Aura memacu motor Yamaha R25 putih barunya menuju kampus, padahal jalan kaki dari apartemennya ke kampus hanya memakan waktu 15 menit saja tapi gadis tomboy ini sengaja ingin pamer.
Bisnis usaha yang dia jalankan selama 3 bulan belakangan ini berhasil. Tentu saja usaha Pemburuan Hantu, apa lagi.
Aura memasang iklan di media sosial yang dia buat khusus untuk bisnis barunya itu, dengan nama Lawliet sang pemburu hantu. Jadi semua orang di kota itu bisa melihat jasa apa saja yang dia tawarkan.
Mengusir hantu dari sebuah bangunan, layanan itu adalah yang paling diminati pelanggannya akhir-akhir ini. Yaaaa harga bangunan akan turun jika ada hantu di dalam bangunan itu, alhasil bangunan itu akan susah di jual. Jadi untuk jasa ini Aura memasang tarif yang lumayan tinggi.
"Motor baru, Ra?" tanya sebuah suara feminim yang tak asing di telinga Aura.
"Iya dong, Ri!" jawab Aura.
Gadis yang menyapa Aura adalah Utari sahabat Aura. Utari juga merupakan mahasiswa jurusan seni yang sama dengan Aura.
"Nggak beli montor bebek aja, biar bisa jadi penghuni comberan di belakang kampus ono." cerocos Utari, dengan nada khas sundanya.
"Cingire....landep temen yakk!" jawab Aura pake bahasa ngapak, yang sebenarnya tak dia kuasai.
"Apa artinya, Ra.?" tanya Utari bingung.
"Bacot lu,!" Aura pun mentranslate bahasa yang dia gunakan.
"Issssss." desis Utari sang penggila drama korea itu.
Kedua sahabat beda budaya dan aliran serta outfit itu berjalan berdampingan memasuki kampus mereka.
Aura adalah gadis tomboy yang selalu berpakaian serba hitam yang suram. Jaket kulit hitamnya yang menambah kesan begajulan yang kalem, karena visual imut Aura yang bisa menetralisir kesan nakal di setiap penampilan gadis itu.
Sementara Utari adalah gadis imut dengan gaya berpakaian yang selalu cerah dan dia suka mengenakan gaun-gaun yang cantik untuk tampilan di setiap harinya.
"Lu, mau buat apa untuk pameran semester ini?" tanya Utari pada Aura, mereka masih berjalan di lorong menuju kelas mereka.
"Belum tau gue, masih bingung banget!" jawab Aura yang mencoba menerawang apa yang mungkin bisa dia buat untuk event setahun sekali itu, event yang sangat penting untuk para mahasiswa jurusan seni.
"Gue mau buat yang agak berani." kata Utari.
"Jangan bilang kamu mau buat pahatan pantat cowok elu yang baru!" tebak Aura dengan ekspresi wajah jijik ke arah Utari yang tersenyum manis ke arahnya.
"Nggaklah, tepatnya yang di depan pantatnya." kata Utari dengan tanpa sensor.
"Gila lu!!!" kata Aura putus asa.
"Bentuknya benar-benar sempurna, miliknya adalah yang paling luar biasa dari milik semua cowok yang gue pernah lihat, Ra." jelas Utari dengan sangat bersemngat.
Gadis yang tentunya udah nggak perawan ini menjelaskan hal itu tanpa rasa malu sedikit pun pada Aura.
"Serah lu...dasar mesum!" kata Aura yang kembali memasang wajah juteknya.
Aura memang sudah hafal dengan tabiat cewek bernama Kencana Utari Dewi di sampingnya itu, gonta-ganti teman kencan bukanlah sesuatu dosa bagi cewek 23 tahun itu, tapi hal tersebut adalah merupakan sebuah kesenangan baginya.
"Elu, harus lihat kalau udah jadi!" kata Utari.
"Ogah!" kata Aura.
Akhirnya mereka sampai di dalam kelas mereka, tentu saja kelas jurusan kesenian sangat berbeda dengan kelas di jurusan lainnya.
Ruangan yang berantakan dengan banyak atribut kesenian yang belum selesai dibuat para mahasiswanya, menghiasi seluruh ruangan itu.
Meja yang lebih luas dan ruang yang longar di balik meja, adalah bonus khusus untuk pelajar di jurusan seni.
Tak lama seorang dosen lelaki dengan pakaian yang rapi memasuki ruangan itu.
Namanya pak Imanuel, dia pria berkebangsaan Roma tapi sekarang menetap di negara ini. Lelaki berwajah super tampan dan badan tegap perkasa itu telah menikah dengan salah satu wanita di kota ini.
Para mahasiswa di kampus ini juga tak tau persis siapa wanita yang sangat beruntung itu, yang telah dinikahi pria gagah perkasa yang baru saja masuk ke dalam ruangan kelas Aura.
Aura dan Utari segera mempercepat laju langkah kaki mereka ke arah tempat duduk mereka masing-masing karena kedatangan dosen tampan itu.
Hari ini Pak Imanuel hanya membahas beberapa karya seniman patung terkenal, dan dari mana inspirasi karya itu mereka dapat.
Semakin lama kita di kelas seni, maka semakin kita hafal nama-nama aneh yang asing didengar telinga orang Indonesia.
Tempat-tempat luar biasa yang ingin kita kunjung jadi berbeda dari sebelum kita masuk jurusan ini. Italia, Milan, Roma itu menjadi kiblat para seniman pahat di dunia ini. Aura pun jadi punya mimpi bisa tinggal di salah satu kota itu untuk menambah pengetahuan akan seninya.
"Ini sudah saatnya kalian bersiap untuk karya pameran semester ini, bapak harap kalian segera memikirkan apa yang ingin kalian tuangkan di karya kalian nanti." kata Pak Imanuel dengan bahasa Indonesia yang lumayan lancar.
"Baik, Pak!" kata semua mahasiswa di ruangan ini, ya jawaban yang akan selalu diberikan oleh para siswa untuk setiap nasehat gurunya.
Pak Imanuel langsung keluar begitu saja dari dalam kelas Aura, tanpa kata-kata lain. Dia memang termasuk dosen yang dingin dan pendiam.
"Eh lu entar malem ada acara enggak, Ra?" tanya Utari.
"Kenapa emangnya." tanya Aura, matanya segera memandang ke arah Utari yang duduk di depan mejanya.
"Gue mau nemuin cowok, adik kelas kita. Dia bilang dia pengen deket sama elu!" kata Utari.
"Males banget gue ngurus yang kayak begituan." Aura segera memasang raut jengah di wajah imutnya.
"Elu, nggak lesbi-kan?" tanya Utari, dengan nada yang mengintimindasi.
"Sebaiknya lu mulai perawatan di rumah sakit jiwa, sebelum lu telanjang di jalan raya sambil narik akua kosong yang ditali rafia." kata Aura.
"Imajinasi lu kelewatan, gue cuma pengen lu bergaul sama mahasiswa lain." kata Utari.
"Gue mana ada waktu buat hal nggak penting seperti itu, gue harus kerja nanti malam." kata Aura.
"Semoga elu ketemu hantu ganteng yang bisa dipacarin." kata Utari.
Gadis berambut panjang yang diwarnai perak di beberapa bagian rambutnya itu, segera berdiri untuk meninggalkan Aura yang tengah sibuk dengan buku gambarnya.
Jemari mungilnya menyapukan ujung hitam pensilnya ke kertas putih, lagi-lagi Aura mengambar sosok seram lagi.
Aura memandang ke arah pojok ruangan ini, hantu yang sudah lama ada di sana. Hantu lelaki dengan tubuh basah kuyup dengan kepala yang hampir plontos serta memakai kupluk putih.
Hantu lelaki itu bertubuh tegap yang cukup berotot dengan jumpsuit hitam. Jumpsuit yang sama yang biasa Aura kenakan saat dia mengerjakan karyanya agar bajunya tak terkotori oleh tanah liat yang menjadi bahan dasar untuk membuat patung.
Hantu itu hanya berdiri di sana dan memandangi setiap mahasiswa yang masuk ke ruangan itu.
Aura sudah melihat hantu itu sejak dia pertama kali memasuki ruangan itu dari awal semester kuliahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
YuniSetyowati 1999
Hai Thor,salam jumpa.Ijin nongkrong didunia halu mistis mu y Thor
2024-11-27
0
Ray
Horor, mistis, kesana pertama baca cerita Outhor😱🙏
2024-11-18
0
英
Wahh byk kejadian berada di mana pun
2025-02-15
0