Visual Pak Imanuel
.
.
.
.
Hari ini Aura memutuskan tak melanjutkan kelasnya. Dia membolos karena meskipun Aura nekat mengikut kelas selanjutnya, maka otaknya tak akan mampu menerima pelajaran yang diajarkan dosen.
Gadis tomboy itu pulang ke gedung apartemennya, mengambil motornya yang berada parkiran khusus motor di lantai bawah apartemen itu.
Tapi sebelum langkah kaki Aura sampai di parkiran, Ibu-ibu yang kemarin sore mengajak Aura ngobrol kembali muncul.
"Udah pulang, Dek Aura?" tanya Ibu-ibu itu dengan begitu sangat ramah, hingga membuat Aura tak tega untuk mengabaikan sapaan ibu itu.
"Iya Bu!" jawab Aura.
"Apa tadi pagi kau bertengkar dengan Si Kunti?" tanya ibu itu.
Aura jadi ingat suara yang dihasilkan Si Kunti dan Si Hantu Tampan pasti bisa didengar penghuni lain meski samar-samar.
"Akhhhh sedikit, Si Kunti meminta boneka beruang yang besar tapi aku salah membelikan!" Aura kembali berbohong pada Ibu itu.
"Mutia memang sangat menyukai boneka, sehari sebelum kematiannya ibu sempat melihat Mutia membawa boneka beruang yang sangat besar! Boneka itu hampir menutupi tubuh mungilnya. Ibu itu sampai kaget saat itu!" jelas ibu itu.
Aura hanya diam, dan mengingat janjinya pada Si Kunti Jumi tadi pagi yang akan membelikan boneka besar untuknya.
"Apa ibu masih ingat hari kematian Mutia?" tanya Aura.
"Tentu saja karena tanggalnya sangat cantik, 11 bulan November 2011!" kata Ibu itu.
Aura seketika tertegun, kenapa Si Kunti Jumi bisa meninggal di tanggal yang sangat cantik seperti tanggal kematian Monika Hantu Perpustakaan di kampusnya. 20 Febuari 2012.
Apakah kematian dua perempuan ini ada hubungannya?
Aura segera membuang fikiran detektifnya dia sekarang sedang pusing memikirkan masalahnya sendiri, dia tak mau mengalami kerontokan rambut yang parah akibat terlalu banyak berfikir.
.
.
Akhirnya Aura jadi pergi juga, gadis tomboy itu memilih tempat yang cukup jauh di pinggiran kota. Aura ingin merilekskan fikirannya sejenak, dia tak mau banyak berfikir hari ini.
Suasana sore yang dipilih gadis berjaket kulit merah ini adalah di sebuah kebun teh, angin yang dingin tengah berhembus ke arahnya menerpa wajah cantinya. Angin sepoy-sepoy yang menenangkan hati.
Matanya masih memerah, wajah ayu itu masih dipenuhi semburat kesedihan dan kepiluan. Di dalam dadanya sekarang penuh dengan penyesalan yang mencekam.
Jika saja waktu itu aku dan Ragata tak saling jatuh cinta.
Jika saja aku tau lebih dulu, jika ratih menyukai Ragata.
Mungkin sekarang Ratih belum mati.
Cinta monyet sewaktu SMU yang seharusnya lucu penuh dengan kenangan indah, menjadi kisah kelam yang pilu dan mengenaskan.
Aura merogoh kantung depan jaketnya dia kembali memandangi kertas yang tadi diberikan oleh Pak Imanuel.
Karya dengan judul Revenge Or Hatred.
Manik mata sembab Aura mencoba menelisik setiap detail yang aneh di karya itu.
Kenapa Pak Imanuel ingin Aura yang membuat ini, kenapa dosen itu seakan memaksa Aura untuk membuat karya itu agar semua orang melihatnya.
Ide karya itu memang bagus, dan sesuai dengan image Aura sebagai seniman pahat yang selalu mengisi karyanya dengan unsur mistis yang tragis.
Tapi kenapa ini sebuah kotak semen yang berlubang di tengah dengan banyak tangan-tangan mencuat ke luar. Tangan-tangan yang ingin keluar dan ingin bebas, kenapa karya ini terlihat seperti hal yang menyakitkan tapi juga mengerikan dalam waktu bersamaan.
Rasa dendam atau kebencian apa yang ingin dia alirkan jika Aura mau membuat ide Pak Imanuel.
Aura hanya menatap langit senja yang memerah yang seakan memberi tanda kepada Aura, akan ada kematian di sekitarnya hari ini.
.
.
.
.
"Dari mana saja kamu?" tanya Hantu Tampan, hantu itu dengan sangat setia telah menunggu Aura di depan pintu kamar apartemen 130.
"Kenapa Om nggak masuk?" tanya Aura yang datang dengan menenteng boneka yang hampir menutupi tubuhnya.
"Boneka?" tanya Hantu Tampan itu.
"Ini untuk Jumi!" tegas Aura.
Jemari gadis itu memencet angka sandi di pintu. 11112011.
Ketika mereka masuk ke dalam ruangan apartemen, Si Kunti Jumi telah menunggu mereka dengan rambut hitamnya yang telah kembali lurus.
Aura segera menyerahkan boneka besar itu pada Si Kunti Jumi, Aura tau wajah mengerikan itu pasti sedang tersenyum bahagia. Tapi Aura tak mau membalas senyuman Si Kunti Jumi, hari ini hatinya sedang merasakan tekanan batin yang merongrong hingga ke lubang yang paling dasar.
Rasa cinta yang dia miliki telah berubah menjadi kebencian yang penuh dendam.
Mata Aura segera terbelalak lebar, bagaimana bisa ide karya yang diusulkan Pak Imanuel untuknya bisa mengambarkan temperatur perasaannya saat ini.
Wajah cantik itu segera berputar dan memandang pintu lalu manik mata Aura segera membidik wajah Si Kunti Jumi yang gosong.
Apakah semua ini, punya hubungan...
"Gue pergi dulu!" kata Aura, yang langsung berlari keluar dari pintu utama.
Sementara Hantu Pria Tampan dan Si Kunti saling berhadapan, mata merah mencuat milik Si Kunti Jumi membidik manik mata Si Hantu Tampan dengan tatapan yang kasar. Si Kunti juga menggeram keras ke arah Hantu Tampan, hal itu menandakan Si Kunti Jumi tak suka Hantu Tampan berada didekatnya. Seketika Si Kunti Jumi langsung pergi ke kamarnya dengan boneka yang sangat besar dipelukannya.
"Aura jangan tinggalkan aku di sini sendirian!" teriak Hantu Tampan itu dengan wajah sudah setengah mewek.
Kaki panjangnya segera berhambur mengikuti arah kepergian Aura, ternyata gadis itu pergi ke apartemen sebelah. Dimana ibu yang menyapanya tadi pagi di parkiran tinggal.
Aura memencet bel pintu apartemen itu berkali-kali, dia seperti ingin mendobrak pintu itu dengan paksa. Tapi penghuni apartemen lain keburu keluar dan menghentikan aksi Aura.
"Pak, ibu yang tinggal di dalam sini kemana ya?" tanya Aura pada bapak-bapak yang baru saja menghampirinya.
"Ibu siapa?" tanya Bapak itu.
Aura pun terdiam sejenak.
Apa iya ibu itu adalah hantu?
Tapi kenapa dia tak bisa mencium aroma kematian di tubuh ibu itu.
"Ohhhh...ibu itu pindah sebulan yang lalu karena selalu diganggu oleh Si Kunti!" kata istri dari pria paruh baya tadi.
Aura pun semakin syok,
"Maaf ya Pak, Buk! Sudah membuat keributan!" kata Aura.
"Lain kali jangan bikin gaduh begini, kami sangat terganggu!" kata bapak-bapak itu.
"Boleh saya tau siapa yang menyewa apartemen ini dan pindah bulan lalu?" tanya Aura pada Bapak dan Ibu di depannya.
"Yaaa mana kami tau, tapi mungkin pengurus apartemen tau!" jawab Ibu berdaster coklat itu.
Kini Aura hanya terdiam dan melihat ke arah punggung kedua orang suami istri itu, karena suami istri itu telah berjalan kembali menuju unitnya.
Kenapa kemampuannya kini menjadi tak setajam dulu, bagaimana bisa dia tak bisa membedakan mana hantu dan mana manusia.
Aura segera berbalik ke arah antu Tampan dan mengarahkan manik matanya ke dalam bola mata Si Hantu Tampan. Aura melangkah mendekat ke arah hantu itu dan mencoba mencium aroma arwah Hantu Tampan.
Aku masih bisa mencium aroma kematian di arwah hantu ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Ray
Muantap..Muantap👍 Semakin Ok cerita Outhor👍🙏
2024-11-19
0
Diana Puji Astuti
Jang ki yong... ganteng
2024-12-11
0
l Rama
suka aku Thor sama visual pak dosen
2021-08-30
2