Visual Senki Kimoka
Tapi pandangan kesal Pak Senki pada Raga segera ia turunkan, dikarenakan detektif itu juga merasa cukup bersalah pada Raga. Tindakan cerobohnya di masa lalu, bisa saja membuat Raga menjadi tersangka atas kasus pembunuhan Nawang Ratih.
"Sampai sekarang Dokter Abraham belum mengakui, bahwa dia yang telah membunuh Nawang Ratih!" kata Pak Senki, pria paruh baya itu kembali fokus dengan makanan di piringnya.
"Maksut bapak?!" tanya Aura.
Abraham, sekarang pria itu berusia 55 tahun mendekam di penjara sambil menunggu malaikat pencabut nyawa menjemputnya. Pelaku pembunuhan berantai tiga tahun lalu, yang membunuh korbannya untuk bahan penelitian.
Pria bernama Abraham dulunya berprofesi sebagai dokter bedah syaraf yang sangat disegani kala itu, dia disebut jenius dan dielu-elukan petugas medis di seluruh dunia. Karena Dokter Abraham berhasil membuat sebuah trobosan besar, untuk dunia bedah syaraf.
Tak ada yang menyangka bahwa dia adalah pelaku pembunuhan Bintang Perak. Dia dijuluki seperti itu karena setiap korbannya mempunyai kalung Bintang Perak saat mayatnya ditemukan kecuali Ratih.
"Kemungkinan besar, pembunuh Ratih masih berkeliaran bebas!" kata Pak Senki.
Aura menatap tajam ke arah Pak Senki, lelaki itu tak melihat pendangan tajam yang mengarah padanya saat ini. Tapi lelaki itu tau dia harus menjelaskan semuanya, pada dua sahabat mendiang Ratih yang saat ini tengah duduk depannya.
"Kemungkinan besar, pelaku baru pertama kali melakukan pembunuhan saat membunuh Ratih." Pak Senki melepas sendoknya di atas piringnya yang masih separuh dipenuhi makanan yang telah tercampur aduk.
Matanya kini mengarah pada Aura dan Raga secara bergantian. "Siapa pun yang membunuh Ratih bukanlah Abraham! Dia hanya seorang peniru...
"Ketika tubuh Ratih dibakar, gadis malang itu masih hidup!" kata Pak Senki.
Aura menelan salivanya, dia seketika membayangkan penderitaan apa saja yang dialami Ratih menjelang ajalnya. Sahabatnya pasti berteriak sangat keras untuk meminta tolong sambil menahan kesakitan, kini Aura bisa melihat bayangan ketakutan yang mungkin dirasakan oleh gadis lemah lembut itu.
Dipukuli, dirajam, disiksa secara brutal, jelas Ratih pasti mengalami itu. Aura yakin pembunuh yang membunuh sahabatnya itu pasti bukanlah manusia. Membakar hewan yang masih hidup, itu saja sudah bukan perilaku yang bisa dilakukan oleh manusia biasa. Dan pembunuh itu membakar Ratih setelah menyiksanya. Itu lebih dari sekedar kejam.
Sementara di malam-malam sahabatnya disiksa sang pembunuh, dirinya tidur nyenyak di atas kasur yang empuk di dalam rumahnya yang hangat.
Pandangan mata Raga juga tertuju pada Aura yang tampak sangat sedih. Dia segera menjulurkan lengannya dan mengelus punggung atas Aura untuk menenangkan gadis yang dia cintai itu.
"Ku rasa kalian tak mau dengar...!" kata Pak Senki, dia hendak melanjutkan kalimatnya tapi segera dipotong oleh Aura.
"Tolong!!! Ceritakan semua kepada kami!" mohon Aura pada Pak Senki.
Meski kini matanya berkaca-kaca dan memerah, dan ketakutan tengah menguasainya. Tapi gadis tomboy itu tak mungkin mengabaikan fakta menyangkut kematian tragis sahabatnya Ratih.
"Kalian harus siap! Dan aku butuh kemampuanmu untuk melacak orang itu setelah ini." kata Pak Senki yang memang tau bahwa Aura mempunyai kelebihan, bisa melihat mahluk yang sudah mati.
Aura hanya mengangguk untuk mengganti jawaban iya.
"Aku akan melakukan apa pun untuk, Ratih!" tekat Aura.
"Dokter Abraham mulai membunuh 10 tahun lalu, korban pertamanya adalah seorang gadis yang berkerja di restoran dekat kampus kalian saat ini namanya Mutia Yolanda!" kata Pak Senki.
"Apa restoran itu dulu terletak di perempatan?" tanya Aura.
"Kau tau,?!" tanya Raga.
"Ada seseorang yang mengatakannya padaku!" kata Aura.
Meski pikiran Aura saat ini tak memikirkan uang, tapi dia yakin siapa yang tengah ditunggu Si Hantu Kupluk selama 10 tahun ini. Gadis yang ditaksir Hantu Kupluk itu adalah Mutia, Si Kunti Jumi yang menjadi teman serumahnya sekarang. Jadi hari di mana Hantu Kupluk kecelakaan, maka hari itu adalah hari yang sama saat Mutia dibunuh di dalam kamarnya.
"Kau benar, Mutia adalah mantan kekasih Dokter Abraham. Gadis itu dibawa ke apartemen yang Abraham berikan pada gadis itu sebelum mereka putus!" Pak Senki masih sempat memasukkan sesendok nasinya kedalam mulutnya, setelah mengunyah sebentar, dia kembali menjelaskan.
"Gadis bernama Mutia itu disiksa sampai sekarat, lalu dibakar saat gadis itu masih hidup! Dan hal yang sama juga terjadi pada jenasah Ratih!" lanjut Pak Senki.
"Jadi kemungkinan besar pembunuh Ratih mengenal Dokter Abraham, atau paling tidak pembunuh itu tau bagaimana kronologi khasus Mutia!" kata Aura.
"Bingo!" kata Pak Senki. Dia merasa senang karena Aura belum kehilangan insting detektifnya.
"Orang yang paling dekat dengan Dokter Abraham, pasti orang itu!" kata Aura.
"Beberapa tahun terakhir, banyak khasus kematian yang tak wajar dan juga pembunuhan berantai yang mengunakan metode yang sama dengan metode pembunuhan Dokter Abraham. Tapi pembunuh ini punya ciri khas yang berbeda dari ciri khas Dokter Abraham!" kata Pak Senki.
"Ciri khas?" tanya Raga.
"Jika Dokter Abraham memberikan kalung berliontin Bintang Perak pada calon korbanya!!! Tapi pembunuh ini memberikan kalung berliontin Bulan Biru untuk calon korbannya!" jelas Pak Senki.
"Bintang Perak dan Bulan Biru, apa artinya!" Aura mencoba memikirkan apa hubungan dari ke dua benda itu.
"Korban pertama bulan biru, adalah seorang pelatih tinju di sebuah akademi tinju. Namanya Hendri setiawan, dia pria yang baik dan jujur serta tak pernah melakukan kejahatan pidana apa pun. Tapi lelaki ini berselingkuh dengan wanita muda di belakang istrinya...
"Yang kedua Sadewa dari Pandawa Grup, dia terlihat seperti pemimpin yang baik dan bijaksana. Dia juga murah hati dan suka menolong, tapi di balik itu semua. Lelaki konglomerat itu mempunyai sisi gelap yang menakutkan. Untuk dapat mewarisi Pandawa Grup, lelaki itu membunuh adik tirinya!" jelas Detektif Senki.
"Mereka semua bersalah!" pekik Raga, akhirnya dia faham apa yang dibicarakan oleh pak Senki.
"Ada tujuh orang yang dibunuh dengan metode yang sama tahun ini, dan para korban mempunyai kalung berliontin Bulan Biru yang sama!!!
"Baru-baru ini, aku dan juniorku hampir menagkap pembunuh itu! Tapi juniorku mengalami kecelakan yang serius hingga anak itu sekarang koma di rumah sakit!" imbuh Pak Senki.
Terlihat piring Pak Senki sudah kosong, sementara piring Aura dan Raga masih penuh dengan nasi yang sudah mulai mengembang.
"Kalian nggak makan?" tanya Pak Senki.
"Nggak *****! masa pas makan yang di bicarakan hal seperti itu!" celoteh Raga.
"Liontin Bulan Biru, apa arti dari liontin itu?" tanya Aura dengan nada lirih sambil berfikir keras.
"Beberapa hari lalu aku menemui Dokter Abraham di penjara, dia menjelaskan kecerobohannya membunuh Mutia! Kami belum merilis berita ke media, bahwa gadis yang dianggap bunuh diri di dalam apartemen Anugrah unit 130 adalah salah satu korban Abraham!" kata Pak Senki.
"Bukannya elu tinggal di Unit itu, Ra?" tanya Raga.
"Benar, dan Hantu Mutia masih tinggal di kamar itu!" kata Aura.
"Apa dia menjelaskan sesuatu padamu?" tanya Pak Senki pada Aura.
"Ku rasa Mutia di bakar sampai tak bisa berbicara lagi!" kata Aura.
"Gadis itu bisu!" kata Pak Senki.
"Tapi Hantu Mutia punya pendengaran yang bagus!" kata Aura.
"Saat awal pacaran Abraham tak sengaja mencelakai Mutia sampai gadis itu mengalami kerusakan pita suara yang parah!" jelas Pak Senki.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
aas
waduuh Pak Senki nya song seung heon 🤭
2025-03-08
0
Ray
Mungkin Hantu Tampan itu polisi yg lagi koma di RS temennya Pak Pol Senki?🤔
Lanjut baca aja biar gak penasaran ceritanya Outhor💪🙏
2024-11-19
1
N___vt
jangan-jangan hantu cogan itu temennya pak senki
2024-10-07
0