Kuda besi Aura melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, dengan lincahnya motor produksi terbaru dari yamehong itu membelah jalanan di pusat kota yang cukup padat.
Bagaikan pembalap motoGP Aura menikung dengan skill cornering, menikung dengan kemiringan 30° hampir menyentuh aspal. Mesin motornya terus mengaum sesuai tarikan pedal digenggaman tangan kanannya.
Peraturan lalu lintas, asal tak ada patroli polisi ya dilanggar lah. Orang Indonesia gitu lohhhh. Lampu sen ke kanan belok ke kiri aja sah.
Hari sudah semakin malam, perjalanan Aura dari rumahnya sampai ke gudang itu membutuhkan waktu yang cukup lama, mungkin sekitar 2 jam. Apa lagi di perjalanan Aura berhenti untuk makan malam di warung makan tenda pingir jalan, ia juga tak lupa membelikan boneka marmut untuk Mutia alias Si kunti Jumi.
Auman motor Aura pun berakhir di sebuah gudang rosokan yang hanya dipagari seng di pinggirannya. gadis itu segera membuka helm dari kepalanya, rambut hitam panjangnya langsung terurai dengan kibasan bak bintang iklan shampo di TV-TV.
"Kayaknya ini nih gudangnya!" desahnya pelan. Wajahnya manggut-manggut, dan ke dua bola matanya mengawasi jeli ke arah pagar seng yang menjulang setinggi 4 meter itu.
Aura membuka sarung tangan lateksnya dari kedua telapak tangannya yang sudah mulai berkeringat. Tangan kanannya segera merogoh kantung di dalam jaket kulitnya untuk mencari ponselnya, Aura mengecek alamat gudang dari layar ponselnya sekali lagi.
Gadis tomboy itu turun dari kuda besi putihnya, dan mencari-cari apa pun yang bisa dia buat sebagai petunjuk. Belum juga dia menemukan apa pun, gadis itu sudah dikagetkan dengan suara tembakan senjata api yang begitu menggelegar.
Duarrrr
Duarrr
Duarrrr
Suara itu benar-benar terdengar sangat nyata, apa benar hantu yang melakukannya. Tapi selama Aura berkarir sebagai anak dukun yang punya indra ke enam, dia tak pernah melihat hantu yang menyerang manusia dengan senjata api.
Duarrrr
Duarrrr
Duarrrr
Suara tembakan kembali terdengar, Aura terdiam di dalam jongkoknya. Dia masih berfikir bagaimana jika dia mati karena tembakan hantu itu. Kenapa dia mengambil resiko seperti ini, dia masih muda dan masih banyak cita-cita yang ingin dia kejar.
Aura pun memutuskan untuk mengirim pesan pada pemilik gudang, bahwa dia tak mau melakukan pengusiran, dengan alasan hantu di dalam gudang terlalu kuat.
Aku akan memberikan 20 juta untukmu, jika suara tembakan itu hilang malam ini.
Wajah imut Aura segera terbelalak karena netranya baru saja melihat angka 20 juta di layar ponselnya.
Tanpa berpikir panjang lagi Aura segera berdiri dan menurunkan ranselnya dari punggungnya, dan membuka ransel itu. Dia melilih senjata yang di rasa paling ampuh di dalam ranselnya.
Pandangan bingung Aura mengarah ke dalam isi ransel hitam besarnya. Semua senjata yang dia punya adalah senjata yang digunakan untuk pertempuran jarak dekat, bagaimana dia bisa menang dengan hantu yang mempunyai pistol itu.
Ini seperti mengulang sebuah sejarah para pahlawan bangsa ini, mereka pengusir penjajah dengan menggunakan bambu runcing, sedangkan musuh mereka punya meriam.
Mood Aura segera turun karena melihat kenyataan yang tergambar di depan matanya. Tapi angka 20 juta membuat Aura segera membuang fikiran warasnya. Tekat Aura sudah bulat, dia tak akan mati karena hantu, apa pun yang terjadi dia harus mendapatkan uang 20 juta itu.
Aura mengambil tali yang sudah dimantrai oleh kakeknya dari dalam ranselnya, dia menyelipkan pengait gulungan tali itu di pinggangnya. Aura juga mengambil kampak kayu sakti, tapi bukan kampaknya Wiro Sableng yaaa.
Perlahan tapi pasti langkah kaki jenjang Aura segera memasuki area dalam gudang itu. Dia mengendap-endap untuk mencari keberadaan hantu penembak sinting itu. Lautan rosokan besi tua yang juga menjulang di dalam gudang itu, membuat pandangan Aura terhalang.
Duarrrrr
Duarrrrr
Duarrrrr
Lagi-lagi hantu itu menembakkan pistolnya, Aura tak habis pikir bagaimana hantu bisa punya pistol. Apa saat hantu itu mati, hantu itu dikubur dengan pistol di tangannya.
Aura tak mau ambil pusing dengan asal-usul pistol sialan itu lagi, dia kini harus fokus bagaimana mendekati hantu itu tanpa tertembak oleh pistol hantu gila itu.
Aura terus menyusuri lorong demi lorong yang dikelilingi rongsokan. Sebagian besar rosokan di sini adalah mobil bekas yang sudah hancur dan ditumpuk sampai menjulang sekitar 8 sampai 10 meter tingginya.
Saat Aura mengendap-endap dia melihat sesuatu berkelebat di ujung lorong tempat dia berdiri, tapi tak begitu jelas dipandangan matanya.
Aura pun berjalan dengan hati-hati untuk menghampiri ke arah asal bayangan itu.
Belum Juga Aura bisa melihat apa pun, seseorang telah mengunci pergerakan Aura dari belakang tubuh rampingnya. Sebuah lengan yang cukup kuat telah merangkul erat di dada atas Aura. Aura bisa merasakan benda dingin itu menempel di kepalanya.
Moncong pistol itu sudah berada di sebelah kanan kening Aura, gadis itu menghela nafas panjang. Dia berusaha untuk tetap tenang di kondisi tersebut.
"Siapa kamu,?" pertanyaannya tak penting, yang penting adalah suara maskulin yang dikeluarkan mahluk itu.
Aura bahkan terkesiap dengan suara maskulin lelaki itu, suara hantu yang sangat jernih seperti suara manusia. Apa lelaki ini belum lama mati.
"Aku manusia!" kata Aura.
Gadis itu sadar, siapa pun yang mengunci tubuhnya kini bukanlah manusia. Bau manusia hidup dan mati itu berbeda. Hidung Aura yang sangat sensitif, bisa mencium bau kematian di tubuh lelaki yang telah mengunci pergerakannya sekarang ini.
"Kau pikir aku hantu?" tanya lelaki itu.
"Elu emang hantu, bego!" kata Aura.
Gadis itu memukul kepala lelaki itu dengan kapaknya dari arah depan tubuhnya.
"Sakit kan?" tanya Aura, dia yang sudah lepas dari genggaman lelaki itu segera berbalik.
Aura hanya bisa bengong melihat hantu yang terduduk di depannya, matanya berbinar dan senyum kecil mulai menghiasi bibir imutnya.
Hantu ini sangat tampan.
Duarrrr
Pria itu mengarahkan bidikan pistolnya ke arah Aura, tapi bidikan pria itu ternyata tak bisa melukai tubuh Aura.
Bunyi tembakan itu segera membuat Aura sadar dia sedang berkerja sekarang, dan dia tak mau gagal. Aura tak akan sanggup kehilangan 20 jutanya hanya karena kesengsem dengan ketampanan hantu.
Aura kembali mengayunkan kampak kayu saktinya ke arah hantu pria itu dengan kekuatan penuh. Tapi dengan lincahnya hantu itu berhasil menghindari serangan Aura.
"Hai gadis kecil, kau tau aku ini bukan tandinganmu!" kata hantu pria itu.
Hantu pria itu mengatakan ejekannya pada Aura dengan senyum yang sangat manis. Tapi Aura berusaha untuk tak melihat kearah wajah hantu lelaki itu. Dia tak mau jatuh cinta dengan hantu, meski hantu ini sangatlah tampan.
"Semua hantu adalah lawanku, kampret!!!" teriak Aura, dia segera melayangkan tinjunya kearah hantu pria songong yang telah berdiri di samping tubuhnya.
Dengan gerakan beladiri yang lincah Aura berusaha melukai Hantu pria itu.
Sangat jarang ada hantu yang mengenakan setelan jas lengkap dengan rupa yang sangat rupawan, serta masih mirip seperti manusia yang hidup.
Meski bau kematian di tubuh hantu itu tak begitu kuat, tapi Aura bisa mencium bau khas itu dari tubuh hantu pria kekar itu.
Siapa kau sebenarnya?.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Ray
Wah itu detektif atau inteligen baru mati atau Pak direktur atau pengusaha yg baru mati bawa pistol?🤔 Keren Oi hantu bawa pistol🤔😂
2024-11-18
0
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Gue ngerasain banyak perubahan pada deskripsi...
2021-08-10
1
Ꮇα꒒ҽϝ𝚒ƈêɳт
Wong ganteng, tetep bae Jurik...
2021-08-01
1