"Ehhhh si anak Dukun Sodik, makin cantik aja sekarang!" goda Ragata, dia tampak sangat menikmati ekspresi wajah Aura yang sudah di mode sangat kesal.
"Pergi lu...sebelum mangkuk bakso gue melayang! Nyoyorin bibir seksi lu!!!" kata Aura.
"Eisttttt dahhhhh...sabar Gis!" kata Ragata, mencoba menenangkan hati Aura.
Gisna semua orang di kampungnya memanggilnya dengan nama itu, termasuk Ragata yang merupakan musuh bebuyutan Aura. Mereka bersekolah di SMU yang saling bermusuhan. 3 tahun duduk di bangku SMU hanyalah gelut yang difikirkan kedua otak Aura dan Ragata.
"Maaf kalau geng gue pas SMU cukup keterlaluan!" kata Ragata.
"Kau nggak perlu repot-repot minta maaf ke gue, Pembunuh!!!" kata Aura dengan wajah yang sudah merah padam karena dia menahan amarah di dalam dirinya.
"Gue kan udah bilang nggak tau, kenapa elu selalu nuduh gue?! Jika bener geng gue yang udah membunuh Ratih, gue dan temen-temen gue pasti masih di penjara sampai sekarang!" jelas Ragata, dia mencoba tak berteriak.
Ragata tau saat ini semua orang di kantin pasti sedang memperhatikan mereka.
"Sekali pembunuh, sampai kapan pun elu tetap pembunuh!" gumam Aura.
Susah payah Aura menghindari Ragata di kampusnya, tapi ketika kamu dan musuhmu satu jurusan meski berbeda angkatan. Pertemuan seperti ini akan selalu terjadi dan akan selalu memuakkan.
Aura pergi begitu saja meninggalkan Utari dan Ragata yang masih duduk di sana.
Utari tampak memperhatikan ekspresi Ragata, tapi Utari segera mendesis kasian saat Ragata memandang sedih ke arah Utari yang terus berjalan pergi.
"Sebenernya mau lu apa sih, Ga?" tanya Utari.
"Aura ikut pameran nggak?" tanya Ragata pada Utari, lelaki ini bertanya tanpa menjawab pertanyaan Utari.
"Ya jelas ikut lah!" jawab Utari.
"Dia mau buat apa?" tanya Ragata.
"Dia bilang belum tau,!" kata Utari.
Manik mata Utari masih mencoba menangkap arti dari perubahan raut wajah Ragata.
"Elu suka sama Aura?" tanya Utari tanpa tedeng aling-aling.
Terlihat ekspresi Ragata datar-datar saja, dia hanya menaikkan kedua bahunya bersamaan. Menandakan bahwa lelaki itu tak tau.
"Lalu kenapa elu ndeketin Aura?" tandas Utari, dia sudah memasang wajah marahnya yang masih terlihat cantik.
"Pengen aja,!" kata Ragata, lelaki laknat itu langsung berdiri dan meninggalkan Utari yang sedang marah.
"Dasar cowok,!" desis Utari kesal.
.
.
.
.
Hantu Tampan masih mengekori langkah kaki Aura, dia terus berjalan di belakang gadis tomboy itu. Tak sepatah kata pun dikeluarkan oleh mulut hantu itu, dia tadi juga ikut mendengar perdebatan Aura dan Ragata.
Si Hantu Tampan tampaknya tau suasana hati Aura hari ini pasti sedang kacau. Dia pasti memikirkan gadis bernama Ratih itu.
Aura masuk ke dalam kelasnya dia mendapati Mega yang sedang menguleni tanah liat di atas mejanya.
"Ra, tadi pak Imanuel nyariin elu!" kata Sandi. Mahasiswa yang duduk di depan meja Utari.
Ruangan besar ini hanya diisi oleh 10 mahasiswa seni. Jadi semua mahasiswa di ruangan ini sudah seperti keluarga sendiri. Menghabiskan waktu bersama untuk membuat karya, hal itu sudah sama dengan membagi beban hidup di antara mereka.
Bagi Aura seni adalah rasa yang tertuang dari hati seniman, entah apa itu rasanya. Seniman muda seperti mahasiswa di kelas ini akan mewujutkan rasa itu menjadi sebuah bentuk yang akan membuat semua orang merasakan rasa itu ketika melihat karya mereka.
Tapi akhir-akhir ini Aura tak bisa memikirkan seni, di dalam otaknya sedang memikirkan banyak hal. Tiba-tiba dia merubah cita-citanya dengan sepontan sesuai situasi, persis seperti anak SD.
Selama 3 bulan ini dia menemui berbagai macam hantu, dan tentu saja Aura bertemu dengan berbagai macam orang juga. Semua hal itu membuatnya sadar, peran Aura bukan hanya sebagai pekerja yang mendapatkan upah.
Aku punya peran lain di kehidupanku ini.
"Mau ngapain Pak Imanuel nyariin gue?" Aura malah balik nanya.
"Entah, dia bilang elu disuruh ke ruangannya!" imbuh Sandi yang masih sibuk dengan labtobnya.
Aura memandang ke arah mejanya karena kursinya sedang diduduki oleh seseorang. Orang yang menduduki kursi Aura adalah si hantu kupluk.
Aura baru sadar bahwa dia lupa menutup buku seketsanya kemarin.
Awalnya Aura tak mau pergi ke kantor Pak Imanuel tapi dia harus ke sana sekarang, dia harus menghindari Hantu Kupluk itu sebisanya. Aura tak mau ikut campur dalam urusan hantu lagi, dia hanya cukup bekerja sedikit lagi untuk menjamin biyaya kelulusan kuliahnya di kampus ini.
"Aura, dia hantu juga sepertiku?" tanya Hantu Tampan pada Aura.
Aura hanya mengangguk perlahan sambil mengawasi teman-teman sekelasnya yang masih sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing.
Aura pun segera melangkah keluar dari kelasnya menuju gedung lain, dia harus menemui Pak Imanuel.
3 tahun dia berkutat di kampus ini tapi baru kali ini dia dipanggil oleh dosen tampan bernama Pak Imanuel. Langkah gontainya seketika terhenti saat sebuah sosok hitam melayang melewatinya. Sosok itu baru saja keluar dari ruangan di depannya, ruangan pak Imanuel.
Untung Aura menyuruh Hantu Tampan untuk mengusir Hantu Kupluk dari tempat duduknya, jadi si Bayangan Hitam mengerikan itu tak menyadari bahwa aura bisa melihat dengan jelas sosoknya.
Bayangan Hitam adalah hantu yang diciptakan manusia dengan kekuatan iblis, orang biasa menyebutnya dengan pesugihan. Tapi apakah pria berkebangsaan Roma percaya akan hal mistis seperti itu.
Aura mengetuk pintu kayu itu 3 kali, tapi tak ada sahutan apa pun. Aura lagi-lagi mengetuk pintu itu dan masih tak ada sahutan.
Bayangan hitam itu....MAHLUK KIRIMAN.
Seketika Aura membuka pintu ruangan Pak Imanuel yang ternyata tak dikunci, dan pemandangan langka telah dia saksikan di dalam ruangan itu.
Pak Imanuel sedang terlentang di lantai dan 2 Bayangan Hitam sedang menindih tubuh dosen kekar itu.
Tanpa pikir panjang, Aura segera mengambil fas bunga di dekatnya dan memukul salah satu kepala Bayangan Hitam itu.
Bayangan pertama langsung berubah menjadi asap hitam, karena pukulan kuat Aura. Tapi Bayangan Hitam satunya mulai menoleh ke arah Aura dan langsung menyerang Aura tanpa permisi dahulu.
Aura berhasil menghindari serangan mahluk mistis itu, Aura mencoba menendang mahluk hitam itu dan membuat tubuh bertudung hitam itu tersungkur ke lantai.
Aura segera naik ke atas tubuh bayangan itu dan memukuli wajah datar tanpa bentuk milik mahluk aneh yang sekarang telah terlentang di bawah tubuh Aura. Dengan seluruh amarah yang Aura pendam dia meninju wajah itu sampai menjadi asap hitam.
Aura baru sadar ke dua punggung tangannya kini berdarah.
"Aura, apa tadi?" tanya Pak Imanuel yang sudah berdiri di dekat Aura.
Bule bermata biru terang itu tampak masih terengah-engah.
"Saya enggak tau, Pak!" Aura berbohong. Dia tak mungkin menjelaskan mahluk beraliran ilmu hitam pada seorang dosen bule.
"Tanganmu sampai terluka!" kata Pak Imanuel.
"Akhhhh...enggak papa pak,!" kata Aura.
"Trimakasih lho Aura, mungkin saya sudah mati kalau kamu enggak muncul!" kata Pak Imanuel.
Aura hanya tersenyum bimbang, dia mulai memikirkan mahluk yang baru saja dikalahkan. Mahluk Kiriman atau biasa kalian sebut santet dari dukun ilmu hitam, tentu saja itu bukan dari ayahnya. Karena Aura sangat mengenal mahluk yang bekerja pada ayahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Ray
Berbagai macam bentuk dan rupa hantu yg berada di sekitar Aura. Namanya Aura mungkin sangat serasi dengan nama serta pribadinya🤔😂🙏👍❤️
2024-11-19
0
Ꮇα꒒ҽϝ𝚒ƈêɳт
Banyak yang tampan...
tapi blon ada yang bisa gua idolain.... Karakternya blon jelas.
mungkin nanti...
2021-08-04
2