"Ok aku diem!" kata Hantu Tampan, dia mengatakan kalimatnya dengan nada jengkel. Tapi karena dia tak mau kehilangan Aura, Si Hantu Tampan hanya menahan amarahnya di dalam hati.
.
.
.
.
Kriettttttttttt
Kretttttttttt
Kik Kik Kik Hihihihi
Di plafon usang di atas kamar Aura, Si Kunti Jumi telah mempersiapkan kejutan pagi untuk Aura seperti biasanya. Si Kunti merangkak pelan di atas plafon sebelum Aura terbangun. Wajah gosongnya mengintip dari helaian rambut hitam panjangnya yang melayang di udara, mulut Si Kunti seketika terbuka lebar. Pemandangan yang dia pandang di atas ranjang Aura membuat tubuhnya kehilangan kemagisannya.
Gubrakkkkkkkkk
"Apa itu!" kata Hantu Tampan lirih.
Mata sembab Hantu Tampan telah meringkus tubuh gosong yang mengelus pantat teposnya di sebelah ranjang. Mata merah Si Kunti langsung melotot ke arah mata Hantu Tampan.
"Akkkkkkkkkkkk!" seketika Hantu Tampan berteriak sekeras yang dia bisa.
Puakkkkkkkkk
Telapak tangan Aura telah mendarat dengan tekanan atmosfer dan gaya gravitasi bumi tepat di atas mulut Hantu Tampan.
"Berisik banget!" desah Aura, yang ternyata tengah meringkuk di dalam pelukan Tantu Tampan.
Hantu Tampan hanya bisa diam merasakan getaran di hatinya saat tubuh Aura mengeliat pelan di dalam dekapannya. meskipun bibirnya berdarah karena pukulan telapak tangan Aura, rasa perih itu seketika hilang saat jemari Aura dengan lembut meraba dada bidangnya yang ternyata sudah tak ditutupi sehelai benang pun.
Si Kunti masih di sana menyaksikan adegan tak senonoh itu dengan mata merah yang melotot dengan bibir komat-kamit, entah apa yang dia katakan. Tapi Jumi segera meninggalkan pasangan yang tengah bermesraan di atas kasur itu.
Ekspresi gugup telah membanjiri wajah Hantu Tampan, dia tampak tak bisa bergerak. Aura masih saja mengeliat pelan didekapan tubuh kekar itu.
"Aura, aku harus bangun!" akhirnya Si Hantu Tampan dapat mengatakan sepatah kalimat.
Mata Aura segera membelalak saat mendengar suara berat di sampingnya.
Bruakkkkkkkk
"Aakkkkkkkkkkkkkkkk Bajing loncat, kerapat, anying, setan,!" teriak Aura setelah menendang tubuh kekar Hantu Tampan, sampai menghantam dinding kamarnya dan terjatuh ke lantai.
Si kunti hanya tersenyum miris mendengar makian Aura dari ruang depan.
Semalam dikelonin, pagi dimaki-maki.
.
.
.
.
Siatttttttttt
Suara gesekan karet ban motor Aura dengan aspal berbunyi cukup nyaring. Motor putihnya telah mendarat tepat di depan sebuah rumah di kompleks perumahan yang sederhana. Dilihat dari pelatarannnya yang tak berpagar, dan ukuran rumah yang saling berdempet tapi kecil.
Aura melihat wajah anak kecil berambut hitam panjang yang pucat sedang menatap keluar jendela, ekspresi di wajahnya seperti sedang meminta tolong.
"Jadi ini tempat penyewa itu?" tanya suara serak yang berat.
"Aissssssttt!" pekik Aura kaget, dia segera memukul lengan kekar Si Hantu Tampan dengan tinjunya.
Karena Aura fokus pada Hantu Gadis Kecil di dalam rumah itu dia kaget dengan pertanyaan Hantu Tampan yang tiba-tiba saja menyeruak di telinganya.
"Kenapa, kaget?" udah tau malah bertanya, kalo nggak tampan pasti udah digampar lagi sama Aura.
"Om, bisa diam nggak sih!" dan hanya kata-kata kesal yang keluar dari bibir mungil Aura.
"Maaf!" kata Hantu Tampan.
Si Hantu Tampan perlahan bergeser ke belakang tubuh Aura, karena Hantu Gadis Kecil itu mendekat ke arah mereka.
"Kalian mau cari siapa?" tanya Hantu Gadis Kecil itu.
Aura mendesis kesal, padahal dia sudah memutuskan untuk tak berurusan dengan hantu lagi setelah dia masuk kuliah. Tapi wajah memelas Hantu Gadis Kecil ini membuatnya goyah.
Aura duduk berjongkok di depan Hantu Gadis Kecil itu, kornea matanya masih hitam legam dan bau kematian yang berhasil dicium oleh Aura juga masih segar. Gadis Kecil ini mati belum lama.
"Di mana mayatmu?" tanya Aura pada Hantu Gadis Kecil itu.
Perlahan Hantu Gadis Kecil itu menunjukkan jari telunjuk tangan kanannya ke arah rumah di depan Aura.
Air mata tak dapat Aura bendung, Aura menyibakkan rambut hitam panjang Si hantu Gadis Kecil. Aura merasakan cairan kental yang lembab, saat Aura menarik tangannya dia bisa melihat darah segar menempel di ujung jari-jarinya.
Aura segera mengusap air matanya dengan kedua telapak tangannya dan berjalan cepat ke arah pintu rumah itu.
Dok dok dok dok dok dok
Kedua tangan Aura mengetuk pintu kayu itu dengan membabi buta, hatinya tengah dikuasai oleh amarah. Dia tak bisa menahannya kali ini.
"Siapa!" sebuah teriakkan seorang perempuan menyeruak menghantam gendang telinga Aura.
Gadis kecil itu di bunuh oleh ibunya
sendiri.
Seorang wanita muda muncul dari balik pintu, mungkin hanya lebih tua beberapa tahun dari Aura. Wanita itu muncul hanya dengan kimono tipis dan bau anyir masih menyeruak dari tubuh indahnya.
"Siapa Sayang!" suara pria dewasa terdenar dari dalam rumah sempit itu.
Aura segera menunduk untuk meredakan emosinya, dia harus hati-hati. Dia tak boleh emosi, karena jika dia salah perhitungan mungkin dia akan menjadi korban selanjutnya dari pasangan biadap di rumah ini.
"Saya Aura, Mbak! Saya datang ke sini untuk menanyakan sesuatu!" kata Aura, dia berusaha agar suaranya tak terdengar bergetar.
"Mau tanya apa, kamu!" jawaban wanita itu tampak tak bersahabat. Bagaimana mungkin seorang wanita bisa setenang itu, padahal dia baru saja kehilangan seorang gadis kecil. Entah siapa gadis kecil itu bagi wanita berambut blonde di depan Aura, tapi apakah kematian adalah hal yang biasa bagi wanita ini.
"Mbak tau apartemen Anugrah, di jalan Naninu?" tanya Aura.
"Ohhh yang ada hantunya!" kata wanita itu dengan nada ketus.
"Mbak pernah menyewa di kamar 131, ya?" tanya Aura, gadis tomboy ini masih berusaha lembut.
"Iya, emang kenapa?"
"Boleh saya minta nomer telepon pemiliknya, saya ingin menyewa unit itu!" kata Aura.
"Bentar ya!"
"Boleh saya masuk sebentar, nggak enak dilihat tetangga!" kata Aura.
Meski suasana perumahan ini sepi, wanita itu tetap mempersilahkan Aura masuk ke dalam.
Ruang tamu yang berantakan, pemandangan yang paling awal menyambut Aura saat masuk ke dalam rumah itu.
Wanita pemilik rumah tampak memperhatikan gerak-gerik Aura, dan berlalu ke arah kamar. Wanita itu menutup pintu kamarnya yang berada di depan Aura.
Hantu Gadis kecil berjalan ke dalam dan menuju lorong kecil tak berpintu. Ternyata lorong itu tembus ke dapur, dan gadis kecil itu menunjuk sebuah gentong air merah dari bahan plastik yang diletakkan di pojok ruangan dapur yang lebih berantakan dan bau.
Perlahan Aura membuka tutup gentong itu, Aura tampak menahan nafasnya. Dia hanya melihat kantung kresek hitam yang diikat dengan tambang senar berdiameter kecil.
Aura berusaha membuka ikatan itu, dan saat terbuka Aura terduduk lemas.
Aura menemukan tubuh Gadis Kecil itu telah kaku dengan keadaan meringkuk berlumuran darah kering dibungkus plastik hitam.
"Apa yang kamu lakukan!" teriak wanita berambut blonde, Wanita itu sudah berada di bibir pintu dapur dan membawa sebilah kayu yang cukup besar yang hendak dia hantamkan ke arah tubuh Aura yang sedang terduduk di lantai kumuh itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Ray
Oalah si Aura dalam bahaya ini. Apakah Hantu Tampan bisa nolongin Aura?🤔
2024-11-19
0
Ꮇα꒒ҽϝ𝚒ƈêɳт
Angelin nih ceritanya...🙄
2021-08-07
1