Sekarang hari minggu, Denis sedang asyik tidur karena free dari tugas kuliah dan pekerjaan kantor. Ketika masih bergelung dalam selimut tiba-tiba ada yang mengetuk pintu,”tok, tok, tok”, namun Denis tidak merespon orang yang berada di luar. Lalu mengetuk sambil memanggil namanya, “tok, tok, tok, kak Denis!, kak Denis!”, teriak suara dari Alika.
Kemudian Denis terbangun dan beranjak dari ranjang dengan rasa malas dan menguap sambil menggaruk kepala.
“Ada apa?”, tanya Denis dengan mata masih sayu sambil menguap terus.
“Kak, di luar ada yang mencari kakak”, ucap Alika
“Siapa, kok pagi-pagi sudah ada yang mencariku?”, tanya Denis dengan wajah bantalnya.
“Orang itu perempuan, terus dia bilang jika tuan putri mencari pangeran untuk menambatkan hatinya ke hati pangeran itu”, ucap Alika
“Tapi kak teman perempuan kakak itu mirip dengan temanku Aminah”,bisik Alika.
Denis yang masih mengantuk langsung kembali ke kamar tanpa kata dengan menutup pintu,setelah kembali sadar dari rasa kantuk yang setengah dia kembali membuka pintu sampai Alika terkejut ketika akan mengetuk pintu kembali.
“Tadi siapa yang mencariku?”, tanya Denis dengan mata membelalak.
“Namanya..,”jeda Alika menggaruk pipi yang tidak gatal.
“Tasya”, lanjut Denis dengan lirih dan Alika mengangguk kepala.
“Whats?!”, terial Denis depan wajah Alika.
“Pokonya kakak temui dia, katanya dia merindukan sang pujaan hatinya”, bisik Alika dengan menggoda sambil menggerakkan dua alis mata, “Dia sedang mengobrol dengan aunty Liana, dan cepatlah turun”, ucap Alika dengan mengusap pundak Denis kemudian meninggalkan Denis yang masih bengong.
Alika lalu ikut bergabung dengan aunty Liana dan Tasya yang asyik mengobrol. Saat Alika duduk di sofa, aunty Liana menanyakan Denis.
“Alika, mana Denis?”, tanya Liana
“Oh, kak Denis sebentar lagi turun, aunty”, ucap Alika.
“Nama kamu Alika?”, tanya Tasya.
“Iya, kk,” ucap Alika dengan tersenyum hangat.
“Semoga kita bisa berteman”, ucap Tasya.
“Kalau bisa kita jadi saudara”,lanjut Tasya dengan kekehan sedangkan Alika belum maksud dengan ucapan Tasya.
Ketika akan melontarkan kalimat Denis datang dan Tasya menghampiri juga langsung merangkul lengannya.
“Kak Denis”, suara keras Tasya.
“Kamu mengapa pagi-pagi sudah mengganggu?”, tanya Denis
“Aku kesini ingin mengenal calon mertua dan adik ipar”, ucap Tasya
Denis malah melepaskan tangan Tasya lalu duduk di sofa dan Tasya mengikuti Denis. Ketika mereka sedang akan mengeluarkan obrolan kembali tiba-tiba ada suara teriakan suara cempreng dari Aminah dari luar, “Alika!Alika”, berlari seperti anak kecil dengan menggandeng lengan Raina.
“Tambah dua perempuan yang unik”, batin Denis sambil mengusap wajahnya yang terasa gatal dengan menghembuskan nafas kasar.
“Ou, o.., kak Tasya”, ucap Aminah ketika telah sampai di ruang tengah.
“Aminah!”, teriak Tasya sambil memeluk dan berjingkrak di depan pemilik rumah, membuat Liana terkekeh.
“Min, kenapa kamu ke sini?”, tanya Tasya dengan heran
“Justru aku yang tanya dengan kakak, kalau aku sih mau menemui Alika”, ucap Aminah
“Aku itu sedang berusaha menaklukan sang pujaan hatiku”, sambil melirik Denis. Aminah melirik kak Denis lalu ia mangut-mangut.
“Jadi pujaan hati yang selama ini kakak ceritakan denganku, ternyata Kak Denis”, ucap Aminah sambil duduk di sisi Denis dan Tasya tidak mau kalah langsung duduk sebelah kiri Denis.
Denis yang terapit dua cewek unik hanya mampu pasrah apalagi mereka saling cekcok dan membuat Denis marah lalu meninggalkan mereka.
Raina, Alika dan Liana hanya terkekeh melihatnya. Apalagi Liana baru pertama melihat Denis meledak membuat Liana bertambah untuk semangat menggoda dengan teriakan.
Malam harinya Alika sedang mengerjakan tugas matematika linguistik namun tiba-tiba perutnya terasa mual terus Alika pergi ke kamar mandi memuntahkan isi perut. Akhir-akhir ini dia terus merindukan sentuhan Lucas dalam hatinya tetapi dipikirannya dia sangat membenci karena ia egois dan licik.
Ketika keluar Alika dikejutkan ke datangan Lucas sejak ia menghilan dua minggu lalu. Kemudian Lucas mencoba mrnghampiri, menatap, mengusap bibir ranum Alika dengan intens. Alika yang merasa di tatap mencoba menenangkan degup jantungnya yang dag, dig, dug namun sulit.
“Sweety aku merindukanmu”, bisik Lucas dengan lansung mengangkat dagu dan mencium bibir Alika tanpa pemberontakan. Lucas tersenyum dibalik ciuman bibir. Lalu dia memperdalam ciuman sambil mengangkat tubuh Alika yang terbawa euforianya dan mengalungkan tangannya di pundak Lucas. Mereka menikmati dan melepas kerinduan.
Entah setan apa yang merasuki Alika atau karena terhipnotis dengan sentuhan dan tatapan Lucas. Namun Alika tidak memperdulikan semua itu. Lucas terus memberi sentuhan yang di terima lapang dada oleh Alika hingga ia mengeluh seperti rasa nikmat tapi geli. Di balik bercinta Lucas menyuarakan isi hati, “ syukurlah dia menerima tanpa harus memaksanya”, sambil mencium perutnya yang masih datar dan mengucapkan terima kasih pada calon anaknya yang telah membantu ayahnya untuk menyatukan kembali istrinya tanpa Alika ketahui.
Mereka menikmati semua euforianya dengan nikmat dan terdengar suara lenguhan di kamar Alika tanpa diketahui siapa pun.
Setelah mereka mencapai puncak kenikmatan beberapa kali mereka terbaring dengan rasa kantuk. Dan tidak lupa Lucas memberikan kecupan pada keningnya. Mereka berpelukan dengan nafas tersengal-sengal.
Keesokan paginya Alika terbangun dengan mencium bau tubuh Lucas khas pria dalam pelukannya. Lalu menatap intens wajah milik suaminya dan Lucas memergoki istrinya yang menyentuh bibir juga menatap wajah dirinya.
“Sweety, kamu sekarang berani menyentuh dan menatapku hm”, ucap Lucas dengan suara seraknya.
Alika berbicara tergagap, “si..siapa?”, dengan beranjak dari ranjang namun lupa menutup tubuhnya tanpa sehelai kain.Lalu berteriak, “arghhh”,Lucas yang berada di ranjang terkekeh. Kemudian beranjak dan menggendongnya untuk membersihkan tubuh bersama.
Setelah selesai Alika dan Lucas turun dari tidur panjangnya. Alika merasa terheran tanpa ada orang di rumah apalagi tidak ada salah satu orang membangunkan Alika ke sekolah. Saat Alika sedang bingung, Lucas menyadarinya dengan menarik lengannya untuk duduk di pangkuannya.
“Sweety”,panggil Lucas dengan lembut.
“Kamu tidak usah bingung, mereka sibuk bekerja dan bibi di rumah ini sedang izin. Jadi kita bisa berduaan”, ucap Lucas sambil mengusap kepalanya.
“Tapi aku jadi tidak izin ke sekolah, uncle”, ucap Alika.
“Tenang saja, semua terkendali sweety”,
“Ayo kita sarapan dahulu”,ajak Lucas.
Sementara Aminah sedang berseteru dengan Anisa si cewek centil dan sok cantik.
“Kalian itu kenapa selalu mengusik Axel sih, padahal sudah jelas dia itu milikku”, ucap Anisa
“Oh ya!”, ucap Aminah di depan wajah cewek centil
“Iya, terus bilangin pada Alika, jangan terus godain Axel. Sudah punya om-om malah dekati gebetan orang”, ucap Anisa dengan menyindir.
“Suka-suka Axel dan Alika, mereka yang jalanin, kamunya kok rempong”, ucap Raina ikut membela.
“Kalian ya..,” geram Anisa sambil geregetan lalu menjabak rambut Aminah bersama dua pengikut Anisa dan Raina ikut membantu hingga guru BP itu datang.
“Berhenti! !!!!!!”, teriaknya hingga hampir mengguncang gedung semolah dan gendang telinga hampir kandas mendengar suara teriakan dari bu Ningsih.
Mereka lalu berhenti bertengkar dan mendapatkan tarikan telinga dari bu Ningsih milik Aminah dan Anisa.
“Kalian ikut saya”, perintah Bu Ningsih berjalan ke ruang BK.
“Duduk!”, tegasnya.
“Nilai etika dan setiakawan kalian mana”, sambil membawa tongkat lidi dengan di pukulkan pada meja dekat, “plakk”, suara pecutan dari tongkat lidi itu terlihat ngeri.
“Apa bagusnya kalian berkelahi?.., Kalian sebentar lagi ujian malah jam istirahat buat berkelahi Terus yang kalian ributkan itu masalah apa?!,” tanya Bu Ningsih dengan nada tegasnya.
Mereka hanya terdiam tanpa menjawab.
“Jawab!”, teriaknya.
“A..xel”, lirih Winda.
“Si.a.pa”, dengan mengetatkan giginya sambil menggebrak meja dan membuat mereka terkejut.
“Axel, bu”, ucap Lisa.
“Whatts!”, dengan mata mendelik, “cuman gara-gara satu cowok kaluan sampai berkelahi. Ck, ck”, geleng Bu Ningsih.
“Sekarang kalian tidak usah ikut pelajaran bersihkan semua kamar mandi di sekolah ini hingga pulang sekolah berbunyi”
“What!”, ucap kelima siswi bersamaan.
“Iya, cepetan laksanakan!”, air liur muncrat dan membuat para siswi ngeri juga jijik.
Aminah membisikkan pada Raina, “lebih baik kita ikuti sebelum lavanya muncrat di wajah kita”
“Iya, mana bau lagi”, bisik Raina
Raina dan Aminah beranjak perdgi dengan diikuti tiga musuh centil itu. Mereka melaksanakan dengan hati gundah. Sedangkan Aminah malah menikmati sambil bernyanyi dengan suara cempreng membuat seisi di kamar mandi keluar dan pergi. Sedangkan Raina langsung membekap mulut Aminah dan kena tendangan ember dari Anisa lalu mengajak dua pengikutnya pergi membersihkan ke toilet lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments