebih jago dibanding Indra, sedangkan kamu Rio lebih baik istirahat biar kamu di gantiin Musa dan Gilang kamu halangi anak kembar itu bersama Novel. Kalian mengerti”, ucap Pak Doni

“Ya!”, sorak bersama dari para murid pak Doni.

“Ayo kita gabungkan tangan kita untuk semangat kita”, ajak pak Doni

“Kita pasti menang goo!!”, sorak pemain bersama

Quarter kedua dimulai wasit yang memimpin jalannya pertandingan di lapangan membunyikan peluit, “prittt”, pertandingan sengit di mulai. Para siswa terus menyemangati para pemain tiap perwakilan sekolah.

“Go..go..ale..ale.., ayo semangat, huuuu”, seluruh penonton bersorak.

Aminah akan memulai bersorak dihentikan oleh dua sahabatnya dengan membekap mulutnya.

“Duduklah yang manis cucuh mbah Nela”, bisik Raina dengan mengetatkan gigi.

Aminah meronta-ronta untuk minta di lepaskan karena kehabisan oksigen.

“uhmm lepaskan uhmm”, ucap Aminah di balik bekapan telapak tangan kedua sahabatnya.

“Kamu harus janji untuk duduk anteng dan tidak berteriak”, ucap Alika

Aminah kemudian mengangguk lalu Alika dan Raina melepaskan bekapan tangannya. Aminah dapat bernafas lega, “ahhh”, lalu dia menggerutu, “kalian apa-apaan sih. Aku juga mau menyemangati mereka”, dengan cemberut dan memakan keripik yang ia bawa dari rumah dengan minum air susu yang diberikan oleh simbahnya.

Dalam detik-detik terakhir SMU N Nusa 45 tertinggal satu poin. Sang kapten basket bertindak merebut bola dan mendribling bola lalu melemparkan bolanya ke arah temannya Dio kemudian diberikan kepada Gilang lalu one shoot dari jarak jauh dan bolanya masuk ke ring. Mereka melihat skor dan para siswa SMU N Nusa 45 bersorak, “Gol!”, lalu menyanyikan lagu yel-yel, “ go..go..ale..ale.. SMU N Nusa 45 menang”.

Pak Dion maju dan menerima penghargaan bersama para muridnya juga berfoto bersama. Pertandingan telah usai para penonton meninggalkan stadion. Para pemain beristirahat di ruangan kecuali Axel. Dia pergi keluar mencari Alika untuk mengajaknya ikut merayakan kemenangannya karena dia melihat Alika datang menonton pertandingannya.

Dia terus mencari namun malah di halangi oleh Anisa bersama dua temannya.

“Hai Axel, selamat ya”, ucap Anisa dengan menyodorkan tangannya sebagai ucapan selamat tetapi Axel acuh dan sibuk mencari Alika di tengah kerumunan orang yang keluar.

“Axel!”, panggil Anisa

“Oo ya.. thank you”, jawab Axel yang matanya masih sibuk.

“Apa..”, ucapan Anisa terpotong karena Axel berlari memanggil Alika. Anisa merasa marah dan kesal.

“Alika!!”, panggil Axel berlari ke arahnya.

“Alika!”, memanggil dua kali dan akhirnya Alika bersama dua sahabatnya menoleh ke belakang. Axel menghampirinya dan Alika terheran-heran.

“Ada apa?”, tanya Alika

Sebelum menjawab Axel mengambil oksigen terlebih dahulu dan Aminah menyapa sebelum Axel menjawab pertayaan dari Alika.

“Hai axel, selamat ya atas kemenangannya”, ucap Aminah yang masih meminum susu tiada henti.

“Hai, iya Thank you”, jawab Axel untuk Aminah dengan tersenyum.

“Aduh, semalam aku mimpi apaan sih melihat senyuman sang pangeran berkuda putih”, ucap Aminah dengan kemayu. Axel yang melihat tingkah bodohnya Aminah merasa geli. Raina yang melihat kealayan Aminah memukul punggungnya. Aminah merintih, “auch.., sakit Rain”, adu Aminah.

Alika membuka obrolan kembali.

“Ada apa Axel?”, tanya Alika lagi

“Apa kamu hari ini ada waktu?”, tanya Axel dengan penuh harap

“ Maaf hari ini aku dan ke dua temanku mau jalan-jalan setelah melihat pertandingan ini”, ucap Alika dengan menyesal.

“apa aku juga ikut bergabung dengan mereka saja? Buat pendekatan dengan Alika daripada tidak sama sekali”, batin Axel.

Saat Alika akan melangkah Axel mencekal tangannya.

“Tunggu..”, Axel meyadari jika tangannya lancang mencekal milik Alika langsung meminta maaf, “I’m sorry.., Apa aku boleh ikut bersama kalian? Aku juga akan mengajak Gilang kok”, ucap Axel dengan penuh harap. Alika hanya diam seperdetik karena ragu namun malah di jawab oleh Aminah.

“Boleh.. boleh..dan boleh bangitt”, ucap Aminah

“Kapan lagi bisa berjalan bersama dengan dua cogan”, ucap Aminah dengan gembira lalu Axel menatap Alika dan dia malah bingung dan mengiyakan dengan mengangguk.

“Okay, kalian tungguin aku. Aku akan datang sepeluh menit lagi”, ucap Axel sambil berjalan mundur lalu membalik badan dan berlari karena ia tidak ingin melewatkan kesempatan dan tidak ingin mereka menungguin dirinya terlalu lama.

“Yuk, kita duduk di sana”, ucap Alika

“Kamu yakin lik, ajak mereka”, ucap Raina dengan ragu.

“Ya, yakinlah. Orang Raina sudah mengangguk. Mana mungkin tidak yakin”, ucap Aminah yang masih mengunyah.

“Berhentilah makan nanti kamu kayak badut. Kalau udah gendut nanti nyesel. Bilang ke aku karena tidak mengingatkan”, ucap Raina

“Hari ini saja, okay”, ucap Aminah dengan unjuk gigi.

Sudah sepuluh menit lebih Axel tak kunjung datang namun mereka tetap menunggunya dan akhirnya lewat lima menit ia datang bersama Gilang.

“Hai semua”, sapa Gilang dengan senyum

“Hai, aduh mata eneng kena silau dari sang pangeran berkuda putih yang diturunkan Tuhan untuk mengarungi jalan bersama aku”, ucap Aminah yang langsung menggandeng dua cogan

Raina dan Alika pura-pura mual, “ueeee”, dengan ketawa.

“Kalian syirik aja. Ayo kita jalan”, ucap Aminah dengan menarik lengan kedua cogan dan diikuti dua sahabatnya di belakang.

“Dimana mobil yang mau kita arungi jalan ke tempat supermaket”, tanya Aminah

Axel menunjukkan mobil hitamnya dan Aminah langsung naik ke mobil sedan milik Axel.

“Ayo naik”, ajak Aminah dari dalam mobil dengan mengeluarkan kepala dari jendela.

“Baiklah”, ucap Axel berlari dan masuk ke bagian kemudi dan diikuti Gilang masuk ke mobil di belakang bersama Raina. Kemudian Alika mau tidak mau duduk di depan bersama Axel.

“Let’s go”, ucap Aminah dengan semangat.

Di dalam mobil Aminah merasakan suasana canggung membuatnya tidak nyaman dan berusaha memecahkan kecanggungan.

“Axel dan Gilang kalian bersahabat sejak kapan?” tanya Aminah untuk memecahkan kecanggungan.

“Kami bersahabat sejak di bangku sekolah dasar”, ucap Gilang di sebelahnya.

“Kalian bersahabat sejak kapan?” tanya Gilang

“Kami bersahabat sejak duduk dibangku SMA kelas satu”, ucap Aminah

“Baru dong”, ucap Axel sambil fokus mengemudi.

“Iya baru, persahabatan kami dengan Alika”, ucap Aminah.

“Maksudnya”, ucap Gilang yang tidak mengerti.

“Kami sebelum ada Alika sudah bersahabat sejak kami belum lahir karena simbah aku dan Raina berteman juga begitupun orang tua kami. Kalau Alika baru ketemu saat SMA begitu”, ucap Aminah sambil minum jus kotak yang ambil dari kulkas milik abangnya tanpa ijin.

“Kalian berdua sering nongkrong kemana habis pulang sekolah selain disibukkan extrakurikuler basket?”, ucap Raina memberanikan diri untuk menjmbrung obrolan.

“Kami sering nongkrong di cafe shop, pangkalan anak-anak skate board dan ke discotik penghilang stress”, ucap Axel

“wow kalian benar-benat anak keren”, ucap Alika

“Keren itu asyik ya?”, ucap Aminah

“mulai deh ah Mimin ini”, ucap Raina

“ Aku kan Cuma bilang keren itu asyik. Kenapa dengan kamu sih Rain”, ucap Aminah dengan menyeruput minuman.

“Iya keren itu asyik”, ucap Gilang menengahi

“Pasti merasa tidak nyaman ya Gil di tengah dua orang gadis yang berdebat?”, ucap Alika

“iya sedikit”, ucap Gilang sambil menunjukkan jari jempol dan jari telunjuk.

“ Tenang meski kamu terhimpit di antara kami, kamu bisa belajar kok dari bulu ketiak yang selalu terhimpit tapi tetap tumbuh”, ucap Aminah

“Iuuuu”, ucap Alika dan Raina lalu tertawa dan diikuti oleh dua cogan

Tidak terasa mereka telah sampai ke supermaket dan mereka berjalan beriringan memasuki mall terbesar di Jakarta dengan obrolan unfaedah.

“ aku sangat terima kasih loh dengan kalian karena telah mengantar kami mengarungi jalanan macet dari pada menaiki angkot dua kali bikin dompet mengandung bawang”, ucap Aminah

“Ternyata dompet bisa mengandung bawang juga ya”, ucap Axel yang tidak mengerti ucapan Aminah.

“iya, dompet mengandung bawang karena dompetnya kosong pas dibuka”, bisik Raina

Axel yang mendengarkan bisikkan dari Raina hanya beroh-ria. Mereka berhenti di tengah keramaian orang. Lalu mereka membuat kesepakatan untuk mendatangi pusat manakah yang terlebih dahulu untuk dinikmati.

“ Gaes kita mau main di pusat mana?”, tanya Aminah

“Kita pergi ke permainan. Itu akan sangat seru”, ucap Gilang

“Ya itu ide bagus, baru kita nongkrong ke salah satu resto di mall”, kata Alika dan diangguki oleh teman-temannya.

Sampainya di pusat permainan Aminah langsung melesat pergi ke permainan mencapit boneka dengan diikuti Raina bersama Gilang sedangkan Alika di tarik lengannya oleh Axel untuk mengikutinya ke arena game balap. Mereka menikmati semua permainan dan diakhiri dengan memungut boneka yang di hasilkan oleh Aminah.

“Gila min, ternyata kamu jago di permain capit menyapit”, puji Gilang

“Iya dong, aku juga bisa mencapit hati kamu”, ucap Aminah yang membuat Gilang hanya menggeleng kepala.

“sekarang kita makan yuk”, ajak Alika dengan membantu membawakan boneka yang di hasilkan oleh Aminah yang membuat pengunjung merasa kagum.

Kami memasuki restoran nyam-nyam dan mencari tempat duduk yang bisa meletakkan semua boneka milik Aminah. Axel menemukan tempat duduk yang cocok untuk menyimpan boneka itu.

“Gaes kita duduk di pojok sana saja”, tunjuk Axel. Kemudian mereka menganggukan kepala.

Pada saat mereka sudah duduk, sang pelayan datang menghampiri mereka dengan menyodorkan berbagai menu.

“Silakan pilih menunya mas, mbak”, ucap pelayan wanita dengan sopan

“Saya ingin makan steak ayam sama sosis dan minumnya lemon tea aja”, ucap Aminah

“Mbak saya ama Raina spagehty special dan minumnya lemon tea juga”, ucap Alika

“Saya dan Axel bakso ama jus lemon aja”, ucap Gilang

“Baiklah silahkan ditunggu”, ucap pelayan wanita

“Oh ya xel, sebenarnya kamu orang blasteran ya? Aku mengamati kamu itu tidak free orang lokal sini”, ucap Aminah

“Ya, ibu ku orang Jerman dan ayahku asli orang indonesia. Mereka bertemu dan mengenalnya di Bali”, ucap Axel

“Pantas kamu berbeda dengan yang lain”, ucap Raina

“Maaf, aku mau pamit ke kamar mandi dulu kebelet nih”, ucap Aminah

“Yaudah sana”, jawab Raina.

Ketika Aminah sedang ke kamar mandi mereka menyantap hidangan menu yang sudah diantar dengan di selingi mengobrol.

“ehemm ehemm, Lik apa aku boleh tahu alamat rumah kamu gak? Nanti jika ingin main ke rumah kamu aku bisa tahu alamat kamu atau aku ingin menawarkan untuk menjemput kamu”, ucap Axel dengan sedikit kaku

“Boleh, nanti aku kirim lewat chat”, ucap Raina ikut menimbrung

Pada saat mereka sedang mengobrol di kagetkan suara melengking Aminah dan pengunjung di sekitarnya kaget juga memperhatikan.

“Bang Hasan!!”, teriak Aminah

Hasan yang mendengar suara Aminah terkejut dengan sedikit was-was karena sifat uniknya membuatnya sedikit takut.

“Eh, kamu min”, sapa Hasan

“Ngapain kamu bisa ke sini”, ucap Hasan

“iya bisa, kan aku ke sini itu bersama pangeran berkuda putih, dua lagi”, ucap Aminah dengan bangga.

Hasan hanya beroh-ria.

“Bang Hasan yang ganteng dan unyu-unyu”, dengan mencubit pipi, “kenapa kalau Aminah kirim pesan tidak pernah dibalas?” tanya Aminah.

“Aku sibuk, ya..aku sibuk”, ucap Hasan sambil melepaskan ke dua tangan Aminah

“Dimana teman kamu?”, tanya Hasan

“Tuh di sana”, ucap Aminah sambil menunjuk

“Abang gak sama Daniel kan?”, tanya Aminah sambil berbisik

“Mu..Mukin”, ucap Hasan dengan menggaruk dagu tidak gatal saat Daniel di belakang Aminah.

“Syukurlah”, uap Aminah dengan lega

“Tadi itu aku mengambil jusnya yang ia beli aku habiskan karena dompet aku lagi kempes dan uangnya aku ambil diam-diam dari dompet diatas meja nakas pada saat dia lagi mandi. Aku itu minta uang ama mama gak di kasih. Dia kalau sama aku jahat banget kayak ibu tiri. Kalau sama bang Daniel sayap dipunggungnya keluar kayak malaikat. Aku itu sering kali heran apa yang di banggain? Dia sekarang pasti sudah tahu. Habislah nanti aku bakal kena cincang dari dia”, ucap Aminah menceritakan pada Hasan sambil menyeruput minuman milik Hasan.

Daniel yang berada di belakang menarik telinga Aminah.

“Bagus”, dengan menggertak gigi, “Sudah..banyak yang kamu ambil. Kamu tidak perlu heran mama suka sama abang karena dapat diandalkan. Jika kamu apa yang di banggain nilai kamu aja banyak telur dari pada nilai seratusnya”, ucap Daniel.

“auchh.. Sakit bang..”, adu Aminah dengan merintih dan memeang tangan Daniel lalu di lepaskan.

“Aduh telinganya untung tidak copot. Kalau ginjal copot bisa aku jual tapi milik abang”, ucap Aminah dengan berlalu jalan cepat.

Alika dan teman-temannya cuman menatap dan heran dengan Aminah yang bisa menggoda sana sinj kecuali Raina karena sudah biasa.

“Wahh..aduh..duh makanan aing kasihan pasti nungguin aku lama untuk minta di santap”, ucap Aminah alay.

“Min tadi itu kamu ngapain mendekat ketiga cowok di sana. Apa kamu mengenlanya?”, ucap Alika

“Iya, dia mengenalnya orang tadi yang narik telinga miliknya itu abangnya”, ucap Raina.

“Ternyata kamu punya abang yang Min”, ucap Gilang

“Iya, tapi dia itu bukan abang yang baik padahal selama ini aku lihat temanku punya abang selalu perhatian. Inilah nasib sang burung angsa”, ucap Aminah dramatis sambil melahap makanannya.

“Yaudah.., Kamu sabar aja Min”, ucap Axel.

“Yaampun aing jadi terharu ada pangeran memperhatiin aku”, ucap Aminah dengan lebay

“pletak..”, dapat pukulan kepala dari belakang

“auchh rain sakit”, adu Aminah dengan kesal sambil mengusap kepala

“Bukan aku Min”, ucap Raina

“Terus si..” ucapan Aminah terpotong ketika menoleh lihat abangnya yang mendelik kearahnya.

Ketika Aminah sedang unjuk gigi teman-temannya kabur diajak oleh Raina dengan membayar makanan dikasir lalu meninggalkan Aminah sendirian menghadapi abangnya.

“Ayo, kita tidak perlu ikut permasalahan kakak dan adiknya”, ajak Raina

“Emang tidak apa-apa Aminah ditinggal”, khawatir Alika

“Sudah gak usah khawatir, meski abangnya garang dia baik kok”, ucap Raina

“Yakin”, ucap Alika masih khawatir.

“Yuk kita lanjutin jalan-jalan saja terus pulang”, ucap Raina.

Mereka kemudian melangkah melanjutkan jalan-jalannya ke mall lalu pulang tanpa Aminah sedangkan Aminah masih diinterogasi abangnya.

“Kamu kemari pakai uang haail curian. Bagus”, ucap Daniel.

“Aku ganti deh, pakai boneka”, ucap Aminah sambil menyodorkan bonekanya.

“Ck.. Makanya kamu jangan banyakin goda pria. Belajar kakak bilangkan belajar dan belajar biar cepat lulus. Malah klontang klantung kesana-kemari tidak jelas. Apa masih kurang hukuman kamu? Atau kakak bawa kamu ke rumah dan tidak tinggal satu atap dengan orang tua kamu. Biar kamu bisa mandiri”, ucap Daniel dengan marah.

“iya, maaf”, ucap Aminah dengan menunduk kepala dengan wajah sedih.

“Tapi.. Jangan hukum aku ya kak. Kakak kan baik”, ucap Aminah dengan memuji.

“Ayo kita pulang”, ajak Daniel menarik Aminah dan menyuruh Hasan membayarkan makanan yang dianggukinya.

“Aminah merasa dunia ini akan hancur”, batin Aminah sambil membayangkan nasibnya nanti.

Sesampainya di rumah Alika langsung melesat ke kamar mandi karena seharian jalan-jalan keluar membuat badanya lengket dan bau. Setelah itu ia turun menemui aunty Liana.

“Aunty!!”, panggil Alika melangkah menuju ruang tamu.

“Hallo sayang, apa hari ini jalan-jalannya seru?” tanya aunty Liana.

“Iya, tapi sedikit ada masalah. Tapi bukan Alika”, jawabnya

“Tadi Lucas menghubungi aunty kenapa kamu tidak angkat ponsel kamu sayang?” ucap Liana membawa camilan dan minuman.

“Tadi baterainya habis kok aunty”, ucap Alika sambil mengambil camilan yang di sediakan Liana

“Nanti coba kamu hubungi kembali. Kasihan dia nungguin kamu”, ucap Liana

“Iya aunty”,

“ayo! Sedang obrolin apa?”, ucap Denis dengan mengkagetkan dari belakang membuat Liana dan Alika terkejut.

“Apaan sih kak, kepo”, ucap Alika dengan mengunyah keripik

“Oh ya, Lucas menyuruhku untuk memberitahukan bahwa kamu akan diajak berliburan ke luar negeri dengan mama pastinya. Aku dan papa gak bisa ikut masih ada pekerjaan. Nanti audah kelar kami akan menyusul kalian kesana”, ucap Denis

“Kenapa Lucas tidak bicara langsung saja dengan mama?”, tanya Liana

“Sudahlah mah, yang penting bisa liburan”, ucap Denis sambil terkekeh.

Sedangkan Lucas yang masih di negara yang jauh masih gusar urusan pekerjaan dan sibuk dengan perasaannya yang sering cemburu jika gadisnya bersama laki-laki lain.

“Hallo Chalvin, apa semua sudah di persiapkan”, tanya Lucas

“Sudah tuan”, ucap Chalvin

“Bagus, Jangan lupa bilang kepada Edward memperhatikan jalannya musuh. Lalu kamu tanyakan kepada Hans bagaimana kemajuan racun yang ditanamkan pada tubuh Chloe”, perintahnya

“Baik Tuan”, ucap Lucas sambil memijat keningnya. Lalu mematikan telfonnya dengan sepihak. Kemudian menghubungi orang yang ada di manshion untuk berhati-hati berbicara soal pernikahannya yang dilakukan secara diam-diam.

“Hallo tuan”, panggil Mrs. Samantha orang kepercayaan Lucas di manshion untuk mengatur para pegawainya di sana.

“Ya, aku mau meminta kamu mempersiapkan kamar untuk Alika bersama Liana. Lalu kamu atur para pegawai untuk tidak mengatakan apapun saat mereka datang. Layani mereka dengan baik”, perintah Lucas dengan memandang pemandangan luar dari balik kaca besar.

“Baik, tuan”, ucap Mrs Smantha.

Setelah selesai menghubungi orang-orangnya Lucas sedikit lega meski masih banyak pikiran tentang situasi jaringan hitam yang menekan nyawanya. Tinggal selangkah lagi dia akan menjadi milik Lucas seorang. Membuat Lucas tidak sabaran untuk bisa setiap kali bangun dan tidurnya menatap gadisnya.

Terpopuler

Comments

Andayani Ahmat

Andayani Ahmat

huh, jdi pnsarn sma orang tua kandung nya alika ni..

2021-12-04

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 pengumuman
96 Episode 95
97 Episode 96
98 Episode 97
99 Episode 98
100 Episode 99
101 Episode 100
102 Episode 101
103 Episode 102
104 Episode 103
105 Episode 104
106 Episode 105
107 Episode 106
108 Episode 107
109 Episode 108
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
pengumuman
96
Episode 95
97
Episode 96
98
Episode 97
99
Episode 98
100
Episode 99
101
Episode 100
102
Episode 101
103
Episode 102
104
Episode 103
105
Episode 104
106
Episode 105
107
Episode 106
108
Episode 107
109
Episode 108

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!