Aura hanya membuat sketsa abstrak dari Hantu Kupluk itu. Di dalam hati Aura, dia selalu bertanya kenapa hantu lelaki itu hanya berdiri saja di sana selama ini.
Jika dia menunggu sesuatu apa yang hantu itu tunggu. Kenapa, apa pun yang ditunggu hantu itu tak pernah muncul. Padahal Aura sudah kuliah di kampus itu selama 3 tahun, tapi dia tak pernah melihat hantu itu pergi dari tempatnya berdiri.
Dasar hantu bego,
Sesuap nasi aja harus dikejar.
Kenapa malah berdiri diam di sana selama bertahun-tahun.
Udah jadi hantu masih saja hidup dengan sia-sia.
Karena bosan dan kesal dengan tingkah laku Hantu Kupluk itu, Aura akhirnya berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan kelasnya. Dia meninggalkan buku gambar dengan sketsa Hantu Kupluk itu, begitu saja di atas mejanya.
Di kampus ini banyak sekali hantu, tentu saja. Tapi yang paling populer adalah Monika, hantu perempuan berwajah cantik yang sangat ramah. Monika adalah salah satu penghuni perpustakaan kampus, dia sangat cerewet dan tak bisa berhenti jika diajak bicara.
Aura sebenarnya malas untuk bertanya pada Monika, tapi mau tak mau Aura harus bertanya. Dia tak mau rasa penasaran mengganggunya.
Aura adalah orang yang tak bisa menahan apa pun, apa lagi rasa penasaran yang sudah dia pendam selama dia menuntut ilmu di universitas itu.
Aura tak masuk ke dalam perpustakaan dia hanya berdiri di dinding samping perpustakaan. Aura membisikkan nama Monika di dinding, biasanya hantu cantik itu akan selalu muncul dengan panggilan pelan Aura.
Kali ini pun Monika juga langsung muncul di samping Aura, yang tengah sangat nyaman bersandar di tembok berwarna karamel di belakangnya.
"Kau memangilku?" tanya Monika.
Tubuh transparan milik Monika melayang dari sisi kiri Aura ke sisi kanannya, hal itu membuat bola mata coklat Aura mengikuti arah pergerakan hantu Monika.
"Bisa diem ngak sih, Lu. Pecicilan banget!" komentar Aura dengan nada galaknya.
"Maaf....ada apa? Tak biasanya kamu mencariku? Ada perlu apa? Kau tak sedang memburuku-kan?!!" rentetan pertanyaan keluar dari mulut Monika untuk Aura.
"Elu kenal cowok yang ada di kelas seni pahat?" tanya Aura.
"Tidak, lelaki yang selalu di pojokan?!" kata Monika, ternyata Monika tau hantu itu.
"Iya."
"Lelaki itu, dia di sana sudah lama bahkan sebelum aku di sini." kata Monika.
"Elo di sini dari kapan?" tanya Aura.
"20 febuari 2012, itu hari kematianku." kata Monika dengan wajah yang ditekuk ke bawah, hantu cantik itu terlihat sedih.
"Cantik banget tanggal kematian, Lu? Kayak direncanain." kata Aura.
"Sayangnya aku tak ingat apa pun tentang ingatan saat aku masih hidup, aku bahkan lupa namaku." kata Monika.
"Lalu Monika itu nama siapa?" tanya Aura bingung.
"Pak Imanuel yang memberikan nama itu padaku!" jelas Monika.
"Pak Imanuel, dosen seni di kelas gue?" tanya Aura kaget.
"Iya."
"Dia bisa ngelihat elu?" tanya Aura.
"Sayangnya Pak Imanuel tidak bisa melihat kecantikanku, lelaki tampan itu terkadang datang ke perpustakaan saat malam hari dan berdiri di tempat mayatku ditemukan.
"Dosen ganteng itu selalu menyebut nama Monika, jadi aku pasti Monika yang dia maksut." jelas Monika.
"Ngaco, Lu!" desah Aura.
Aura hanya merasa tak senang saat seseorang mempunyai kemampuan seperti dirinya di sekitarnya. Karena bagaimana pun juga Aura tak mau sampai ada yang tau, bahwa dia bisa melihat mahluk halus.
Yang paling penting identitasnya sebagai Lawliet tak boleh sampai terbongkar. Baginya cukup Utari saja yang tau siapa dirinya.
Meski Utari adalah gadis yang minim akhlak, tapi sifat setia kawannya pada Aura telah teruji secara klinis. Utari tak akan membocorkan apa pun menyangkut Aura. Apa pun.
Setelah mengikuti beberapa kelas lain, Aura bergegas untuk pulang. Karena dia sudah menerima perkerjaan dari tukang rongsokan di pingiran kota.
Penjelasan dari tukang penjaga gudang rosokan itu hanya mengatakan, bahwa selama seminggu ini gudangnya selalu berisik dengan suara tembakan senjata api di malam hari. Tapi penjaga itu sama sekali tak bisa menemukan asal suara itu.
Alhasil penjaga gudang itu menghubungi Lawliet sang pemburu hantu untuk melakukan pengusiran setan di gudang itu.
Aura akhirnya sampai di apartemennya jam 4 sore, dia tak bisa melihat Si kunti Jumi di ruangan depan di apartemen itu. Manik mata gadis itu masih saja berpendar menelisik ke seluruh ruangan luas itu untuk mencari kawan serumahnya.
Hantu itu pasti berada di kamar utama, pikir Aura.
Karena suara rintihan dan isakan tangisan menggema dari dalam ruangan itu.
Aura pun tak mau mengusik kesedihan si kunti itu, bagi Aura tak ikut campur dengan urusan para hantu adalah hal yang sangat pintar. Dia segera masuk ke dalam kamarnya dan mengganti tasnya dengan tas ransel khusus.
Isi dari tas itu adalah beberapa senjata yang diberikan oleh kakeknya, untuk menghabisi para hantu yang mengganggu Aura semasa gadis itu masih kecil. Tapi senjata itu masih sangat berfungsi hingga sekarang.
"Jumi, gue kerja dulu elu mau gue beliin apa pas pulang nanti?" tanya Aura, ternyata Aura juga punya sedikit rasa simpati pada Jumi.
Tak lama Jumi keluar dari kamarnya tanpa membuka pintunya, dia berjalan pincang kearah Aura.
"Boneka." kata Jumi dengan nada seperti mendesis sangat pelan.
Aura cukup tersentak saat Jumi mengatakan sebuah kata, meski tak terlalu jelas di pendengarannya.
"Ok, jangan nakal, jangan berkeliaran, apa lagi mengganggu orang lain!" nasehat Aura.
Jumi menjawab dengan angukan dan senyum menyeringai yang seram.
Ni kunti kenapa serem banget yakkkk,
Tapi nggak papa lah.
Yang penting gue bisa tinggal gratis di mari.
Aura segera menggendong ransel hitamnya dan tanpa berganti pakaian dia langsung pergi keluar lagi.
Di parkiran bawah, seorang ibu-ibu berlari ke arah Aura. Dia menghentikan niat Aura untuk naik ke atas motor putihnya.
"Makasih lho Dek Aura, gara-gara kamu mau tinggal di apartemen itu Si Kunti nggak mengganggu penghuni lain lagi!" kata ibu itu.
"Iya buk nggak papa. Memang Si Kunti itu sangat menyeramkan tapi dia sangat baik padaku! Dia jahat karena butuh teman, itu saja!" kata Aura.
Aku bohong lagi untuk mendapatkan tempat tinggal.
"Padahal pas masih hidup, Mutia adalah gadis yang baik!" kata ibu itu, Aura mengeryitkan dahinya untuk mencoba menyaring perkataan ibu itu di otaknya.
"Mutia?"
"Iya Aura, dia membakar dirinya sendiri di kamar utama apartemen itu!" kata ibu itu dengan nada bicara yang dipelankan, seakan takut seseorang mendengar obrolan ini.
"Ibu tau alasannya?" tanya Aura.
"Nggak tau." ibu itu mengelengkan kepalanya perlahan. "Saat alarm kebakaran berbunyi semua penghuni langsung turun tanpa tau kalau pemicu alarm adalah kebakaran di unit 130, unit yang ditempati Mutia.
"Seorang petugas pemadam kebakaran bilang saat ditemukan, Mutia telah terbakar hangus tapi masih hidup...
"Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya Aura, ibu harus pulang!" pamit ibu itu. Perempuan paruh baya itu terlihat gugup saat membicarakan tentang Mutia, entah karena apa.
Aura pun hanya menunduk sopan untuk mengiringi kepergian ibu-ibu tadi.
Jadi nama Si Jumi itu Mutia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Ray
Wah Kunti lagi ..Kunti lagi😱
Pasti seru ini berhubungan dengan mistis😱
2024-11-18
0
senja
wkwk bukan bodoh tp pintar, kekurangan agenda, wkwk
2022-04-03
0
Nila Cherry
suka dgn genre horor komedi seperti ini... mantap thor
2022-03-05
1