Sinta tengah duduk di sebuah kursi makan yang empuk berwarna merah, sebuah restoran khas Italia yang sangat mewah telah menjadi pilihan teman kencannya siang ini.
Lampu-lampu neon besar bercahaya coklat keemasan yang tergantung di langit-langit menambah aura romantis tempat ini. Pencahayaan yang dramatis membuat apa pun yang menjadi pantulan sinar lampu warna coklat keemasan itu menjadi sangat indah.
Gaun hitam polos tanpa lengan dan panjangnya yang tak menutupi paha mulusnya telah didapuknya untuk menjadi busananya siang ini. Sinta harus tampil semengoda mungkin, pria bule di depannya harus dia buat puas. Puas mata, dan kepuasan lainnya harus dia berikan siang ini untuk pria berwajah melankolis di depannya.
Kendala bahasa tak membuat Sinta menyurutkan niatnya untuk mengambil hati pria gagah perkasa di depannya. Sinta hanya bisa mengatakan beberapa patah kata berbahasa Inggris, tapi kelihatannya kedua insan berbeda budaya dan kultur ini terlihat nyambung ketika mengobrol.
Nyambung bukan karena bahasa yang pasti, tapi karena ***** yang terlihat sudah bergejolak di dada pria berkebangsaan Italia ini membuatnya seakan tau semua kata-kata yang diucapkan Sinta.
Tapi perhatian Sinta seketika tersita saat dia menyergap sebuah wajah yang amat sangat dia kenal. Sinta melihat Lukas Herlambang tengah duduk sendirian di meja lain yang terletak tak jauh dari tempat duduknya kini. Sinta masih mencoba berlagak biasa saja.
Tak banyak berubah dari diri Lukas di mata Sinta, lelaki dengan tinggi 170 cm itu masih berwajah teduh yang mengayomi. Senyum manisnya dan juga tatapan matanya yang mengetarkan dadanya ketika muda bahkan masih bisa dia rasakan saat ini. Hanya saat ini Lukas mengenakan kaca mata bening yang menambah kesan bahwa dia adalah pria yang baik.
Apa dia mau menipu wanita lagi, pikir Sinta.
Tapi saat seorang wanita dengan dua orang anak kecil menghampiri meja Lukas, seketika Sinta langsung bisa menebak. Insting wanitanya segera memprediksi, siapa gerangan wanita yang mendatangai Lukas.
Tapi ini adalah situasi yang tak bisa Sinta kuasai. Saat ini Sinta bisa menebak, kedua anak wanita yang kini bersama Lukas mempunyai usia di bawah Laura. Itu artinya wanita yang terlihat lebih tua dari Lukas itu adalah tunangan Lukas 9 tahun yang lalu. Wanita yang telah membuat Lukas meninggalkan Sinta padahal kala itu Sinta tengah hamil.
Tanpa pikir panjang, kaki jenjang Sinta yang dibalut oleh sepasang heels merah itu melangkah ke arah meja Lukas.
Sinta tak lagi peduli dengan pria Italia tampan yang berharap dipuaskan olehnya. Bagi Sinta ini adalah kesempatan satu-satunya baginya untuk membalas apa yang telah dia terima. Sinta juga ingin menghancurkan Lukas, sama seperti Lukas yang telah menghancurkan hidupnya.
Kita melakukan S.e.x tanpa pernikahan atas dasar suka sama suka, apakah adil jika hanya aku yang hancur. 'Bukankah jika memang kita ditakdirkan hancur harusnya kita hancur bersama-sama' Hanya itu yang ada di pikiran Sinta saat ini.
Mari kita hancur bersama Lukas
"Permisi, Pak Lukas Herlambang?!" kata Sinta dengan nada genit andalannya. Bahkan Sinta masih ingat nama panjang pria yang dulu pernah dia rindukan itu.
Ekspresi wajah yang sama telah dilihat oleh Sinta. Ekspresi kaget Lukas 9 tahun yang lalu saat dirinya mengatakan bahwa dia tengah mengandung anak Lukas. Ekspresi yang sama telah terlukis di wajah Lukas saat lelaki itu memandang Sinta yang berdiri di tepi meja dengan gaya yang sangat seksi.
Mungkin Lukas tak akan menyangka bisa bertemu Sinta di restoran mewah ini, apa lagi dengan penampilan Sinta yang sangat mengoda iman, imun dan imron para lelaki seperti ini. Gadis polos yang pendiam, Lukas tak menyangka jika Sinta yang dia kenal bisa berubah seliar sekarang.
Ada secerca rasa bahagia di hati Sinta saat melihat Lukas juga tampak terguncang melihat Sinta. Entah takut, bersalah, apa jatuh cinta pada Sinta lagi. Sinta tak peduli.
Sinta hanya berfikir, akhirnya setelah sekian lama dia menderita dia bisa bertemu dengan Lukas dan Sinta akan membalasnya.
"Mbak siapa ya?! Kok kenal sama suami saya?" wanita yang lebih pantas penjadi kakak Lukas itu bertanya pada Sinta.
"Ya ampun! Mbak ini istrinya Pak Lukas?! Maaf!!!" tatapan mata Sinta kini mendapat bidikan tajam dari mata Lukas. Tapi Sinta malah menatap bidikan jajam mata Lukas dengan wajah sok imutnya.
"Mbak ini siapa!!!" istri Lukas mulai menaikkan nada suaranya. Rencana Sinta berhasil, dia akan membuat gonjang-ganjing rumah tangga Lukas. Jika dia harus menjadi bayangan, Sinta akan setuju asal dia bisa menghancurkan hidup Lukas juga.
"Kayaknya saya salah orang, dechhhh!" desah Sinta manja. Tapi tatapan nakalnya pada Lukas berhasil ditangkap oleh istri Lukas. "Ohhhhh, saya hanya wanita penghibur mbak! Menghibur lelaki yang kesepian tentunya!" lanjut Sinta.
Senyuman kemenagan kini tersunging indah di wajah cantiknya, ini pertama kalinya bagi Sinta merasa bangga menjadi p.e.l.a.c.u.r. Rasanya Sinta ingin terbang ke angkasa, saat mendengar teriakkan istri Lukas yang mulai memaki Lukas.
Kata-kata kasar, makian, suara pecahan parabot restoran yang dilempar istri Lukas, tangisan anak-anak mereka terdengar seperti alunan musik romantis di telinga Sinta.
Sebuah rasa kebahagiaan itu membuat Sinta sangat bersemangat melayani pria bule yang telah memanggilnya. Mereka menghabiskan siang ini di dalam kamar hotel dengan suasana yang mengairahkan dan menyenagkan.
"Aku pasti akan menghubungi kamu jika aku ke Indonesia lagi!" kata bule itu, kecupan sayang pun mendarat di kening Sinta. "Aku suka dengan pelayananmu!" bule itu memberi Sinta dengan segepok uang dolar yang pasti jumalahnya sangat banyak.
Sepulang dari hotel Sinta membeli boneka panda untuk Laura, dia sangat senang sekali. Kebahagiaan masih menyelimutinya, dia benar-benar sedang berada di puncak euforia dalam hidupnya.
Tapi sebuah pemandangan segera menurunkan mood Sinta sore itu. Saat Sinta membuka pintu rumahnya, Sinta mendapati Doni sedang duduk jongkok di depan Laura yang telah berdiri di tembok kamarnya.
Bibir Laura yang terlihat merah karena lipstik membuat Sinta merasa marah, dia tak tau harus berbuat apa.
"Mama sudah pulang!" gadis kecil itu berlari menghampiri Sinta yang tengah merasa marah.
Sinta tak tau sedang marah pada siapa, pada Doni atau pada Laura.
Tangan Sinta segera mendorong Laura yang tengah berlari menghampirinya, tanpa dia sadari kepala Laura terbentur ke dinding semen ruang tamu.
Sinta segera ke dapur dan mengambil plastik sampah, dia mengangkat tubuh Laura masuk ke dalam kantung hitam tebal itu dan menali pucuk plastik itu dengan tali senar yang tergeletak di meja tamu.
"Mama! Mama!" kata Laura, gadis kecil itu tak berani melawan tindakan ibunya padanya.
"Diam kamu!" teriak Sinta, Laura tak berani berkata-kata lagi. Dia takut mamanya akan semakin marah padanya jika dia terus bicara.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Sinta segera menyeret tubuh Laura yang masih sadar di dalam plastik menuju dapur. Dan memasukkan tubuh Laura ke dalam gentong merah di pojok ruangan dapur rumahnya.
Doni tak mencoba menghentikan aksi Sinta yang mungkin bisa membunuh gadis kecil itu.
"Mas! Aku baru dapat uang yang banyak, ayo kita ke club!" kata Sinta.
Doni hanya bisa mengiyakan ajakan Sinta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Ray
Oalah iblis sudah merasuki diri Sinta, sehingga tega membuat hilangnya nyawa anaknya😭😭
2024-11-19
0
aas
ya ampun jd laura di masukin ke gentong hidup2 😭
2025-03-08
0
Xiaomi redmi
kok, cerita nya kaya drama Turki ya.yang pernah aku tuntun.
2021-09-16
3