Aura baru selesai mandi, dia terlalu buru-buru saat mandi karena bel di pintu apartemennya berbunyi beberapa kali. Tapi siapa yang bertamu ke tempatnya malam-malam begini, hanya Utari yang tau di mana Aura tinggal saat ini. Tapi Utari juga sudah diberikan wejangan panjang oleh Aura, wejangan yang berisi bahwa di dalam hunian unit 130 itu, Aura tempati bersama Si Kunti Jumi. Meski diancam, dibayar dengan segepok uang atau sebongkah belian, Utari tak bakal mau untuk sekedar menyambangi kediaman Aura saat ini.
Utari terlalu penakut untuk datang ketempatnya, apa lagi malam-malam begini.
Dengan langkah terburu-buru, Aura yang telah berganti pakaian di dalam kamar mandi pun keluar dari ruangan sempit itu. Gadis cantik yang tomboy itu hanya mengenakan kaus oblong putih dan celana kolor senada meski warnanya tak terlalu cerah.
"Siapa?" tanya Aura pada si hantu tampan yang tampak sibuk di dapur, sementara Si Kunti Jumi yang duduk di kursi ruang tamu sedang asik memperhatikan si hantu tampan.
Tak ada satu kata pun yang keluar sebagai jawaban dari dua mulut hantu di rumah itu. Aura tak merasa kaget karena Jumi yang bisu, tapi hantu tampan tampak memasang wajah yang cukup kesal. Hal itu membuat Aura semakin penasaran, siapakah manusia yang bertamu ke kediamannya.
Ting tong ting tong ting tong.
Bel di pintu kembali berbunyi, mau tak mau Aura harus berjalan ke pintu untuk melihat siapa yang datang. Seperti biasa Aura akan melihat siapa yang datang dari lubang kecil di pintu.
"Ngapain dia kemari?" tanya Aura, manik matanya telah menangkap siapa yang tengah berdiri di depan pintu apartemennya.
Raga telah berdiri tegak di depan pintu apartemen Aura sejak tadi, dia menunggu sang pemilik membukakan pintu besi itu untuknya.
Jegrekkkkkkkk
Aura membukakan pintu apartemennya untuk Raga.
"Apa?" tanya Aura, dia hanya mengeluarkan kepalanya dari balik pintu untuk menyapa Raga.
Tanpa aba-aba Raga segera mendorong pintu besi itu hingga tubuhnya kini sudah berada di dalam ruangan apartemen bersama Aura dan dua hantu yang tak bisa dilihatnya.
"Oyyyyy! Main nyelonong aja?! Elu nggak tau gue ini gadis perawan yang tinggal sendirian, gimana kalau tetangga pada tau. Bisa diusir gue!" mulut Aura mulai nerocos tak jelas.
Raga hanya diam tak menanggapi celotehan Aura, dia malah sibuk mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan depan.
"Apa dia masih ada di sini?" tanya Raga.
"Siapa?" tanya Aura bingung.
Raga menarik kepala Aura dan membisikkan sesuatu di telinga Aura.
"Ini kan rumah Mutia, jadi dia tak akan pergi dari sini!" kata Aura.
Si Kunti yang merasa disebut nama aslinya segera memandang ke arah Aura dengan mata merahnya yang melotot. Dia pasti sangat terkejut.
"Iya gue tau siapa elu!" kata Aura, ke arah Si Kunti Jumi yang duduk di sofa ruang tamu.
Raga terlihat menelan salivanya karena jawaban Aura dan gelagat Aura yang berbicara pada angin yang tak berhembus di dalam ruangan tertutup itu. Tapi ini adalah bukan kali pertama Raga melihat Aura berbicara pada hantu jadi dia menaggapi tingkah Aura yang horor itu dengan santai. Dia juga mengambil sesuatu dari dalam tas ransel hitamnya, Raga ternyata membawa beberapa obat untuk perawatan luka luar.
Raga menangkap pergelangan tangan Aura dan ia tuntun untuk duduk di sofa, Raga segera memeriksa luka di punggung tangan Aura bekas luka saat dia menghajar bayangan hitam di ruangan Pak Imanuel.
Raga juga melihat luka lain di leher, siku serta lutut Aura. Dengan cekatan dan tanpa banyak bacot, Raga segera mengoleskan salep di setiap luka di tubuh Aura yang berhasil dia lihat.
Pria tertampan di jurusan seni kampus Ai itu juga memakaikan plester di luka-luka Aura.
"Apa gue nginep aja di sini?" tanya Raga.
Aura cukup kaget dengan perkataan Raga, bukankah Raga dulu sangat takut dengan hantu. Kenapa dia malah punya inisiatif untuk tidur di rumah ini, yang jelas-jelas ada hantu Si Kunti di sana.
"Boleh tapi elu tidur sama Mutia, mau?!" ledek Aura.
"Gue maunya tidur sama elu!" kata Raga.
Krompyanggggggg
Aura segera melihat ke arah hantu tampan yang membanting salah satu alat masaknya ke lantai. Entah memang takut atau Raga pandai memgunakan kesempatan, pria tampan itu kini telah mendekap erat tubuh Aura.
"Minggir!!!" bentak Aura.
"Maaf!" Raga segera melepaskan tubuh wangi Aura yang memang baru habis mandi.
"Pulang sana!" suruh Aura pada Raga.
"Elu bilang mau wawancara hantu Mutia tentang pembunuhan itu!" kata Raga.
Mutia yang duduk di depan mereka berdua pun tampak terdiam karena perkataan Raga pada Aura.
"Gue bisa sendiri!" kata Aura.
"Gue juga mau tau, gue harus nagkep pembunuh yang udah ngebunuh Ratih! Jika dokter Abraham bukan pembunuh Ratih, itu artinya pembunuh Ratih masih berkeliaran bebas setelah membunuh sahabat kita!" kata Raga.
"Elu bener!" kata Aura, manik mata Aura kini tertuju pada mata merah Mutia.
Mutia pun berdiri dari tempat duduknya dia berjalan mengambang di udara ke arah kamar utama.
"Kurasa Mutia tak akan memberi tahu kita apa pun!" kata Aura.
"Kenapa?" tanya Raga.
Gubrakkkkkkkkkkkk.
Lagi-lagi rasa kaget Raga membawanya kembali memeluk tubuh gadis cantik di sebelahnya.
"Cari kesempatan elu ya!" kata Aura, dia tampak kesal dengan kelakuan Raga padanya.
"Kalau iya kenapa?" tantang Raga, tapi dia melepaskan tubuh Aura dari jeratan dekapan hangatnya.
Kedua pasang mata Aura dan Raga segera menangkap sebuah bayangan putih di balik pintu kamar utama.
"Ayo!" kata Aura, dia mengajak Raga pergi ke dalam kamar utama yang selama ini ditempati oleh hantu Mutia.
Sosok gosong itu berdiri di depan jendela kamar yang terbuka, hordeng putih tipis melayang berkibat di sekitar tubuhnya yang mulai berubah menjadi gadis yang sangat cantik.
"Semua ada di dalam berangkas, kode sandinya adalah hari kematianku!" kata Mutia lirih, tapi dia masih bisa mendengar apa yang coba dikatakan oleh Mutia.
"Apa kau ingat tentang pria berkepala plontos yang kuliah di jurusan seni di kampus Ai?" tanya Aura.
"Iya!" jawab Mutia.
"Dia menunggumu di kelasnya!" kata Aura.
Pandangan gadis bergaun putih yang kini terlihat begitu angun itu menjadi menjadi sedih.
"Pria itu juga meninggal hari itu!" kata Aura.
"Apa?" tanya Mutia, dia sangat kaget. "Bisa antarkan aku padanya!" pinta Mutia pada Aura.
"Hantu om-om yang akan mengantarmu!" kata Aura.
"Aku ingin kau yang mengantarku!" kata Mutia. "Hanya kau saja!" Mutia kembali menegaskan permintaanya pada Aura.
.
.
Aura berjalan sedangkan Mutia melayang di udara mengikuti langkah terburu-buru Aura.
"Jauhi hantu om-om itu!" kata Mutia.
"Kenapa?" tanya Aura.
"Aku punya firasat yang tak bagus dengan lelaki itu!" kata Mutia. "Saat pria itu masih hidup dia berusaha membobol unit apartemenku!" kata Mutia.
"Kapan?" tanya Aura.
"Belum lama, mungkin 10 hari sebelum kau membawa arwahnya ke runah. Ternyata dia telah kehilangan ingatanya ketika dia masih hidup!" jelas Mutia.
"Hantu om-om itu bilang dia mati karena tubuhnya bersimbah darah di dalam sebuah mobil, kenapa dia pernah mau membobol apartemenmu?!" kata Aura.
"Kau harus hati-hati padanya, hantu tak bisa berbohong! Tapi jika dia menjadi roh jahat, dia mungkin akan susah untuk di musnahkan! Kau harus mencari cara memusnahkannya segera!" kata Mutia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Ray
Apakah hantu om ganteng itu suruhan seseorang, atau suruhan pembunuh Mutia?🤔 Cerita Outhor semakin Ok dan selalu bikin penasaran, jadi baca terus💪🙏😍
2024-11-19
0
aas
mungkin dia ke apartment mutia karena lagi nyelidikin kasusnya mutia itu 🤔
2025-03-08
0
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
buseh gue ketinggalan buanyak banget...🤧
perasaan cuma berapa hari doang kaga gue longok
2021-09-10
2