Di pagi hari keluarga Abraham diributkan persoalan telat bangun membuat Liana yang sudah bangun sejak pagi buta hanya menggeleng kepala.
“Sayang kok tidak bangunin aku? Aku hati ini ada rapat”, teriak Abraham yang bergegas ke kamar mandi.
“Sudah aku bangunin, tetapi papa sulit untuk bangun. Seperti kebo”, ucap Liana membela diri.
Setelah selesai mandi cepat kilat, Abraham memakai kemeja,sepatu,dan dasi dengan compang camping lari kesana-kemari.
“Sayang! Kamu liat dompetku tidak”, teriak Abraham yang frustrasi dengan kegiatannya.
“Aku liat honey, ada diatas nakas pinggir tempat tidur”, ucap Liana yang sambil berlalu ke pantry dapur menyiapkan roti tawar dan minuman sembari diributkan dengan teriakan dua laki-laki.
“Mom aku berangkat!”, teriak Denis dari meja makan sambil minum susu dan mengambil dua potong roti tawar tanpa olesan selai.
Diikuti Abraham keluar setelah Denis.
“Sayang, aku berangkat”, ucap Abraham sembari meminum susu setengah dari Denis dan mengambil sepotong roti tawar yang sudah dimasukkan ke dalam mulut tanpa menyentuh kopinya.
Ketika sampai pelataran Abraham mengecek dan mengingat kembali, apakah ada yang tertinggal atau tidak. Setelah mengecek dan mengingat-ingat ia kembali masuk mengambil dokumen dan Liana yang melihatpun bertanya, “Sayang, kenapa kembali lagi?”.
“Ada yang tertinggal honey, dokumen untuk proyek hari ini bersama klien”, ucapnya sambil berjalan ke ruang kerja.
“Aku berangkat!”, teriaknya.
Usai keributan suami dan anak selesai, tiba-tiba dari tangga ada seseorang tertinggal sampai terlupakan.
“Aunty, aku berangkat. Sudah telat”, ucap Alika sembari meminum susu yang telah tersedia dengan sekali teguk dan berlari melesat. Membuat Liana bertambah heran. Tapi pada akhirnya rumah terasa lega seusai diributkan bangun kesiangan.
Sedangkan Alika masih khawatir dengan nasibnya yang bangun kesiangan membuatnya kelimpungan karena jam pertama adalah pelajaran yang dibimbing oleh Bu Ningsih sang guru killer.
“Bang ayolah, saya telat nih”, desak Alika.
“Saya sudah berusaha neng, tapi apa daya jalanan macet”, ucapa abang ojek membela diri
Alika melihat jam tangan kembali hampir memasuki pukul 7.30 membuatnya menjadi tidak tenang. Sudah tiga puluh menit pas akhirnya sampai dan langsung membayar sembari menyerahkan helmnya lalu berlari ketika melihat pak satpam menutup gerbang. Akhirnya Alika masuk tepat waktu gerbang itu tetutup dengan rapat. Kemudian berjalan melewati lorong sambil menunduduk-nunduk lewat jendela melihat sikond apakah bu Ningsih sudah masuk atau belum. Ternyata belum masuk ke kelasnya membuat hati lega dan langsung duduk di tempat bangku. Belum ada dua menit mengambil nafas bu Ningsih sudah datang dan lansung menyapa dengan sorot mata menyalang.
“Selamat pagi!”, sapanya dengan tegas dan keras
“Pagi bu!”, sapa kembali dari para siswa bersamaan.
“Sebelum memulai, saya absen dahulu”, ucapnya
Pada saat akan mengabsen bu Ningsih melihat Aminah mengendap-endap memasuki kelas dan menyuruhnya untuk maju ke depan.
“Aminah! Maju ke depan”, teriaknya
“Buat apa bu, saya kan mau duduk di bangku saya. Kangen ya bu sampai-sampai nyuruh saya maju ke depan”, ucap Aminah yang ketahuan sambil menggaruk tengkuk belakang dan cengegesan.
“Maju”, ucap Bu Ningsih dengan suara tak terdengar sambil melotot di balik bingaki kacamatanya.
Aminah akhirnya maju ke depan.
“Kenapa kamu telat?” tanya Bu Ningsih dengan tegas sampai percikan api mencuat ke wajah Aminah.
“Belum apa-apa banyak percikan api mencuat ke wajah. Gak tau wajahku sekarang kayak apa?” batin Aminah sedikit risih.
“Saya tadi malam bergadang lagi mikirin masa depan bu”, ucap Aminah nyeleneh. Para siswa di kelas hanya mampu menahan diri meski bibirnya terasa gatal karena mereka tidak ingin dapat percikan abu juga dan nilai C tetapi tidak dengan Aminah.
“Emang kamu punya masa depan. Jam pertama aja kamu telat”.
“Maaf bu, sang putri bukan maksud untuk telat” dengan wajah dramatisnya.
“sekarang berdiri di samping, jangan buat masalah dan renungkan kesalahan kamu”.
“Baik bu putri cantik ini akan laksanakan, Karena dari kesalahan bisa menjadikan pelajaran dan membuat saya jadi dewasa jika tidak buat masalah tempat saya bukan disini”, ucap Aminah terkekeh
“Diam!”, perintahnya
“ngeles aja.., coba kalian buka buku catatan dan tulis etika belajar yang baik karena sebentar lagi kalian ujian”.
Akhirnya pelajaran BK satu jam telah usai. Minah dapat duduk dengan lega dan langsung dicerca oleh teman di bangku depan dan sebelah.
“Kenapa kamu telat?” tanya teman bangku depan
“Aku lagi banyak tugas”
“Tugas apaan, kamu aja tiap kali ada tugas lansung pinjam ke kita”, tanya teman di sebelahnya.
“Tugas banyak itu adalah stalkingin para cogan”
“ooo”, dengan bersamaan
Ketika akan mengobrol lagi Bu Yoana datang.
“Selamat Siang!”
“Selamat siang bu”,
“Hari ini kita ulangan”
“Kok mendadak sih bu, kami juga belum belajar”, ucap salah satu siswanya yang mengeluh tapi Bu Yoana hanya tersenyum singkat.
“Ayo, masukkan bukunya dan jangan mencontek”, perintahnya.
Pada saat Bu Yoana sedang membagikan lembar jawaban dan soal di bangku sebelah berbisik dengan Aminah.
“Aku contekin ya..”
“Iya tenang saja”
“Tumben, mau nyontekin. Biasanya kan kamu yang sellau minta di contekin. Emang semalam udah belajar”, bisik teman depannya.
“aku udah belajar tiap hari kok.., tapi belajar soal mendekati cogan dan menerima kenyataan bahwa hari ini guru-guru pada kejam. Aku heran mereka makan apa?”
“Mungkin makan darahnya bu Ningsih jadi tertular deh”, bisik teman sebelah sambil terkikik bersama.
“Bisa aja kamu..”, ucap Aminah
Beberapa jam kemudian mata kuliah akuntansi selesai membuat mereka lega. Saat Denis melangkah kakinya menuju kantin tiba-tiba mendengar teriakan Tasya.
“Denis!”, teriaknya sambil berlari
“Ihhh.., aku panggil malah terus jalan bukannya berhenti” ucapnya sambil mengambil nafas
“Kenapa kak Denis mengabaikan Tasya terus sih? Aku kan cuman ingin dekat dengan kakak kali aja jodoh”, ucap Tasya kembali sambil terkekeh dan mengikuti Denis hingga ke kanthin. Tasya ikut duduk di bangku yang sama dengan berhadapan dan memesan bakso dua mangkok dan minumannya sembari ibu kantin lewat agar sekalian.
Ibu kantin sekalian menawarkan makanan.
“Mas, tidak pesan juga?”
“Saya pesan yang sama tapi satu porsi saja dan minumnya juga samaain”
“Baiklah, saya akan buatkan”, ucapnya sambil berlalu membuatkan makanan.
Ketika Tasya sedang berusaha tiba-tiba ketua geng mak lampir datang bersama pembantunya dan lansung menggeser Tasya dengan paksa agar ia minggir.
“Hai Denis, kok sendirian?”
Denis tidak menjawab.
“Denis, nanti aku nebeng ya. Sekalian kita jalan-jalan”, ucap Laura sambil menyentuh tangan Denis.
Denis tidak menjawab lagi dan malah menghempaskan tangan Laura.
Pada saat Laura akan melontarkan kembali Denis beranjak, menarik lengan Tasya meski makanan di pesannya belum datang dan pergi ke warung buat batalin pesanan yang belum dibuat.
“Bu, kami batal pesan. Ada kuliah dadakan dengan tiba-tiba”, ucap Denis sambil berlalu dengan menarik tangan Tasya.
“Kak Denis tunggu!”, kesal Tasya yang sejak tadi hanya di tarik-tarik terus
“Aku itu mau makan bakso. Perutku keroncongan lho”, cemberut Tasya
“Jika begitu, kembalilah. Aku mau pulang sambil nunggu di rumah perkuliahan di mulai”, ucap Denis sambil berlalu menujj parkiran.
“Ihhhh... Kak Denis jahat. Lebih jahat dari harapan palsu”, teriaknya dengan kesal.
Waktu bel istirahat telah tiba, Raina, Alika dan Aminah berjalan beriringan menujh kanthin dan memesan menu lalu mencari tempat duduk di pojokan yang tersisa.
“Kenapa tadi kamu telat?” tanya Raina buat Alika
“Aku semalam bergadang liat drakor” ucapnya
“Kalau kamu Min?” tanya Alika
“Aku tadi malam bergadang buat stalkingin para cogan tapi tidak ada yang balas dari teman-teman abang aku”, jawab Aminah dengan wajah dramatis
“Hahahhahaha”, tawa Alika dan Raina bersamaa
Ketika sedang asyik mengobrol Axel dan Gilang datang.
“Hai.. Lik”, sapa Axel dengan canggung
“Hai”, sapa kembali Alika
“Apa kami boleh bergabung?” tanya Axel
“Ya..”, jawab Alika.
Aminah dan Raina masih terkejut seperti mimpi dan Aminah meminta Raina mencubit pipinya.
“Rain coba cubit aku”, ucap Aminah dan Raina melakukan.
“Auchh..”, adu Aminah yang kesakitan.
Aminah masih bermimpi dan memandang Axel lebih dekat di sebelah Alika.
“Aku semalam habis mimpi apa ya? Padahal pagi-pagi tadi pas bangun ke banjiran air liur di bantal”, batin Aminah yang masih memangku kepala di kedua telapak tangan. Sedangkan Raina gugup karena berdekatan dengan Gilang sang idola sekolah.
“Hai..”, sapa Gilang untuk Raina
“Ha..hai”, sapa kembali Raina.
Alika yang menyadari Aminah yang aedang bengong langsung menginjakkan kakinya dan Aminah kembali ke dunia nyatanya.
“Auchh..” adu Aminah membuat Axel dan Gilang heran dan memandanginya.
“Hallo”,sapa Aminah sambil lambai tangan
Mereka hanya membalas senyum membuat Aminah terbang melayang dan bersamaan makanan di pesan datang. Axel melihat di hadapan Aminah penuh dengan pesanan membuat Axel terkejut.
“Hai.. Kamu ternyata makannya banyak”, ucap Axel
“ooo.. Iya, aku makan banyak karena energi di dalam tubuhku sudah mencapai nol. Sebab yang tersisa tadi buat mimpiin kamu”, ucap Aminah sambil mengedipkan mata layaknya menggoda
“Kalian kok bisa kenal?”, tanya Raina yang menimbrung obrolan.
“Kebetulan saja saya kenal Alika karena ucapan terima kasih pada saat itu pas di perpustakaan tidak sengaja bertemu karena aku menolongnya ketika dia hampir jatuh dan bertemu kembali dia hampir kena bola basket”, ucap Axel menceritakan kejadian awal kenal. Mereka mengangguk dengan beroh-ria.
Aminah mulai mengitrogasi Alika dan Axel ketika sedang menikmati makanannya.
“Apa kalian jatuh cinta pada pandangan pertama” ucap Aminah sambil mengunyah siomaynya.
Axel yang dapat ajuan pertanyaan dari Aminah menjadi salting.
“Ka..kami hanya berdekatan secara kebetulan”, ucapnya sambil menggaruk tengkuk
Ketika akan melontarkan kembali Alika dan Raina lansung injak kaki Aminah.
“Auchh..” adu Aminah merintih sakit.
“Kakiku bukan pedal, main injak-injak saja”, omel Aminah. Alika dan Raina tersenyum dengan dipaksakan.
“Jangan lanjutkan lagi”, bisik Alika di depannya sambil mengetatkan giginya.
“Aku kan masih penasaran”, ucap Aminah dengan cemberut yang terdengar oleh Axel dan Gilang sambil minum lemon tea.
Alika hanya tersenyum kecut pada Aminah yang ucapannya buat Axel dan Gilang mendengarkan.
Tiba-tiba tidak terasa bel masuk terdengar Alika, Raina dan Aminah beranjak pergi ke kelas yang diikuti oleh Axel dan Gilang dari belakang. Membuat Alika heran dan bertanya.
“Kalian kok masih ngikutin kita?” tanya Alika yang berbalik badan.
“Kami kelasnya melewati kelas kalian”, jawab Gilang
“Tunggu Alika!” panggil Axel mencekal lengan Alika.
“Ada apa?” tanya Alika
“Boleh minta no ponsel”, jawab Axel sedikit gugup
“Boleh, ini no ponselnya, 0857********” jawab Alika dengan memberikan ponselnya untuk di catat oleh Axel.
“Tankhs”, ucap Axel.
Setelah memberikan, Alika berlari menyusul dua shabatnya. Axel yang sudah ditinggalkan oleh Alika tiba-tiba Gilang menggoda yang berada di sampingnya.
“Cieee.. Akhirnya dapat juga”, goda Gilang merangkul bahu Axel.
“Apaan sih..” ucap Axel salting sambil berlalu meninggalkan Gilang ke kelas.
Semua mahasiswa memasuki kelas untuk mata kuliah akuntansi di kelasnya Tasya. Saat ini ujung tombaknya mahasiswa untuk mengantuk karena diajak untuk berhitung di siang bolong. Dua jam mata kuliah sudah berlalu akhir tombak mahasiswa lega sedangkan Tasya tidak merasa ngantuk karena dari tadi ngemil terus dan mencontek hasil hitungan temannya yaitu Angel si pandai berhitung.
“Ahhh.., akhirnya lega juga”, ucap Angel
“Kamu tumben tidak beranjak dari bangku terburu-buru?”, tanya Angel merebut camilan Tasya.
“Aku sedang lelah”, jawab Tasya
“Lelah kenapa? Dari tadi aja nyemil mulu dan cari contekan sana sini”, ucap Angel yang sedang mengunyah keripik milik Tasya
“Aku tidak habis pikir kenapa saingannya harus mak lampir. Padahal sedikit lagi hatiku loncat di hati Kak Denis”, ucap Tasya sambil berlagak mikir
“Alay, kamu”, ucap Angel sambil berlalu melangkah ke Putri yang sudah sejak tadi Angel mengamati dan diikuti oleh Tasya. Dia duduk terus tanpa ingin beranjak.
“Ada apa Put?” tanya Angel yang berdiri di sampingnya.
“Hik..hik.. Huaaa”, tangisan Putri pecah saat di tanya oleh Angel dan memeluk tubuh Angel.
“Ada apa sih?”, tanya Tasya
“Aku habis di putusin”, ucapnya dengan sedih
“cup..cup.. cup.. Anak emaknya habis di putusin. Teang saja besok tumbuh seribu kok”, ucap Tasya nenangin Putri menepuk-nepuk pundaknya.
Ketika Tasya sudah tenangin tapi Putri nangisnya tambah kenceng dan Angel memarahi Tasya.
“Tasya..”, dengan cengengesan saat Angel memperingati.
“Iya..iya..deh maaf. Tapi sebenarnya dia juga tidak salah kan, dia cuman lagi menjelajahi kisah percintaannya sebelum janur melengkung”, ucap Tasya membuat Putri tambah nangis dan Angel merasa kesal.
“Cup..cup.. tidak usah dengerin omongan Tasya tapi kalau benar itu nasib”, ucap Angel tambah nyeleneh
“Huaaaaaaaa!” suara tangisan melengking dari Putri
“Ka..kalian ja..hat banget sih”, ucap Putri dengan sesenggukan.
“Saat sedang berpacaran ternyata dia di belakang aku bersama cewek, cantik lagi”, ucap Putri sambil menghapus ingusnya.
“Sudah, jangan diambil hati kalau kenyataannya benar”, ucap Tasya membuat putri tambah nangis lagi
“Kok salah lagi sih”, kata Tasya menggaruk tengkuk tidak gatal. Angel yang sejak tadi di sampingnya hanya menggelang kepala.
“Dasar teman gila”, batin Angel
“Hatiku hancur ngel”, keluh Putri
“Sudahh, kamu tenangin dan ambil nafas”, ucap Angel.
“Iya tenangin hari ini, besok kita carai lagi okay”, ucap Tasya
“Emang gampang kayak pembuangan”, ucap Angel
“Gampang kok, kan dunia luas. Siapa tahu ketemu sampai ke Zimbawe”,
“Itu kejauhan, Tasya”, kesal Angel
“Kalau mau dekat sama pak Tono”, asal Tasya
“Tasya!”, bentak dua temannya bersamaan. Tasya hanya terkekeh dan menunjukkan tanda piss untuk damai.
“Hapus ingus kamu sebelum banyak cogan kabur. Nanti kamu tambah ngenes lagi”, ucap Tasya yang berlari sebelum terkena amukan dari dua temannya.
“Tasya! !!!” teriak dua temannya yang akan mengejar
Sedangkan Axel menunggu Alika di depan kelas sampai keluar.
“Alika!” panggil Axel
“Lho.. Kakak ngapain di sini?” tanya Alika
“Aku ingin mengantar kamu pulang”, jawab Axel
Pada saat Alika akan melontarkan kalimat dari dalam kelas dua sahabatnya menggoda,”Cieeee” dengan bersamaan dan tertawa.
“Aduhai abang jika di tolak Aminah mau kok menggantikan Alika”, ucap Amina dengan keras. Axel hanya dapat tersenyum.
“maaf, hari ini aku sudah janji pada mereka untuk pulang bareng. So, lain waktu aja” ucap Alika dengan memberi senyuman manis.
“It’s okay no problem”, ucap Axel
Aminah menghampiri ke dua sejoli yang sedang mengobrol.
“Cieee, kayaknya Axel naruh hati nih”, ucap Aminah sambil melirik.
“Sudahlah Min, ayo kita pergi”, ucap Alika menarik lengan Aminah dan diikuti Raina
Axel yang ditinggal memandang punggung Alika menjauh dengan hati bahagia karena cinta pandang pertama setelah sekian gadis mendekati yang ia tolak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments